Terpaksa Menjadi Madu

Terpaksa Menjadi Madu
Bab 45 Kencan pertama


__ADS_3

Happy reading guys.


...****************...


Annisa gelisah dalam kamar, dia baring dengan tidak tenang. Dia sendiri di dalam kamar, sedangkan Damar pergi setelah menghantarkan Annisa keluar setelah menghantarkan Annisa pulang.


"Toni dengan Aira?" otaknya dipenuhi dengan bayangan Antoni dan Aira yang menunjukkan kemesraan dihadapannya.


"Toni dengan Aira?" ucap Annisa kembali dengan kening mengeryit dan mata yang memicing.


"Dia dekat dengan Aira? Koq aku tidak yakin." Annisa tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Antoni.


"Pasti dia bohong... ! Dia malu karena belum ada kekasih, karena itu dia pura-pura punya hubungan dengan teman El itu. Pasti itu..! Dia malu, kemesraan yang mereka tunjukkan hanya kepura-puraan saja ."


Senyum lebar menghiasi bibir Annisa.


"Kau pasti belum bisa melupakan aku Toni... ! Kau sekarang semakin keren... kumis tipis dan jambang tipis makin membuat kau semakin ganteng." senyum lebar menghiasi bibirnya kembali, membayangkan Antoni yang semakin ganteng menurutnya. Dulu Antoni kurus dan kucel membuat Antoni tidak menarik dalam pandangan mata Annisa. Hanya karena Antoni selalu memberikan perhatian yang lebih, yang membuat Annisa selama empat tahun bertahan menjalin kasih dengan Antoni. Sampai Damar hadir, membuat Antoni tersisih dari hati Annisa.


"Antoni sepertinya semakin sukses, aku akan tanya El. Apa yang dilakukan Toni sekarang ini."


"Sepertinya El pernah bilang, tokonya menjalin kerjasama dengan Toni. Apa Toni sekarang jualan baju juga? Atau dia seorang salesman? Ah... Tidak mungkin Toni salesman."


"Dia tidak terlihat seperti seorang salesman. Badannya sekarang kekar dan tubuhnya juga putih bersih. Dulu badannya tidak seperti itu, Toni dulu sangat kucel dan hitam karena terpanggang sinar matahari, sekarang tubuhnya sangat putih." batin Annisa.


"Hemh... Aku akan tanya El, apa kerjaan Toni sekarang ini?"


Pintu kamar terbuka dan Damar masuk dengan menenteng laptop.


"Mas ada kerjaan ya?" tanya Annisa.


"Iya," sahut Damar.


"Huh.... !" dengus Annisa kesal.


Damat yang duduk dan laptop sudah terbuka di atas meja, mengangkat kepalanya dan melihat Annisa yang duduk di ranjang.


"Ada apa?" tanya Damar.


"Kita keluar mas ."


"Keluar? Apa tidak letih? Ingat, Senin kita akan bertemu dengan dokter untuk mulai program bayi tabung. Lebih baik dua hari ini kita beristirahat di rumah saja," kata Damar.


Diingatkan dengan program bayi tabung yang akan mulai dilakukan hari Senin, membuat Annisa mengikuti perkataan Damar.


"Tidurlah,' kata Damar.


"Mas juga, jangan bekerja terus. Mas juga harus fit, jangan sampai kwalitas benih mas itu bermasalah."

__ADS_1


"Iya... Sedikit lagi ini."


***


Mikaela duduk di sofa yang ada didalam kamar Raffi. Dia bingung apa yang harus dilakukannya. Untuk pertama sekali dia masuk kedalam kamar seorang laki-laki, dan kamar itu milik sang suami yang baru beberapa jam yang lalu mensahkan dirinya menjadi seorang istri dari Raffi Prayudha Angkasa.


Cklek..


Pintu kamar mandi terbuka dan Raffi keluar dalam keadaan yang sudah fresh dengan rambut yang masih basah.


Mikaela memalingkan wajahnya yang merah, tadi dia melihat kearah pintu kamar mandi yang terbuka dan melihat Raffi keluar dengan memakai baju kaos oblong dan celana pendek selutut. Untuk pertama sekali Mikaela melihat Raffi memakai pakaian seperti itu, biasanya Mikaela melihat Raffi memakai baju yang sedikit formal, dan tidak pernah melihat Raffi memakai baju santai kaos oblong dan celana pendek.


"Ih... Kenapa kak Raffi Makai baju begitu sih... ?" ujar Mikaela yang pura-pura melihat ponselnya.


Raffi melangkah mendekati Mikaela, dia tahu Mikaela malu .


