The Empero'S Prisoner

The Empero'S Prisoner
09


__ADS_3

“Aku harus mengurus sesuatu dulu, kau bisa menyiapkan diri untuk malam ini”


 


Entah kenapa tiba-tiba aku merasa malu, tersanjung dan begitu bahagia.  aku langsung menundukkan wajahku dan menutupinya dengan tanganku. Aku tidak kuat menghadapi tatapan tuan En yang begitu menyihirku. Pesonanya terlalu mempengaruhi untukku mulai sekarang. Belum lagi dengan usapan lembut tangannya diatas kepalaku. Belum pernah ada seorangpun yang memperlakukan ku selembut ini.


“bbaik yang mulia” sudut bibirku tak henti untuk tertarik. Sambil mencuri Pandang aku meremas tanganku sendiri. Dadaku seakan berdegup kencang. Selama ini melayani tuan Enrick tak pernah membuatku seperti ini, kenapa sekarang begitu berbeda.


 


Suara pintu tertutup menarik ku dari segala khayalanku. Aku sudah tak tertolong lagi untuk menyukai tuan Enrick. Wajah rupawannya serta segala kekuatan dalam dirinya begitu mempesonkan aku. Baru beberapa hari yang lalu aku begitu membecinya dan ingin membunuhnya. Sekarang rasa itu sudah berubah. Mungkin benar kata pepatah benci dan cinta hanya terpisah sekat tipis. Kini sekat itu telah rusak dan aku kini jatuh hati padanya.


 


“Yang mulia, Apakah pemandian perlu disiapkan sekarang?” Suki seakan mengejekku dengan wajahnya yang begitu membuatku semakin malu.


“ emm.. Boleh juga. siapkan semua keperluannya” 


 


Harum, segala penjuru kamarku begitu harum. Para pelayan telah melakukan tugasnya dengan Sangat baik. Bahkan kelambu serta seprai ranjang juga diganti. Semua tampak begitu memukau. Suasana kamarku kenapa begitu romantis. Serba merah dan keemasan. Belum lagi dengan aneka ragam bunga yang memenuhi sudut ruangan, semuanya terkesan begitu romantis.


 


Segala macam pakaian serta gaun dipamerkan menunggu ku pilih. Berbagai wangi-wangian juga dipajang untuk ku gunakan. Aku sudah seperti putri. Begitu berbeda saat beberapa tahun belakangan. Jumlah pelayan hampir 7 orang hanya untuk mengurus tubuhku lainnya masih berjumlah belasan untuk mempercantik kamarku.


 


“ yang mulia jangan pasrah, pilih gaun yang ini yang mulia sukai. “


“ sudah Suki, tapi kamu yang tidak setuju”


“Yang mulia, baju itu terlalu tertutup dan tidak cocok dengan acara malam ini” dia bahkan tidak melihatku dan masih memilih gaun. Huf aku hembuskan nafas sejenak.


“kalau begitu kenapa tidak kau pilih kan saja gaun mana yang bagus untuk aku gunakan”


“ baiklah yang mulia, saya sudah menemukannya” aku tidak percaya dengan apa yang dia tunjukkan. Tapi melihat raut mukanya yang tersenyum lebar serta matanya yang berbinar aku jadi mulai waspada.


“Apa itu pantas di sebut gaun?, bahkan tidak bisa menutupi separuh tubuhku” geramku. Apa dia ingin membuatku malu dengan itu.


“yang mulia , justru gaun seperti ini yang paling cocok dengan acara malam ini” dengan santainya dia membawa baju dan memberikannya padaku.


“Suki, aku tidak mau memakai gaun itu. Kamu carikan gaun lagi yang lebih menutupi tubuhku. Tidak ada bantahan.” Aku harus mulai mendisiplinkan dia. Bagaimana mungkin dia bersikap seenaknya dengan aku yang sekarang adalah selir putra mahkota.


“ baiklah yang mulia” Meski aku tau raut wajahnya kecewa dengan keputusanku tapi dia tetap menuruti dan mulai memilih gaun tanpa bantahan. Itu baru bagus.

__ADS_1


 


Kalau bukan karena Suki aku sudah tidak mau mempersalahkan gaun ataupun warna bibir apa yang aku gunakan. Semenjak menjadi selir kurasa Suki semakin cerewet saja. Mengomentari bahkan berani menggodaku dengan tatapan genit nya.


 


Tak terasa langit sudah gelap beberapa lampu istana menyala terlihat dari jendela kamarku. Persiapan ini tak kunjung selesai. Setelah sedikit perdebatan yang terjadi akhirnya aku pasrah. Semua yang menempel pada tubuhku adalah pemilihan Suki. Seperti gaun ini, meskipun terlihat tertutup tapi kainnya begitu tipis dan transparan. Belum lagi ada belahan di bagian bawahnya. Awalnya aku tidak menyadarinya tapi setelah aku pakai belahannya itu sampai diatas lutut bahkan hampir mendekati pangkal pahaku. Jika bukan karena sudah mendekati waktu makan malam, aku sudah menolak menggunakan gaun ini.


