
Happy reading.
......................
Melihat Mikaela, Annisa terus mengeluarkan raut wajah marah. Karena Annisa merasa masalah Mikaela yang membuat sang ayah serangan jantung dan tidak tertolong nyawanya.
"Nisa, makanlah." Amelia, Mama mertuanya membawa sepiring nasi dan meletakkannya di depan Annisa.
Annisa menggelengkan kepalanya. " Nisa tidak lapar, ma." tolak Annisa.
"Nisa, makan. Wajahmu itu pucat sekali, jangan sampai kau sakit. Dan membuat mbak Aini kepikiran." Lenia, adik Aiman menghampiri Annisa.
Lenia mendudukkan dirinya di samping Annisa dan Amelia juga. Keduanya ingin bicara dengan Annisa yang terus melampiaskan kemarahannya pada Mikaela yang juga sangat terpuruk dengan kepergian sang ayah.
Annisa ditemani oleh Lenia dan Amelia, sedangkan Mikaela terus didampingi Maya, sepupunya, putri Lenia dan Andri.
"Sudahlah, El. Jangan nangis saja. Nanti paman tidak lancar jalannya menuju keabadian." nasihat Maya.
Sejak dari pemakaman, Mikaela terus mengucurkan air mata sembari memeluk baju ayah Aiman yang dilihatnya di jemuran belakang rumah. Dia mengambil baju yang tadi pagi di cucinya dan mendekapnya.
"Ayah meninggal karena aku mbak ! Aku selalu membuat ayah sedih ," kata Mikaela.
"Hus... Koq gara-gara kau El, jangan dengarkan Nisa itu, El. Dia berkata begitu karena sedih, dan ingin melampiaskan kemarahannya pada seseorang saja," kata Maya.
"Apa yang dikatakan mbak Nisa benar, aku yang membuat ayah sakit !" Mikaela tetap menyalahkan dirinya.
Maya tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia memeluk Mikaela yang menangis.
Lenia dan Amelia juga belum berhasil untuk membujuk Annisa untuk tidak selalu menyalahkan Mikaela, tetapi Annisa tidak mau mendengar apa yang dikatakan oleh keduanya.
Waktu terus berjalan, hubungan keduanya tidak kembali harmonis seperti saat kepala keluarga masih ada. Annisa selalu menunjukkan rasa bencinya pada Mikaela. Sedangkan bunda Aini semakin larut dalam kedukaan nya kehilangan belahan jiwanya. Biasanya keduanya selalu beriringan pergi bersama kemana saja, kini bunda Aini sendiri melangkah. Tidak ada sang suami yang selalu menemaninya bincang-bincang diwaktu senggang dan menemani waktu istirahat di malam hari. Jika waktu malam, bunda Aini selalu mengeluarkan baju sang suami dan meletakkannya di sisi tempat Aiman tidur biasanya. Apa yang dilakukannya itu, seolah-olah sang suami masih berada di sisinya.
Tidak ada yang menyadari kondisi Aini tersebut, Mikaela dan Annisa larut dengan masalah mereka masing-masing.
"Bunda," panggil Mikaela yang melihat sang bunda hanya mengubek-ubek nasi di piringnya, tanpa memakan nasi yang ada di atas piring tersebut.
Bunda Aini mengangkat kepalanya dan melihat Mikaela.
__ADS_1
"Kenapa bunda tidak makan?" tanya Mikaela.
"Ayah koq lama sekali ya ?" bunda Aini melihat ke arah pintu.
Deg...
Mikaela kaget mendengar apa yang dikatakan oleh sang bunda.
Mikaela meraih tangan sang bunda dan menggenggamnya, dan berkata. "Bunda, ayah sudah tidak bersama dengan kita lagi."
Bunda Aini menghentakkan tangan Mikaela dan melototkan matanya memandang Mikaela.
"Kau jahat!" bunda Aini bangkit dan berlari keluar.
"Bunda!" panggil Mikaela.
"Jahat!" bunda Aini berteriak seraya berlari keluar.
"Bunda!"
Bunda Aini yang keluar pagar tanpa melihat kiri-kanan, tertabrak motor yang melaju kencang. Tanpa bisa dihindarkan lagi, sang pengendara motor menabrak bunda Aini dan bunda Aini terpental jauh.
Mikaela terperanjat menatap tubuh sang bunda melayang didepan matanya.
Mikaela berlari mendekati sang bunda yang tergeletak tidak sadarkan diri. "Bunda.... !"
