
Happy reading guys
...****************...
Pelukan tangan orang yang melingkar ditubuh Mikaela semakin erat, dengan satu tangan berada di mulut Mikaela, membuat Mikaela tidak bisa berteriak minta tolong.
"Mama !" teriak Mikaela dengan suara yang keras, tapi nihil. Suaranya terbenam dibalik tangan yang menutup mulutnya Mikaela. Sarung tangan tebal membuat Mikaela tidak bisa mengeluarkan suara memanggil mama mertuanya yang masih sibuk mengatur koper yang mereka bawa.
"Apa yang harus aku lakukan? Sepertinya orang ini pria asing. Tubuhnya besar," batin Mikaela.
Jaket yang membalut tubuhnya, membuat Mikaela sedikit sulit untuk bergerak.
"Hei.... !" Yuni yang selesai mengatur posisi koper agar tidak menganggu orang yang berlalu-lalang membalikkan badannya dan melihat apa yang terjadi pada Mikaela.
Yuni, mama mertuanya langsung bergerak cepat dan menendang kaki orang yang memeluk Mikaela.
"Lepaskan menantuku!" seru Yuni sambil menggerakkan kakinya menendang kaki orang yang memeluk Mikaela.
Bugh...
Kaki Yuni yang mengenakan sepatu sport mengenai kaki orang tersebut dan orang tersebut langsung melepaskan Mikaela dan berteriak memegangi kakinya yang sakit. Karena Yuni tidak main-main menggerakkan kakinya .
"Tidak sia-sia aku dulu belajar karate ," kata Yuni.
Mikaela yang lepas dari cengkraman orang tersebut, langsung bersembunyi dibalik tubuh sang mertua yang dalam kondisi berjaga-jaga, takut orang tersebut membalas apa yang dilakukannya.
"Mama ingin membuat aku tidak punya kaki?" orang yang memeluk Mikaela mengangkat kepalanya dan membuka topi kupluk dan masker yang menutupi hampir separuh wajahnya.
"Kak Raffi!"
"Raffi !" seru Yuni.
"Iya... Aku anakmu ma ! Dan nyonya, masa tidak menandai harum tubuh suamimu?" kata Raffi.
"Kak Raffi!" Mikaela menubruk tubuh Raffi. Raffi menyambut tubuh Mikaela dalam dekapannya.
"Kakak jahat! Aku kira laki-laki jahat!" seru Mikaela sembari memukul-mukul punggung Raffi yang memeluknya.
"Katanya tidak bisa menjemput, kenapa ini datang?" tanya Yuni, Mama Raffi.
"Sengaja, buat surprise," kata Raffi.
Raffi mengurai pelukannya dan melihat wajah Mikaela yang terlihat pucat.
"Maaf," kata Raffi.
"Kak Raffi jahat, aku takut sekali tadi. Aku kira pemabuk ," kata Mikaela.
__ADS_1
"Maaf ya," ujar Raffi sembari mengelus wajah Mikaela dan kemudian mendaratkan kecupan dibibir sang istri.
Cup
"Ih... kak Raffi!" Mikaela kaget dengan apa yang dilakukan oleh Raffi. Karena dihadapan sang mama, Raffi mengecup bibirnya.
"Mama tidak lihat," ujar Yuni dan memalingkan wajahnya menatap arah pintu bandara.
Raut wajah Mikaela merah merona. "Kakak ini !" Mikaela mendaratkan pukulan di dada sang suami.
"Di sini biasa orang saling laga bibir," kata Raffi.
"Orang biasa, aku tidak kak," kata Mikaela.
Raffi mendekatkan bibirnya ke telinga Mikaela dan berbisik. "Maaf ya, kakak rindu."
Mikaela mengerucutkan bibirnya.
"Jangan begitu bibirnya, kakak cium nih.... !" ancam Raffi.
Mikaela menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Baru sebulan di luar negeri, sudah menjadi mesumm... akut ! Bagaimana jika bertahun di sini? Pasti sudah jadi raja mesumm ..... !"
"Sudah selesai melepas rindu, mama sudah kedinginan ini." Mama Raffi membalikkan tubuhnya dengan kedua tangannya masuk kedalam saku jaket.
"Mama tidak bawa sarung tangan? El juga?" tanya Raffi pada Mamanya dan Mikaela.
"El juga lupa, padahal sudah diingatkan bunda."
'Bagaimana bunda dan ayah, sehat kan?" tanya Raffi.
