Terpaksa Menjadi Madu

Terpaksa Menjadi Madu
Bab 27 Rengekan bumil


__ADS_3

Happy reading guys


...----------------...


Happy reading guys


...----------------...


"Hus... Mas ini." Annisa mencubit lengan sang suami yang tidak berhenti berkomentar membahas wanita hamil yang antri menunggu jadwal dipanggil masuk.


"Aduh sayang, kenapa Mas di cubit," kata Damar, lalu mengelus lengannya yang telah menjadi korban jari tangan sang istri.


"Mas diam! Nanti mereka mendengar apa yang mas katakan," ucap Annisa dengan melebarkan matanya kepada sang suami.


Perawat keluar dan memanggil nama Annisa. Annisa dan Damar masuk, lalu duduk .


"Ini kontrol kedua ya, Bu," kata dokter Samira.


"Iya, Dok," sahut Annisa.


"Bapaknya ikut," kata dokter Samira.


"Iya, Dok," jawab Damar.


Dokter Samira menyuruh Annisa untuk baring. Untuk dilakukan USG.


"Kondisi baby baik. Usia kehamilan memasuki trimester pertama. Seperti yang saya katakan pada kontrol yang pertama. Trimester pertama itu masih sangat rawan. Bukan trimester pertama saja yang rawan. Trimester selanjutnya juga masih rawan jika ibu tidak hati-hati. Kontrol makanan. Kurangi makanan-makanan yang dibakar. Bukan tidak boleh, tapi dikurangi. Sebulan sekali," kata dokter Samira.


"Makanan setengah matang, seperti telur dan daging yang dimasak tidak matang." tutur dokter Samira.


"Dokter, apa jenis kelamin anak saya?" tanya Damar yang sedari tadi hanya diam, mendengar apa yang dikatakan oleh dokter Samira.


"Mas... !" Annisa mengalihkan pandangannya dari layar monitor, ke wajah sang suami yang fokus menatap layar monitor. Jemarinya menepuk lengan Damar.


"Apa?" Damar kaget mendapatkan tepukan Annisa yang tiba-tiba menerpa tangannya.


"Untuk masa sekarang, jenis kelamin bayi belum bisa dilihat ya. Pak. Lihatlah, baby nya masih sekecil ini. Belum terlihat jenis kelaminnya," kata dokter Samira.


"Tunggu trimester kedua ya, Pak. Sabar." sambung dokter Samira.


"Oh..." Ucap Damar.


"Apakah ada larangan untuk posisi tidur, Dok. Karena istri saya ini tidurnya seperti sedang main kungfu," kata Damar.


"Huh... Mas Damar ini, buat malu aku saja..!" Kesal Annisa yang dikatakan oleh Damar, Annisa tidur seperti sedang main kungfu.


"Pertanyaan yang bagus, Pak. Ini sering tidak diketahui oleh para ibu hamil. Biasanya bapaknya hanya tanya masalah berkunjung, apa boleh berkunjung," kata dokter Samira.


"Itu juga mau saya tanyakan Dok. Karena dokter sudah menyinggungnya. Saya tanya sekarang saja Dok. Apa saya masih bisa bertamu, Dok?" tanya Damar. Annisa hanya dapat menampilkan wajah malu mendengar apa yang ditanyakan oleh Damar.


"Untuk berkunjung boleh-boleh saja, Pak. Tapi harus tetap hati-hati. Jangan terlalu bersemangat saat berkunjung, lakukan dengan posisi yang normal dan aman untuk ibunya, pak," kata dokter Samira.


Damar melirik Annisa dan memain-mainkan matanya. Annisa mendengus kesal membalas Damar.

__ADS_1


"Tidur telentang merupakan salah satu posisi tidur yang tidak disarankan untuk ibu hamil. Pasalnya, seiring waktu kandungan akan semakin membesar dan dapat menekan pembuluh darah utama, sehingga mengurangi pasokan darah menuju ke janin." tutur dokter Samira.


"Kalau begitu, harus miring ya Dok?" tanya Annisa.


"Iya, Bu," sahut dokter Samira.


Dalam perjalanan pulang. Annisa selalu minta dibelikan makanan yang terlihat oleh matanya. Jika tidak diizinkan oleh Damar, Annisa menunjukkan raut wajah cemberut dengan mulut manyun dan membuang muka setiap pandangan mata keduanya terserobok.


"Apa lupa dengan apa yang dikatakan oleh dokter tadi? Padahal baru satu jam, sudah melupakan apa pesan dari dokter," kata Damar.


"Pesan dokter tidak boleh makan-makanan yang setengah matang. Sate kan bukan setengah matang," kata Annisa.


"Dokter bilang satu bulan sekali. Tadi pagi sudah makan sate. Ini mau beli lagi. Ini bukan satu bulan sekali, namanya. Tapi satu hari dua kali," kata Damar.


