
Happy reading guys.
Sepanjang hari Raffi dan Mikaela hanya berada di rumah. Raffi mengecek bawaannya, berkas-berkas kerja yang dibutuhkan dalam pertemuan yang harus dihadirinya. Raffi mengecek dengan teliti, dia tidak ingin perjalanannya mengalami kendala akibat kecerobohannya.
Mikaela sibuk di dapur dengan Alin dan Mama Raffi.
"Ternyata kak El bisa masak ya," ujar Alin.
"Masak seadanya sih... bisa, tapi tidak tahu enak apa tidak," kata Mikaela.
"Sudah pasti enak, harum masakannya saja sudah membuat perutku meronta-ronta," kata Alin.
"Yang penting mau belajar, lama-lama juga masakan kita pasti enak." Yuni, Mama Raffi ikut menimpali menantu dan putrinya.
"Sepertinya mama mau menyuruh aku untuk belajar masak ya?"
"Mama tidak menyuruh, sadar saja. Nanti setelah menikah, walaupun ada yang bantu-bantu di rumah, kita itu wajib untuk memasak untuk suami. Jangan sampai suami dan anak kita lebih doyan masakan hasil tangan maid."
"Jangan sampai dari masakan, suami dan anak kita lengket dengan maid." tambah Yuni.
"Ih... Amit-amit.... !" Alin bergidik membayangkan apa yang dikatakan oleh Mamanya.
"Kak El, di luar nanti, jaga kak Raffi. Jangan sampai cewek-cewek bule menggoda kak Raffi," kata Alin.
Mikaela tertawa mendengar perkataan Alin.
"Raffi tidak akan tergoda, dia sudah bosan melihat cewek-cewek rambut pirang.
"Sudah selesai semua masakan, panggil Raffi, El." perintah Yuni pada Mikaela.
"Aldo kan pergi, ma," kata Alin.
"Anak itu, sudah dibilang kita akan makan bersama." ngedumel Yuni mendengar Aldo pergi.
***
Dari bandara mengantar Raffi, Mikaela langsung pulang ke rumah orangtuanya.
"El..... !" panggil Annisa, saat Mikaela ingin masuk rumah .
"Mbak Nisa.... !" Mikaela terkejut, karena saat dia melangkah menuju pintu rumah, dia tidak melihat keberadaan Annisa. Ternyata Annisa duduk di kursi taman yang tertutup pohon palem, sehingga luput dari pandangan mata Mikaela.
"Sini... !" Annisa memanggil Mikaela agar mendekatinya.
"Mbak nginap di rumah bunda?" tanya Mikaela.
"Nggak, mbak baru sampai. Mbak menghantarkan sarapan pagi untuk bunda dan ayah, kasihan bunda masak sendiri sekarang. Sendiri El? Mana suamimu?"
"Hati ini berangkat mbak, El baru dari bandara."
__ADS_1
"Bagaimana urusan permohonan Visa?"
"Besok baru di urus."
"Hidup di luar beda dengan hidup di negara sendiri, El. Apa kau bisa? Bagaimana dengan pekerjaanmu ?"
"Aku akan resign mbak."
"Sayang sekali, kenapa kau harus ikut. Biar Raffi di sana, kau di sini saja."
"El sekarang sudah menjadi seorang istri mbak. Di mana suami El tinggal, di situ El juga tinggal. Suami istri itu satu paket, tidak boleh dipisahkan. Kita sebagai istri harus ikhlas mengikuti ke mana suami pergi."
Annisa diam mendengar perkataan Mikaela.
"Pasti mbak Nisa ingin menanyakan hubungan Mas Toni dengan Aira." suara hati Mikaela.
Sejak semalam, ponsel Mikaela penuh dengan pesan Annisa yang mengajak dia untuk bertemu. Dan Mikaela tahu, kenapa Annisa ingin bertemu dengannya. Pasti Annisa ingin mengintrogasi dirinya mengenai status hubungan Antoni dan Aira. Dia tidak ingin mengatakan pada Annisa, karena bukan wewenangnya untuk menceritakan hubungan Aira dan Antoni. Karena juga Annisa tidak ada hubungan dengan Antoni lagi. Jadi tidak ada kepentingan Annisa untuk mengetahui semua hal menyangkut kisah cinta Antoni dan Aira.
"El.. !" panggil Annisa.
Mikaela tersadar dari lamunannya, matanya menatap Annisa.
"Ya mbak," sahut Mikaela.
"Ada yang mau Mbak tanyakan padamu. Kau harus jawab dengan jujur ya," kata Annisa .
