
Happy reading guys
...****************...
"Ayah !" pekik Annisa, begitu melihat sang ayah yang duduk selonjoran di lantai dengan bersandar di dinding jatuh ke samping.
Bunda Aini yang duduk di dekat sang suami bangkit menghampiri Aiman.
"Yah.... ! Ayah!" Aini menepuk pipi sang suami, tapi sang suami tidak merespon panggilan sang istri. Begitu juga dengan berkali-kali panggilan Annisa, tidak di respon oleh Aiman.
Aira yang berdiri dibelakang Annisa memutar tumitnya dan mencari keberadaan Antoni dan Faiz.
"Ayah! Bun, kita bawa ayah ke rumah sakit," kata Annisa.
'Tidak ." suara penolakan yang parau terdengar dari mulut Ayah Aiman.
"Ayah !" bunda Aini mengelus wajah sang suami dan air matanya jatuh setetes menerpa tangannya.
"Buka mata ayah! Jangan nakut-nakuti ibu Yah," kata Aini.
Mata Aiman masih terpejam dan napasnya terlihat tidak teratur.
"Bu, bawa ke puskesmas dekat rumah saja," kata tetangga yang datang menemui ayah Aiman dan Bu Aini.
"Iya Bu." timpal tetangga yang lain.
"Tidak!" Ayah Aiman berusaha untuk membuka matanya.
"Buka mata ayah !" kata Annisa.
Aira kembali bersama dengan Antoni dan Faiz.
"Mbak... Kita bawa ke rumah sakit," kata Aira.
"Kita ke rumah sakit Yah," kata Aini.
"Tolong mas ." Aira melihat Antoni dan Faiz.
"Tolong Ton ," kata Annisa, saat keberadaan Antoni di samping Aira.
Antoni dan Faiz dengan dibantu tetangga pria yang lain mengangkat ayah Aiman dan mengangkatnya masuk kedalam mobil Antoni. Bunda Aini duduk dibelakang dengan memangku kepala ayah Aiman. Sedangkan Annisa langsung masuk ke kursi depan, padahal Aira membuka pintu depan untuk dia sendiri.
Antoni melihat Annisa yang duduk didepan ingin meminta Annisa untuk keluar, tetapi Aira menggelengkan kepalanya dan berkata. "Cepat mas... Aku ikut mobil Mas Faiz."
Akhirnya Antoni masuk kedalam mobil, setelah mendengar Annisa berkata dengan suara yang sedikit keras kepadanya.
__ADS_1
"Toni... cepat!" teriak Annisa dari dalam mobil.
Antoni menatap Aira.
"Cepat mas ... Jangan khawatir kan aku," kata Aira dan berjalan cepat menuju mobil Faiz yang berhenti di belakang mobil Antoni.
Antoni masuk kedalam mobil.
"Lama sekali kau Toni! Apa kalian tidak lihat ayahku sesak napasnya itu !" Annisa melirik Antoni yang berwajah datar dibalik kursi kemudi. Sedangkan di belakang, napas ayah Aiman terlihat sesak dan bunda Aini mengusap-usapnya.
Antoni hanya diam, matanya terus melihat kaca spion untuk melihat keberadaan mobil Faiz yang membawa Aira.
"Sabar ya Yah, sebentar lagi kita sampai rumah sakit," kata bunda Aini sembari mengusap dada sang suami.
"Kebut Toni!" perintah Annisa.
Ingatan Antoni kembali pada saat dirinya masih menjalin hubungan percintaan dengan Annisa. Dulu Annisa selalu memerintahnya untuk membawa motor dengan cepat, karena dia takut terlambat kuliah. Tamat kuliah, saat bekerja, kebiasaan Annisa memerintahnya terus berlanjut, karena Annisa selalu pergi bekerja waktu sudah menunjukkan jam masuk kantor.
Lamunan masa lalu Antoni sirna, begitu mobil masuk ke area rumah sakit.
Antoni memarkirkan mobilnya dan meminta seorang satpam untuk mengambil brankar, karena ayah Aiman tidak mungkin untuk berjalan ataupun duduk di atas kursi roda.
Ayah Aiman dibawa menuju unit gawat darurat, diikuti oleh Annisa, bunda Aini dan Antoni.
Brankar yang membawa ayah Aiman di bawa masuk kedalam unit gawat.
"Toni !" Annisa menubruk tubuh Antoni dan meluk Antoni sembari menangis di dada sang mantan yang sudah move on darinya.