"Alhamdulillah, sehat kak. Semua orang di Indonesia sehat," Jawab Mikaela.
Ketiganya keluar dari dalam bandara dan udara dingin langsung menyambut tubuh Mikaela. Melihat sang istri dan Mama yang kedinginan, Raffi bergegas menghubungi mobil yang membawanya menjemput sang istri dan Mama.
"Hangat," ujar Yuni, Mama Raffi begitu tubuhnya masuk kedalam mobil, dan penghangat mobil sudah dinyalakan oleh sang sopir yang tahu, penumpangnya datang negara yang tidak pernah merasakan suhu dingin.
Di inggris Mikaela gembira karena sudah bertemu dengan sang suami. Berbeda dengan di Indonesia.
Aira menangis didepan ruang operasi, di dalam pelukan Antoni.
"Mas ! Inara tidak apa-apa kan ?" Tanya Aira pada Antoni.
"Kita do'akan ya," kata Antoni.
Aira mendekati Faiz yang duduk tidak jauh dari tempat Aira berdiri. Aira mendaratkan bokongnya di sisi Faiz, begitu juga dengan Antoni.
__ADS_1
"Mas Faiz kenapa ini bisa terjadi? Katakan! Inara bisa cedera begitu parah. Sedangkan mas Faiz tidak mengalami apapun juga?" tanya Aira dengan suara yang sangat pelan, seperti berbisik. Karena dia melihat kedua orangtuanya Inara sedang khusyuk berdoa.
Faiz mengangkat kepalanya yang tadi menunduk dengan mata terpejam.
"Ini salah aku. Aku yang bersalah."
"Maksud mas Faiz apa?" tanya Aira.
"Bro... tenanglah. Bukan karena kau tidak mengalami luka-luka, kau yang bersalah," kata Antoni.
"Memang aku yang bersalah!" Faiz mengakui kecelakaan yang dialami oleh Inara karena kesalahannya.
"Katakan yang sebenarnya, mas!" Aira menaruh rasa curiga dengan apa yang diakui Faiz karena kesalahannya.
Faiz menceritakan tentang kejadian, di mana dia sedang bersama dengan Lila di cafe dan saat itu Inara sedang menunggu makanan yang dipesannya untuk di bawa pulang siap.
"Mas Faiz menduakan Inara?" tanya Aira dengan raut wajah merah menahan marah.
"Tidak! Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Lila!" kata Faiz dengan tegas.
"Kami murni berhubungan antara bawahan dan atasan."
"Murni hubungan bawahan dan atasan, koq makan berdua di cafe? Siapa yang percaya mas !"
"Kami bukan berdua saja, ada beberapa SPG yang akan ikut makan bersama setelah selesai bazar di dekat cafe tersebut. Tapi mereka belum sampai, baru aku dan Lila yang dulu ke cafe."
"Semoga cerita mas benar, jika mas terbukti menduakan Inara! Aku dan Mikaela tidak akan mengizinkan mas mendekati Inara," kata Aira dengan tegas.
Faiz menolak tegas tuduhan Aira, dia bersumpah tidak menduakan Inara.
"Aku mencintainya! Aku tidak main api!" kata Faiz dengan tegas.
"Percayalah, aku sangat mencintai Inara," kata Faiz lagi, agar Antoni dan Aira percaya dengan apa yang baru di ceritakannya.
Pintu ruang operasi terbuka dan seorang suster memanggil kedua orangtuanya Inara untuk masuk menemui dokter.
Lima belas menit kemudian kedua orangtuanya Inara keluar. Faiz, Inara dan Antoni menghampiri keduanya dan bertanya kondisi Inara.
"Dokter hanya mengatakan operasi pada kaki Inara selesai dan dokter tidak menjamin, kaki Inara yang cedera normal seperti semula," tutur ayah Inara.
Faiz terkejut dengan apa yang dikatakan oleh ayah Inara. Dia mundur dan dengan tangan mengepal, memukul-mukul dinding rumah sakit. Antoni menarik Faiz dan membawanya menjauhi kedua orangtuanya Inara.
"Aku yang membuat Inara menderita!"
"Faiz... Tenanglah!" Antoni memegang kedua bahu Faiz.
"Kau dengar apa yang dikatakan dokter? Inara akan cacat! Aku... aku.... Argh..... !" Faiz menggeram dan menjambak rambutnya.
__ADS_1
"Inara tidak akan cacat! Itu kata dokter Faiz! Dokter bukan Tuhan ! Apa yang dikatakan oleh dokter bisa saja salah!'
Next...