Terpaksa Menjadi Madu

Terpaksa Menjadi Madu
Bab 23 Dekat


__ADS_3

"Akhirnya, mbak Nisa hamil juga ya. El," kata Aira yang datang berkunjung ke toko busana Mikaela.


"Iya. Sekarang Mbak Nisa tidak akan galau lagi," kata Mikaela.


"Bagaimana hubungan kalian sekarang?" tanya Aira.


"Begitulah, Mbak Nisa semakin aneh menurutku. Beda sekali tingkah dan sifatnya sekarang, dengan dia belum menikah," kata Mikaela.


"Beda apanya? apa masalah kau ingin membantu perekonomian keluarga," kata Aira.


Mikaela mengangguk.


"Mbak mu itu koq begitu sih... Kau membantu kan bukan untuk mengecilkan peran mbakmu itu sebagai seorang anak," kata Aira.


"Nggak tahu aku dengan pemikiran Mbak Nisa sekarang ini, sikap dan sifatnya berubah. Kalau dulu Mbak Nisa itu orangnya baik dan menjaga bicaranya. Sekarang Mbak Nisa bicara sesukanya," tutur Mikaela.


"Sekarang ayahmu masih bekerja kan?" tanya Aira.


"Masih. Ayah belum mau resign dari pekerjaannya. Karena ayah merasa masih sanggup untuk bekerja," kata Mikaela.


"Tempat kerjanya masih yang dulu kita pernah menghantarkan surat itu ya?"


"Iya ," sahut Mikaela.


"Kenapa tidak pindah tempat kerja saja, cari yang dekat dengan rumah," kata Aira.


"Umur ayah sudah mau kepala enam, perusahaan mana yang mau merekrut ayah sebagai karyawan."


"Kalau kerja menjadi pegawai neger sudah harus pensiun," kata Aira.


"Ayah dan bunda sudah aku mintai untuk menghandle toko ini, tapi ayah menolak," kata Mikaela.


"Syukurlah, Paman menolak. Bagaimana jika Paman menerimanya dan Mbak Nisa marah padamu. Bisa terjadi pertumpahan darah perang dunia ketiga," kata Aira.


"Aku juga bingung dengan pikiran Mbak Nisa. Kenapa dia tidak mengizinkan aku untuk membantu."


"Mungkin Mbak Nisa tidak ingin kau ikut menanggung beban. Mbak Nisa kasihan melihatmu yang capek dalam bekerja, harus ikut juga memikirkan masalah keluarga," kata Aira.


"Apa karena itu? Bukan karena Mbak Nisa tidak menganggap aku sebagai keluarganya?" ungkap Mikaela yang ada dalam pikirannya.


"Tidak mungkinlah! Kau jangan memikirkan yang tidak-tidak dulu. Mbak Nisa menolak kau untuk membantu, karena Mbak Nisa merasa dia sanggup sekarang untuk menopang perekonomian keluarga. Walaupun Paman tidak lagi bekerja. Suaminya mbakmu kan tajir," kata Aira.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam," jawab Mikaela dan Aira secara bersamaan.


"Mas Toni. Apa mas mengambil bayaran barang yang masuk Minggu kemarin?" tanya Mikaela.


"Bukan El. Pembayaran barang itu kan bulan depan," kata Antoni.


"Masa setiap mau kesini ambil uang saja." tambah Toni.


"Oh... aku kira mas mau ambil sekarang. Kalau mau sekarang juga bisa mas, uangnya sudah ada," kata Mikaela.


"Tidak usah El. Perjanjian bulan depan, ya bulan depan saja."


"Hai... Ai ." sapa Antoni.


"Hai mas," balas Aira.


"Ai... ? mas manggil Aira, Ai ? mencurigakan ini ? jika sudah ada panggilan spesial," kata Mikaela.


Antoni dan Aira saling pandang, dan salah tingkah dipandang Mikaela dengan lekat keduanya.

__ADS_1


Mikaela memicingkan matanya.


"Kenapa kau Ai... ?" Mikaela menyebut Aira seperti Antoni panggil Aira.


"Seperti kena ulat bulu?" tambah Mikaela menyindir Aira.


"Mana ada aku tidak tenang," kata Aira.


Mikaela mengalihkan pandangannya pada Antoni yang sedikit-sedikit memandang Aira. Begitu juga Aira yang tersenyum malu-malu membalas pandangan Antoni.


"Hem... !" Mikaela mendehem, membuat dua anak manusia yang saling curi-curi pandang kaget.


"Katakan!" titah Mikaela.


"Apa yang dikatakan?" tanya balik Aira.


"Kalian berdua mencurigakan...! Ada yang yang kalian sembunyikan dariku...? Jangan sampai aku mendengar dari angin malam atau dari burung gagak, mengenai hubungan kalian berdua," kata Mikaela.


Mikaela berdiri dan melangkah bangkit mendekati Aira. Mikaela berdiri dibelakang Aira dan meletakkan kedua tangannya di bahu sang sahabat.


'kau mulai berahasia padaku, Nona!" Kata Mikaela sembari menekan bahu Aira.