 


“ yang mulia, semua sudah siap. Kami pait undur diri” ucap Suki, dia adalah kepala pelayan di kamarku jadi tak heran atas semua perdebatan sebelumnya.


“ pergilah” malasku.


 


Setelah mereka semua pergi aku berjalan kearah sofa disamping jendela. Sampir menikmati pantulan bintang malam, membuatku sedikit tenang. Semakin malam perasaanku semakin berdebar. Nafasku terkadang mulai tak berturan jika tanpa sengaja mengingat hubunganku dengan tua En sebelumnya. Apa yang telah terjadi dulu dikamar tuan En. Tak kusangka dalam 1 hari, semuanya menjadi begitu berbeda. Entah berapa lama aku menghabiskan diri dalam lamunan namun kini malam sudah sangat gelap, bahkan bintang sudah tak kulihat lagi.


‘pasti langit sedang mendung’


 


“ yang mulia, makan malam sudah siap.”entah kapan dia masuk, tiba-tiba saja merusak lamunanku.


“ bukannya aku harus menunggu tuan En?”


“baiklah, siapkan semuanya” antusiasku mulai redup. Bahkan dadaku sudah mulai kembali normal.


 


Entah kenapa semua makanan ini terasa hambar. Tak seenak seperti sebelumnya. Aku makan dengan tenang. Sangat tenang dan lemah lembut. Mungkin karena aku baru saja makan dalam waktu dekat, jadi baru beberapa suap perutku sudah terasa kenyang.


 


“pelayan bereskan makanan ini”


“ baik yang mulia”


“ dan setelah itu jangan ganggu aku”


 


Perasaanku malam ini tuan En tidak akan mendatangiku. Aku sudah hafal dengan alasan sibuknya. Itu menandakan bahwa urusannya jauh lebih penting dari janjinya. Tak salah juga, sebagai putra mahkota dia juga harus mengemban tanggung jawab yang besar. Sibuk adalah teman sejatinya. Awalnya aku terbiasa dengan ini bahkan aku tak peduli. Itu dulu. Sekarang semuanya tak lagi sama. Aku yang salah. Terlalu berharap bahwa semuanya akan berbeda.


 

__ADS_1


Berbaring dan menikmati angin hujan yang memasuki satu jendela yang sengaja aku buka. Menatap kosong pada rintik hujan yang mulai turun. Suasananya begitu sunyi dan sendu. Sama seperti keadaanku. Sendu. Mencoba menutup mataku dan beralih ke alam mimpi. Menghilangkan semua kesedihan.


 


“Zen... Zen.. Ayo”


“ibu.. Kau kenapa?? Kenapa berlari?”


“kita harus meninggalkan hutan ini”


“tapi kenapa bu? Disini begitu banyak buruan. Lagi pula ayah belum kembali”


“sudahlah, nanti ibu jelaskan. Kita harus segera pergi”


 


Ibu memegang erat tanganku bahkan hampir menyererku berlari meninggalkan hutan. Meskipun banyak sekali pertanyaan namun melihat kegelisahan ibu aku juga menjadi ikut panik.


 


“ ibu, kita sudah sampai rumah, kenapa kita meninggalkan ayah di hutan ibu?”


“emm.. A. Ayahmu akan kembali beberapa hari lagi. “


“ kenapa ayah tidak langsung pulang saja bersama kita?”


“Zen, dengarkan ibu. Mulai sekarang jangan banyak bertanya. Jadilah anak yang penurut” dia meninggalkanku tanpa menjawab pertanyaan ku.


 


Sejak hari itu ibu semakin sering terlihat sedih terkadang aku melihatnya menangis. Sering keluar rumah dan beberapa hari baru kembali. Ibu tak se perhatian dulu. Menjadi lebih pendiam dan tak pernah mengajakku berbincang.


Waktu itu aku sudah 2 hari tidak makan, badanku lemas tak bertenaga. Ibu sudah tak kembali sejak 5 hari yang lalu. Badanku terasa begitu lemah. Akhirnya aku hanya bisa terbaring menunggu ibu datang.


 


“Ibu.. Ibu.. Kembalilah.. Hiks hiks” hanya kalimat itu yang selalu aku ucapkan.


“ibu.. “


 


Seperti ada yang elusan di rambutku. Begitu lembut dan pelan.


“ Zen.. Zen” Suara itu begitu aku kenal.

__ADS_1


“ jangan menangis, aku disini” kini pelukan hangat kurasakan. Wanginya membuatku semakin tenang. Aku menyukainya. Tunggu ada yang tidak beres dengan leher ku.


__ADS_2