Terpaksa Menjadi Madu

Terpaksa Menjadi Madu
Bab 80 Curiga


__ADS_3

Happy reading.


......................


Annisa bangkit dari sofa dan melangkah menuju balkon yang ada di kamarnya. Dia berdiri dan menatap kearah langit yang terang karena sinar bulan dan kelap-kelip bintang di angkasa menatap cantik langit di waktu malam. Keindahan langit tidak seperti hati Annisa. Sejak sore, sampai hari sudah gelap, menandakan hari sudah malam, perasaan hati Annisa tidak enak.


Perasaan Annisa tidak enak, sejak dia pulang dari reuni dengan teman-teman kuliahnya satu fakultas. Di reuni tersebut, dia bertemu dengan temannya yang mengenal Damar sebagai suami Annisa.


Annisa teringat kembali dengan apa yang disampaikan oleh Davina.


Flashback


"Nisa, pesta dua hari yang lalu, kenapa kau tidak ikut dengan suamimu ?" tanya Davina yang bekerja sebagai sekretaris pada satu perusahaan yang bekerjasama dengan perusahaan milik Damar.


"Pesta?' kening Annisa mengeryit, mendengar apa yang dikatakan oleh Davina.


"Iya, perusahaan tempat aku kerja mengadakan pesta perayaan anniversary. Hari ulang tahun berdirinya perusahaan tempat aku bekerja. Suamimu datang, dan aku lihat kau tidak ada," kata Davina.


"Seru pestanya." tambah Davina.


Annisa belum menjawab pertanyaan Davina, pikirannya menerawang. "Dua hari yang lalu, saat Mas Damar pulang lama dan bajunya tidak sama dengan baju yang dikenakannya saat pagi pergi ke kantor." Annisa mengingat saat hari di mana Damar pulang larut malam, tidak seperti biasanya, dan tidak memberikan kabar pada Annisa, dia pulang malam.


"Ooh... Itu hari aku ada urgent, sehingga aku tidak bisa ikut dengan suamiku," kata Annisa memberikan alasan, kenapa dia tidak ikut bersama dengan Damar.


"Ooh... Suamimu aku lihat terus bersama dengan Alisa Salim," kata Davina.


"Alisa Salim?" batin Annisa. Annisa mencoba untuk mengingat nama wanita yang dikatakan oleh Davina.


"Jangan curiga, Nisa. Alisa Salim itu anak boss pemilik perusahaan PT Berjaya. Aku dengar mereka sedang menjalin kerjasama membangun resort dan tempat bermain," kata Davina lagi.


"Apa kau tidak tahu mereka menjalin kerjasama?" tanya Davina.


"Tahu," sahut Annisa, padahal dia tidak pernah tahu dengan apa yang dikerjakan oleh sang suami, Damar.


"Baguslah kau tahu, karena Alisa Salim itu putri tunggal Arman Salim dan sangat cantik dan lagi, Alisa Salim itu katanya lulusan terbaik dari Harvard," kata Davina.


Annisa tidak menanggapi apa yang baru saja disampaikan oleh Davina mengenai Alisa Salim.


"Sudahlah, jangan bahas pekerjaan suami. Kita cerita masa-masa menyenangkan jaman kuliah saja," kata Fitria yang melihat raut wajah Annisa yang sepertinya sudah tidak nyaman mendengar cerita Davina.


Wajah muram Annisa membuat Davina senang, karena dia juga kesal saat mendengar Annisa memutuskan Antoni yang masih kerabatnya Davina.


"Enakkan... ! Rasakan... Semoga suamimu tidak tergoda dengan gadis lain." batin Davina yang senang melihat Annisa terdiam mendengar perkataannya mengenai Alisa dan Damar.


Flashback end

__ADS_1


"Jangan sampai kau mengkhianati kepercayaan yang aku berikan mas ," gumam Annisa.


"Aku harus menyelidiki wanita itu, jangan sampai Mas Damar tergoda dengannya."


Annisa bergegas masuk kedalam kamar, setelah melihat sorot lampu mobil milik Damar menerpa gerbang. Annisa tidak ingin Damar melihat dirinya berdiri di balkon menunggu kepulangannya. Karena Damar pasti akan heran, karena Annisa tidak pernah berdiri malam-malam dibalkon.


Annisa duduk di sofa sembari melihat ponselnya. Pintu kamar terbuka, dan Annisa sedikit melihat Damar yang masuk kedalam kamar, tapi dia tidak menyapa Damar. Damar heran dengan apa yang dilakukan oleh Annisa yang sibuk dengan ponselnya tanpa menyapa dirinya.