Lalu kemudian Mikaela beranjak mendekati Antoni dan berdiri memandang Antoni.


"Mas Toni juga," kata Mikaela dengan kedua tangannya melipat di depan dadanya.


"Katakan...! rahasia apa yang kalian sembunyikan!"


"Tidak ada rahasia El," kata Mikaela.


"Bohong! kalian mencurigakan! kalian menjalin cinta?" tebak Mikaela.


"Tidak!" seru Aira cepat.


"Kami berdua tidak ada hubungan apa-apa, El." tambah Aira.


"Mas Toni..!" Aira malu mendengar apa yang dikatakan oleh Antoni.


"Betulkan! gerak-gerik kalian berdua sangat mencurigakan," kata Mikaela.


"Sejak kapan kalian dekat? apa toko ini tempat kalian cinlok?" tebak Aira,


"Baru dua Minggu El," jawab Aira akhirnya.


"Dua Minggu! Kalian dekat tanpa aku tahu? Apa saat pindahan ke toko ini, kalian dekat?"


Antoni dan Aira menganggukkan kepalanya.


"Mas Toni jangan mempermainkan temanku.... !"


"Tidaklah El... ! kan El tahu aku ini bagaimana. Aku itu tidak pernah mempermainkan wanita. Tapi wanita yang mempermainkan aku."


"Jadinya, kapan kabar baiknya?" tanya Mikaela.


"Kabar baik apa?" Aira tidak ngeh dengan apa yang dikatakan oleh Mikaela.


"Undangan! Undangan pernikahan kalian," kata Mikaela.


"Pernikahan!" pekik Aira.


"Iya, pernikahan. Apa kau tidak mau menikah dengan Mas Toni? Dan Mas Toni sendiri, apa tidak ada rencana untuk menikahi Aira?"


Pertanyaan yang diajukan mendadak oleh Mikaela, membuat kedua saling bertukar pandangan.

__ADS_1


Dan akhirnya..


"Untuk saat ini, masalah pernikahan belum ada didalam pikiranku. Ai juga pastinya juga belum memikirkan masalah pernikahan kan?" tanya Antoni pada Aira.


Aira menganggukkan kepalanya. "Belum," sahut Aira.


"Sekarang ini, kita jalanin saja hubungan ini. Jika Allah memang merestui hubungan kita ini. Allah pasti akan semakin mendekatkan kami," kata Antoni.


Antoni dan Aira pergi meninggalkan toko, keduanya ingin nonton. Aira juga mengajak Mikaela, tapi ditolak Mikaela dengan berbagai macam alasan. Tidak ingin menganggu Aira kencan dan sebagainya.


"Kakak koq tidak ikut dengan mereka?" Ira masuk kedalam ruang kerja Mikaela dengan membawa sampel busana yang akan dipesan kepada konveksi.


"Malas! Aku akan jadi tiang listrik diantara keduanya yang sedang kasmaran," kata Mikaela.


"Kakak tidak akan jadi tiang listrik, ada pria tampan yang ingin bertemu dengan Kakak diluar, bisa dibawa tuh.... !" kata Ira.


"Pria tampan? Siapa?"


"Aku suruh masuk ya kak?" tanya Ira.


Mikaela mengangguk.


"Masuk Pak." Ira membuka pintu lebar-lebar dan mempersilakan pria yang ingin bertemu dengan Mikaela.


"Pak Raffi... !"


"Yah... Kenapa Pak Raffi lagi. Mas... Atau Kak Raffi juga boleh," kata Raffi.


"Maaf... belum terbiasa," kata Mikaela.


"Panggil kak Raffi saja ya," kata Mikaela. Karena dia merasa memanggil panggilan mas terlalu intim menurut Mikaela.


"Boleh. Panggil sayang juga boleh."


"Enak saja." batin Mikaela.


"Kak Raffi mau apa? Apa mau beli baju untuk seseorang?"


"Untuk mama, tapi bingung. Baju untuk mama yang pantas yang bagaimana," kata Raffi.


"Oh... untuk Tante," ujar Mikaela.


"Iya," sahut Raffi.


"Tante suka busana yang bagaimana ?" tanya Mikaela.


"Mama sekarang lebih suka memakai baju gamis, apa ada?" tanya Raffi.


"Ada kak, baru masuk tadi " Mikaela menekan telpon yang ada didepannya dan tak lama kemudian Ira masuk. Karyawan yang membantunya.


"Ira, tolong bawa kemari baju gamis yang baru masuk tadi ," kata Mikaela.


"Baik Mbak."


"Apa Ela tidak sibuk hari ini?" tanya Raffi.


"Tidak ada hari yang tidak sibuk. Apalagi ini mau akhir bulan," kata Mikaela.


"Hah... Padahal tadi mau bawa Ela kesatu tempat," kata Raffi yang kecewa.


"Maaf kak ."


"Kalau besok bagaimana? Please... Jangan tolak ya." mohon Raffi.

__ADS_1


Mikaela bingung untuk menolak ajakan Raffi.


Apa yang akan dikatakan Mikaela. Apa dia tetap menolak ajakan Raffi.


__ADS_2