Terpaksa Menjadi Madu

Terpaksa Menjadi Madu
Bab 73 Godaan


__ADS_3

Happy reading guys.


...****************...


Apa yang terjadi pada Annisa membuat Aiman, ayahnya semakin merasa bersalah. Selama ini Annisa yang selalu mengurus Mikaela sampai sadar dan menjaga Aiman, sehingga Annisa lalai dengan kesehatannya sendiri.


Mikaela juga turut merasakan kesedihan seperti yang dirasakan oleh Aiman. Kondisinya yang labil, membuat Annisa yang menangani masalah yang ada dalam keluarganya.


"Mbak, maafkan aku." Mikaela menunduk sembari menyentuh tangan Annisa dengan erat.


"Sudahlah, tidak ada yang salah. Ini semua ujian yang harus aku terima."


"El, bagaimana kondisi ayah?" tanya Annisa, karena sejak dia keguguran dan kembali ke rumahnya dan diharuskan untuk beristirahat total oleh dokter, Annisa tidak bertemu dengan sang ayah.


"Alhamdulillah, sudah mulai mau makan," sahut Mikaela.


"Apa tidak ada kabar mengenai Raffi?" tanya Annisa.


Mikaela menggelengkan kepalanya.


"Apa mau mereka sebenarnya? Aku semakin tidak suka dengan keluarga Raffi itu !" kesal Annisa.


"Jangan pikirkan itu mbak, sekarang mbak pikirkan kondisi mbak sendiri, biar cepat normal. Masalahku yang membuat mbak begini, maafkan aku mbak," kata Mikaela yang benar-benar merasa bersalah dengan apa yang dialami oleh Annisa.


"Mbak minta, tolong jaga ayah."


"Iya mbak."


***


"Tuan, utusan dari perusahaan PT Berjaya telah hadir."


"Kau temani mereka dulu."


"Baik Tuan."


Asisten Damar Reza bergegas keluar dari ruang kerja Damar. Sang asisten keluar, Damar yang tadi sedang menerima telepon melanjutkan pembicaraannya.


"Apa kau tidak tahu Vid ?"


"Aku tidak tahu Dam, sudah semua aku tanya, dan tidak ada yang tahu, ke rumah sakit mana mereka pindah."

__ADS_1


"Aku heran, kenapa mereka merahasiakan kepindahan rumah sakit dengan begitu rahasia. Apa keluarga kalian ada masalah dengan keluarga suami adikmu itu ?" tanya David.


"Tidak ada masalah, hanya setelah kejadian musibah itu, adiknya menyalahkan Mikaela sebagai pembunuh mamanya."


"Lo... Koq menyalahkan istri abangnya ? apa dia tidak tahu, kecelakaan itu karena ada mobil yang hilang kendali karena jalanan licin. Perlu dibawa ke psikiater orang itu, bisa-bisanya menyalahkan orang yang tidak ada sangkut pautnya dengan kecelakaan dan istri abangnya itu sama seperti mama dan abangnya sebagai korban."


"Kau cari lagi ya Vid. Aku mohon, bapak mertua dan ibu mertuaku sangat sedih. Terlebih bapak mertuaku yang menyalahkan dirinya sebagai penyebab kesedihan Mikaela."


"Aduh... Kenapa semua saling menyalahkan," kata David.


Setelah memutuskan sambungan telepon dengan David, Damar menemui kliennya dari PT Berjaya.


"Tuan, Nona Alisa Salim." Reza mengenalkan Alisa Salim pada Damar.


Damar mengulurkan tangannya menyambut uluran tangan Alisa Salim. "Salim ? Anda putri Tuan Arman Salim?" tanya Damar.


"Iya... Papanya saya tidak bisa hadir dalam pertemuan awal ini, saya mewakilinya."


"Kenalkan juga, asisten saya Arini." Alisa mengenalkan asistennya Arini.


"Silakan Nona Salim." Damar mempersilakan Alisa Salim untuk duduk.


"Apakah aku boleh manggil kak Damar?" tanya Alisa.


Damar mengangguk.


"Kak Damar dan kak Reza, mohon bimbingannya," kata Alisa Salim seraya membungkukkan badannya sedikit.


Damar dan Reza tersenyum melihat tingkah Alisa.


Lisa yang supel membuat pertemuan pertama tidak canggung dan Damar senang, walaupun Alisa baru berkecimpung dalam perusahaan sang papa, dia terlihat seperti anak kemarin sore.


"Terimakasih kak Damar sudah mau bekerjasama dengan perusahaan kami," kata Alisa.