Damar melangkah mendekati Annisa dan berdiri didepan Annisa duduk, tetap, Annisa terus melihat layar ponselnya.


"Mas !" Annisa kaget, karena ponselnya tiba-tiba lepas dari genggaman tangannya dan kini berada ditangan Damar.


"Kembalikan!" seru Annisa sembari tangannya ingin mengambil ponselnya yang dipegang oleh Damar. Tapi Annisa tidak bisa mendapatkan ponselnya, karena tangan Damar berada dibalik punggungnya.


"Ada apa?" tanya Damar dengan mata memicing menatap Annisa lekat.


"Ada apa ? Apanya ?" tanya balik Annisa. Dia pura-pura tidak ngeh dengan apa yang ditanyakan oleh Damar, padahal Annisa tahu apa yang ditanyakan oleh sang suami, yaitu mengenai ketidakpedulian Annisa dengan kedatangannya, membuat Damar heran.


"Kenapa diam? Biasanya tidak seperti ini ?"


"Lagi sariawan!" ujar Annisa dan kemudian meninggalkan Damar yang heran melihat tingkah Annisa.


"Sariawan?" Damar menatap punggung Annisa yang menjauh meninggalkan dirinya.


Annisa merebahkan tubuhnya di sofa dan memejamkan matanya. Damar yang ditinggalkan oleh Annisa menjadi tertanya-tanya dalam hati, kenapa Annisa cuek dengan dirinya. Damar masuk kedalam walk in closet dan melihat tidak ada baju ganti untuknya.


"Pasti dia marah, tapi apa salahku? Sepertinya tidak ada janji yang aku lupakan. Ulangtahunnya masih lama."


Damar mengambil baju dan meletakkannya di tempat biasa Annisa meletakkan baju untuk dia pakai, lalu kemudian Damar masuk kedalam mandi. Saat mandi juga Damar mencari-cari apa kesalahannya, sehingga Annisa mendiamkan dirinya.


***


"Ayah mana bunda?" tanya Mikaela yang baru pulang menemani Aira yang pergi ke butik untuk merancang gaun pengantin.


"Ayah sudah tidur," kata bunda Aini.


"Sudah tidur?"


Bunda Aini menganggukkan kepalanya.


"Sudah makan?" tanya bunda Aini.


"Sudah Bun," sahut Mikaela.


"Apa ayah tidak sehat Bun?"

__ADS_1


"Sudah beberapa hari ini ayah terlihat banyak melamun, dan jika bunda tanya, ayah mengatakan tidak ada apa-apa," kata Aini.


"Maaf bunda, apa karena aku ayah melamun ? Maafkan aku bunda." Mikaela menyeka ujung matanya yang tiba-tiba berair.


Bunda Aini mengangkat tubuhnya dan duduk di samping Mikaela.


"Jangan sesali yang sudah terjadi, Ayah bukan memikirkan itu," kata bunda Aini.


"El, apa Alin pernah menjumpaimu ?"


Mikaela menggelengkan kepalanya. "Tidak pernah bunda."


"Apa Alin ada datang?" tanya Mikaela.


"Tidak pernah," jawab Aini.


"Aku tidak ingin lagi ada hubungan dengan mereka bunda, karena itu aku tidak ingin mengambil warisan dari kak Raffi. Aku tidak ingin mendapatkan hinaan dari mereka lagi."


"Bunda setuju, El juga tidak membutuhkan harta itu," kata bunda Aini.


"Istirahatlah." bunda Aini bangkit dan berjalan menuju kamarnya.


"Selamat malam Bun."


"Malam," sahut bunda Aini dari depan pintu kamarnya.


Aini membuka pintu kamarnya dan melihat sang suami sedang duduk melihat amplop yang dipegangnya. Hari ini, dia mendapatkan amplop kedua dan berisi gambar yang sama.


"Ayah lihat apa?"


Aiman yang tidak menyadari kedatangan sang istri kaget.


"Apa itu Yah?" tanya Aini seraya jemari tangannya menunjuk amplop yang dipegang sang suami.


"Tidak apa-apa, surat-surat yang tidak penting lagi."


"Mau dibuang ?" tanya Aini.


"Kemari kan,Yah. Biar dibuang."


"Biar ayah saja besok, ibu istirahat saja." Aiman keluar dari kamar dan membawa amplop tersebut keluar. Pandangan Aini terus mengikuti langkah sang suami sampai hilang dari pandangan matanya.


"Ada yang aneh? Tapi apa?"


Next

__ADS_1


__ADS_2