
Happy reading guys
...----------------...
"Cukup! kalian merusak makeup ku !" Mikaela berlari menjauhi Aira dan Inara.
"Dandananmu masih perfek El, Pak dosen akan pangling melihatmu," kata Aira.
"Mosok.... ?" ujar Mikaela sembari memainkan tubuh atasnya.
"Iyo.... !" balas Inara dan mengikuti gaya Mikaela dengan meliukkan tubuhnya juga.
"Koq mirip ulet keket kalian," ujar Aira.
"Ohhh... ya !" balas Mikaela dan Inara barengan.
Aira mencebikkan bibir.
"Kenapa kalian lama sekali datang?" tanya Mikaela.
"Aku ke Mall dulu untuk mencari baju. Kau itu mendadak mengabari kami. Kami tidak ada persiapan," kata Aira.
"Kau tidak tanya, dengan baju yang aku pakai?" tanya Aira pada Mikaela.
"Kau ambil atau bayar ?" Mikaela tahu baju yang dikenakan Aira, baju dari tokonya. Karena mode yang ada di toko nya tidak ada di luaran. Baju yang dijual di tokonya limited edition, karena Mikaela mendesain dan menyerahkan hasil desainnya pada konveksi milik Antoni.
"Aku bayar ya Nona! apa tampangku ini ada tampang gratisan ! walaupun aku bukan pengusaha, uang untuk memanjakan diri selalu ada. Biasalah... nodong pada emakku. Hehehehe...,' kata Aira diakhiri dengan tawa.
"Sama, aku juga ingin tampil cantik. Aku tidak mau kalah denganmu El, walaupun bajuku bukan baju baru, tapi masih belum pernah dipakai. Ini hasil mengobok-obok lemari satu harian," kata Inara yang sedang mematutkan diri didepan cermin.
Mikaela mengacungkan dua jari jempol pada Inara dan Aira.
"El... Acara hari ini apa benar kau bertunangan?" tanya Aira .
"Awalnya Kak Raffi dan keluarga ingin berkenalan saja, eh... koq jadi acara tunangan," kata Mikaela.
"Kak Raffi sepertinya sudah ngebet ingin kawin ," kata Inara.
"Kawin ! nikah !" seru Mikaela dan Aira barengan.
Mikaela menggelengkan kepalanya melihat Inara yang asal nyeplak.
"Kenapa ingin bertunangan? apa kak dosen tidak ada bicara padamu, El?" tanya Aira.
"Dia bicara pada ayah saja, padaku hanya bicara yang tidak jelas. kata-kata gombalan receh," kata Mikaela.
__ADS_1
"Kak dosen...! bisa bicara gombalan ?" Inara kaget mendengar Raffi bisa menggombal.
"Kalian tidak percaya? Julukan dosen tampan dan killer dulu sirna. Kak Raffi itu perayu ulung," kata Mikaela.
Inara dan Aira saling bertukar pandangan.
"Mungkin karena kau gadis yang di cintainya. Julukan dosen kulkas berjalan hilang... Hahahaha ," ujar Aira lalu tertawa.
"Idem." Timpal Aira.
"Kau bagaimana, El?" tanya Aira.
"Bagaimana apanya?" balik Mikaela bertanya pada Aira, karena pertanyaan Aira yang tidak jelas.
"Apa kau mencintainya?" tanya Aira.
"Iyo El, apa kau mencintainya juga?" tanya Inara juga.
Mikaela diam, dia memikirkan pertanyaan Aira dan Inara.
Inara dan Aira menunggu pertanyaannya di jawab oleh Mikaela. Mikaela menarik napasnya.
"Jujur, belum ada. Tapi aku suka dengan perhatian yang dilakukannya. Walaupun itu hanya perhatian kecil, seperti membawakan dan menanyakan apa aku sudah makan. Apa aku sehat, itu membuat aku happy," kata Mikaela.
"Itu awal dari cinta, kau pasti akan bisa jatuh hati dan mencintainya," kata Aira.
Pintu kamar terbuka.
"Mbak... ." sapa Mikaela, Aira dan juga Inara secara bersamaan.
Annisa melangkah mendekati Mikaela dengan lekat. Setelah keduanya saling berhadapan. Annisa meraih tangan Mikaela dan menggenggam tangan Mikaela dengan erat.
"Mbak tidak bisa berkata apapun lagi, kau sudah mengambil keputusan untuk masa depanmu. Mbak hanya berpesan padamu El, ini baru tunangan. Pikirkan lagi," kata Annisa.
"El, kami keluar dulu ya," kata Aira.
