
Happy reading guys.
......................
Brukkk...
Terdengar suara seperti barang jatuh dari dalam kamar, membuat Mikaela dan bunda Aini yang sedang berpelukan mengurai dan kepala keduanya spontan terarah pada pintu kamar yang terbuka sedikit.
"Apa itu bunda?"
"Tidak tahu, apa ayah beres-beres kamar lagi," kata Aini.
Sudah dua hari Aiman yang selalu berada di rumah selalu membersihkan kamar dari barang-barang yang tidak terpakai lagi.
"Bersihkan kamar ?"
"Iya.... "
Mikaela yang khawatir melangkah mendekati pintu kamar dan mendorong pintu kamar yang terbuka sedikit, tapi tidak bisa. Pintu kamar seperti ada yang mengganjalnya, sehingga tidak bisa di dorong oleh Mikaela.
"Bunda.... !" panggil Mikaela.
"Ada apa?"
"Tidak bisa terbuka lebar bunda," kata Mikaela.
"Mikaela menyibakkan tirai dan ingin mengintai ke dalam kamar, tapi tidak bisa kepalanya masuk, karena celah pintu tidak memungkinkan kepalanya untuk masuk.
Mikaela mendengar suara seperti orang mendengkur. "Bunda!" seru Mikaela yang khawatir.
Dia berjongkok dan memasukkan tangannya untuk melihat apa yang mengganjal pintu. Mikaela merasakan jemari tangannya menyentuh tubuh.
Degh....
Jantung Mikaela berdesir dan tubuhnya lemas. Dia tahu, tubuh siapa yang terbaring dilantai tersebut.
Mikaela mendongak dan melihat bundanya yang berdiri dibelakangnya. "Bunda !" pekik Mikaela.
"Apa El?" raut kecemasan terpancar dari wajah Aini.
'Ayah... Ayah bunda!" kata Mikaela dengan berteriak.
"Ayah?"
Aini panik. Aini menggedor-gedor dan berteriak memanggil-manggil nama sang suami, begitu juga dengan Mikaela.
"Ayah... Ayah Iman ," panggil Aini yang menyebut sang suami dengan ayah Iman.
"Bunda, ayah pingsan. Kita harus mendorong pintu," kata Mikaela.
__ADS_1
Keduanya mendorong pintu dengan hati-hati, karena ada tubuh ayah Aiman yang berada di belakang pintu.
Setelah berhasil untuk tubuh masuk kedalam, Mikaela pertama masuk dan melihat sosok sang ayah tergeletak dengan suara seperti dengkuran.
'Ayah ! Ayah.... !" Mikaela memanggil ayah Aiman. Tetapi tidak ada respon dari tubuh yang terbaring tersebut.
"Ayah... Mas iman!" Aini juga memanggil-manggil nama sang suami seraya mengunjang tubuhnya.
"Ayah kenapa, El ?" Tanya Aini histeris. Biasanya Aini masih bisa mengontrol perasaannya, kali ini dia tidak bisa. Dia menangis histeris seraya membangunkan sang suami yang tidak bergerak.
"Bunda, kita bawa ayah ke dokter," kata Mikaela yang sadar, bahwa kondisi sang ayah tidak baik-baik saja.
"Rumah sakit ?" Aini seperti orang yang linglung, tidak tahu harus apa yang dilakukan, hanya tangisan yang dilakukan oleh Aini merangkul dan mengelus wajah sang suami.
"Iya bunda.'
Mikaela lari keluar untuk mencari taxi, karena mobil miliknya berada di bengkel, sedangkan mobil sang ayah, di gunakan oleh Mita, karyawan Mikaela.
Mikaela lari keluar untuk mencari taxi. Mikaela lari keluar dari area komplek perumahannya untuk mencari taxi. Dia tidak mengindahkan panas aspal, karena dia lupa untuk memakai sendal.
"Mana taxi ini ? Lagi butuh tidak ada juga!" gerutu Mikaela dengan pandangan mata mencari-cari taxi.
"Cari apa Neng?" petugas keamanan komplek perumahan melihat Mikaela celingukan di tepi jalan menegurnya.
"Taxi pak, ayah pingsan," kata Mikaela.
"Neng pulang saja, biar saya cari kendaraan."
"Mas ... ! Tolong mas !" Mikaela menari tangan Damar, tanpa sempat Damar berkata apa-apa.
"Ada apa?" tanya Damar sembari ikut berlari masuk kedalam rumah.
"Ayah.... !"
Damar melihat Aini membungkuk di atas tubuh yang masih terbaring diatas lantai.
"Dam, ayah Dam.... !" seru Aini, saat melihat Damar berlutut di samping ayah Aiman.
