
Happy reading guys
...----------------...
"Baiklah... Begini ya bunda, aku ada undangan pesta ulang tahun teman di hotel ini, tidak ada teman untuk aku ajak pergi Bun.. makanya ajak bunda sebagai teman." Mikaela akhirnya berbohong, agar bunda mau keluar dari dalam mobil.
"Biasanya pergi dengan Inara dan Aira. Kemana mereka berdua?"
"Mereka sibuk bunda. Pergi sendiri, males ah.... !"
"Pesta ulang tahun saja di hotel. Kaya sekali mereka. Kenal di mana El ? orang teramat sugih ya El," tutur Bunda Aini.
"Anaknya yang mengadakan pesta untuk ibunya, Bun," kata Mikaela.
"Oh... ulang tahun ibunya."
"Bunda malulah El...! Pasti pesta yang mewah, yang diadakan di hotel, tamunya pasti orang-orang kaya semua," kata Bunda Aini.
"Tidak mewah bunda, ayolah... Kita sebentar saja." Mikaela meraih tangan bunda Aini. Akhirnya bunda Aini mau juga keluar dari dalam mobil.
"Seumur-umur, baru sekali ini bunda menghadiri pesta di hotel," kata bunda Aini seraya melangkah masuk kedalam hotel.
"Waktu pesta Mbak Nisa, kan diadakan di hotel, Bunda." Mikaela mengingatkan Bunda Aini, tentang pesta pernikahan Annisa dan Damar yang diadakan oleh pihak Damar di hotel.
"Itu kan pesta sendiri, kita bukan sebagai undangan," kata bunda Aini.
"Sama saja bunda, sama-sama diadakan di hotel."
Mikaela membawa bunda Aini masuk kedalam ballroom hotel.
Dan...
Begitu keduanya masuk kedalam ballroom, ditengah-tengah pintu ballroom, balon jatuh menimpa bunda Aini. Dan suara orang-orang yang menyanyikan lagu ulang tahun.
"Ha... ! Ada apa ini? Kenapa kita di sambut dengan balon dan lagu ulang tahun ?" Bunda Aini bingung dengan apa yang terjadi.
Balon dan kertas warna warni jatuh menerpa kepalanya dan ada yang hampir masuk kedalam mulut saat dia bicara.
"Aduh.... !" Aini menarik kertas yang hampir masuk dan tertelannya.
"Selamat ulang tahun bunda...!" Annisa datang dengan membawa kue dan di atas kue tersebut, menyala satu lilin.
"Ulang tahun? Siapa?" Aini bingung, celingak-celinguk melihat orang-orang yang hampir tidak ada yang dikenalnya. Hanya segelintir orang yang dapat dihitung jari tangannya yang dia kenal.
"Apa Bunda lupa? Hari ini hari apa?" kata Annisa.
"Selamat ulang tahun istriku dan ibu anak-anakku." suara yang sangat familiar membuat Bunda Aini mencari-cari asal suara.
Orang-orang yang tadinya menyambut kedatangan Bunda Aini bergeser dan terlihat diujung ballroom. Ayah Aiman berdiri dengan membawa buket bunga anggrek. Bunga kesayangan Bunda Aini.
"Ayah... !" Mata Bunda Aini membesar, saat melihat sang suami berpakaian jas dan sangat rapi.Senyuman menghiasi bibir Aiman Harman, begitu juga Aini.
__ADS_1
"Ayah sangat tampan ya Bun," ujar Mikaela dari belakang sang bunda.
"Iya ," sahut Aini.
Dengan langkah tegak, bunga yang dipegangnya berada didepan dadanya. Membuat ayah Aiman seperti sedang ingin menjemput sang kekasih hati. Begitu tiba didepan Bunda Aini. Ayah Aiman mengulurkan bunga yang dipegangnya kepada Bunda Aini.
"Apa ini Yah...?" tanya Bunda Aini.
"Selamat ulang tahun Bu," ucap ayah Aiman.
"Ayo Bunda, terima bunga dari ayah," ujar Annisa yang masih memegang kue ulang tahun.
"Ayah... Mungkin bunda tidak ingin bunga seperti yang ayah bawa. Bagaimana jika ayah berikan bunda bunga yang membuat mata seorang wanita berubah warna hijau," ucap Mikaela dengan bergurau.
"Bunga apa itu ?" tanya Aiman.
"Bunga Bank," sahut Annisa dengan tertawa.
'Betul mbak." timpal Mikaela.
"Apa bunda dalam bertambahnya usia, akan menjadi istri yang matre," ucap ayah Aiman.
"Iya Yah... Bunga itu besok saja sudah layu. Kalau bunga Bank tidak akan layu," kata Bunda Aini sambil tertawa.
"Sekarang, bunda dapat bunga ini dulu ya. Besok Nisa akan beri bunda bunga Bank. Ayo terima bunganya bunda dan tiup lilin ini. Tanganku sudah pegal membawa kue ini Bun," kata Annisa.
