The Empero'S Prisoner

The Empero'S Prisoner
III


__ADS_3

... ...


“ yang mulia kenapa kita tidak melewati jalan utama?” kami sudah setengah perjalanan menuju ke istana kekaisaran.


“ pertemuan kali ini harus bersifat rahasia. Situasi semakin berbahaya sekarang”


 


Semenjak mendapatkan surat dari Morgan, apapun yang berkaitan dengan Zen ataupun pemberontak semuanya harus bersifat rahasia. Tidak ada yang bisa menjamin jika lingkunganku yang dulu aman terkendali kini masih sama. Mata-mata sudah menjadi hal yang lumrah dalam kehidupan kerajaan.


 


Mulai memasuki istana kaisar, semuanya tampak normal. Tidak ada keadaan yang mencurigakan. Langsung saja menuju ke kamar kaisar, pasti dia berada disana. Saat ini malam sangat larut bahkan sudah mendekati tengah malam.


“ yang mulia apa kita harus bersembunyi dari para penjaga itu?”


“ tentu saja, kemari” berdiri di balik tembok. Penjaga terlihat sedang berpatroli.


 


Setelah berhasil melewati para penjaga, aku dan Lucien langsung masuk ke kamar pribadi ayah. Lampu sudah banyak yang dimatikan.


“ kau jaga disini” perintahku pada Lucien saat memasuki lorong antara ruang tengah dengan tempat ranjang. Darisini aku bisa melihat ranjang milik ayah kosong. Dimana keberadaannya. Membuatku terus berjalan dan melewati area ranjang. Semakin masuk.


 


Samar-samar aku bisa mendengar suara seseorang merintih kesakitan. Mengikuti kemana asal suara. Langkah ini tepat berhenti di sebuah ruangan. Mungkin ini ruang kerja pribadi ayah. Langkah pelan tanpa menimbulkan suara. Waspada dengan suara aneh yang terdengar.


 


Tak lama, terlihat seseorang yang sedang meringkuk gemetar. Tubuh itu, sosok itu adalah ayah.


“ ayah apa yang terjadi?” segera mempercepat langkah dan bersimpuh duduk di samping ayah. Keadaan seperti ketakutan, tubuhnya bergemetar. Ada apa ini?.


“ ayah,, ayah” panggilku untuk mengembalikan kesadarannya.


 


Lucien ikut masuk ke ruangan ini, mungkin mendengar suara kepanikanku.


“ yang mulia, ada....kaisar?” Lucien ikut mendekat. Tepat di sampingku.


“ kaisar kenapa yang mulia?”


“ aku juga tidak tau, bantu aku memindahkannya ke ranjang” kami merangkul tangan ayah di masing-masing sisi. Meletakkan dengan pelan di ranjang. Ayah masih saja menggigil. Matanya tertutup.


 


“ ayah,,ayah,,” menepuk pipinya. Selama kesadaran ayah masih belum kembali, segala hal pasti aku coba untuk mengembalikannya.


“ kaisar, apa terkena racun?” Lucien mulai memeriksa segala makanan yang ada disana. Dia memang masternya racun, segala ramuan dan racun sudah menjadi dunianya.

__ADS_1


 


“ heeek,, heek,,” ayah semakin terguncang. Dadanya terlihat memompa cukup keras. Apa ayah mengalami sesak nafas. Aku semakin panik. Tidak, jangan ada sesuatu yang buruk terjadi padanya.


 


“ yang mulia, mangkuk ini sepertinya memiliki aroma yang aneh. “


“ apa itu racun?”


“ sepertinya bukan, tapi ada semacam campuran bunga opium”


 


Tiba-tiba tangan ayah mencengkram erat lenganku. Tubuhnya seakan menerima rasa sakit yang luar biasa. Bahkan kesadarannya hilang. Tak pernah sekalipun aku melihat seseorang mengalami hal semacam ini. Dadaku berdetak tak karuan, mengkhawatirkan keadaan ayah.


 


“ ayah,.. bangunlah” kembali menepuk pipinya.


Tap, tap.


Suara langkah kaki mendekat ke kamar. Aku dan Lucien saling pandang. Seakan memiliki pemikiran yang sama. Kami segera bersembunyi dibalik sekat ruangan.


 


Seseorang masuk di tangannya terdapat mangkuk. Sesosok lelaki yang sangat ku kenal. Dia adalah pengawal kaisar. Mendekati ayah dan segera meminumkan entah apa itu.


 


“ ehemmm” ayah mulai sadar.


“ kaisar, bagaimana keadaan anda” pengawal itu membantu ayah bersender di ranjang.


“ heeh heh” nafas ayah mulai sedikit teratur. Dan matanya pun terlihat mulai normal.