"Aku juga El,"kata Inara.
Mikaela mengangguk.
Begitu pintu kamar tertutup. Annisa mulai membuka mulutnya lagi.
"Pernikahan bukan untuk satu dua tahun El, pernikahan itu untuk selamanya. Jika kita salah mengambil keputusan, akan fatal kedepannya," kata Annisa.
"Mbak tidak suka dengan laki-laki pilihanmu itu, karena mbak merasa dia bukan laki-laki yang tepat untukmu," kata Shinta.
__ADS_1
"Sudah aku duga," ucap Mikaela dalam hati.
"Mbak belum bisa menerima pilihanku." dalam hati Mikaela.
Mikaela menyandarkan tubuhnya di kursi yang didudukinya.
"Kenapa Mbak tidak bisa menerima pilihanku?" tanya Mikaela dengan suara yang tenang.
"Karena pilihanmu itu tidak cocok denganmu. Dia bukan orang yang sesuai dengan kamu El, dengarkan kata mbak. Ini belum terlambat!" kata Annisa.
"Terus siapa yang cocok denganku, Mbak?" tanya Mikaela.
"Mbak akan mencari orang yang sesuai untukmu El, orang yang bisa memberimu kenyamanan dalam hidup berumah tangga," kata Annisa.
"Orang yang membuat nyaman ? Orang seperti teman-temannya mbak Nisa?" tanya Mikaela.
"Iya... mbak bisa mengenalkan El dengan pria yang mapan. Pernikahan itu tidak hanya diandalkan karena cinta. Kekuasaan dan uang itu yang bisa membuat kita bahagia," kata Annisa yang sangat ingin mempengaruhi, agar Mikaela goyah dengan keputusannya untuk bertunangan dengan Raffi.
Mikaela menarik napas dengan halus, kedua tangannya saling meremas di pangkuannya. Dia bingung dengan jalan pikiran Annisa yang sekarang. Dulu Annisa bukan gadis yang matre, yang melihat uang sebagai sumber kebahagiaan. Sekarang, Annisa terlalu mendewakan uang untuk mendapatkan kebahagiaan.
"Laki-laki itu hanya dosen, El. Berapa gaji seorang dosen. Untuk membeli mobil saja harus menabung bertahun-tahun," kata Annisa yang belum berhenti untuk mempengaruhi pikiran Mikaela.
Pintu kamar Mikaela terbuka. Bunda Aini masuk kedalam kamar. Wajah Bunda Aini terlihat gusar memandang Annisa. Sebelum masuk kedalam kamar, Bunda Aini sudah berdiri lama didepan pintu kamar Mikaela. Dia mendengarkan apa yang dikatakan oleh Annisa.
"Nisa...!" Bunda Aini langsung menegur Annisa, saat melihat wajah Mikaela yang muram. Dia tahu, pasti perkataan Annisa sudah membuat Mikaela sedih.
"Sudah Bunda bilang, kau jangan mencampuri urusan El lagi. Raffi pria yang baik ," kata bunda Aini dengan suara yang sedikit ditahan, agar tidak bicara keras kepada Annisa.
Annisa menundukkan kepalanya. Dia tidak mengira bundanya mengetahui dia bicara dengan Mikaela. Padahal dia sudah berjanji pada bundanya untuk tidak mencampuri urusan Mikaela. Dan janjinya itu tidak ditepati nya.
"Pasti kedua orang itu yang mengatakan kepada bunda," kata Annisa dalam hati, menuduh Aira dan Inara.
"Bunda. Nisa tidak berniat jahat. Nisa sayang dengan El. Nisa tidak ingin El salah pilih pasangan," kata Annisa.
"Bunda tahu, Nisa sayang pada El. Tapi biarkan El menentukan pasangannya sendiri. El bukan gadis kecil belasan tahun yang harus kau pantau setiap hari," kata Aini.
"Beri kebebasan Mikaela untuk menentukan pasangannya. Kau juga saat memilih Damar, kami tidak ada ikut campur mempengaruhi pilihanmu," kata bundanya.
"Kau putuskan pacarmu yang sudah lama kau kenal untuk bisa menikah dengan Damar, kamu tidak ikut campur." tambah bunda Aini.
Annisa terdiam. Dia menunduk, apa yang dikatakan oleh bundanya berhasil menyentil ego Annisa.
"Sekarang ini, tolong jangan campuri urusan pribadi Mikaela," kata bunda Aini.
Apa Annisa akan mengikuti apa yang dikatakan oleh bundanya...
__ADS_1
Next...