"Nisa !" Antoni kaget mendadak mendapatkan serangan pelukan dari sang mantan.
Bunda Aini yang berdiri didepan unit gawat darurat, tidak melihat apa yang dilakukan oleh Annisa. Yang ada dalam pikirannya saat ini, kondisi sang suami yang berada di dalam ruangan unit gawat darurat.
Dua pasang mata melihat Annisa memeluk Antoni. Bukan Antoni yang memeluk Annisa.
"Ai, ayo ," kata Faiz, karena Aira berhenti melangkah saat melihat Annisa dan Antoni berpelukan di pandangan matanya .
"Mas dulu," kata Aira.
"Tidak! Kau juga harus ikut! Jangan ada kesalahpahaman lagi, cukup Inara salah paham," kata Faiz.
"Lihatlah... Annisa yang meluk Antoni, tangan Antoni tidak meluk Annisa.
Aira menajamkan pandangan matanya dan melihat kedua tangan Antoni terentang ke sisi kanan dan kiri. Terlihat sekali Annisa yang meluk dan tidak dibalas oleh Antoni.
"Cukup Nisa!" ucap Antoni dengan suara yang pelan dan tegas, dan Antoni juga mendorong tubuh Annisa yang menempel di dadanya.
__ADS_1
"Bunda ." Aira mendekati bunda Aini yang berdiri tegak dengan wajah khawatir.
"Bunda duduk ya, jangan sampai bunda ikut tumbang. Bunda harus kuat untuk Mikaela," kata Aira.
Aini nurut di bawa duduk oleh Aira, sedangkan Annisa masih posisi berdiri tidak jauh dari Antoni dan Faiz.
"Wanita aneh... ayahnya masuk rumah sakit, adiknya belum ada kabarnya. Dia masih sempat-sempatnya melirik mantan." batin Faiz seraya menatap wajah Annisa yang terus terarah pada Antoni.
Antoni mundur menjauhi Annisa.
"Bro, aku tahu kau tidak membalas pelukan itu. Tapi kau jangan diam saja saat dia meluk dirimu," kata Faiz.
"Aku kaget ," balas Antoni. Matanya melihat sang kekasih yang duduk di samping bunda Aini.
Pintu ruang unit gawat darurat terbuka, dan seorang suster memanggil bunda Aini. Bunda Aini dan Annisa masuk kedalam untuk menemui dokter.
"Ai ." Antoni meletakkan bokongnya di samping Aira duduk.
"Bukan mas yang meluk dia. Dia tiba-tiba menubrukku dan menangis ," kata Antoni.
Aira memiringkan kepalanya menatap Antoni. "Enak ya mas, di peluk masa lalu. Pasti kenangan manis kembali tuh.... !" kata Aira dengan bibir mengetat.
"Nggak lah... Lebih enak dipeluk gadis masa depan," balas Antoni.
"Ada gadis masa depan, untuk apa mengingat masa lalu yang sudah sangat jauh dibelakang." tambah Antoni.
"Elehh... Ada aku bilang begitu, nggak ada aku... Pasti dibalas itu pelukan," kata Aira menyindir Antoni.
Faiz yang mendengar menyikut Antoni dan mendekatkan mulutnya ke telinga Antoni dan berkata dengan pelan.
"Ngalah saja, apa kata kekasih diamkan saja. Biar aman dunia percintaan," kata Faiz.
Apa yang dikatakan oleh Faiz tidak luput dari gendang telinga Aira, tapi dia diam saja dengan apa yang dikatakan oleh Faiz. Dalam hati dia ngedumel menyindir Antoni dan Faiz.
"Sebelas dua belas kalian berdua." batin Aira.
Kita kembali ke inggris.
Rumah sakit sudah mulai sedikit tenang, tadinya begitu banyak keluarga orang yang mencari tahu mengenai kondisi keluarga masing-masing yang menjadi korban.
"Mas, bagaimana keadaan kak El?" tanya Aldo yang sedang menunggu Raffi, sedangkan Alin di suruh pulang ke hotel, setelah berkali-kali pingsan karena tidak sanggup kehilangan Mamanya.
"Masih seperti awal, hanya diam. Pandangan matanya kosong," kata Damar.
"Bagaimana jika dibawa untuk melihat kak Raffi, kak El merespon mas," kata Aldo.
__ADS_1
"Nanti bicarakan dengan dokter, mungkin bisa sadar, begitu melihat Raffi," kata Damar yang setuju dengan usul Aldo.
Next...