Terpaksa Menjadi Madu

Terpaksa Menjadi Madu
Bab 54 Tidak berubah


__ADS_3

Happy reading guys.


...****************...


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam," sahut sang bunda dari ruang keluarga.


"Koq cepat pulang? Bunda kira sore."


"Aira dan Inara ada kegiatan lain sore bunda."


"Bun, ada mobil mbak Nisa."


"Dari pagi di sini, tuh di dalam kamar. Nungguin dari tadi," kata Aini.


"Nunggu Mas Damar?" tanya Mikaela.


"Bukan, nunggu El."


"Nunggu.... ?" Mikaela menunjuk dirinya.


Bunda Aini menganggukkan kepalanya.


"Mau ngajak jalan ke mall mungkin," kata bunda Aini.


"Jalan? Bukannya dua hari lagi mbak akan mulai melakukan program bayi tabung. Mbak dianjurkan untuk beristirahat."


"Nisa mana bisa menuruti apa yang kita bilang. Bunda sudah mengomel tadi dan semoga dia dengar."


"Ayah mana bunda?"


"Katanya ngambil barang di penjahit," kata Aini.


"Oh... sudah selesai bunda?"


"Sudah," jawab Aini.


"El !"


Mikaela dan bunda Aini melihat Annisa berdiri di depan pintu dengan wajah bantal. Terlihat Annisa baru bangun tidur.


"Mbak sakit ?" Mikaela melihat raut wajah Annisa yang terlihat tidak seperti biasanya. Biasanya wajah Annisa cetar dengan bibir merah merona, sekarang bibir Annisa terlihat pucat.


Annisa menggeleng, dan berkata. "Tidak."


Aini juga kaget melihat raut wajah Annisa yang pucat. Dia bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Annisa, dan menempelkan punggung tangannya ke dahi Annisa.


"Panas begini, Bilang tidak !" kata Aini.


"Sedikit bunda, hanya pusing."


"Mbak pucat itu, ayo kita kerumah sakit mbak ," kata Mikaela.


"Tidak usah!" tolak Annisa.


"Panas sekali mbak!" Mikaela memegang tangan Annisa dan merasakan suhu tubuh Annisa diatas suhu tubuh normal.

__ADS_1


"Ayo duduk," kata sang bunda.


Aini menuntun Annisa untuk duduk, lalu dia pergi ke dapur dan kembali dengan membawa teh hangat.


"Minum," kata bunda Aini.


"Bunda, kita harus bawa mbak Nisa ke rumah sakit," kata Mikaela.


"Tidak mau!" tolak Annisa kembali untuk pergi ke rumah sakit.


"Mbak... Sekarang ini musim demam berdarah! Jangan sampai mbak terjangkit. Hubungi Mas Damar mbak, kalau mbak tidak mau kami yang menghantarkan mbak ke rumah sakit."


"Mas Damar keluar kota."


"Keluar kota? Sejak kapan mbak sakit begini? Apa Mas Damar tidak tahu?"


"Mbak nggak sakit! Istirahat sebentar saja."


Annisa berdiri, belum berdiri tegak, tubuh sudah jatuh terduduk di kursi tempat dia duduk. Dia menyandarkan tubuhnya dan memejamkan matanya.


"Pusing mbak?" tanya Mikaela.


Annisa mengangguk.


"Jangan bantah! Ayo kita antar El," kata Aini, setelah melihat Annisa tidak sanggup untuk berdiri sendiri.


Sampai di rumah sakit Annisa langsung ditangani oleh dokter UGD, dan dilakukan pemeriksaan darah.


"Sakit apa dokter?" tanya bunda Aini pada dokter yang menangani Annisa.


"Tipes? Bukan demam berdarah dokter?" tanya Mikaela.


"Bukan," sahut dokter .


"Apa mungkin penyebabnya dokter ?"


"Demam tifoid atau yang lebih sering dikenal tipes merupakan penyakit akut yang disebabkan oleh bakteri Salmonella thyphi. Bakteri ini biasanya ditemukan di air atau makanan yang terkontaminasi. Selain itu, bakteri ini juga bisa ditularkan dari orang yang terinfeksi." terang sang dokter.


"Annisa selalu menjaga apa yang dikonsumsinya. Rasanya tidak mungkin," kata sang bunda.


"Apa Mas Damar pernah kena tipes, bunda. Dan menular pada mbak Nisa," kata Mikaela.


"Kelelahan juga bisa membuat orang terjangkit tipes, tapi bukanlah penyebab utama tipes, namun kelelahan bisa menjadi salah satu penyebab tipes kambuh. Mungkin anak ibu sudah pernah terjangkit tipes, tapi tidak tahu bahwa itu tipes dan sekarang ini kambuh," kata dokter.


