
Happy reading guys.
...****************...
Ketiganya berada di atas ranjang dan cemilan berserakan di atas sprei. Mata ketiganya fokus melihat televisi yang sedang menayangkan film horor.
"Apa tidak ada film yang lain El? ganti El!" pinta Inara yang berada ditengah-tengah antara Aira dan Mikaela. Selimut menutupi seluruh tubuhnya.
"Film begitu saja kau takut? Cemen kau !" ledek Aira.
"Kau sok berani ! Entar mau kekamar mandi minta ditemenin," balas Inara.
Tiba-tiba
"A...a...ww.... !" tiga suara seperti sedang latihan berteriak meluncur dari mulut ketiganya, Mikaela, Aira dan suara Inara yang paling yang diantara ketiganya.
"Ih... Apa itu ?" Mikaela menurunkan selimut yang ditariknya untuk menutupi seluruh tubuhnya.
"Hantu ! Ai... Apa apartemenmu ini ada penunggunya ?" Inara bertanya dari bawah selimut.
"Eee... Kau kira apartemenku ini menyeramkan !" kata Aira dengan kesal.
"Kalau tidak demit, suara apa itu ?" tanya inara.
"El... Sepertinya itu suara dari luar kamar. Ayo kita keluar." ajak Mikaela.
"Nggak ah... Entar ada maling. Bagaimana jika kita di perkoas? Oh... No! Aku masih tingting El... ! Kau... nggak rugi sudah di coblos kak Raffi," kata Aira dengan perkataan nyeleneh.
"Eh... Aku masih original ya! kalau ibarat jalan, masih tertutup! belum tembus jalan tol !" balas Mikaela dengan perkataan nyeleneh juga.
"Ih... Kalian ini, masalah tembus sudah di coblos yang dibahas! Cepetan!"
Inara bergegas bangkit dan turun dari ranjang. Matanya celingukan mencari sesuatu untuk dijadikan senjata untuk dijadikan pelindung.
"Na... Kau berani?" Aira ikut turun dari ranjang dan mengekori Inara.
"Nggak berani juga harus berani! Daripada sembunyi dibawah selimut. Aku itu lebih takut dengan hantu, daripada penyusup. Ayo cari apa saja untuk melindungi diri," kata Inara.
"Ini !" Mikaela mengambil hair dryer yang terlihat oleh matanya.
"Itu ? Apa bisa menjadi pelindung?' tanya Aira.
"Bisalah... Kita lempar dan kemudian kita kabur ke pintu," kata Mikaela.
"Ini juga bisa ." Inara mengambil hanger.
"Hanger? Nyamuk saja tidak mati di pukul pake hanger," kata Aira.
"Bodo ah... Yang penting ada yang dipegang," kata Inara.
"Tunggu... " Aira berlari dan membuka pintu lemari dan mengeluarkan pukulan bisbol.
"Ini bisa ?" Aira menunjukan pukulan bisbol yang dipegangnya.
Inara dan Mikaela serentak meletakan apa yang dipegangnya dan kemudian menarik Aira, dan keduanya bersembunyi dibelakang tubuh Aira.
"Hei... Kenapa kalian di belakangku ?" Aira menolehkan sedikit kepalanya.
"Kayumu itu sudah cukup untuk membuat orang takut," kata Inara.
__ADS_1
"Ih... Enak saja kalian, kita harus bersama-sama. Jangan aku yang didepan begini! Aku belum merasakan surga dunia!" seru Aira dengan suara yang sedikit pelan.
"Masalah surga dunia yang dibahas, cepetan... Jangan sampai barang-barangmu di gondol maling ," kata Mikaela.
"Kalian di sisiku! jangan dibelakang ," kata Aira.
"Ih... Iya... Iya... ! Ayo.... !"
Mikaela dan Inara berada di sisi Aira yang mengacungkan pukulan bisbol yang dipegangnya.
"Buka pintu El." titah Aira.
Mikaela menjulurkan tangannya membuka pintu dan kemudian ketiganya menjulurkan kepalanya melihat luar kamar.
"Pintu masih terkunci, dan tidak terlihat ada barang yang hilang," ujar Aira.
Ketiganya melangkah makin keluar dari dalam kamar.
Dan
"A... aa...aa !" ketiganya berteriak keras, ketika tiba-tiba ada terbang melintas dari atas kepala ketiganya.
"Vampir!" teriak Inara seraya merunduk.
Mikaela dan Aira juga ikut merunduk.
"Apa itu ?" tanya Mikaela.
"Vampir! Hitam besar ! Keluar!" Inara menunjuk kearah jendela apartemen yang terbuka.
Mikaela dan Aira menoleh kearah jendela dan melihat jendela menuju balkon terbuka.
