
... ...
“ apa tuan En membeci kaisar?”
“ aku tak bisa menjawabnya. Bagaimanapun bisa adalah ayahku”
“ aku bisa mengerti perasaan tuan En, aku juga kehilangan kedua orang tuaku. “ tuan En memelukku ringan. Mengusap punggungku. Pandangan kami saling berteu mencoba saling menguatkan.
“Zen, bolehkah aku bertanya padamu?” aku mengangguk kecil.
“bagaimana kau memandangku sekarang, setelah semua kesalapaham yang terjadi sebelumnya?” dia melepas rangkulannya. Menatapku begitu dalam.
Bagaimana aku memandangnya, aku sendiri masih belum bisa memastikannya. Begitu banyak pertanyaan yang belum terjawab membuatku masih samar-samar melihat ketulusan tuan En. Antara percaya atau siaga. Antara kebenaran atau keterpaksaan. Aku tak bisa menjabarkannhya.
“Zen..” menghentikan segala pikiranku.
“ aku bisa mengerti. Kau belum percaya padaku, masih ada dendam dihatimu padaku. Aku hanya ingin mengatakan bahwa bagaimana nanti ini akan berlanjut, kau tak boleh membenci dirimu sendiri. Jadilah kuat dan ikuti hati nuranimu” maniknya mengisaratkan sesuatu. Apa mungkin tuan En sudah mengetahui akhir dari semua ini. Sepertinya tuan En sudah melewati banyak permasalahan. Perkataanya begitu dalam.
“ kita mendapatkan hewan buruan yang begitu banyak, kita bisa makan ampai kenyang malam ini” kak lu sudah datang, perbincangan kami terhenti.
“ kak Lu memang hebat. Mari kita siapkan api” aku beranjak dan mendekati kak lu dengan penuh semangat.
Setelah makan malam serta menyusun strategi, kami berlima sibuk menyiapkan tempat tidur. Aku benar-benar tidak mengetahui bagaimana mempersiapkan diri untuk menginap di alam terbuka. Aku hanya bisa mengamati mereka, namun sepertinya mereka tidak banyak persiapan. Langsung sajaberbaring di dekat api unggun.
‘bagiaman jika ada binatang buas yang mendekat, apa mereka tidak takut ‘
“Zen,, kemarilah. Tidur disebelahku” ucap tuan En. Ku lihat tempatnya juga tidak banyak persiapan. Hanya selembar kain usang yang sudah di persiapkan disebelahnya. Sedang bagian belakang tuan En ada pohon tempat kami bersandar sore tadi.
“ iyya tuan” aku mendekat dan duduk disebelahnya.
“ berbaringlah, “ sambil menepuk pahanya. Menjadikannya bantal untukku.
“ tuan En bagiamana?”
“ aku sudah terbiasa” menarik tubuhku untuk segera berbaring. Alhasil aku tak memiliki kesempatan untuk menolak.
“ aku adalah suamimu sekarang, jangan khawatirkan sesuatu jika kau bersama denganku”
Cukup nyaman, posisi ini tak pernah aku dapatkan sebelumnya. Aku bersyukur bisa merasakannya sekarang namun tak bisa memungkiri jika perjalanan ini benar-benar melelahkan. Menaiki kuda seharian membuat kakiku pegal. Kenyataan akan kematian Suki sudah berhasil memukul mentalku, kini fisik pun mengalami hal yang sama. Rasa lelah langsung saja menyergapku. Suara alam yang khusyu’, menjadi melodi pengiring tidurku. Diatas sama bulan tampak begitu indah dengan bulatan sempurnnya. Sudah lama sekali aku tak melihat bulan seindah ini di alam terbuka. Perasaan damai membuatku mulai mengantuk.
__ADS_1
****
Pertengahan tidurku, aku dibangunkan dengan suara tuan En. Kulihat mereka sudah bersiap. Oh tidak,aku melupakan rencananya. Segara bangun dan mengikuti tuan En. Perjalanan malam ini lebih membuatku khawatir, karena hanya dengan berbekal cahaya seadanya kami harus melewati jalan yang cukup terjal. Tuan En cukup lihat menaiki kuda, aku sedikit terpesona.
