Terpaksa Menjadi Madu

Terpaksa Menjadi Madu
Bab 67 Duka


__ADS_3

Happy reading guys


...****************...


Dalam perjalanan menuju Indonesia, Damar menempatkan Mikaela dalam kamar. Dia tidak ingin Mikaela bertemu dengan Alin, takut Alin akan kesal dan melampiaskan kemarahannya pada Mikaela yang tidak sadar dengan lingkungan sekitarnya. Mikaela masih berada didalam dunianya sendiri.


Damar membawa seorang perawat untuk mendampingi Mikaela, karena tidak mungkin Imaniar di bawa ke Indonesia, karena Imaniar masih memiliki anak yang tidak bisa ditinggal lama.


"Dam ." Aryan, papa Damar menepuk pundak Damar.


"Papa." Damar sontak kaget.


Aryan meletakkan bokongnya di kursi samping Damar. "Apa yang kau pikirkan? Katakan pada papa," kata Aryan.


"Banyak pa," kata Damar.


"Apa masalah bayi tabung?" tanya Aryan.


Damar mengangguk.


"Ada apa? apa kau kekurangan dana untuk melakukan program bayi tabung?"


"Bukan Pa ," kata Damar.


"Lalu apa? Katakan saja," kata Aryan.


"Sebenarnya aku tidak ingin melakukan program bayi tabung, Pa," kata Damar.


"Jika tidak suka, tidak usah lakukan," kata Aryan.


"Nisa tidak sabar, dia merasa sudah terlalu tua untuk memiliki anak," kata Damar.


"Kalian masih kepala tiga, siapa bilang tua? Ada yang kepala empat masih bisa memiliki anak yang sehat. Jaga kesehatan," kata Aryan.


Damar menghela napasnya. " Nisa tidak bisa diajak berbicara, dia tetap Keukeh ingin melakukan program bayi tabung."


"Turuti saja, biar rumah tanggamu aman dan damai," kata Aryan.

__ADS_1


"Sudahlah... Jangan pikirkan itu lagi, ikuti saja kemauan istri. Rumah tangga akan baik-baik saja. Istri itu ibarat raja dalam rumah tangga, kita harus ikuti kemauannya."


Ayah Aiman pagi-pagi sekali sudah berangkat ke bandara, walaupun sudah diingatkan oleh Annisa, bahwa pesawat tiba siang. Tapi Ayah Aiman tetap Keukeh ingin cepat tiba di bandara. Terpaksa dengan perasaan yang kesal, Annisa menurutnya.


"Ayah ini, sudah Nisa bilang pesawat tiba siang. Lihatlah... bandara masih sepi begini," kata Annisa.


"Nisa, sudahlah... Kita turuti saja keinginan ayah, di rumah juga ayah tidak tenang. Juga tidak ada larangan kita cepat ke bandara kan ."


"Nisa hanya memikirkan kesehatan ayah bunda. Tadi ayah makan sedikit. Yah... Ayo kita cari makan, jangan sampai ayah pingsan," kata Annisa.


"Ayah tidak lapar Nisa."


"Ayah jangan beginilah... ayah tidak boleh tumbang ! El sakit ayah ! Jika ayah sakit juga, kita tidak bisa fokus membuat El melupakan apa yang terjadi padanya."


Annisa sebenarnya berniat baik, tapi masalah yang datang beruntun membuat sifat Annisa berubah.


"Baiklah ." akhirnya ayah Aiman mengikuti keinginan Annisa, setelah Annisa menunjukkan raut wajah tidak sedap di pandang mata. Ayah Aiman tahu, niat Annisa baik untuknya, tapi sudah beberapa hari ini dia tidak berselera untuk mengisi perutnya. Pikiran yang bercabang ke mana-mana membuat ayah Aiman tidak bersemangat untuk melakukan aktivitas apapun juga. Ke toko juga ayah Aiman tidak. Keadaan toko di serahkan bunda Aini pada karyawan kepercayaan Mikaela.


***


"Mama sudah tidak ada Tante... Mama meninggalkanku," ucap Alin dibarengi dengan isakan dari mulutnya.


"Sabar ya sayang, Mama sudah tenang di sana. Jangan kita ambat perjalanan Mama menuju sang pencipta." kata Tante Alin, adik Mamanya.