"Burung?" Mikaela berdiri.
"Mana ada vampir! Burung tuh... Jendela tidak ditutup," kata Mikaela.
"Koq terbuka? Aku ingat sudah ditutup tadi ," kata Aira.
"Kau tutup, mungkin lupa menguncinya," kata Mikaela.
Mikaela keluar dan berdiri di pinggir balkon. "Pasti burung, tidak mungkin orang mau masuk dari ketinggian seperti ini," kata Mikaela.
"Orang cari mati ! Barang tidak dapat, nyawa sudah melayang," kata Aira.
"Burung apa terbang malam-malam? Itu tadi vampir," kata Inara.
"Nggak ada vampir di Indonesia non.... !" kata Aira seraya mentoyor tangan Inara.
"Ada ! Buah-buahan di rumahku saja suka dicuri vampir," kata Inara.
Mikaela dan Aira saling pandang, dan kemudian berkata secara bersamaan.
"Kelelawar !" seru Mikaela dan Aira.
Inara mengangguk.
"Vampir... Vampir! Bilang kelelawar!" kesal Aira.
"Vampir kan mirip kelelawar," kata Inara.
__ADS_1
"Kelelawar tuh... Batman!" kata Aira.
"Lihat... !" Mikaela menunjuk ke arah langit dan terlihat bintang yang bertaburan dilangit yang gelap.
"Cakep ya... Sungguh romantis jika bisa ngedate dibawa langit yang indah begitu," kata Aira.
"El... Apa kak Raffi sedang menatap langit seperti kita?" tanya Inara.
"Menatap langit juga tidak lihat bintang. Di sana siang ," kata Aira.
"He... He... Koq linglung aku, lupa. Indonesia dan Inggris beda zona waktu," kata Inara.
Ketiganya duduk melihat bintang-bintang seraya bercerita masa lalu yang tidak mungkin diulang kembali. Masa-masa ketiganya saat masih putih abu-abu dan saat masuk universitas menjadi perbincangan ketiga.
"El... Cowok yang pernah mengembalikan bukumu dulu kemana ? Tidak pernah menghubungimu lagi ?" tanya Aira.
"Yang mana ?" Mikaela lupa dengan laki-laki yang dikatakan oleh Aira.
Aira menyebutkan ciri-ciri laki-laki yang dilupakan Mikaela.
"Oh... Siapa namanya ya ? Aku lupa, Edi ya ?" tanya Mikaela pada Inara dan Aira.
"Yah... nanya kami ? yang dekat kan kau El," kata Inara.
"Nggak dekat ya ! Bertemu tanpa sengaja," kata Mikaela.
"Aku kira dulu kau akan berakhir di pelaminan bersama dengan orang itu. Dia kan cukup gencar mendekatimu saat itu," kata Inara .
"Dito bukan namanya?"
"Lihat di ponselmu, masa tidak ada namanya," kata Aira.
"Sebentar." Mikaela ingin mengambil ponselnya, tapi urung dilakukan.
Mikaela kembali duduk. "Untuk apa kau mengingatnya, Aira? Jangan bilang kau ingin mencoba mendua?" Mikaela menatap Aira dengan lekat.
"Ih... Aku itu setia... kan tadi kita mengenang masa lalu, aku ingat dengan tuh... Cowok!"
"Dito namanya," kata Mikaela.
"Nah... Ingat. Tadi sok lupa." ledek Aira.
"Untuk apa diingat-ingat, aku dan dia tidak pernah menjalin hubungan yang spesial. Di dalam sini, hanya ada nama orang yang spesial." Mikaela menunjuk kepalanya.
"Nama orang itu, hanya nama sang suami. Iya kan?" tanya Inara.
"Bukan hanya dia, nama ayah bunda mbak Nisa dan kalian juga bersemayam di dalam sini dan sini." Mikaela menunjuk dada dan kepalanya.
"Oh... Sedihnya aku, kita akan berpisah sebentar lagi." Aira menyenderkan kepalanya dilengan Mikaela.
"Aku ingin seperti dulu, saat-saat kita masih belum memikirkan kehidupan. Pulang kuliah pergi jalan-jalan, nonton. Nggak ada uang minta orang tua. Ingin waktu berhenti pada masa kita hidup tanpa beban," kata Inara.
"Proses yang harus kita lalui sebagai mahluk hidup, tidak mungkin kita stay di satu titik saja," kata Mikaela.
"Yang penting, kita tetap BESTie," kata Mikaela.
"Berpelukan!" seru Mikaela dan merengkuh tubuh Aira dan Inara.
"Berpelukan!" seru Aira dan Inara.
__ADS_1
Ketiganya berpelukan dengan erat seraya menatap langit malam.
Next...