"Tahun lalu Nisa pernah sakit demam panas ya El. Mungkin itu Nisa sakit tipes," kata bunda Aini.


"Lalu apa yang harus dilakukan Dok? Apa perlu dirawat inap?" tanya bunda Aini.


"Saya sarankan untuk dirawat inap Bu," kata dokter.


"Baiklah dok."


"El urus administrasi ya, biar bunda temui Annisa ," kata bunda Aini setelah bertemu dokter yang merawat Annisa.


"Hubungi Mas Damar Bun," kata Mikaela.


"Oh... Iya. Lupa bunda.'

__ADS_1


Mikaela mengurus administrasi untuk rawat inap Annisa. Bunda Aini pergi temui Annisa yang masih berada di ruang UGD. Sebelum masuk kedalam UGD, bunda Aini menghubungi Damar.


"Sakit bunda?" Damar terkejut mendengar Annisa sakit. Karena ditinggalkannya tadi, Annisa dalam keadaan sehat.


"Baiklah bunda, aku akan pulang. Mungkin malam sampai bunda. Tolong bunda jaga Annisa ya."


"Jangan khawatir, bunda akan menjaga Annisa. Hati-hati, jangan ngebut bawa kendaraannya," kata Bunda Aini.


"Baik bunda," sahut Damar.


Skip


"Bunda!" rengek Annisa.


Satu jam dikamar yang dipesan Mikaela, Annisa selalu menunjukkan kemanjaannya dan merengek minta pulang.


"Cukup merengek! Bunda tidak akan terpengaruh dengan segala macam rengekan dan rayuan maut untuk minta pulang!" kata bunda Aini dengan tegas.


"Mbak itu bukan sakit main-main loh... Mbak terserang tipes. Mbak Nisa harus istirahat yang cukup," kata Mikaela yang berdiri didepan pintu masuk, dengan membawa dua bungkus makanan untuk Annisa.


"Mbak nggak suka tidur di rumah sakit!"


"Siapa yang suka mbak ? Tidak ada yang suka tidur di rumah sakit, karena tidak suka, mbak itu harus jaga kesehatan!" kata Mikaela.


"Tuh... Dengarin!" kata bunda Aini.


"Ini bubur mbak, sekarang ini mbak Nisa hanya bisa makan-makanan yang lunak, tidak boleh yang keras."


"Mbak harus makan-makanan bayi ? Oh... Tidak!" Annisa menutup mulutnya. Dia paling tidak suka makan-makanan yang lunak, seperti bubur. Annisa mengarahkan makanan seperti bubur, mirip dengan muntah.


"Sekarang tidak bisa nolak Nisa! Dokter melarang makan nasi keras, wajib yang lunak! Apa mau berlama-lama tidur di rumah sakit? Kalau mau tidur di rumah sakit, dengan tangan diinfus, silakan... Tidak usah makan!" kata bunda Aini dengan tegas.


Annisa diam dengan ekspresi wajah yang merenggut.


Mikaela dan bunda Aini saling bertukar pandang seraya menerbitkan senyum tipis dibibir masing-masing.


Bunda Aini mengambil bubur yang dibawa Mikaela dan membawanya mendekati Annisa.


Dengan duduk dia memaksa Annisa untuk makan bubur yang sudah di masak Mikaela.


"Ayo makan, sudah letih El masak bubur ini, hargai jerih payahnya," kata sang bunda.


"Aku nggak suruh dia masak," balas Annisa.


"Nisa ! kau ini. Kenapa sifatmu semakin tidak menghargai orang yang baik padamu ? Orang capek-capek mengantarmu ke rumah sakit, pulang lagi untuk masakan bubur ! Begini balasanmu pada orang yang baik padamu !" bunda Aini benar-benar marah dengan kelakuan Annisa yang tidak menghargai apa yang dilakukan oleh Mikaela.


"Sudahlah bunda." Mikaela yang sedang membalas chat dari Alin meletakkan ponselnya dan menghampiri sang bunda dan memegang pundak sang bunda dan mengelusnya.


Annisa hanya diam mendapatkan amukan dari sang bunda.


"Mbak mau cepat sehat kan ? Kalau mbak terus melawan apa yang diperintahkan oleh dokter, mbak Nisa akan lama di sini. Apa mbak lupa dengan program bayi tabung yang akan mbak jalani ?'


Annisa tersentak begitu mendengar program bayi tabung di sebut oleh Mikaela.


Apa Annisa tetap menolak untuk makan? Biarkan saja, orang begitu nggak usah di urus. Kalau author menjadi bunda dan Mikaela.


Next

__ADS_1


__ADS_2