
Happy reading.
......................
"Kak Raffi pergilah, aku akan menjaga Alin dan kakak ipar sampai akun dan kakak ipar menikah." Aldo berlutut disisi ranjang sembari memegang tangan Raffi yang dingin.
Satu jam yang lalu, jam dua malam waktu Swiss. Reyhan yang berada di rumah sakit menghubungi Aldo dan menyampaikan kondisi Raffi yang menurun tiba-tiba.
Tanpa membersihkan diri Aldo yang sedang tidur bergegas mengambil jaket dan memakainya.
Sampai di rumah sakit, kabar duka di terima Aldo. Bahwa Raffi pergi dalam keadaan tidur.
"Kak Raffi, aku akan menjaga semua orang yang kak Raffi sayangi." Aur mata membasahi pipinya. Aldo yang tidak pernah mengucurkan air mata setelah papanya meninggal, kini, kedua matanya mengalirkan air mata dua kali dalam setahun ini. Pertama pada saat sang Mama dan kini kepergian sang kakak.
Reyhan menepuk pundak Aldo. "Tuan Raffi akan dibawa kekamar jenazah untuk dibersihkan, Tuan," kata Reyhan.
Aldo bangkit dan kemudian mendekatkan kepalanya ke wajah Raffi dan mendaratkan kecupan di kening sang kak sudah pergi untuk selama-lamanya.
"Selamat jalan kak, kita pasti akan berkumpul lagi," ucap Aldo setelah mendaratkan bibirnya di kening Raffi.
Aldo keluar dari dalam kamar tempat Raffi di rawat, lalu kemudian Aldo mengeluarkan ponselnya dan menghubungi sang paman, Hanafi.
"Innalillahiwainnailaihirojiun," ucap Hanafi.
Hanafi menutup sambungan telepon dan menundukkan kepalanya dan terdengar suara isakan dari dalam mulutnya.
Suara langkah kaki membuat Hanafi mendongak dan melihat wajah sang istri yang heran menatapnya. "Ada apa Mas?" istri Hanafi, Aisya kaget melihat sang suami yang tadinya sedang menonton televisi, tiba-tiba menangis tersedu-sedu.
"Raffi... Raffi... Raffi ikut dengan mbak Yuni."
Suara terbata-bata Hanafi menyampaikan berita duka yang baru disampaikan oleh Aldo yang menjaga Raffi.
"Innalillahiwainnailaihirojiun," ucap Aisya.
"Baru dua hari aku pulang, Raffi pergi."
__ADS_1
"Sepertinya dia menunggu aku pulang, baru dia pergi. Dia tidak ingin melihat aku menangisi kepergiannya."
Aisya yang shock dengan apa yang dikatakan oleh sang suami, melangkah mendekati sang suami dan memeluknya. Keduanya berpelukan seraya menangis.
"Bagaimana kita harus menyampaikan ini pada ibu mas ? Ibu sudah begitu sedih dengan kepergian mbak Yuni, sekarang berita mengenai Raffi lagi, ibu pasti akan semakin sedih."
"Jangan kita beritahukan, kata dokter ibu tidak boleh menerima guncangan lagi. Jika sampai mendapatkan berita yang menyedihkan akan membuat ibu semakin sedih.'
"Apa bagus begitu mas? Kita menyimpan rahasia meninggalnya Raffi? Bagaimana jika ibu mendengar dari orang lain tanpa sengaja?"
"Kita harus mengatakan pada orang-orang, agar jangan sampai mengatakan apapun mengenai Raffi di dekat ibu.'
"Baiklah, jika itu yang terbaik untuk kedepannya."
"Kita harus ketempat Alin, mas," kata Aisya.
"Iya, Aldo menyuruh aku untuk menyampaikan pada Alin. Anak itu pasti akan semakin membenci Mikaela," kata Hanafi.
"Alin itu jangan diikuti semua perkataannya, mas. Dia sudah salah, meminta kita untuk menyembunyikan keberadaan Raffi pada Mikaela. Musibah ini bukan kemauan Mikaela juga, mas ! Mas itu sebagai pengganti orangtuanya sekarang ini harus tegas padanya," kata Aisya, istri Hanafi.
"Bagaimana kalau kita ke rumah Mikaela, mas ," kata Aisya.
"Kita harus menyampaikan berita duka ini pada Mikaela, jangan sampai Raffi tidak tenang."
"Baiklah, kita ke rumah Mikaela dulu, baru menemui Alin," kata Hanafi.
