Terpaksa Menjadi Madu

Terpaksa Menjadi Madu
Bab 31 Sedih


__ADS_3

Happy reading guys


...----------------...


Mikaela tiba di rumah sakit tempat Annisa di rawat. "Terimakasih kak," kata Mikaela pada Raffi.


"Ela, boleh aku ikut?"


"Ee... kak Raffi mau ikut?"


"Kenapa? apa tidak boleh?" tanya Raffi.


"Bukan tidak boleh kak. Kakak pasti tidak nyaman dengan bau rumah sakit," kata Mikaela.


"Aku ikut," ujar Raffi dan kemudian keluar dari mobil, tanpa menunggu apa yang akan dikatakan Mikaela.


"Kak Raffi!" Mikaela membuka pintu dan keluar mengejar Raffi yang sudah terlebih dahulu melangkah menuju rumah sakit.


"Apa kakak tidak ada kerja yang harus dikerjakan sekarang ini?" tanya Mikaela seraya berlari kecil mengejar Raffi agar bisa beriringan jalan dengan Raffi.


Raffi menghentikan langkahnya. "Ada. ini, bertemu dengan calon mertua," jawab Raffi dan kemudian melanjutkan langkahnya kembali.


Mulut Mikaela menganga mendengar perkataan Raffi.


"Argh.... !" Mikaela berlari mengejar Raffi yang sudah masuk kedalam rumah sakit.


Mikaela berdiri didepan kamar no 23b, dibelakangnya Raffi.


"Ayo ketuk ," kara Raffi.


"Bismillah," ucap Mikaela dalam hati.


Mikaela membuka pintu dan melangkah masuk. Dalam kamar satu pasang mata terarah ke pintu yang terbuka, yaitu mas bunda Aini yang sedang menjaga Annisa yang sedang tidur karena efek obat bius belum hilang.


"Ela ," ujar Bunda Aini.


"Bunda." Mikaela memeluk Aini.


"Apa yang terjadi pada mbak Nisa bunda?" tanya Mikaela.


Aini mengurai pelukan Mikaela dan melihat Raffi yang berdiri.


Mikaela baru sadar, dia datang bersama dengan Raffi. Mikaela mengenalkan Aini pada Raffi. Baru Aini menceritakan apa yang terjadi pada Annisa.


*


*


Mikaela duduk termenung di ditengah-tengah antara dua nisan. Nisan atas nama ayahnya Arif Harman dan nisan Aisya Halim, orang tua Mikaela. Hari ini, 23 tahun yang lalu, Kedua orangtuanya Mikaela meninggalkannya sendiri di dunia. Dan sejak saat itu, Mikaela di asuh oleh sang Paman.


"Ayah, bunda. Ela datang. Ela bawa bunga kesukaan bunda. Ela tidak tahu sebenarnya, bunga apa bunda suka. Tapi kata Bunda Aini, bunda suka bunga lili. Ela bawa yang putih."


Mikaela terus bicara sendiri. Banyak yang diceritakannya pada ayah dan bundanya yang telah tiada. Mikaela terus bercerita, mulai dari cerita mengenai teman-temannya dan juga tokonya. Akhirnya, Mikaela menceritakan mengenai Raffi.


"Ayah bunda, ada pria yang mendekati Ela. Apa ayah dan bunda setuju. Bagaimana Yah, Bun. Apa Ela bisa menumpang kebahagiaan pada kak Raffi? Keluarga Kak Raffi semua baik pada Ela. Ela bingung Yah, Bun. Jika ada ayah dan bunda, Ela pasti bisa meminta pendapat ayah bunda."


Mikaela terus berceloteh sampai hari mulai bergerak menuju senja. Karena Mikaela ke makam kedua orangtuanya setelah pulang dari kantor. Dan hari ini dia tidak ke toko, karena ingin pergi ke rumah abadi ayah bundanya.

__ADS_1


"Ayah bunda... Ela pulang dulu ya. Nanti Ela akan berkunjung lagi." Mikaela bangkit dari duduknya. Tangannya mengelus nisan ayah dan bundanya, lalu mendaratkan kecupan di nisan keduanya, baru Mikaela berlalu meninggalkan area makam yang terasa sepi. Hanya Mikaela yang masih berada di rumah abadi ayah dan bundanya.


Setengah jam dalam perjalanan. Mikaela sampai di rumah. Rumah dalam keadaan sepi, seperti tidak ada penghuninya.


"Kemana bunda? apa pergi? apa ayah juga tidak ada di rumah? mungkin ayah bunda pergi ke rumah mbak Nisa."


Mikaela membuka pintu rumah.


Dan


"Selamat ulang tahun... !" Suara mengucapkan ulang tahun yang menyambut kepulangannya, membuat Mikaela kaget.


"Ayah... Bunda... !" seru Mikaela.


"Selamat ulang tahun, tidak terasa ya Yah. Bayi cengeng setiap mau tidur nangis sudah besar begini" kata Bunda Aini, dengan kedua tangannya menangkup kedua pipi Mikaela. Dan kemudian melabuhkan kecupan dikedua pipi Mikaela.


