Terpaksa Menjadi Madu

Terpaksa Menjadi Madu
Bab 96 Kecewa


__ADS_3

Happy reading guys.


......................


"Apa?!" Antoni kaget mendengar apa yang baru disampaikan Aira.


"Serius !" Faiz juga terkejut.


"Apa Mas kira aku bisa bercanda dengan apa yang baru aku katakan, kehidupan Mikaela bukan untuk bahan candaan, Mas," kata Aira.


"Betul Mas Toni, kami juga kaget. Kami tahu dari bunda, kami kesana, dan bunda menceritakan mengenai pernikahan mendadak Mikaela dengan Damar," kata Inara.


"Gila!" kata Faiz.


"Tega dia menyuruh Mikaela untuk menjadi istri kedua suaminya ? Hanya untuk mendapatkan anak ! Di luar sana banyak anak yang butuh kasih sayang, kenapa tidak kepada mereka saja dia berikan kasih sayang," kata Faiz.


"Entah kenapa, pertama mengenal mbak Nisa itu, aku merasa dia tidak tulus menyayangi El. Wajahnya ditutupi topeng. Mas Toni kenapa sampai mencintainya dulu? Untunglah mas terhindar menjadi suaminya, Alloh sangat baik padamu, mas ," kata Inara.


"Raut wajah Antoni berubah, saat Inara membicarakan hubungan dia dengan Annisa dahulu.


"Hei... Maaf mas," kata Inara, begitu sadar telah membicarakan Antoni dengan Annisa.


"Tidak apa-apa, masa lalu. Kebodohan masa muda," kata Antoni.


"Sekarang mas Toni sudah tua ya ?" ledek Aira.


"Dibandingkan denganmu, mas ini pria matang," kata Antoni.


"Oh... ya. Kenapa baru hari ini kau beritahu, Ai ?" tanya Antoni.


"Aku mengira tidak jadi, mas. Aku baru tahu, tadi aku ke rumah El. Bunda Aini cerita, jika tidak tadi. Mana tahu, El sudah menikah," kata Aira.


"El juga tidak bilang, mungkin dia diancam mbak Nisa. Pasti itu," kata Inara.


"Jika saja aku tahu lebih cepat, aku akan menemui wanita itu, untuk meminta dia mengurungkan niatnya itu. Sekarang sudah terlambat." Antoni sangat menyesal, karena telat mengetahuinya dan Mikaela sudah menikah dengan Damar.


"Maaf, mas Toni." Aira juga sangat menyesal, kenapa belakangan hari ini, dia jarang bertemu dengan Mikaela.


"Sudahlah, jangan ada saling menyalahkan. Sekarang ini kita harus mengawasi Mikaela, jangan sampai mereka merugikan posisi El sebagai istri kedua ," kata Inara.


Antoni diam, entah apa yang ada dalam pikirannya sekarang ini.


Aira melirik Antoni. "Ada apa Mas?"


"Tidak ada apa-apa," sahut Antoni.


"Oh... Iya, persiapan pernikahan sudah selesai berapa persen? Ada yang perlu aku bantu ?" tanya Faiz.


"Bantu doa saja, mas. Biar hari H nya lancar," jawab Aira.


"Kalian bagaimana?" tanya Antoni pada Faiz dan Inara.

__ADS_1


'Tuh... Calon bini masih labil. Aku sih mengikuti saja. Hari siap, aku oke," kata Faiz.


"Jangan gantung mas Faiz." Aira menyikut Inara yang duduk di sampingnya.


"Siapa yang gantung dia ? Dia duduk tuh.... !" kata Inara dengan memanyunkan bibirnya.


"Besok kita nikah, mau ?" tanya Faiz.


"Jangan jam besok, hari ini juga aku siap!" balas Inara.


"Nah... mas, ditantang tuh !" kata Aira.


"Apalagi bro! Langsung temui orangtuanya dengan membawa penghulu," kata Antoni.


"Ayo ." Faiz menarik Inara meninggalkan Antoni dan Aira.


"Mau kemana?" tanya Inara.


"Menikah!" sahut Faiz.


"Aku main-main !" seru Inara.


"Tidak ada main-main!" balas Faiz.


Aira dan Antoni tertawa melihat kelakuan kedua pasangan tersebut. Kedua pasangan yang sempat renggang, kini sudah kembali damai.


***


Annisa turun dari taxi, karena mobilnya masih tinggal di club malam, dan Alex yang akan mengambilnya.


"Nisa !"


Wajah Annisa cerah melihat keberadaan Antoni. "Kau mencariku, Toni ?" Annisa senang, karena Antoni tidak pernah mencarinya sejak perpisahan mereka dulu.


"Aku mencarimu untuk membicarakan kelakuanmu pada El ! Permintaanmu pada El itu sangat menjijikkan ! Kau mencari kesempatan dalam kesendirian El, Nisa!" seru Antoni dengan kasar.


