
Alur cerita ini mundur beberapa tahun kebelakang, bukan alur maju mundur. Kalau alur maju mundur, kilas balik bisa satu paragraf. Ini ceritanya mengambil alur mundur.
......................
Damar mengikuti Annisa dan melihat Annisa duduk di taman. Damar meletakkan bokongnya di samping Nisa.
"Kenapa begitu pada El? Dia juga sedih dengan apa yang menimpa bunda, Nisa!" kata Damar.
"Aku kesal ! Hanya menjaga bunda saja dia tidak becus... ! Lihat kondisi bunda, kaki patah ."
"Bunda masih bisa menjaga dirinya sendiri, Nisa. Apa yang terjadi pada bunda bukan tanggung jawab El," kata Damar.
"Katakan, Nisa. Apa ada masalah yang membuat kau seperti ini ?"
"Tidak ada ," kata Annisa.
"Sebelum ayah meninggal, kau berubah! Sepertinya ada yang kau sembunyikan dariku. Katakan Nisa."
"Tidak ada apa-apa." Annisa tetap tidak mau mengatakan apa yang membuat dirinya menjadi tempramental begini.
"Baiklah, jika kau belum mau menceritakannya padaku. Aku mohon Nisa, berdamailah dengan El, kasihan dia selalu menjadi tempat pelampiasan kemarahanmu. Jika ayah masih ada, dia akan sedih. Bagaimanapun juga, kalian mempunyai hubungan darah. Tidak bagus dilihat orang, sepeninggalnya ayah, kalian berdua tidak akur."
**
Seminggu di rawat, bunda Aini diizinkan untuk pulang. Patah kaki yang dideritanya tidak begitu parah, sehingga diizinkan untuk berobat jalan.
Walaupun Annisa tidak lagi menyalahkan Mikaela, tapi dia masih tidak mau menegur Mikaela. Dia hanya bicara dengan bundanya, jika datang.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Tiba-tiba Annisa bersikap baik padanya dan mulai menegur Mikaela. Perubahan sikap Annisa membuat Mikaela senang. Ternyata, perubahan Annisa ada maksud terselubung yang membutuhkan bantuan Mikaela.
"El, Mbak membutuhkan bantuanmu. Dan mbak mengharapkan kau mau membantu permintaanku ini," kata Annisa yang datang menghampirinya, setelah berbincang dengan bunda Aini yang sudah bisa menerima kepergian sang suami, setelah mendapatkan pencerahan dari temannya Mama Damar yang pernah mengalami seperti yang dialami oleh bunda Aini.
"Apa yang bisa aku bantu mbak?" tanya Mikaela.
__ADS_1
"Tolong lahirkan anak Mas Damar untukku," kata Annisa langsung.
"Hah .... !" Mikaela terperanjat mendengar permintaan Annisa yang tidak masuk akal menurut Mikaela.
"Apa maksudmu, mbak ? Aku... a-ku ...." Mikaela bingung, apa yang ingin diucapkannya.
"Kau hamil anak Mas Damar. Aku tidak bisa hamil, karena rahimku lemah," kata Annisa dengan santai. Annisa sepertinya merasa, apa yang dimintanya pada Mikaela itu hal yang biasa saja.
"Mbak ... Maksudnya, mbak menyuruh aku untuk menikah dengan Mas Damar? Aku menjadi madu ? Aku... a-ku menjadi istri kedua?" tanya Mikaela dengan terbata-bata.
"Tidak ! Kau melakukan program bayi tabung, aku tidak akan mengizinkan kau menikah dengan Mas Damar. Aku hanya membutuhkan rahimmu saja. Kau harus membantuku, El. Kau ingat, jika tidak diasuh ayah dan bunda, kau itu akan menjadi anak terlantar. Tante Lenia tidak mungkin mau mengasuhmu."
"Aku membutuhkanmu sebagai rahim pengganti, karena aku tidak bisa mengandung. Sudah berkali-kali aku hamil, tapi tidak bertahan." raut wajah sedih ditunjukkan Annisa saat menatap Mikaela.
"Ibu pengganti ? Maksudnya aku harus hamil anak untukmu, Mbak?" Mikaela masih bingung dengan apa yang dikatakan oleh Annisa, dan bertanya lagi dengan apa yang diinginkan oleh Annisa.
"Aku membutuhkanmu rahimmu saja !" seru Annisa dengan suara yang keras, karena kesal dengan kelambatan login otak Mikaela dengan apa yang dikatakannya.
