
Happy reading guys
...----------------...
Brak...
Pintu kamar terbuka, membuat sang penghuni kamar tersentak kaget.
"Nisa !" seru bunda Aini.
"Bunda! jangan izinkan El menikah hari ini," kata Annisa, begitu dia mendengar ayah dan bundanya berbicara.
Aiman dan Aini mendongak melihat Annisa yang berdiri tegak menatap keduanya. Di belakang Annisa berdiri Damar yang mencekal tangan Annisa, yang sepertinya ingin menarik Annisa untuk menjauh dari ayah dan bundanya yang sedang berbincang dengan serius dikamar.
"Sini ." ayah Aiman memanggil Annisa untuk duduk di dekatnya.
Annisa masuk diikuti oleh Damar. Annisa langsung meletakkan bokongnya di sisi ranjang, di mana sang ayah duduk.
Bunda Aini menarik kursi untuk diduduki Damar.
"Terimakasih Bun," ujar Damar.
"Kenapa mendadak begini yah?"
"Karena Raffi ada tugas ke luar negeri mewakili universitas tempat dia menjadi dosen. Kompresi... apa namanya tadi Bun?" Aiman lupa dengan pekerjaan yang harus dilakukan oleh Raffi diluar negeri.
"Pertemuan dekan seluruh dunia, gitu ... bunda tangap tadi."
"Kalau dia ada tugas diluar negeri, undurkan saja acaranya. Tunggu dia pulang," kata Annisa.
"Raffi berencana untuk membawa Mikaela, Nisa," kata bunda Aini.
"Membawa Mikaela? mana bisa bunda... ! apa dikiranya mengurus visa sehari bisa kelar. Belum lagi El kerja!"
"Visa beda dengan mengurus paspor! dasar orang udik, nggak ngerti mengurus visa sok tahu," ujar Annisa mengejek Raffi yang tidak tahu apa-apa menurutnya.
"Nisa !" bunda Aini menegur keras Annisa yang merendahkan Raffi.
"Nisa ! jaga bicaramu!" Damar juga menegur Annisa yang arogan menurutnya.
"Raffi itu tamatan luar negeri! jangan kau kira dia belum pernah keluar negeri!" sambung Damar .
__ADS_1
"Kenapa kalian selalu membela dia? sepertinya kalian sudah terpesona dengan tutur kata lembut yang ditunjukkannya. Lihatlah... sekarang mereka ingin melakukan akad nikah sekarang juga. Pihak mereka ingin menikah tanpa keluar biaya! tidak bisa begitu Yah! pernikahan Mikaela hanya sekali seumur hidup! beda jika El itu seorang janda!" seru Annisa.
"Nisa.... !" Bunda terkejut mendengar perkataan Annisa. Aini menggelengkan kepalanya.
"Nisa, jaga bicaramu." tegur Damar.
"Nisa... dengarkan ayah bicara dulu. Jangan potong pembicaraan ayah, oke !" kata ayah Aiman.
Ayah Aiman menceritakan rencana Raffi kepada Annisa.
"Apa tidak ribet, hari ini nikah. Bulan depan baru resepsi? sudahlah Yah... tolak saja keinginan mereka. Bilang pada mereka, bulan depan nikah dan resepsi."
"Bagaimana Raffi membawa El, jika mereka belum resmi?" tanya ayah Aiman pada Annisa dengan suara yang lembut, karena Aiman tahu, Annisa tidak bisa dibawa bicara yang keras dan Annisa juga akan bicara keras.
"El tidak usah ikut, kan gampang," kata Annisa.
"Raffi juga akan melanjutkan S3 di sana, kemungkinan dua tahun dia di inggris," kata ayah Aiman.
"Tunggu dia tamat S3, baru menikah," sahut Annisa.
Ada saja yang diungkapkan Annisa untuk membuat Mikaela tidak jadi menikah. Entah apa yang membuat Annisa tidak suka melihat Mikaela menikah dengan Raffi. Rasa dengki? tidak mungkin, karena Damar lebih dari segalanya dibandingkan Raffi hanya seorang dosen dan pemilik perusahaan yang tidak sebesar milik Damar. Mungkin rasa sayang pada Mikaela yang membuat Annisa tidak ingin sang adik sepupu menderita dalam pernikahannya.
"Berapa umur El, Nisa. 26 tahun," kata ayah Aiman.
"Aku menikah dua puluh enam," kata Annisa.
