
Happy reading guys.
......................
"Mbak mengajakmu bertemu di luar, karena mbak tidak ingin bunda mendengar apa yang kita bicarakan."
"Apa keputusanmu? Mbak ingin kau tunjukkan baktimu pada ayah, dengan menolong mbak."
Mikaela menunduk dan memainkan sedotan plastik yang ada didalam gelas minumnya.
"Baiklah, mbak. Aku akan memenuhi permintaan Mbak."
"Bagus El, tidak sia-sia ayah dan bunda merawat dan menyayangimu," kata Annisa.
"Semoga pengorbananku ini tidak sia-sia dan bisa membuat mbak Nisa bahagia." batin Mikaela.
"Tuhan mengirimmu dengan tinggal bersama kami, untuk membantuku. Memang sudah rencana Tuhan, aku sulit untuk mengandung, karena rahimku lemah."
Mikaela diam, tidak menanggapi perkataan Annisa. Annisa diam beberapa detik, dan kemudian melanjutkan apa yang ingin dikatakannya kepada Mikaela.
"Karena kau sudah setuju, ada yang ingin aku bicarakan denganmu," kata Annisa.
Mikaela menunggu, apa yang akan dikatakan Annisa lagi. Di sini, dia hanya sebagai peran pembantu di kehidupan Annisa. Dia tidak bisa menolak, karena Annisa selalu mengungkit peran ayah dan bundanya yang telah merawatnya, sampai dia dewasa. Dan perkataan yang selalu dikumandangkan Annisa yang membuat Mikaela seperti kerbau yang di cucuk hidungnya, agar mau mengikuti kemauan si pemilik skanario.
"Pernikahanmu dengan Mas Damar hanya diketahui oleh kita-kita saja, jangan ada yang tahu. Kedua temanmu juga tidak boleh ada yang tahu."
Mikaela mengangkat kepalanya dan melihat Annisa.
"Mereka sudah tahu, mbak."
"Apa !? kau mengatakan pada mereka? Aira tahu, Toni pasti tahu... ! kenapa kau mengatakan pada mereka El... ? Toni... Pasti dia suka melihat aku menderita," kata Annisa.
"Kenapa kau ceritakan pada kedua temanmu itu ? Apa kau tidak bisa menyimpan rahasia ? Oh... Tuhan!" Annisa kesal pada Mikaela yang dianggapnya bodo, karena telah membagi cerita dengan kedua temannya tersebut.
"Karena aku membutuhkan teman untuk berbagi, Mbak."
"Tidak perlu semua teman mengetahui masalah kita, El... ! Kini mereka, terutama Aira dan Toni, pasti akan menertawakan kehidupanku yang jauh dari kata sempurna."
"Toni pasti senang, karena aku meninggalkannya, karena dia tidak bisa memberikan kebahagiaan yang aku idamkan," batin Annisa.
"Kau akan menikah dengan Mas Damar, tapi kau tidak boleh melayani Mas Damar di ranjang El ! Tugas memberikan nafkah batin untuk Mas Damar itu tugasku, istri sebenarnya. Sedangkan kau itu hanya istri diatas kertas yang bertugas untuk melahirkan anak kami. Dan itu dilakukan dengan cara medis, dokter yang akan melakukannya."
"Baguslah, aku juga tidak ingin melayani suamimu itu, mbak." batin Mikaela.
"Katakan sesuatu, El. Kenapa kau diam saja?" tanya Annisa yang tidak mendengar suatu bantahan dari mulut Mikaela.
"Apa yang harus aku katakan, Mbak? Semua sudah mbak rencanakan dengan matang, aku hanyalah boneka," kata Mikaela, tapi kata Aku hanya boneka hanya bisa dikatakannya dalam hati.
"Apa kau tidak keberatan dengan apa yang aku katakan?"
"Tidak Mbak, aku akan mengikuti saja alur yang mbak buat." lagi-lagi Mikaela pasrah dengan alur cerita kehidupan mereka bertiga nantinya. Mikaela merasa, dia hanya wayang dan Annisa dalang kehidupannya sejak dia hadir dalam keluarga sang Paman.
"Pernikahan ini tidak boleh ada yang tahu, dan kau nanti akan tinggal di rumah Mbak. Di rumah Mbak kan ada paviliun untuk para pekerja, kau tinggal di situ. Mbak tidak ingin orang heran dengan kehadiranmu di rumah Mbak nantinya, karena itu kau tinggal di rumah belakang. Ingat, tidak boleh ada yang tahu, termasuk para pekerja di rumah Mbak."
"Kalau mereka tanya, apa yang harus aku katakan, mbak?"
Annisa memikirkan apa yang ditanyakan oleh Mikaela.
"Katakan saja, kau tidak boleh tinggal di rumah sendiri. Nanti mbak bilang, bunda pergi mengunjungi keluarga di luar kota. Karena itu, kau tinggal di rumah belakang."
"Baik, mbak."
__ADS_1
"Setelah pernikahan nanti, kita akan bertemu dokter untuk mulai melakukan program. Secepatnya kau hamil kami, kau akan terbebas dari perjanjian ini. Ingat El ! Jangan sampai kau jatuh cinta pada suamiku ."
***
"Kak Reza, kak Damar mana ?" tanya Alisa Salim, yang merasa sudah dua kali pertemuan, Damar tidak hadir dan hanya diwakili oleh sang asisten. Reza.
"Tuan Damar sibuk nona, karena semua urusan sudah selesai, karena itu Tuan Damar mengutus saya dan Pak Sanusi yang menghandle semua urusan proyek."