"Bisa-bisanya kau mengancam suami dan adikmu ! Otakmu sudah korslet Nisa ! Kau itu perlu menemui psikiater, mungkin dalam otakmu itu sudah dipenuhi dengan virus. Sehingga tidak bisa berpikir dengan jernih lagi."


Raut wajah Annisa memerah. Dia malu dengan apa yang dikatakan oleh Antoni, apalagi saat dia melihat ada tetangganya yang sedang berada diluar rumah dan mendengar apa yang dikatakan oleh Antoni.


"Diam kau Toni... ! kau itu bukan siapa-siapa El. Kau jangan ikut campur!" Balas Annisa dengan suara yang pelan.


"Mikaela sudah aku anggap adikku sendiri, tidak akan aku izinkan kau menyakitinya ! Ingat Nisa, jangan kau tekan Mikaela dengan alasan ayah dan bunda merawatnya sejak kecil. Jika ayahmu masih hidup, dia pasti tidak akan mengizinkan apa yang kau lakukan ini ."


"Bunda juga tidak setuju, Toni ." Suara dari balik gerbang, mengagetkan Antoni dan Annisa.


"Bunda." batin Annisa.


"Tante."


Ternyata Aini yang sedang berada di teras, mendengar semua apa yang sedang diperdebatkan keduanya.

__ADS_1


"Masuklah, tidak bagus kalian bertengkar di luar." Bunda Aini memutar badan, masuk kedalam rumah.


Annisa mengikuti sang bunda dan diikuti Antoni. Bunda Aini mempersilakan Antoni duduk.


"Maafkan saya Tante," kata Antoni.


"Toni, aku harap kau tidak ikut campur dalam permasalahan keluargaku.," Kata Annisa.


"Aku akan ikut campur, jika kau terus memperalat Mikaela. Bunda, maaf. Aku tidak berniat jahat. Aku tidak suka melihat Annisa menekan El. Kalau kau ingin suamimu menikah lagi, kenapa kau tidak mencari orang luar, jangan adikmu ," kata Antoni.


"Terserah aku, kenapa kau yang marah ! El saja mau menjadi maduku, mau membantuku untuk melahirkan anak untukku dan suamiku."


"Karena kau selalu menekankan Mikaela untuk membalas budi. Itu yang selalu kau katakan, Nisa ! Mikaela anak yang baik, dia pasti mau melakukan permintaanmu."


Bunda Aini juga cukup kaget. Dia tidak mengira Annisa mengatakan apa yang seperti yang baru dikatakan oleh Antoni.


"Nisa, katakan. Apa kau menyuruh Mikaela untuk membalas budi?" tanya Bunda Aini.


Annisa diam dengan menundukkan kepalanya, dia sempat melihat tajam menatap Antoni, baru dia menunduk.


"Nisa ! Jangan diam saja seperti patung ! Katakan!" kata Bunda Aini.


"Nisa !" bentak Bunda Aini.


Nisa kaget. "Ya bunda."


"Jawab bunda !"


"Iya bunda," jawab Annisa.


"Apa benar dengan apa yang dikatakan Antoni?"


Nisa mengangguk.


"Nisa ! Bunda kecewa padamu, Nak." Bunda Aini mengelus dadanya.


"El itu adikmu Nisa ! Kau mengharap dia membalas kasih sayang yang kita berikan padanya, kau sungguh terlalu Nisa !"


"Apa yang salah dengan didikan bunda dan ayah, Nisa ? Kenapa kau menuntut El untuk membalas budi ? Jika ayah tahu ini, dia pasti akan kecewa padamu, Nisa. Kau tahu, El itu siapa? Dia anak adik ayahmu sendiri Nisa ! Bukan adik main-main, Nisa." Bunda Aini meluapkan kekecewaannya terhadap sang putri, Annisa.


"Karena itu El mau menjadi yang kedua. Padahal bunda sudah menyuruh dia untuk menolak keinginanmu itu. Bunda kecewa Nisa... Bunda kecewa ." Lalu bunda Aini berdiri dan meninggalkan ruang tamu.


"Lihatlah Nisa, kau telah membuat bundamu kecewa."


"Kau akan ditinggal, jika kau tidak berubah. Jangan mengharap balasan, hanya karena kau telah menolong orang."


Lalu kemudian Antoni keluar meninggalkan rumah Annisa. Tinggal Annisa merenung.


"Apa aku salah? Aku ingin memiliki anak. Kalian tidak mengerti aku. Jika posisiku saat ini kalian alami, kalian pasti akan melakukan apa yang aku lakukan."


"Apa aku salah minta tolong pada El?"

__ADS_1


Annisa berdiri dan melangkah menuju kamar bundanya. Annisa ingin membuka kamar bunda Aini, tetapi pintu kamar Aini dikunci.


"Bunda," panggil Annisa.


__ADS_2