Mikaela akhirnya mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Annisa. Dia memegang dadanya yang terasa berdetak kencang dan sekujur tubuhnya tiba-tiba lemas. Jika tidak dalam keadaan duduk tadi, mungkin saja Mikaela sudah berada di atas lantai dalam keadaan pingsan. Dia tidak mengira permintaan itu keluar dari mulut Annisa.
"Aku tidak ingin anakku berada dalam rahim yang tidak aku kenal."
"Permintaanku juga tidak merugikanmu. Aku akan membayar bantuanmu, walaupun sebenarnya itu tidak perlu, karena pertolongan keluargaku sudah teramat besar pada kehidupanmu." tambah Annisa.
"Besok kita temui dokter, biar kau diperiksa, dan secepatnya bisa hamil."
"Bunda tidak setuju.... !" suara bunda Aini dari depan pintu kamar membuat Mikaela dan Annisa kaget, terlebih lagi Annisa yang mengira bunda Aini sedang tidur.
Tirai terbuka dan terlihat bunda Aini yang masih dalam kondisi kaki diperban duduk di atas kursi roda. Kursi roda elektrik membawa bunda Aini mendekati Mikaela dan Annisa.
"Jangan sesekali kau meminta bantuan pada El, dengan permintaan yang aneh dan tidak masuk akal begitu Nisa!"
"Bunda!" seru Annisa.
__ADS_1
"Bunda tidak akan mengizinkan kau menyuruh Mikaela untuk hamil ! Kau usaha sendiri, belum terlambat untuk kau hamil, Nisa!"
"Aku sudah berusaha bunda! tapi berkali-kali aku gagal. Apa bunda mau melihat Mas Damar meninggalkan aku ? Aku ini anak bunda satu-satunya, apa bunda tidak bisa mendukung aku sekali ini saja?" Annisa sudah mengucurkan air mata.
"Bunda akan mendukungmu, jika tidak melibatkan El, Nisa. Ayah akan sedih, melihat kau memperlakukan El seperti ini. Bunda kecewa padamu Nisa."
"Aku juga kecewa pada bunda, karena tidak mendukung aku ." balas Annisa.
Mikaela tidak bisa berkata-kata, dia masih syok dengan permintaan Annisa padanya.
"Bertobatlah, biar kau bisa mengandung. Suamimu itu bukan orang miskin yang tidak bisa membiayai pengobatan yang kau inginkan. Dia bisa mencari rumah sakit dan dokter terbaik di seluruh dunia," kata Aini.
"Aku sudah lakukan itu semua bunda! Seluruh tubuhku ini sudah penuh dengan bekas suntikan! Tapi aku tetap tidak bisa mengandung lagi, rahimku lemah bunda."
Mikaela terenyuh mendengar apa yang dikatakan oleh Annisa. Jika posisi terbalik, dia yang mengalami seperti yang Annisa alami, mungkin saja Mikaela akan seperti Annisa.
"Mbak, beri aku waktu untuk berpikir," kata Mikaela setelah melihat raut wajah putus asa dalam mata Annisa.
"El.... !" bunda Aini kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Mikaela.
"Tolong aku El, aku tidak ingin melihat Mas Damar meninggalkan aku, dengan menikahi wanita lain. Aku hanya butuh rahimmu saja, lahirkan satu anak laki-laki saja, El," kata Annisa.
"Bunda tidak setuju ! Semoga Damar juga tidak setuju!" lalu bunda Aini menggerakkan kursi roda meninggalkan Annisa dan Mikaela.
"Bunda! Aku akan bunuh diri, jika bunda melarang! Bunda akan kehilangan suami dan anak dalam masa berdekatan," kata Annisa.
Kursi roda bunda Aini berhenti, dan berkata pada Nisa. "Kau sudah tidak waras Nisa!" selesai berkata, bunda Aini melanjutkan kursi rodanya dan kembali masuk kedalam kamar.
"El, tolong mbak. Mbak tidak akan marah padamu lagi, hanya ini satu-satunya yang bisa membuat mbak memaafkanmu."
Annisa bangkit dan meninggalkan Mikaela, dia pergi keluar.
Tinggal Mikaela dengan pikiran yang berkecamuk dalam otaknya. Otaknya tidak bisa diajak untuk berpikir, keputusan apa yang harus diambilnya.
__ADS_1
Next..