'Ayo kita angkat," kata Damar.
Ayah Aiman di angkat dengan dibantu oleh petugas keamanan komplek yang datang bersama dengan taxi yang berhasil didapatkannya.
"Terimakasih Pak," kata Mikaela. Dan Mikaela juga menyelipkan satu uang merah pada sang sopir taxi dan petugas keamanan, karena mobilnya tidak jadi di gunakan.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Mikaela dan Bunda Aini tidak berhenti berdoa dan berharap tidak terjadi sesuatu yang serius terhadap Ayah Aiman. Bunda Aini takut karena sebelumnya, Ayah Aiman pernah pingsan dan masuk rumah sakit, karena tekanan darahnya yang naik tiba-tiba.
"Kenapa ayah pingsan Bun?" tanya Damar dalam perjalanan menuju rumah sakit.
"Tidak tahu, tadi ayah baik-baik saja. Ayah tidak ada mengeluhkan apapun juga," kata bunda Aini yang memangku kepala sang suami, sedangkan Mikaela duduk di ujung kaki ayah Aiman.
__ADS_1
"Yah... Bangun Yah!" Mikaela memegang tangan sang ayah dan memijat tangan ayah Aiman.
Mobil yang dikemudikan oleh Damar tiba rumah sakit yang dekat dengan rumah. Karena kondisi yang urgent, Damar membawa ayah Aiman ke rumah sakit yang berdekatan dengan rumah. Ayah Aiman langsung di bawa ke unit gawat darurat untuk dilakukan tindakan pertolongan pertama.
"Ayah !" bunda Aini menatap wajah sang suami yang dibawa kedalam unit gawat darurat, pintu menutup, Aini masih berdiri menatap brankar yang membawa tubuh sang suami menghilang dari pandangan matanya.
Mikaela memeluk tubuh bunda dan membawanya untuk duduk. "Ayo kita duduk bunda," kata Mikaela.
Bunda Aini melangkah dengan dipapah oleh Mikaela. Mikaela merasakan tubuh sang bunda yang gemetar.
"Annisa tidak ada di rumah? Kemana dia?" batin Damar. Dia tidak melihat keberadaan Annisa di rumah sang mertua. Damar tidak ingin bertanya pada Bunda Aini dan Mikaela.
Damar menjauh dan mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Annisa.
"Kenapa ponselnya tidak bisa dihubungi? Kemana dia?" gumam Damar, setelah berkali-kali menghubungi nomor Annisa, tapi tidak bisa dihubungi.
"Apa dia marah dan mengabaikan panggilan nomorku?"
Orang yang terus di hubungi oleh Damar sedang berada di satu restoran, sedang bicara dengan seorang laki-laki.
"Kau ikuti suamiku dan cari tahu, dengan siapa dia bertemu," kata Annisa pada laki-laki yang di sewanya untuk membututi Damar.
Annisa mengambil keputusan untuk menyelidiki Damar, setelah berpikir panjang. Dia tidak ingin rumah tangganya di ganggu oleh rumput liar yang nyaman tinggal di rumah tangganya.
Begitu Annisa ingin pergi keluar dari restoran, di depan pintu keluar dia berpapasan dengan seseorang yang punya kenangan indah di masa lalunya.
"Nisa ! Annisa kan?" laki-laki yang berpapasan dengan Annisa senang bertemu dengan Annisa.
"Iya ! kau Alex?" Annisa kurang yakin dengan nama orang yang disebutnya.
"Iya Alex ! Kau sombong sekali, Nisa! Lupa dengan aku."
"Maaf Lex, kau semakin keren," kata Annisa.
"Keren juga, tapi kau memutuskan aku. Kau dengan siapa? Apa kau masih bersama dengan pria yang membuat kau memutuskan aku ?" tanya Alex.
Annisa menggelengkan kepalanya. "Aku memutuskanmu karena kau tidak mau memotong rambutmu itu, Lex! Kau tahu kan... ayahku tidak suka melihat pacar anaknya rambut gondrong."
Annisa yang tadi ingin keluar, batal. Kini keduanya berbincang-bincang mengenang masa lalu di jaman kuliah.
Di rumah sakit.
"Kenapa lama sekali?" bunda Aini duduk tidak tenang.
"Dam, mana Annisa?" bunda Aini baru sadar, Damar tidak bersama dengan Annisa.
Damar bingung, apa yang harus dikatakannya. Kebingungan Damar terselamatkan dengan keluarnya seorang suster dan memanggil keluarga Aiman.
"Bagaimana dengan suami saya Dok?"
__ADS_1
Next...