
Happy reading guys.
......................
Annisa mendekati mobil yang baru ditinggalkan oleh sang pemiliknya, Antoni.
"Ini mobil Toni?" Annisa mundur selangkah dan mengamati mobil Toni.
"Ini mobil keluaran terbaru dan limited edition. Apa benar ini miliknya? Ahh... Mungkin saja ini milik orang yang dipinjamnya, dan tidak mungkin Toni mampu untuk membeli mobil yang seharga ratusan juta. Walaupun katanya dia sudah menjadi seorang pengusaha, tidak mungkin Toni mau menghamburkan uang untuk beli mobil mahal."
Annisa mengingat dulu Toni tidak suka membeli barang-barang berkelas, karena mubajir kata Toni. Toni lebih suka menabung uang daripada membelanjakannya untuk membeli barang-barang yang bermerek.
Annisa meninggalkan mobil Toni dan melangkah masuk kedalam restoran yang dimasuki oleh Toni.
Begitu tiba didalam restoran, Annisa melihat Toni duduk dengan seorang laki-laki dan berbicara dengan serius. Annisa lalu melangkah kearah Toni duduk dan meletakkan bokongnya di kursi yang berada tempat Toni duduk. Keduanya saling memunggungi.
Seorang pelayan restoran menghampiri Annisa, dan Annisa menunjuk makanan dan minuman yang diinginkannya. Dia takut untuk mengeluarkan suaranya, takut ketahuan oleh Antoni.
Annisa mendengarkan apa yang dibicarakan oleh Toni dengan orang yang bersamanya.
"Ternyata usaha Toni sangat bagus. Dia mengirim baju yang diproduksinya sampai keluar negeri." batin Annisa.
Annisa terus mendengar apa yang dibicarakan keduanya, begitu dia mendengar keduanya sudah ingin mengakhiri pembicaraan, Annisa bergegas bangkit dari duduknya dan meninggalkan restoran, padahal makanan yang dipesan belum datang. Sebelum pergi, Annisa meletakkan dua lembar uang merah untuk membayar makanan yang belum di makannya.
"Mana orangnya?" pelayan yang melihat meja tempat Annisa duduk kosong, bingung.
"Apa ke toilet?" kata pelayan restoran tersebut.
"Pak, apa bapak tahu tamu yang duduk di sini ?" tanya pelayan pada Antoni dan temannya.
"Saya tidak tahu," sahut Toni.
"Saya lihat wanita itu keluar dengan tergesa-gesa," kata teman Toni.
"Terimakasih pak," kata sang pelayan.
"Uang," pelayan melihat uang yang diletakkan Annisa dibawah botol air mineral.
"Sudah dibayar, tidak di makan." batin pelayan sembari kembali membawa makanan yang dipesan Annisa kebelakang.
__ADS_1
"Ternyata Toni sudah begitu sukses, walaupun belum bisa menyamai Mas Damar."
"Aku tunggu saja, aku mau tahu, di mana tempat usaha Toni."
Tidak begitu lama, Toni keluar dan masuk kedalam mobilnya. Mobil Toni bergerak meninggalkan area parkir restoran dan mobil Annisa juga. Annisa mengikuti mobil Toni dengan jarak aman, karena dia takut ketahuan oleh Toni. Sampai mobil Toni memasuki satu bangunan yang bertingkat dan mobilnya berhenti. Sedangkan Annisa memarkirkan mobilnya di luar, tidak mengikuti Toni.
"Ini tempat usaha Toni? Lumayan besar," gumam Annisa.
"Akhirnya aku tahu di mana tempat kerjamu Toni," kata Annisa.
Setelah merasa cukup, Annisa melajukan mobilnya dan secara perlahan-lahan meninggalkan tempat usaha Antoni.
***
Aldo bergegas meninggalkan hotel tempat dia menginap, setelah mendapatkan telepon dari rumah sakit.
"Apa yang terjadi Reyhan?" tanya Aldo pada seorang pria yang di sewa Aldo untuk menjaga Raffi.
"Tuan dipanggil dokter," kata Reyhan.
Aldo menekan bel dan kemudian seorang perawat keluar, dan Aldo mengatakan dia mau ketemu dengan dokter yang menangani Raffi.
"Kak Raffi!" Aldo memeluk Raffi dan menangis melihat mata Raffi terbuka.
