Terpaksa Menjadi Madu

Terpaksa Menjadi Madu
Bab 66 Marah lagi


__ADS_3

Happy reading guys


...****************...


Semua mata terarah pada sesosok wanita yang mengenakan baju serba hitam.


Aldo berdiri. "Alin !" seru Aldo dengan suara yang sedikit keras.


"Kenapa kak Aldo berlutut didepan pembunuh itu? Seharusnya dia berlutut kepada kita, kak ! Dia... Dia membuat kita kehilangan Mama!" seru Alin seraya melangkah mendekati Aldo.


"Alin! Apa yang kau katakan ? Kenapa kau menuduh kakak ipar yang membunuh mama? apa kau sudah kehilangan akal sehat? Sepertinya kau itu perlu bertemu dengan psikiater!" kata Aldo kesal dengan sang adik kembar.


"Dia yang membuat Mama pergi meninggalkan kita selamanya! Jika mama tidak menghantarkannya ke inggris, mama tidak mungkin meninggal!" kata Alin.


"Alin ! Sadar Nak ," kata Hanafi, paman Alin.


"Aku sadar paman! Otakku tidak eror!" teriak Alin.


Teriakan Alin membuat seorang perawat yang sedang melintas menegur Alin, karena teriakannya bisa menganggu pasien dan para pengunjung yang berada di rumah sakit.


Begitu suster yang menegur Alin berlalu, Alin mendekati Mikaela dan sedikit membungkukkan tubuhnya. Kini wajahnya sejengkal dari wajah Mikaela yang tanpa eskpresi.


"Kau wanita pembawa sial bagi keluargaku ! Kenapa kau tidak mati saja!" kata Alin dengan suara yang dingin.


"Alin !" Aldo menarik tangan Alin untuk menjauhi Mikaela.


Damar yang mendengar apa yang dikatakan oleh Alin gemas dengan adik ipar Mikaela tersebut. Sedari tadi dia sudah ingin membalas perkataan Alin, tapi dia masih menahan diri. Tetapi setelah perkataan Alin semakin tidak enak didengar telinga, akhirnya Damar membuka suaranya.


"Kau kira ada orang yang menginginkan musibah ini terjadi? Apa kau tidak lihat Mikaela juga terguncang dengan apa yang terjadi? Jangan kau pikir kesedihan ini hanya terjadi padamu? Mikaela juga sedih, nona ! Di depan matanya, dia melihat suami dan mertuanya merengga nyawa!" kata Damar dengan suara yang datar.


"Mas, maaf," kata Aldo.


"Alin," ujar Aldo.


"Apa? Kakak mau membela orang yang membuat kita kehilangan Mama?" Alin melotot menatap Aldo.


Aldo meraih tangan Alin. "Alin, ayo kita pergi," kata Aldo.


"Tidak mau !" Alin menghentakkan tangan Aldo yang memegang lengannya.


"Paman," kata Aldo pada sang paman, Hanafi.


"Pergilah, biar paman di sini menunggu Raffi," kata Hanafi.

__ADS_1


"Lepaskan !" Alin meronta dibawa paksa Aldo.


"Diam ! Kau telah membuat malu! Apa kau kira hanya kau yang merasa kehilangan? Ingat Lin... Kakak ipar juga kehilangan, suaminya belum sadar! Bagaimana perasaan kakak ipar, begitu melihat kondisi kak Raffi. Jangan kau bawa rasa sedihmu sendiri, Lin... Pikirkan juga kesedihan orang." Aldo mengomel sepanjang jalan keluar dari rumah sakit.


Dia tidak perduli dengan tatapan orang yang melihat dia menarik paksa Alin, dan Alin menangis minta dilepaskan tangannya oleh Aldo, karena tangannya terlahir keras di cengkeraman tangan Aldo. Tapi Aldo tak mengindahkan Rengekan Alin. Dengan raut wajahnya yang datar, Aldo membawa Alin menuju hotel tempat mereka menginap.


Di Indonesia.


"Ayah mau apa sebenarnya ? Mau masuk rumah sakit lagi?" Annisa berdiri di dekat tempat tidur, baru satu jam pulang dari rumah sakit, setelah ayah Aiman diinfus untuk menambah staminanya, ayah Aiman diperbolehkan untuk pulang.


"Ayah mau tidur, jangan ganggu ayah ." Aiman membalikkan badannya memunggungi Annisa.


"Ayah boleh tidur, tapi minum ini dulu !" Annisa memegang segelas juice apel.


"Ayah sudah kenyang, nanti ayah minum." Aiman tetap Keukeh menolak minuman yang dibawa Annisa.


Pintu kamar terbuka, Aini masuk dengan membawa baju untuk di simpan didalam lemari.


"Lihatlah bunda, ayah tidak mau minum juice apel yang aku buat." adu Annisa pada bundanya.