"Ah... segar.... !" seru Raffi seraya meletakkan bokongnya di sisi Mikaela duduk.


"Duh... ! Kenapa kak Raffi duduk di sini, apa dia ingin melihat aku pingsan!" Mikaela merasakan jantungnya berdetak seperti orang yang sedang berlari.


"Mandi El, pakai air panas ya," kata Raffi dan merapatkan tubuhnya ke tubuh Mikaela. Tubuh dingin Raffi yang menempel ditangan Mikaela, membuat jantung Mikaela berdesir.


"Bunda!" pekik Mikaela memanggil sang bunda. Bibir Mikaela merapat jantungnya terus berkejar-kejaran


Mikaela memiringkan kepalanya sedikit menatap Raffi. "Kak Raffi tahu aku tidak suka mandi dengan air panas?" tanya Mikaela.


"Apa yang aku tidak tahu. Semua mengenai istriku, aku sudah tahu. El tidak boleh makan udang, karena alergi, juga aku tahu."


"Ayah dan bunda. Mandilah, biar kita keluar," kata Raffi.


"Keluar? Sudah jam 11 malam kak, mau kemana-mana malam begini?"


"Ini malam minggu. Semakin malam, ibu kota akan semakin hidup," kata Raffi.


"Apa tidak ada yang barang yang mau kakak paking ? biar El bantu."


"Semua sudah di paking, barang yang lain bisa menyusul. Atau nanti El yang bawa," kata Raffi.


"Kalau kesana," ucap Mikaela pelan.


"Apa ?" Raffi tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Mikaela.


"Apanya?" balik tanya Mikaela.


"Tadi bilang apa? Kakak tidak dengar?" tanya Raffi.


"Tidak bilang apa-apa kak. Aku mau mandi dulu." Mikaela bangkit dan mengambil bajunya yang berada didalam koper kecil yang dibawanya.

__ADS_1


Dia hanya membawa beberapa helai baju, karena dia tinggal di rumah Raffi sampai Raffi berangkat keluar negeri. Begitu Raffi pergi, El akan akan kembali ke rumahnya.


Tidak membutuhkan waktu yang lama El sudah keluar, karena dia tadi sudah mandi sebelum ikut Raffi ke rumahnya.


"Sudah?" tanya Raffi.


"Begini, tidak apa-apa kak? El tidak ada bawa gaun," kata Mikaela.


Raffi menatap El dari atas kebawah dan dari bawah ke atas, lalu Raffi mengacungkan dua jari jempol, dan berkata. "Ferfect."


"Tunggu sebentar." Raffi membuka lemari dan mengambil jeans dan kaos lengan panjang yang warnanya senada dengan baju yang dikenakan oleh Mikaela. Tak lama kemudian, Raffi keluar.


"Ayo.... !" Raffi meraih tangan Mikaela.


Keduanya keluar kamar dengan bergandengan tangan.


"Wow... mau kemana pengantin baru ini ?" goda Aldo yang baru pulang.


"Kau baru pulang?" bukan menjawab pertanyaan Aldo, Raffi malah bertanya pada sang adik.


"Nenek menahanku tadi kak, begitu nenek tidur, baru aku bisa pulang. Kakak berdua mau kemana ?"


"Mau malam mingguan," sahut Raffi.


"Mau ikut?" tanya Mikaela.


"Tidak boleh.... !" seru Raffi.


"Iyah... Aku belum jawab sudah ditolak untuk ikut," kata Aldo.


"Kau pergi dengan pacarmu saja, jangan ganggu kami berdua yang ingin berkencan," kata Raffi.


"Baiklah... Maaf kakak ipar, lain kali kita pergi bersama. Lusa kak Raffi sudah pergi, kita akan hang out ," ujar Aldo memanas-manasi Raffi.


"Hei... Jangan kau bawa kakak iparmu ketempat yang remang-remang ya!" seru Raffi.


"Bukan tempat remang-remang itu kak! Itu tempat kita membuang beban pikiran. Sudahlah! Kak Raffi mana tahu tempat asyik... Selamat bersenang-senang... cioa.... !" Aldo berlalu meninggalkan Raffi dan Mikaela.


"Dasar adik menyebalkan!" gerutu Raffi.


"Seru punya adik Lo kak... Tidak seperti aku, sendiri."


"Sekarang kan tidak sendiri, sudah dapat dua adik yang menyebalkan."


"Ayo.."


"Kita tidak pamit pada Mama?"

__ADS_1


"Mama sudah tidur."


Next..


__ADS_2