"Huh... Sebal... !" gerutu Annisa.


"Mas melarang untuk kebaikan baby kita. Apa Nisa mau baby kita kenapa-kenapa?" Kata Damar.


"Baiklah mas. Beli sate tidak boleh. Kalau ke Mall boleh kan?" tanya Annisa.


"Baiklah, kita ke Mall. Tapi tidak boleh lama-lama," kata Damar.


"Semua serba tidak boleh. Ternyata hamil membuat aku terpenjara." Keluh Annisa dalam benaknya.


Tiba di Mall. Mata Annisa langsung terarah kesatu toko perlengkapan baby.


"Mas... Cantiknya," ujar Annisa dengan menunjukkan baju baby berwarna pink.


"Cantik. Tapi baby kita belum tahu jenis kelaminnya," kata Damar.


"Sayang, apa boleh beli perlengkapan baby sekarang ini. Mas dengar katanya tidak boleh, pamali," kata Damar.


"Mana ada pamali-pamali mas. Mas itu kuno sekali. Sekarang sudah jaman modern. Tidak ada pamali-pamali."


"Senangnya...!" seru Annisa seraya memeluk paper bag tempat baju baby yang dibelinya.


Damar geleng-geleng kepala melihat Annisa senang memeluk paper bag berisi baju baby.


"Sekarang mau kemana lagi?" tanya Damar.


"Pulang," kata Annisa.


"Tidak ada mau beli yang lain? Baju hamil?" tanya Damar.


"Hamilnya belum membutuhkan baju hamil," jawab Annisa.


"Belum kelihatan juga." tambah Annisa.


"Betul, kita pulang ini? Jangan nanti sampai rumah, ada yang ingin dibeli."


"Apa mas mau belikan aku sate?"


"Tidak! Kalau sate." tegas Damar, menolak keinginan Annisa beli sate.

__ADS_1


"Pelit..!" Annisa mencebikkan bibirnya.


"Pulang." Annisa langsung melangkah meninggalkan Damar.


"Ngambek," ucap Damar seraya mengiringi langkah Annisa yang sedikit menghentak.


"Tahu... !"


"Jalan jangan menghentak begitu." ingatkan Damar.


Annisa sadar dan menormalkan jalannya.


***


Mikaela pulang dengan membawa rantang yang diberikan oleh Raffi. Karena makanan yang diberikan Raffi banyak dan tidak habis untuk disantapnya sendiri, karena kedua temannya pergi dengan pasangannya masing-masing dan Ira yang sedang cuti sakit, makanan yang diberikan oleh Raffi dibawa pulang Mikaela.


Bunda Aini melihat rantang yang dibawa Mikaela dan bertanya. "Bawa apa tu ?"


"Makanan bunda, tidak termakan di toko tadi, banyak costumer dan tidak bisa makan," sahut Mikaela.


Bunda Aini membuka rantang yang diletakkan Mikaela di atas meja dapur.


"Banyak sekali El! koq nggak ada yang kelong, apa benar-benar tidak makan tadi ?" tanya Aini, karena melihat setiap rantang isinya masih belum tersentuh.


"Tidak sempat makan bunda, banyak yang belanja di toko, Ira tidak masuk."


"Sesibuk apapun, harus diisi perutnya El. Sakit nanti terkendala semua yang dikerjakan." nasihat bunda Aini.


"Iya bundaku sayang!" Mikaela merangkul sang bunda dari belakang dan meletakkan dagunya di bahu Aini.


"Iya... iya... saja! tapi tidak dituruti apa yang bunda katakan," kata Aini.


"Bukan tidak dilaksanakan bunda... laksanakan, tapi telat lakukan nya," ucap Mikaela, lalu nyengir.


"Apa sekali makanan ini El, beli atau diberi orang?"


"Di kasih bunda, ada teman yang punya hajatan. Aku kan tidak bisa datang, eh... dikirim makanan," alasan Mikaela, Karena dia tidak ingin panjang pertanyaannya sang bunda, jika dia katakan bahwa makanan itu dari seorang pria. Bisa-bisa dia akan diintrogasi ayah dan bundanya.


"Baik sekali," kata Aini.


"Oh ya Bun. Apa bunda sudah lihat instan story mbak Nisa?"


"Tidak lihat. Bunda sibuk benahi kamar Nisa, tidak buka ponsel. Ada apa di instan story nya?"


"Mbak Nisa posting baju baby bunda."


"Dia beli baju baby?" tanya Aini.


"Mungkin bunda, kan katanya tidak boleh kan bunda? kandungan mbak Nisa baru tiga bulan."


"Menurut orang-orang tua dulu tidak boleh. Nisa dibilangin kan cengkal ," kata Aini.


"Kita doakan saja kandungan baik-baik saja."

__ADS_1


Next


__ADS_2