Teriakkan Mikaela berhasil membuat para tetangga yang rumahnya berdekatan dengan rumah Mikaela keluar dan melihat Mikaela yang menangisi tubuh Aini yang bersimbah darah.
Tetangga mengangkat bunda Aini, tanpa menunggu ambulance datang, karena kondisi Aini yang sangat kritis. Kepala Aini mengucurkan darah yang tidak sedikit, membuat tetangga Aini membawa Aini langsung ke rumah sakit dengan membawanya dengan mobil dobel cabin milik sang tetangga.
Tetangga yang menolong sang penabrak memarahinya.
"Aku tidak bersalah!" kata pengendara motor yang juga terjatuh, dan terlihat mengalami luka ditangan dan kakinya.
"Kau pasti ngebut kan !" tuduh seorang tetangga Aini.
"Pasti, Pak! Motor dia ini setiap lewat depan rumah selalu berisik! kenalpot racing nya itu buat berisik ."
__ADS_1
"Tidak... ! Aku tidak ngebut . Ibu itu keluar dari rumah dengan tiba-tiba," kata laki-laki yang masih tergolong muda tersebut.
"Alah... Kau itu jika berkendara didalam komplek jangan ngebut. Di sini banyak anak-anak."
"Kau berkendaraan seperti mengikuti lomba balap motor saja."
Mereka menceramahinya terlebih dahulu, baru membawanya ke rumah sakit. Sedangkan Aini sudah tiba di rumah sakit dan sudah mendapatkan penanganan dari dokter.
Annisa yang mendengar sang bunda mendapatkan kecelakaan, langsung melampiaskan kemarahannya pada Mikaela, karena tidak bisa menjaga sang bunda dan mengakibatkan sang bunda kecelakaan.
"Lagi-lagi kau membuat orang celaka! apa yang dikatakan Alin betul! Kau itu pembunuh!" kata Annisa yang emosi melihat kondisi sang bunda yang mengalami patah kaki dan luka pada bagian kepalanya.
"Mbak." Mikaela kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Annisa. Dulu kalimat itu diucapkan oleh Alin, kini dia dengar dari mulut Annisa.
Aira dan Inara yang juga mendengar apa yang dikatakan oleh Annisa sangat kaget. Mereka berdua bergegas menghampiri Mikaela dan memegang tangan Mikaela yang terhuyung mendengar perkataan sadis dari mulut Annisa.
Damar yang juga baru datang dan mendengar apa yang dikatakan oleh Annisa juga tersentak. Dia tidak mengira Annisa sampai hati mengatakan itu pada Mikaela.
"Nisa ! Apa yang kau katakan itu ?" tanya Damar.
"Aku katakan Dia... Dia... Pembunuh !" kata Annisa dengan berteriak dan menunjuk Mikaela dengan wajah merah dan mata melotot.
"Ya... Alloh ! Istighfar Nak Nisa... Istighfar," ucap tetangga yang menghantarkan bunda Aini.
Semua mata memandang Annisa yang seperti orang kesurupan memaki-maki Mikaela dengan kalimat yang kasar. Mereka yang mengenal Annisa, tidak akan percaya Annisa seperti itu. Annisa yang ramah pada siapapun tidak terlihat, kepribadian kedua Annisa, seorang yang sangat emosional.
"Dia anak pembawa sial ! Kau ada, kedua orangtuamu meninggal... ! Kau harus tahu ! Kau itu anak sialan... ! sia-sia aku menyayangimu dulu ! Kau membuat Ayahku sakit dan meninggal dan sekarang, bunda!"
"Seharusnya kau dulu ditinggalkan saja di panti asuhan, jangan dibawa pulang ayahku!"
"Nisa ! Sadarlah!" Damar memegang kedua bahu Annisa dan mengguncang-guncang bahu Annisa yang seperti orang kehilangan akal sehat, mengamuk memaki-maki Mikaela yang terdiam dengan mata nanar melihat Annisa.
Annisa mengehentikan kemarahannya dengan napas tersengal-sengal dia pergi meninggalkan Damar.
Damar mengikutinya, kini tinggal Mikaela yang mematung. Tidak ada air mata yang menggenangi kedua bola matanya.
Aira dan Inara membawa Mikaela untuk duduk.
__ADS_1
"Nak El, jangan pikirkan apa yang dikatakan oleh Nak Nisa. Pikirannya itu sedang kacau."
Next