“sebentar lagi kita bisa melihat gerbang markasnya. Saat itu kita ambil rute berbeda. Ingat jangan sampai ketahuan, ambil segala hal yang bisa menjadi bukti” teriak tuan En kepada kami.
Dan benar, samar-samar kita bisa melihat adanya cahaya, disanalah tujuan kami. Setelah memasang penutup wajah kami memilih berpisah, tuan En serta kak Lu berpisah dengan membawa satu mata-mata di sisinya.
“ kita bisa melewati bagian barat gerbang, yang mulia” seru mata-mata itu.
“tunjukkan jalannya”
Setelah sampai kami bertiga turun dari kuda. Dan mulai mengendap-endap masuk ke dalam markas.
Suasananya cukup sepi, mungkin bagian barat bukan lah tempat yang penting. Seperti tempat penyinpanan. Kami memasuki sebuah ruangan yang tak jauh dari gerbang. Disana penuh dengan peti serta kotak kayu yang besar.
Setelah itu sekarang kotak terbesar yang tuan En buka. Awalnya aku tak tau isi dari kotak itu, namun tuan En seakan terkejut membuatku bertanya. Ternyata Itu adalah bubuk peledak. Sungguh mengerikan. Apakah kerajaan siap menghadapi segala serangan ini. Dalang dari semua ini tak mungkin orang biasa.
“ kau terus cari senjata apa saja yang sudah mereka persiapkan, aku akan mencari pembukuan mereka” ucap tuan En membuat kami terbagi dua.
Setelah itu aku dan tuan En meninggalkan ruangan itu, berpindah keruangan lainnya yang terlihat lebih terang dan mewah. Bangunannya bertingkat dua dengan anak tangga dibagian depan.
“ Zen, perhatikan langkahmu” karena terlalu lama memperhatikan bangunan jarak antara aku dan tuan En menjadi sedikit jauh.
Begitu berada didalam bangunan itu, sepertinya penjagaan sediit leih ketat. Entah angunan apa ini, kami berhasil masuk melalui celaj cendela yang tidak terkunci. Mengendap-endap dan mencoba mengenali barang-barang yang ada disana, sampai samar-samar kami mendengar langkah kaki.
__ADS_1
Kami bersembunyi dibalik meja besar disudut ruangan. Dari sana kami mengetahui jika ada yang masuk ke dalam ruangan.
“ di taruh dimana laporan ini?”
“ apa kau tidak diberitahu, taruh saja diatas mejanya tuan”
Sepertinya ada dua orang yang masuk. Tuan En sedikit mencari celah untuk melihat situasi. Aku hanya bisa diam jangan sampai menimbulkan suara.
“ kalau di lemari itu?”
“ ya sudah taruh disana, biar jadi satu dengan yang lain”
Tuan En masih memperhatikan sampai mereka berdua pergi. Setelah memberikan intruksi untuk keluar aku melihat tuan En langsung berjalan menuju lemari. Mungkin itu yang di sebutkan tadi.
Aku mengamati bagian lainnya, membuka setiap kotak yang ada. Ada sebuah benda yang membuatku tertarik melihatnya, sebuah gelang dengan banyak mutiara. benda itu di simpan begitu rapi. Entah kenapa aku tidak ingin mengembalikannya. Jadi ku putuskan untuk mengambilnya saja.
“ Zen, bantu aku menyimpan beberapa buku ini”
“ ah,, iya “
Setelah lama tak menemukan apapun lagi, kami berniat keluar. Tiba-tiba terdengar suara yang lantang.
“ penyusup,,!!”
Salah satu dari kami telah diketahui keberadaanya. Suasana yang awalnya tenang kini berubah seketika. Rombongan orang membawa pedang serta obor berlari kearah timur.
“ Zen, keluarlah lewat jalan yang kita lalui tadi, aku akan menyusul. Sepertinya Lucien mengalami kesulitan” aku mengangguk dan segera berpisah dengan tuan En. Sepertinya memang semua penjaga berfokus ke gerbang utama.
-------
jangan lupa like dan komen ya kawan.
terima kasih sudah membaca karya saya, selamat siang kawan,jangan lupa bahagia
__ADS_1