Wajah Aiman terlihat sedih. Karena dia ingat, adiknya meninggal karena kecelakaan bersama sang istri. Meninggalkan Mikaela sendiri.


"Ayah kenapa?" tanya Mikaela yang raut wajah sang ayah yang terlihat muram.


"Ayah teringat dengan Arif dan Aisya. Jika dia tidak kecelakaan, dia pasti gembira hari ini ,"kata Aiman.


"Yah... Itu sudah suratan. Tidak bisa kita cegah," kata Aini, istri Aiman.


"Sudah! Jangan sedih-sedih... Hari ini aku ulang tahun. aku mau traktir ayah dan bunda. Ayah dan bunda mau makan apa?" tanya Mikaela pada ayah dan bundanya.


"Hem... Sepertinya ayah ingin makan makanan yang paling mahal," kata Aiman menjawab pertanyaan Mikaela.


"Apa? Ayah mau makan-makanan Korea? Atau makanan Jepang? Atau makanan timur tengah?" tanya Mikaela.


"Sekarang aku mandi dulu. Ayah bunda pikirkan mau makan di mana," kata Mikaela.


Satu jam kemudian. Ketiganya sudah duduk di satu tempat dan dihadapannya sudah terhidang makanan yang mahal menurut ayah Aiman. Tapi tidak bagi Mikaela.


"Sedapnya... !" seru ayah Aiman, begitu sesendok kuah bakso masuk kedalam mulutnya.


"Ayah... Ini bukan makanan yang paling mahal. Semangkok bakso hanya seharga belasan ribu," kata Mikaela.


"Dekat rumah lagi," kata Bunda Aini.


"Bagi ayah, ini makanan termahal dan terenak. Karena di makan saat ulang tahun putriku. Ela harus tahu. Arif itu penyuka bakso. Bisa setiap hari Arif makan bakso. Dia bisa buat bakso," kata Aiman. Menceritakan sosok sang adik.


"Ayah suka bakso?"


"Iya. Arif sangat suka bakso. Arif berjumpa dengan ibumu di tukang bakso. Mereka penyuka bakso," kata Bunda Aini.


"Pasangan yang klop. Kalau ayah dan bunda suka apa?" tanya Mikaela.


"Ayah semua suka. Apalagi yang gratis," jawab ayah Aiman dengan tertawa.


"Semua orang suka Yah... Apalagi yang gratis," kata Mikaela.


"El, sudah 24 tahun. Kapan dibawa orang spesial, kenalkan pada ayah dan bunda? yang dibawa ke rumah sakit itu, apa kabarnya?" tanya bundanya.


"Ih... bunda, masih jauh !"


"Koq jauh ! jangan ah... "

__ADS_1


"Sudah Bu, jika Ela bilang belum memikirkan jodoh, biarkan saja. Jangan di paksakan."


*


*


Seperti Mikaela yang ditanya oleh ayah dan bundanya. Raffi juga sedang ditanya oleh Mamanya.


"Raff... Bagaimana?" tanya Mamanya, begitu melihat Raffi.


Raffi tahu dengan pertanyaan Mamanya hanya mengendikkan bahunya. Dia bingung harus menjawab apa.


"Kamu ini. Jadi laki itu harus semangat. Kejar terus... Ungkapkan isi hatimu," kata Mamanya.


"Jangan ditolak, langsung down." sambung Mamanya.


"Kakak itu ma, harus di pecut dulu biar bersemangat dalam mengejar pujaan hatinya," kata Alin.


"Memang kakak sapi, yang harus di pecut, baru mau jalan," kata Raffi.


"Kakak bukan sapi! Kakak itu keledai. Jalan lambat," ledek Alin.


"Walaupun lambat, tapi sampai ke tujuan." balas Raffi.


"Sampai tujuan, semoga saja. Jangan sampai tujuan, tapi bukan tujuan kakak ! tujuan Mikaela dengan pria lain." ledek Alin.


"Dalam seminggu ini. Mikaela pasti menerima kakak..!" seru Raffi dengan lantang.


"Iyalah tu... !" ledek Alin.


"Mama tunggu kabar baiknya," kata Mamanya.


"Iya, Ma. Kita tunggu kabar baik dari calon kakak ipar. Semoga kak Raffi, bisa meluluhkan hati gadis yang di cintainya." tutur Alin.


"Jangan sampai keduluan kak Aldo." tambah Alin.


Raffi bangkit dari duduknya, tapi tiba-tiba Raffi duduk kembali.


"Kenapa?" tanya mama Raffi, melihat Raffi tiba-tiba memijat keningnya.


"Pusing, Ma. Di kampus banyak sekali kerjaan," kata Raffi.


"Sini Mama pijat," kata Mama Raffi.


"Tidak usah, Ma. Istirahat sebentar, sudah hilang pusingnya.," Kata Raffi.


"Istirahatlah." titah sang Mama.


"Makanya nikah, kak. Biar ada yang bantu pijat," kata Alin.


"Nikah... Nikah... Kau dulu nikah..!" Kata Raffi.


Alin menertawai Raffi yang kesal.


Raffi bangkit dan berlalu meninggalkan Mamanya dan Alin.


Next....

__ADS_1


__ADS_2