***
Mikaela mematung mendengar apa yang baru saja di sampaikan oleh Paman Hanafi. Begitu juga dengan ayah Aiman, perasaan marah kepada keluarga Raffi membuat ayah Aiman tidak bisa berkata apapun lagi. Kebohongan Alin yang mengatakan Raffi telah meninggal dan minta maaf Paman Raffi mengenai kebohongan Alin, dan ancaman Alin kepada sang paman agar tidak berkata apa-apa pada keluarga Mikaela, membuat Ayah Aiman membisu menahan amarah didalam dadanya.
"Maafkan paman El," ujar Paman Raffi, Hanafi.
"Kenapa kalian tega berbohong padaku? Sampai aku tidak bisa bertemu dengan kak Raffi terakhir kalinya... ! Kenapa... ? Kalian jahat... ! Dosa kalian... ! Kalian berdosa padaku dan kak Raffi ! Katakan pada Alin, aku tidak bersalah ... ! Jangan seenaknya saja mengkambinghitamkan aku dengan meninggalnya Mama... !" ucap Mikaela dengan suara yang berteriak.
Hanafi dan Aisya hanya bisa menunduk, apa yang dikatakan oleh Mikaela membuat dia kecewa pada dirinya sendiri. Ancaman Alin yang ingin mengakhiri hidupnya, jika Hanafi berhubungan dengan keluarga Mikaela, membuat Hanafi mengikuti semua keinginan sang keponakan. Dia berpikir, apa yang dilakukan oleh Alin hanya sementara, begitu marahnya sudah berlalu, Alin akan berdamai dengan rasa marahnya. Tapi kenyataannya, kemarahan Alin pada Mikaela terus menumpuk.
__ADS_1
"El.... !" Lenia, Tante Mikaela tiba dan memeluk Mikaela.
"Tante!" seru Mikaela, begitu menyadari kedatangan adik ayahnya tersebut.
"Kak Raffi... Kak Raffi meninggalkan aku Tan... ! Kak Raffi meninggalkan aku... ! Ayah dan bunda pergi meninggalkan aku, kini kak Raffi juga! Tan... apa aku tidak layak untuk mendapatkan kebahagiaan? Kenapa aku ditinggalkan?"
"Bunda tidak meninggalkanmu, El! ayah ada juga. El jangan begini, lihatlah... ayah itu ." bunda Aini menegakkan kepala Mikaela yang menunduk dan menggerakkannya untuk melihat pada ayah Aiman yang terduduk dengan lesu menyandarkan tubuhnya.
Aiman bangkit dan bergerak mendekati Mikaela, lalu tangannya terentang. Mikaela bangkit dan berlari memeluk Aiman.
"Ayah!" seru Mikaela.
"Jangan sedih, ada ayah. Ayah tidak akan kemana-mana."
Semua mata yang melihat mencucurkan air mata.
Hanafi dan Aisya pamit, setelah dua jam lebih berada di rumah Mikaela. Kini keduanya mengunjungi Alin yang saat ini tinggal di rumah sang nenek yang kosong. Karena sang nenek tinggal bersama dengan Hanafi.
Seperti Mikaela, Alin juga histeris mendengar berita yang di sampaikan oleh Pamannya. Dan mulutnya terus meluncur menyalahkan Mikaela.
"Cukup Alin! Kau jangan menyalahkan Mikaela lagi !" seru Aisya, istri Hanafi. Selama ini dia diam menghadapi Alin, kini Aisya berontak, tidak ingin lagi mengikuti kemauan Alin.
Alin tersentak begitu mendengar suara Aisya marah padanya. "Bibi marah padaku ? Apa salahku? Mereka yang salah! Bukan aku ?"
"Kau salah Alin, paman tidak habis pikir dengan cara berpikirmu itu. Kenapa kau melampiaskan kemarahanmu pada istri kakakmu ? Dia juga sangat sedih dengan kejadian ini Alin," kata Hanafi.
"Paman baru dari rumahnya, dan mengatakan mengenai Raffi. Maafkan paman, paman tidak bisa mengikuti kemaunmu lagi."
"Paman sudah mengatakannya?" tanya Alin dengan mata basah dan mendelik menatap wajah paman dan bibinya, Aisya.
"Dosa kita Alin, jika menutupi kepergian Raffi dari istrinya. Sudahlah, lepaskan amarah dari dalam hatimu, biar hidupmu tenang ," kata Aisya.
Alin diam, tidak menanggapi apa yang dikatakan oleh Paman dan bibinya. Entah apa yang ada didalam pikirannya. Apa dia menyesal dengan apa yang dilakukan? entahlah...
Next
__ADS_1