"Kalau begini, bagaimana aku bisa menggoda Damar. Ah... Kacau ! Alin pasti akan marah padaku. Ah... Masa bodo lah... Aku juga tidak mau melakukan ini, Tuhan akan murka padaku ."
"Ini nona." Reza menyerahkan master plan proyek yang harus diperiksa oleh Alisa.
"Sudah kak Reza, tidak perlu saya periksa lagi. Saya percaya dengan apa yang bapak kerjakan. Sini, biar saya tandatangani saja."
Arini memberikan pena pada Alisa untuk menandatangani berkas-berkas yang perlu ditandatangani.
"Jika butuh apa-apa lagi, saya akan menyuruh sekretaris saya saja untuk menemui kak Reza."
"Baik Nona."
"Apa kau sudah tidak mau membantu Alin lagi, Lisa?" tanya Arini yang duduk di balik kemudi, sedangkan Alisa duduk di sampingnya menyandarkan kepalanya dan memejamkan mata.
Alisa membuka matanya dan menegakkan tubuhnya.
"Aku capek ! Apa kau tidak capek ?" tanya Alisa.
"Sama, aku takut karma mengikutiku. Karena sudah menghancurkan rumah tangga orang," kata Arini.
"Bagaimana jika Alin marah? Dan mengungkit-ungkit bantuannya pada kita ," kata Arini.
"Rin, bagaimana kita temui kak Aldo dan menceritakan ini semua ," kata Alisa.
"Bagaimana jika Alin bertambah marah, karena kita telah mengadu pada kak Aldo," kata Arini.
"Kita pulang Rin, aku males kembali ke kantor." titah Alisa.
***
"Apa keputusanmu ini tidak karena terpaksa, Dam ?" tanya Aryan, setelah Damar menyetujui permintaan papanya untuk menikah lagi, agar mereka bisa mendatangkan momongan.
Damar melihat Annisa, dan melihat Annisa menganggukkan kepalanya.
"iya, pa ," sahut Damar.
"Iya ... ! kau terpaksa?" tanya Amelia.
"Bukan, ma ! Aku tidak terpaksa."
"Kau kenapa, Dam ? tadi katanya iya terpaksa. Kini tidak terpaksa," kata Aryan.
"Maaf, Pa," kata Damar.
"Jadi, tidak ada paksaan kan ?" tanya Aryan sekali lagi.
"Tidak, Pa," kata Annisa.
"Ingat Dam, istri yang kau nikahi jangan kau sia-siakan. Jangan kalian hanya memanfaatkan dia untuk mendapatkan anak saja," kata Amelia.
"Papa akan marah, jika mendengar kalian tidak berlaku adil. Apalagi wanita itu masih saudara istrimu, Dam. Jangan sampai masalah ini akan menganggu kekerabatan."
"Setelah menikah, Mama akan membawa Mikaela tinggal di sini," kata Amelia.
__ADS_1
"Apa !?" Annisa dan Damar kaget. Terlebih Annisa, karena dia merencanakan menempatkan Mikaela di paviliun belakang rumahnya.
"Bagaimana membawa El kerumah sakit, jika El tinggal di rumah Mama." monolog batin Annisa.
"Tidak boleh."
"Ma, kami sudah rembukan. El nanti akan tinggal bersama kami," kata Annisa.
"Apa kau yakin mau tinggal bersama? Apa kau tidak cemburu melihat Damar tidur di kamar istri mudanya?"
"Tidak, ma. Itu sudah resiko yang harus aku terima untuk memiliki seorang anak," kata Annisa.
"Baguslah," kata Amelia.
"Kalau begitu, pernikahan akan dilakukan Minggu," kata Aryan.
"Minggu!" kaget Damar.
"Iya, Minggu. Kenapa? Apa ada pekerjaan?" tanya Aryan.
"Tidak ada Pa," Sahut Damar.
"Bagus, semua urusan akan diselesaikan oleh pengacara. Ini.... " Aryan memberikan amplop yang ada di meja disampingnya dan memberikannya pada Annisa.
"Tandatangani izin itu."
"Izin apa pa?" tanya Annisa.
"Izin istri untuk memberikan suami menikah lagi ," kata Aryan.
"Izin, bukannya hanya pernikahan siri ?" tanya Damar.
"Jika siri, anakmu nanti akan sulit untuk mendapatkan dokumen kelahiran. Kau harus menikah resmi."
Akhirnya, dengan berat hati, Annisa menandatangani surat izin tersebut.
***
Pernikahan terjadi dengan sederhana, hanya dihadiri oleh pihak keluarga inti saja. Pihak Mikaela hadiri oleh Bunda Aini, sedangkan Lenia dan sang suami tidak diberitahu oleh bunda Aini, karena keinginan Annisa dan juga Mikaela.
"Dam, bawa Mikaela ke hotel. Mama sudah memesan kamar untuk kalian tinggali selama seminggu," kata Amelia.
"Hotel?" batin Annisa.
"Kenapa harus ke hotel, ma ? Kami pulang saja," kata Damar.
"Dam, kau itu baru menikah. Tidak mungkin istrimu kau bawa pulang, kasihan Nisa melihat kau malam pertama di rumah." bisik Amelia.
Damar mengikuti kemauan sang Mama.
Sebelum pergi, Annisa mengultimatum Damar untuk tidak menyentuh Mikaela.
"Ingat, mas ! Jangan menyentuh El."
"Iya ," sahut Damar.
"El, jika tidak kuat lagi. Pergilah, bunda tidak marah."
Mikaela pamit pada bunda Aini. "Do'akan El, bunda."
"Doa bunda selalu menyertaimu, katakan pada bunda jika mereka menyakitimu. Biar kita pergi."
__ADS_1
Mikaela mengangguk.