Terpaksa Menjadi Madu

Terpaksa Menjadi Madu
Bab 91 Ehm


__ADS_3

Happy reading.


......................


"Ma, biar Mas Damar pulang saja. Aku sudah mempersiapkan kamar mereka," kata Annisa yang keberatan dengan usul Mama mertuanya yang menginginkan Damar dan Mikaela tinggal di hotel yang sudah dibooking oleh Amelia.


"Iya Tante, tidak perlu ke hotel." Mikaela menimpali perkataan Annisa, yang menolak Damar dengannya menginap di hotel. Karena dia juga tidak ingin berdua-duaan dengan kakak ipar yang sekarang sudah menjadi suaminya tersebut dalam satu ruangan, apalagi dalam kamar yang sangat pribadi menurutnya.


"Ma, besok aku banyak kerjaan," kata Damar.


"Papa mengizinkanmu untuk tidak masuk Kantor," kata Aryan.


"Dam, Mama tidak mau mendengar penolakan ! Kalian yang sudah setuju untuk mendapat anak dengan Damar menikah lagi . Kenapa sepertinya kalian berdua terlihat aneh menurut pandangan Mama? Apa ada sesuatu yang kalian rencanakan?" mata Amelia menatap lekat Damar, lalu Annisa.


"Tidak ada apa-apa, ma. Kami tidak membutuh honeymoon, ma ! Bagaimana jika ada klien perusahaan yang melihat aku dengan wanita lain yang bukan istriku di hotel? Bisa kacau, ma."


"Wanita lain? Eii... Mikaela itu istrimu sekarang, Dam ! Apa kau sudah amnesia? Baru beberapa jam kau menikahinya, sudah melupakan menantu mama yang baru," kata Amelia.


"Dia istriku di depan orang yang mengetahui pernikahan keduaku, saja. Di luar sana, orang tahu istriku hanya satu, yaitu Annisa " jelaskan Damar.


Bunda Aini mengelus tangan Mikaela yang digenggamnya, dia tahu, Mikaela sedih. Tapi apa mau dikata, Mikaela sudah masuk kedalam benang kusut yang diciptakan oleh Annisa.


"Jangan khawatir, hotel ini sangat private. Tidak akan ada orang yang tahu keberadaanmu di sana. Mama memesan nama dengan nama rahasia. Sudahlah ! Jangan khawatirkan masalah itu. Pergi cepat ! Ami !" panggil Amelia.


Ami yang dipanggil Amelia datang dengan membawa dua koper .


"Ini Bu" Ami meletakkan dua koper di dekat Amelia.


"Apa itu ma?" tanya Damar.


"Itu .... ?" Annisa menunjuk dua koper yang baru dibawa Ami, asisten pribadi Amelia.


"Perlengkapan kalian, semua ini baru. Kau dan Mikaela akan memulai kehidupan rumah tangga dengan semua yang baru. Sebenarnya, Mama juga ingin memberikan rumah baru, tapi karena Annisa menginginkan Mikaela tinggal bersama, baiklah, Mama tidak akan mencampuri rumah tangga kalian. Tapi, ingat. Mama akan ikut campur, jika kau tidak adil Damar," kata Amelia dengan nada mengancam sang putra.


Amelia berdiri dan menghampiri Mikaela, lalu duduk di samping Mikaela.


"Jika mereka berdua, terutama Damar telah berlaku tidak adil padamu, katakan pada Mama. Jangan diam saja, El sekarang sudah menjadi menantu keluarga Wiratama."


Mikaela mengangguk.


"El baru beberapa jam menjadi menantu Mama Amel, sudah mendapatkan perhatian Mama Amel, aku yang sudah bertahun-tahun, dipegang tangannya saja saat bersalaman saja." batin Annisa.


"Apa aku boleh ikut, ma ?" Tanya Annisa yang berat melepaskan Damar pergi berduaan dengan Mikaela.


"Nisa !" Seru Amelia dengan nada suara yang sedikit tinggi.


"Yang pengantin baru itu Mikaela. Jika kau ikut dengan mereka, kau mau tidur bersama mereka berdua? Kalau kau ikut terus bersama Damar, kapan kau punya anaknya!"