"Untuk apa kalian lakukan seperti ini? Bunda tidak pernah merayakan ulang tahun secara besar-besaran. Terlalu menghambur-hamburkan uang," kata bunda Aini.
"Sesekali tidak apa-apa Bu. Ini semua niat baik anak-anak kita dan menantu," kata ayah Aiman.
Bunda Aini menerima bunga yang diberikan ayah Aiman, lalu kemudian Bunda Aini meniup lilin dengan sekali hembusan.
"Selamat ulang tahun bunda," ucap Annisa dan mendaratkan kecupan dikedua pipi bundanya. Begitu juga dengan Mikaela.
Ayah Aiman mendaratkan kecupan di kening sang istri, dan berkata.
"Selamat ulang tahun istriku." bisik ayah Aiman, saat memeluk tubuh sang istri.
"Terimakasih Yah," balas Aini.
"Mas, sini." Annisa menarik tangan Damar untuk mendekati bunda dan ayahnya yang sedang berbincang-bincang dengan papa dan mamanya sang suami.
"Mau kemana?" tanya Damar.
"Aku mau kasih kado ulang tahun untuk bunda," kata Annisa.
"Mana kadonya?" Damar tidak melihat Annisa membawa apapun ditangannya.
"Kado yang spesial. Bagaimana El ?" Annisa mendekati Mikaela, bertanya mengenai surprise yang ingin diberikan kepada ayah bundanya dan juga kedua orang tuanya Damar.
"Beres mbak," sahut Mikaela dengan mengacungkan dua jari jempolnya.
__ADS_1
Annisa mengambil gelas dan sendok.
Lalu..
Ting..Ting...Ting...
Damar heran dengan apa yang dilakukan oleh sang istri. "Nisa... Ada apa?" tanya Damar, karena Annisa memukul-mukul gelas yang dipegangnya seperti ini berjualan saja.
"Tunggu sebentar mas, sabar. Perhatian-perhatian semua... ! ada pengumuman !" seru Annisa.
Kedua mertuanya dan kedua orangtuanya, mengalihkan pandangannya. Kini mereka menatap Annisa. Bukan hanya mereka saja, tetapi para tamu undangan yang sedang menikmati hidangan juga menghentikan aktivitas yang sedang mereka lakukan. Pandangan mereka fokus pada Annisa.
"Ada apa Nisa?" tanya Mama Damar.
"Tunggu sebentar, Ma. Mama dan Papa duduk saja," kata Annisa kepada Mama mertuanya.
"Mas juga, duduk." Annisa menyuruh sang suami untuk duduk dan Annisa berdiri di depan.
"Nisa... Ada apa? Jangan buat permainan yang tidak lucu ya. Mama dan Papa tidak suka dengan game-game ," ucap Damar dengan berbisik pada sang istri, sebelum dia duduk.
"Siapa yang mau buat game, permainan anak-anak ." batin Annisa.
"Ada apa ya Bu Aini?" Mama Damar bertanya pada Bunda Aini, Karena tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari sang menantu.
"Saya juga tidak tahu, Bu. Nisa mau apa itu.... ?" jawab Aini.
Karena tidak mendapatkan jawaban dari besannya, Mama Damar bertanya pada sang suami.
"Pa, menantu kita mau apa itu?"
"Sabar, Ma. Kan menantu kita tadi menyuruh mama untuk bersabar. Mungkin menantu kita ingin melakukan pertunjukan sulap. Atau mungkin ada pertunjukan badut," kata Papa Damar seraya mengeluarkan tawa dari sela-sela bibirnya.
"Papa ini..... ! Mama serius." Mama Damar mendaratkan tepukan ringan di lengan sang suami.
Mikaela dan dua orang pria masih sibuk mempersiapkan layar televisi yang sangat besar.
"El... ." Annisa memberi tanda pada Mikaela untuk memutar video.
"Sip.... " Mikaela mengacungkan jari jempolnya.
"Lihat ke layar televisi ya." titah Annisa pada semua orang yang berada di dalam ballroom.
Semua mata menatap ke layar televisi, seperti yang dikatakan Annisa. Dalam layar televisi terlihat Annisa baring di atas ranjang, didalam ruangan praktek dokter spesialis kandungan.
Semua mendengar dan melihat saat dokter menunjukan janin yang ada didalam rahim Annisa.
Mata Damar membesar melihat layar televisi.
"Sayang... Itu...?" Damar bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati Annisa yang berdiri didepannya. Annisa menganggukkan kepalanya.
Mendapatkan anggukan dari Annisa. Damar langsung memeluk sang istri. "Akhirnya," bisik Damar.
__ADS_1
Annisa menangis dalam dekapan sang suami.
"Akhirnya, mas," ucap Annisa.