“ aku sudah tak apa” ayah mulai bersuara.


“ semakin lama sepertinya efeknya semakin keras, bagaimana ini kaisar?” pengawal itu terdengar begitu mengkhawatirkan.


“ aku yang salah, semua ini adalah karma untukku”


 


“ apa maksud ayah?” aku keluar dari tempat persembunyian. Mereka berdua terlihat sangat kaget. Tidak meyangka bila kehadiranku tepat disaat seperti ini.


“ enrick, apa yang lakukan disini?”


“ aku baru saja melihat ayah seperti sekarat, seharusnya aku yang bertanya. Apa yang terjadi pada ayah?” keduanya diam. Pengawal ayah memilih untuk bangkit dan meninggalkan kami. Dia tidak tahu jika saat ini Lucien masih setia bersembunyi. Pasti dia fikir ini waktunya membongkar semuanya, jadi memberikan waktu untuk kami berdua.


 

__ADS_1


“ ayah?” aku kembali membuka suara. Ayah masih saja diam.


“ kau tak perlu khawatir. Hal ini tidak seburuk yang kau lihat”


“ ayah fikir aku bodoh, hal ini sudah ayah alami sejak kapan?”


“ apa maksud kamu?”


“ aku bisa melihat dengan jelas, tidak ada kepanikan. Ayah sudah sering mengalaminya. Sekarang jelaskan padaku. Sebenarnya apa yang terjadi pada ayah?” cercaku.


 


Ayah terlihat gelisah, membenarkan posisi duduknya. Kini kaki menjuntai ke lantai sedang tubuhnya terduduk di pinggir ranjang.


“ semua ini salahku. Memang seharusnya ayah merasakan rasa sakit ini”


“ apakah ayah melakukan kesalahan?” aku mendekat ke ayah. Ayah menatapku dalam. Sorot matanya terlihat begitu sedih. Maniknya sayu dan bibirnya sedikit pucat.


“ kau begitu mirip dengan ibumu” lirihnya.


“ sudah ku bilang permaisuri bukan ibuku” ayah tersenyum menolehkan wajahnya. Menatap lantai kamar yang kosong.


 


“ ya kau benar, permaisuri bukanlah ibumu” aneh sekali. Dulu ayah begitu menentangnya. Kini membuatku terkejut dengan pengakuannya sendiri. Ternyata benar, ayah memang menutupi sesuatu.


 


“ semakin kau tumbuh semakin ayah melihat sosok ibumu dalam dirimu. Ayah salah. Ayah sudah melakukan hal yang sangat sangat salah. Ayah.. hiks hiks” untuk pertama kalinya aku mendengar suara tangis ayah. Dia sangat rapuh. Hatiku bahkan terasa tersayat melihat tetesan air mata ayah. Dia begitu menderita.


 


“ ayah menghukum seseorang yang tulus mencintai ayah. Menuduhnya tanpa mendengar penjelasannya. Membunuh semua keluarganya. Mengasingkan semua kerabat bahkan semua yang dekat dengannya. Ayah salah. Ayah bersalah padamu.” Ayah tersungkur sujud. Tangisnya semakin keras. semua perkataan ayah membuatu tak terperangah. Jadi selama ini ayah memang menutupi kematin ibu. Bahkan ayah sendiri yang menghukumnya.


 


“ kahla,,, maafkan aku. Kahla, maafkan aku..” kondisi ayah semakin lemah. Sepertinya beban mentalnya membuat tubuh ayah semakin lemas. Ayah tiba-tiba saja pingsan. Seketika aku langsung membopong ayah kembali berbaring di ranjang. Malam ini aku akan menemani ayah. Malam ini adalah malam dimana aku bisa melihat dengan jelas beban hidup serta simpul kesakitan hati ayah. Semuanya semakin jelas, bahwa persoalan yang sedang terjadi memanglah bersumber dari kerajaan.


 


“ yang mulia,,” lirih Lucien begitu keluar dari bilik sekat kamar.


“ ayah begitu menderita, aku tak pernah melihat kesedihannya. Tapi aku juga tak bisa menerima semua kesahannya. “ aku termenung maenatap tubuh ayah yang sedang tertidur.


“ apa yang mulia membenci kaisar?”


“ iya, dulu aku membencinya. Kini aku kasihan padanya. Penyesalan memanglah begitu menyiksa”


 


Setelah berbincang sedang, Lucien terduduk di kursi tak jauh dari ranjang. Aku menunggu di samping ayah. Kali ini, mungkin kali ini aku bisa menjadi seorang anak baginya. Mungkin hanya kali ini aku bisa membuka simpul kesakitan hati ayah.

__ADS_1


__ADS_2