"Aku akan tidur dikamar lain, ma ," kata Annisa.


"Tidak... tidak ! Begini saja lah, jika kau ngotot tetap ingin ikut, kau saja pergi dengan Damar. Tapi, ada tapinya, kau Dam, ceraikan dulu Mikaela dan kalian tunggu saja kalian mendapatkan momongan dari rahim Annisa. Kami tidak akan setuju kau mencari ibu pengganti !" Kata Amelia tegas.


"Bagaimana menurut Bu Aini? Papa juga, bagaimana dengan usul Mama?" Tanya Amelia pada bunda Aini dan suaminya, Aryan Wiratama.


"Saya setuju, Bu Amel," kata Aini.


"Papa juga." Timpal Aryan.


Damar mengurut dahinya, bingung dia. Apa yang dikatakan oleh Mamanya, Damar setuju. Karena dia juga tidak ingin menikah lagi, tapi karena ancaman Annisa, membuat Damar mau untuk menikah untuk mendapatkan anak yang sangat diinginkan oleh Annisa.


"Janganlah, ma ! Baiklah, aku tidak akan ikut. Tapi bolehkan aku ikut mengantar?"


"Tidak ada yang bisa ikut mengantarkan mereka. Hanya Mang Dul yang menghantarkan mereka dan lalu pulang," kata Amelia.


"Hah... ! Mengantar juga tidak bisa?"

__ADS_1


"Untuk apa mereka diantar, mereka bukan anak kecil lagi ! Damar saja istrinya dua," kata Amelia.


Nisa berdiri dari duduknya dan menghampiri Mikaela. "El , mbak mau bicara." Annisa menarik tangan Mikaela dan membawanya keluar dari ruang keluarga.


"Ingat perjanjian Kita, kau tidak boleh melayani Mas Damar di atas ranjang. Kau hamil melalui program bayi tabung."


"Iya mbak! Aku tidak akan lupa."


"Jangan iya...iya saja, begitu berduaan dengan Mas Damar, kau lupa."


"Aku tidak akan lupa, mbak. Otakku ini sudah terisi penuh dengan apa yang Mbak katakan, tidak ada tempat untuk yang lain, sehingga aku tidak akan pernah lupa dengan larangan-larangan yang mbak katakan."


"Baguslah," kata Annisa yang lega dengan yang dikatakan oleh Mikaela.


Keduanya kembali dan Annisa menarik tangan Damar untuk bicara. "Mas tidak boleh berdua-duaan dengan El, ingat itu. Hanya aku yang bisa melayani mas di ranjang! Wanita lain haram mas sentuh, walaupun dia sudah mas nikahi, tapi tetap haram."


Mikaela masuk kedalam mobil yang dikemudikan oleh sopir Amelia, Mang Dul.


"Mang, jangan ngebut ," kata Amelia.


"Iya Bu," sahut Mang Dul.


"Mas pergi, jaga diri. Jika kesepian, tinggal dengan bunda saja. Bunda sendirian juga."


"Iya. Mas, ingat!" kata Annisa.


"Iya," sahut Damar.


Damar masuk kedalam mobil dan mobil bergerak maju meninggalkan mansion kediaman keluarga Wiratama.


"Ayo bunda, kita pulang." Annisa mengajak sang bunda untuk pulang.


Keduanya berpamitan pada kedua orangtuanya Damar. Annisa yang disuruh menginap memilih tinggal bersama dengan bundanya.


"Katanya tadi mau menginap."


"Ada teman ngajak melakukan kegiatan sosial, Bun."


"Ya sudah, hati-hati. Tidak ada Damar, jangan pulang larut malam."


"Iya."


Lalu mobil Annisa meluncur meninggalkan perumahan bundanya.


Dalam perjalanan Annisa menerima telepon yang membuatnya marah.


"Kenapa kalian bisa kehilangan jejak? Apa saja yang kau lakukan, hah ! Mobil sebesar itu bisa kehilangan jejak. Aku tidak mau tahu, kalian harus mencari hotel mana mereka tinggal ! Jika tidak ketemu, aku tidak akan membayar keringat kalian!" Annisa memutuskan sambungan telepon.