"Biarkan ayah beristirahat dulu, baru saja makan buah. Letakkan saja di situ," kata Aini menunjuk meja kecil yang ada di samping tempat tidur.


Dengan ngedumel Annisa meletakkan gelas yang dibawanya dan beranjak meninggalkan kamar.


Annisa masuk kedalam kamarnya dan menghubungi Damar untuk menanyakan kondisi terkini.


Damar -(Kondisi El masih seperti itu juga, belum ada perkembangan. Tadi melihat Raffi juga tidak ada perubahan.")


Annisa -("Kondisi Raffi bagaimana?")


Damar - (Masih kritis, menurut paman Hanafi, dua hari lagi dilakukan operasi," ) kata Damar melalui sambungan telepon.


Annisa -("Apa El belum bisa di bawa pulang, mas ? Ayah tidak tenang di sini,") kata Annisa.


Annisa menceritakan apa yang terjadi pada ayah Aiman.


Damar -("Biar mas tanya dengan dokter yang menangani El, jika bisa, selesai surat-surat untuk membawa Tante Yuni, El sekalian di bawa pulang,") kata Damar melalui sambungan telepon.


Annisa -( Kapan kemungkinan bisa pulang, mas?")


Damar -("David belum bisa memastikannya kapan, tapi dalam minggu-minggu ini juga surat-surat sudah selesai pastinya.")


Saat Damar mendapatkan telepon dari Annisa, dia sedang menemani Mikaela melihat Raffi. Tapi mereka bisa melihat hanya melalui kaca, karena takut pasien terinfeksi dari luar.

__ADS_1


Damar meninggalkan Mikaela dengan Imaniar yang selalu mendampingi Mikaela, saat dia melihat siapa yang menghubunginya.


Mikaela hanya diam mematung dikursi roda. Walaupun pandangan matanya fokus kearah ranjang Raffi terbaring dengan dipenuhi oleh alat-alat yang membuat dirinya masih bisa bernapas.


Imaniar membungkukkan tubuhnya dan bicara dengan Mikaela dengan suara yang lembut.


"El, lihatlah! Kau pasti merindukan orang yang ada di ranjang itu kan ? Lihat.... !" telunjuk Imaniar terarah pada Raffi.


"El, sadarlah... Suamimu membutuhkanmu ," kata Imaniar. Raut wajah sedih terlihat di wajah Imaniar. Walaupun dia baru mengenal Raffi, dia merasa Raffi seperti adik kandungnya sendiri, karena Imaniar dan sang suami lebih tua dari Raffi dan Mikaela. Imaniar baru mengenal Raffi saja . Dan Mikaela Imaniar belum kenal dan rencananya hari Minggu Raffi akan mengenalkan Mikaela pada Imaniar dan sang suami, Ahmad.


Rencana tinggal rencana, musibah menemukan Imaniar dan Mikaela. Tapi Mikaela dalam keadaan tidak normal.


Damar kembali masuk. "Bagaimana, mbak ? apa ada reaksi?" tanya Damar.


Imaniar menegakkan tubuhnya dan menggelengkan kepalanya.


"El masih betah didalam dunianya," kata Imaniar.


Karena tidak ada respon dari Mikaela, dia dibawa keluar dari ruangan tempat Raffi terbaring.


"Bagaimana?" tanya Hanafi.


Damar dan Imaniar menggelengkan kepalanya.


"Sepertinya trauma El sangat berat," kata Imaniar.


David datang membawa kabar, bahwasanya surat-surat untuk membawa jenazah sudah selesai dan hari ini juga jenazah sudah bisa diterbangkan ke Indonesia.


Karena Hanafi tidak mungkin meninggalkan Raffi sendiri. Hanafi meminta Aryan selalu orang yang lebih tua untuk menemani Aldo dan Alin yang sangat terpukul dengan kepergian sang bunda.


Di Indonesia..


Inara mendapatkan kabar dari Aira dengan kepulangan Mikaela, ingin meninggalkan rumah sakit.


"Tidak mungkin kau bisa pulang, apa kau tidak lihat kakimu di gantung seperti cucian itu !" kesal Aira, karena Inara tidak bisa dibilangin.


"Aku ingin berada di sisi El!" seru Inara.


"Kondisimu seperti ini, tidak mungkin Inara.... !" kata Aira kesal.


"Argh.... !" teriak Inara kesal.


"Tanyain dokter, mungkin gips jelek itu sudah bisa di buka," kata Inara menunjuk kakinya yang dibungkus perban putih.

__ADS_1


"Baru seminggu! Tidak mungkin bisa di buka! Sudahlah... Kau jangan membuat Mamamu pusing Inara," kata Aira dengan suara yang sedikit keras.


Next...


__ADS_2