Aiman menghela napas panjang. Dia bingung apa lagi yang harus dikatakannya kepada sang putri yang tetap Keukeh tidak ingin pernikahan Mikaela diadakan hari ini.
"Bunda koq diam saja ?" tanya Annisa pada Aini yang tidak banyak nyumbang suara pada perbincangan antara sang suami dan anaknya.
"Awalnya bunda bimbang untuk mengizinkan El menikah hari ini, tapi begitu melihat keluarga Raffi sangat baik pada Mikaela, untuk apa bunda menentang. Niat Raffi kan baik, ingin mengekalkan hubungannya dengan Mikaela dengan ikatan yang suci dan membawa Mikaela. Bunda setuju saja. Raffi sangat mencintai El. Sudahlah Nisa, terima pernikahan Mikaela ya ! El juga sudah menerima Raffi untuk menikahinya hari ini."
Bunda Aini bangkit. "Sudah... banyak yang harus kita urus. Ayo Nisa bantu bunda, El harus ganti baju lagi. Bunda sudah pesan baju untuk pernikahan Mikaela, kau juga ganti baju, jangan pakai yang ini ." bunda Aini menarik tangan Annisa keluar dari kamar.
"Maafkan Nisa yah," kata Damar yang masih tinggal untuk meminta maaf pada mertuanya tersebut.
"Ayah yang harus minta maaf, keras kepala Nisa pasti sudah sering membuatmu sulit," kata Aiman pada Damar.
"Sabar menghadapinya." tambah ayah mertuanya Damar, Aiman.
"Iya Yah," sahut Damar.
__ADS_1
"Oh... iya. Bagaimana dengan program bayi tabung yang kalian lakukan?" tanya Aiman.
"Dua hari yang lalu kami sudah periksa dan kami berdua dalam keadaan sehat dan lusa kami harus kerumah sakit untuk melakukan program bayi tabung. Dia kan kami Yah," kata Damar.
"Doa ayah bersama kalian, ingat Dam. Sekali program belum tentu langsung berhasil, beritahu pada Annisa."
"Dokter sudah katakan pada Nisa, Yah ."
"Semoga berhasil. Ayo kita keluar, sudah terlalu lama kita meninggalkan para tamu."
Keduanya keluar untuk bergabung kembali dengan keluarga Raffi.
***
Akhirnya pernikahan dilakukan hari itu juga, karena pihak keluarga Raffi sudah mempersiapkannya semua. Antara untuk Mikaela dan semua yang dibutuhkan untuk pernikahan sudah dibawa oleh keluarga Raffi.
Pengajian dan siraman juga dilakukan, walaupun mendadak, tapi semua yang harus dilakukan sebagai pasangan calon pengantin dilakukan oleh keduanya.
Keluarga Raffi ditempatnya di sebelah rumah Mikaela, dari pada mereka kembali pulang dengan menempuh jarak pulang pergi tiga jam setengah dalam perjalanan. Akhirnya diambil kesepakatan, keluarga pihak pengantin laki-laki berada di rumah tetangga Aiman yang kosong.
Raffi senang saat melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh calon pengantin. Tidak ada dia memprotes apa yang harus dilakukannya.
"Akhirnya kak Raffi menikah hari ini, senang tuh.... !" goda Aldo.
"Pastinya!" Alin menimpali ucapan Aldo.
"Tadi wajah kak Raffi seperti orang yang tidak ada semangat untuk hidup, pasti takut tuh... meninggalkan kak El keluar negeri." ledek Alin.
"Seperti pihak universitas ada dendam pribadi pada kakak tuh... karena tiba-tiba mengutus kakak untuk berangkat keluar negeri. Untuk bisa dan paspor masih berlaku, jika tidak tadi kan gawat," kata Aldo.
"Karena visa kakak masih berlaku, makanya kakak yang diutus pihak universitas. Sebenarnya rekan kakak yang ditunjuk, ternyata Visa nya di tolak," kata Raffi.
"Apa kakak betul akan melanjutkan S3 seperti yang kakak rencanakan?"
Raffi mengangguk. "Dari pada balik lagi, lanjut saja dengan rencana semula. Pihak universitas juga sudah menyetujuinya."
"Pantes ngebet nikah hari ini. Syukurlah... kak El mengerti dengan keresahan kakak." ledek Alin.
Tepat jam tujuh malam.
"Sah.... !" terdengar suara sah yang menyatakan akad yang dilakukan oleh Raffi sah. Dan Raffi dan Mikaela dinyatakan sah menurut agama dan negara.
__ADS_1
Next