"Sialan ! Hotel mana yang dibooking Mama?"


"Ponsel keduanya kenapa tidak bisa dihubungi, juga."


Sejak tadi, dia terus menghubungi telepon Damar, tapi tidak bisa dihubungi. Begitu juga dengan ponselnya Mikaela.


"Semoga Mas Damar tidak menyentuh Mikaela !"


Sedangkan mobil yang dikemudikan oleh Mang Dul sudah meninggalkan pusat kota, kini mobil sudah memasuki hutan pinus yang jalannya berkelok-kelok.


"Mau kemana ini ?" gumam Mikaela dalam hati.


Sejak meninggalkan rumah, kedua tidak saling bertegur sapa. Hanya Mang Dul yang bersiul-siul mengikuti irama lagu, setelah mendapatkan izin dari Damar. Sedangkan Damar menyandarkan tubuhnya dan memejamkan matanya, setelah puas mengutak-atik ponselnya yang tidak mendapatkan signal.


"Kenapa Mama memesan hotel ditempat terpencil begini?" batin Damar.


"Nisa pasti menelpon ini." batin Damar.

__ADS_1


"Semoga sampai ditempat, aku bisa menghubunginya."


"Den, kita sudah sampai." Mang Dul membangunkan Damar.


Mikaela juga terbangun, mendengar suara Mang Dul yang membangunkan Damar.


"Gelap ! Kita di mana ini Mang?" Mikaela melihat keluar mobil dan melihat semua gelap. Yang terlihat terang hanya sekitar mobil yang diterangi oleh lampu sorot mobil.


"Daerah mana ini ? Aku sepertinya tidak pernah ke sini. Mang, apa nama tempat ini ? Mana hotelnya?" tanya Damar.


"Daerah tanpa nama Den. Sini tidak ada hotel."


"Tidak ada hotel...!? Tidur di mana?" Mikaela kaget, dikatakan tidak ada hotel.


"Tuh.... !"


Tiba-tiba lampu menyala dan terlihat satu bangunan yang tidak terlalu besar.


"Itu ? Rumah siapa?" tanya Damar.


"Rumah milik Bu Amel, Den."


"Milik Mama? Sejak kapan ?"


Damar keluar dan Mikaela juga. Mang Dul mengambil koper keduanya dan membawanya masuk kedalam rumah tersebut.


"Tidak dikunci?" heran Damar, karena Mang Dul membuka pintu tanpa terlebih dahulu membuka dengan kunci.


"Tidak ada maling di sini, Den."


Damar masuk, sedangkan Mikaela masih berdiri di teras memandangi sekitar rumah yang terlihat sepi.


"Mengerikan sekali, jika aku dibunuh di sini, tidak akan ada yang akan tahu." batin Mikaela.


"Silakan masuk non." Mang Dul menyuruh Mikaela untuk masuk.


"Mang Dul tidur di mana?" tanya Mikaela.


"Mamang tinggal di tenda, Bu Amel sudah mempersiapkan semuanya."


"Oo.... "


Mikaela masuk dan melihat Damar sedang mengangkat ponselnya seperti sedang orang mencari signal.


"Kenapa tidak ada juga?" Damar melihat sekeliling ruangan dan tidak melihat ada telepon.


Mikaela tidak memperdulikan Damar, dia membawa kopernya dan membawanya kedalam kamar mandi.


"Untung bajunya tidak aneh-aneh," kata Mikaela saat melihat isi kopernya. Dan tidak terlihat baju kurang bahan.


Setelah selesai mandi, Mikaela keluar kamar dan melihat Damar berdiri seperti patung.


Dan...


"Sayang... Kau sungguh se*ksi ," kata Damar kepada Mikaela yang baru keluar dari dalam kamar mandi.


"Hah !" mata Mikaela terbelalak melihat Damar.


"Apa dia kesurupan setan?" Mikaela melihat mata Damar sedikit merah menatapnya.


"Sayang... sayang.... ," kata Damar seraya melangkah menghampiri Mikaela.


"Hei... Hei... Jangan dekat !" Mikaela ketakutan...


Next..

__ADS_1


__ADS_2