Sedangkan Mikaela langsung di bawa menuju rumah sakit, dengan menggunakan ambulans. Bunda Aini yang ingin menemui keluarga Raffi di cegah oleh Damar, karena Damar takut bunda Aini mendapatkan perlakuan yang kurang pantas dari Alin.


Saat Mikaela di periksa oleh dokter, Damar menceritakan apa yang terjadi di inggris. Semua di ceritakan oleh Damar, tidak ada yang dirahasiakannya dari keluarga.


"Gila adik Raffi, apa dikiranya El yang menyebabkan musibah yang terjadi? Kalau ada aku tadi, sudah aku remas mulutnya itu ," kata Annisa dengan raut wajah yang marah.


"Sabar Nisa, kita maklumi saja. Dia kehilangan ibunya, dan abangnya terbaring tidak sadarkan diri," kata bunda Aini.


"Kalau kita sabar terus Bun, anak itu akan semakin menginjak kita. Dia harus diberi pencerahan, tidak ada yang mau menerima apa yang terjadi. Ih... Gemas aku !" kata Annisa dengan tangan mengepal.


Ayah Aiman terus mendampingi Mikaela. Dia tidak bergeser dari dekat Mikaela yang tidur sejak turun dari pesawat.


"Ayah minum ya, biar minum obat." bunda Aini memberikan obat yang harus dikonsumsi oleh sang suami.

__ADS_1


"Ayah tidak mau beristirahat? Biar bunda yang jaga El," kata bunda Aini.


"Tidak Bu. Bu, lihatlah.... " ayah Aiman menyentuh perban yang menutupi luka di pipi Mikaela.


"Kenapa Yah?"


"Baru beberapa hari kita tidak melihat El, dia terlihat kurus sekali. Pipinya tirus dan matanya cekung."


"Kita akan membuat El gemuk lagi Yah, sampai dia terpaksa beli baju baru ," kata Aini mencoba untuk bergurau, tetapi gurauan Aini tidak membuat sang suami tertawa.


"Jika ayah mengikuti apa yang dikatakan oleh Annisa, mungkin saja ini semua tidak terjadi. Ayah tidak bisa melindungi putri ayah." Aiman menyesal telah mengizinkan Mikaela untuk menikah dengan Raffi.


"Jika saja ayah menunda pernikahan mereka sampai Raffi pulang dari tugasnya, ini pasti tidak akan terjadi. Putri kita tidak akan mengalami ini semua, dan tidak di salahkan juga." tambah ayah Aiman.


"Sudahlah Yah, jangan sampai El dengar dia disalahkan oleh adik iparnya. Nanti El akan semakin menderita."


Di inggris keadaan Raffi tidak baik-baik saja, kedua kakinya yang cedera tidak dapat dipertahankan lagi. Keduanya harus diamputasi dan kondisinya belum keluar dari masa kritis.


"Alloh... Tolong berikan yang terbaik untuk anak hamba ya Alloh," ucap Paman Raffi, Hanafi. Dia begitu khusuk berdoa saat mengunjungi Raffi, sebelum dia kembali ke hotel untuk beristirahat.


"Bapak beristirahat saja, di sini ada kami yang akan memantau setiap perkembangan pak Raffi," kata David yang bertugas di Kedubes Indonesia di inggris.


"Hubungi saya jika terjadi sesuatu pada Raffi," kata Hanafi.


"Iya pak," sahut David.


Pemakaman Yuni dilakukan hari dia tiba di Indonesia. Jenazahnya langsung diberangkatkan ke pemakaman yang terletak dekat rumah. Semula ingin di makamkan di kampung, terpaksa batal. Karena kondisi tidak memungkinkan. Gerimis mengiringi jenazah Yuni masuk ke liang lahat. Isak tangis terdengar, saat tanah merah sedikit demi sedikit menutupi jenazah Yuni.


"Mama... Mama ," ucap Alin dengan lirih.


Ketika ingin meninggalkan area pemakaman, baru Alin melihat Annisa dan Damar. Saat pemakaman tadi, matanya fokus menatap liang lahat, sehingga tidak melihat Annisa dan Damar.


"Datang juga keluarga pembunuh! mana pembunuh itu ?" tanya Alin marah pada Annisa.


Annisa yang sedang bicara dengan saudara Raffi terkejut.


Next

__ADS_1


__ADS_2