"Dok, apa saudara saya sudah keluar dari masa kritisnya?" tanya Aldo, setelah menenangkan dirinya.
"Untuk saat ini pasien sudah sadar, tapi pasien belum bisa berkomunikasi dengan normal."
Dokter menjelaskan kondisi Raffi yang berbulan-bulan koma dan begitu sadar, kondisinya seperti orang tidak normal. Mata Raffi melotot menatap Aldo dan kemudian wajah dokter, sepertinya Raffi bingung dengan apa yang dialaminya.
"Pasien koma mengalami kesadaran secara bertahap. Ada yang sembuh total, namun ada juga yang mengalami komplikasi penyakit lain karena adanya penurunan fungsi otak seperti kelumpuhan pada tubuh. Nyatanya, kemungkinan pulih total dari koma tidak besar." dokter menjelaskan kondisi Raffi setelah sadar.
"Jadi, ada kemungkinan besar saudara saya tidak bisa normal Dok?"
"Kita lihat nanti," kata dokter.
"Lihat nanti? Apa maksud dokter ini ? Dia tidak bisa membuat kak Raffi normal?" batin Raffi.
Apa yang dikatakan oleh dokter membuat Aldo kesal, karena dokter tidak bisa menjamin Raffi akan sembuh total.
__ADS_1
Aldo duduk dan mengajak Raffi bicara, walaupun Raffi tidak menanggapi perkataan Aldo, tapi Aldo tetap bicara dengannya. Aldo berharap, dengan apa yang dilakukannya, Raffi bisa bereaksi.
Di Indonesia Alin begitu gembira, mendengar Raffi telah bangun dari tidur selama lima bulan.
"Akhirnya kau sadar juga kak."
"Apa yang akan kau rasakan, begitu tahu, Mama meninggalkan kita untuk selamanya kak Raffi? Jika waktu itu kakak tidak mengajak mama untuk ke inggris, Mama masih di sini. Aku tidak akan menjadi anak yatim-piatu. Perempuan itu yang telah membuat aku menjadi yatim-piatu."
Alin memukul meja dan raut wajahnya terlihat marah.
Setelah melampiaskan kekesalannya, Alin menarik napasnya dan bangkit dan berjalan keluar dari ruang kerjanya.
"Mischa, saya mau keluar. Dan mungkin saya tidak kembali ke kantor."
"Baik nona," sahut Mischa, sekretaris Alin.
Mobil Alin berhenti diarea pemakaman umum, dia mengambil selendang untuk menutupi rambutnya dan kemudian mengambil bunga yang dibelinya dalam perjalanan.
Alin mendudukkan bokongnya di rumput, dan menangis memegang nisan sang Mama.
"Maaf ma, aku tidak bisa memaafkan dia."
"Dalam hati dan otak ini tidak bisa menerima apa yang terjadi pada Mama. Semua orang bilang, dia tidak bersalah, tapi aku tidak bisa menerimanya, ma. Jika saja waktu itu mama tidak pergi, pasti mama tidak menjadi korban musibah itu. Dia tidak apa-apa, Mama kehilangan nyawa dan kak Raffi akan menjadi cacat ma. Kak Raffi tidak bisa berjalan lagi ma. Dia tidak boleh bertemu dengan kak Raffi, wanita itu membawa pengaruh buruk pada keluarga kita, ma."
Alin terus meluapkan emosi yang ada dalam hati dan pikirannya, setelah merasa cukup, baru Alin meninggalkan area pemakaman.
"Alin pergi ma, nanti ada waktu, Alin akan menjenguk mama. Sekarang Alin ada tugas penting yang harus Alin tuntaskan."
***
Suasana rumah ayah Aiman dan bunda Aini terlihat lengang, seperti tidak ada penghuninya. Biasanya hari Minggu Keduanya melakukan kegiatan membersihkan halaman, kini tidak ada. Keduanya sibuk dengan aktivitas masing-masing, bunda Aini di dapur, sedang ayah Aiman melamun di depan.
Sepeda motor berhenti dan menyerah satu amplop kepada Aiman.
Aiman membolak-balik amplop tersebut, karena tidak ada nama pengirimnya, yang ada hanya nama si penerima. Yaitu dirinya.
"Surat apa ini?" Aiman membuka dan mengeluarkan isinya, mata Aiman membesar melihat apa isi dari amplop tersebut.
Next...
__ADS_1