"Ada apa Mbak?" Mikaela memperbaiki posisi duduknya, yang tadi tegak, kini dia menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi.
"Apa benar Antoni menjalin hubungan dengan Aira?" tanya Annisa.
"Ya," jawab Mikaela tanpa berpikir panjang lagi untuk menjawab pertanyaan Annisa. Untuk apa bohong, menurut Mikaela akhirnya. Dia ingin terlepas dari kejaran Annisa yang ingin mendatangkan informasi mengenai Antoni dan Aira.
"Betul? Serius mereka pacaran? Jangan bohong." Annisa belum percaya dengan apa yang dikatakan oleh Mikaela.
"Serius lah, Mbak! Mereka pacaran. Kenapa Mbak tidak percaya?" tanya Mikaela.
"Sejak kapan? Apa sudah lama?" tanya Annisa.
"Soal lama atau tidaknya, El tidak tahu mbak. Tahu-tahunya, mereka sudah menjadi pasangan kekasih, saja" kata Mikaela.
"Apa Antoni serius dengan temanmu itu? mungkin saja temanmu itu hanya sebagai pelariannya saja, karena dia belum bisa melupakan Mbak?" kata Annisa dengan pedenya, dirinya belum bisa dilupakan Antoni.
"Serius Lah... Mbak! Mbak Nisa yang sudah mengenal Mas Toni sejak lama, pasti tahu dengan sifat Mas Toni. Aku rasa, Mas Toni itu dalam menjalani hubungan dengan seseorang itu tidak pernah main-main," kata Mikaela.
"Waktu dekat mbak Nisa, Mas Toni tidak main-main kan ?" tambah Mikaela lagi.
"Mbak saja yang tidak serius. Memainkan cinta Mas Toni." tutur Mikaela, yang hanya dapat diungkapkannya dalam hati saja.
"Apa benar mereka akan menikah?" tanya Annisa.
__ADS_1
"Dalam menjalin hubungan dengan seseorang, tujuannya untuk membina rumah tangga kan Mbak? Sudah pasti tujuan mereka juga itu mbak, untuk membina hubungan rumah tangga."
Annisa diam, dia tidak membalas perkataan Mikaela.
"Mbak... El masuk ya... mau bertemu bunda, karena El mau berangkat ke butik, takut ke jebak macet," kata Mikaela, setelah melihat jam yang melingkar di tangannya.
Annisa tidak menjawab dan Mikaela tidak menunggu Annisa membalas apa yang dikatakannya.
Mikaela memutar tumitnya dan berlalu meninggalkan Annisa yang diam termenung. Entah apa yang dipikirkannya saat ini.
Sepeninggal Mikaela, Annisa meraih ponselnya dan mencari-cari kontak Antoni yang dulu diblokirnya. Lalu Annisa menekan nomor Antoni, tapi nomor Antoni tidak terhubung. Sejak pertengahan pertama, Annisa sudah berulang kali menghubungi Antoni. Tapi nomor Antoni tidak terhubung.
"Tidak terhubung."
Annisa mencoba sekali lagi. Tapi, tetap tidak terhubung.
"Apa nomorku di blokirnya? Kurang ajar! Bisa-bisanya dia memblokir nomor ponselku."
"Atau dia sudah ganti nomor?"
Mikaela yang mengintai Annisa dari jendela mengeryit, dia bingung dengan tingkah Annisa sejak bertemu dengan Antoni.
"Apa yang kau mau mbak? Apa kau ingin kembali pada Mas Toni? Dulu kau melepaskannya, sekarang kau pemasaran dengannya."
"Hei.... !" tepukan dipundaknya membuat Mikaela kaget.
"Bunda!" Mikaela mengusap dadanya.
"Lihat apa?"
"Nggak ada bunda. Bunda... El kangen!" Mikaela memeluk Aini.
"Ish... baru kita nggak bertemu satu hari, sudah kangen." Aini mengusap lengan Mikaela.
"Satu hari seperti seribu tahun, bunda."
Bunda Aini tertawa.
"Jam berapa Raffi berangkat tadi ?" tanya Aini.
"Jangan lima Bun. El dari bandara langsung ke sini."
"Apa Mama Raffi tidak apa-apa, El tinggal di sini?"
"Nggak apa-apa bunda, mama juga tahu, kantor dan toko lebih dekat dari sini."
"Ini nggak kerja?" tanya Aini.
"Cuti bunda, lusa baru masuk kantor."
__ADS_1