"Perusahaan kami juga turut senang, karena PT Berjaya milik Tuan Arman Salim mau melirik perusahaan kami yang kecil ini," tutur Damar merendah.


"Kak Damar merendah, perusahaan kak Damar sudah go internasional ."


"Baiklah, untuk pertemuan selanjutnya, kita sudah bisa membahas pekerjaan yang harus kita kerjakan," kata Damar.


"Baik kak," sahut Alisa.

__ADS_1


Setelah pertemuan berakhir, Alisa dan Arini pergi meninggalkan perusahaan dengan perasaan gembira.


"Apa tidak ketahuan dengan Om Arman nanti Lisa?" tanya Arini.


Lisa melirik Arini sekilas dan kemudian fokus melihat jalanan ibukota yang lenggang dari kesibukan.


"Jaga rahasia Rin, kau jangan sampai bocor."


"Lagipula kita tidak main-main dengan proyek kerjasama ini, aku hanya ingin main-main dengan hati kak Damar."


"Lis, apa kau tidak takut dosa menggoda suami orang. Kasihan istrinya, jika sampai tergoda olehmu," kata Arini, asisten Alisa, sekaligus sahabatnya.


"Rini... Kenapa kau sekarang seperti ustadzah saja ? Sudahlah... Dosa menggoda suami orang aku tanggung sendiri. Sekarang kau persiapkan semua berkas kerja sama dengan perusahaan kak Damar."


"Aku juga membantu sahabat kita Rin," kata Alisa.


"Aku koq tidak percaya dengan apa yang di ceritakan oleh Alin, Lisa," kata Arini.


"Kenapa kau tidak percaya?" tanya Alisa.


"Nggak percaya saja, kenapa kakak iparnya yang salah dengan kematian mamanya? Aku lihat kakak iparnya itu tidak terlihat seperti wanita mata duitan seperti yang diceritakan oleh Alin."


"Aku percaya dengan Alin. Selama ini Alin tidak pernah bohong, dan lagi, Alin itu sudah sangat berjasa pada kita Rin. Siapa yang mau bergaul dengan aku yang culun dulu dan kau gadis kere yang selalu dikatakan oleh orang pada kita dulu. Jika tidak ada Alin yang selalu membela kita, mungkin kita berdua sudah berada didalam tanah, karena frustasi mendapatkan bullying."


Arini diam, dia termenung. Dia memikirkan apa yang dikatakan oleh Alisa, benar. Alin sudah sangat berjasa dengan kehidupan mereka berdua, Alisa Salim anak orang kaya yang culun dan tidak bisa bergaul dan Arini gadis miskin dan pintar yang tinggal di perkampungan kumuh, dan hanya Alin yang mau melihat mereka berdua dan mengajak untuk berteman.


"Ini tidak lama Rin, setelah aku mendapatkan hati Damar dan istrinya merana, kita wus... (Alisa mengibaskan tangannya)... Kembali ke tempat kita ," kata Alisa dan senyum tipis menghiasi bibirnya.


Sudah dua bulan, Mikaela tidak jenuh untuk mencari informasi mengenai Raffi, Raffi nihil. Mikaela juga mencari sampai ke universitas tempat Raffi mengajar dan pihak universitas juga tidak mengetahui keberadaan Raffi saat ini. Seperti Mikaela, pihak universitas juga mendapat kabar, Raffi meninggal bersama dengan Mamanya.


Bukan hanya Mikaela yang pontang-panting mencari informasi mengenai Raffi, Antoni dan Faiz juga turut membantu mencari informasi. Antoni mengunakan relasinya yang berada diluar negeri dan tetap nihil, informasi mengenai Raffi tidak terdeteksi.


"Apa betul kak Raffi sudah meninggal?" mata Mikaela berembun, dan setetes air menggenangi sudut bola matanya.


"Jika benar meninggal, kenapa aku tidak diizinkan untuk menghantarkan kakak untuk terakhir kalinya. Kenapa mereka tidak ingin aku melihatmu kak Raffi? Kenapa.... ?" Mikaela menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak, karena dia menahan tangisnya agar tidak keluar. Dia menyimpan kesedihannya untuk dirinya sendiri, karena tidak ingin ayah dan bundanya ikut sedih.


"Aldo dan Alin membenciku... Apa salahku ? Aku juga tidak ingin musibah ini terjadi!" seru Mikaela dengan suara yang keras dalam hatinya.


Apa Alisa berhasil menggoda Damar?


Next....

__ADS_1


__ADS_2