The Empero'S Prisoner

The Empero'S Prisoner
XII


__ADS_3

Sesuai dengan dugaanku, beberapa lama kemudian aku bisa mendengar suara gaduh di depan. Hanya sebentar kemudian menghilang, senyap kembali. Pertanda mereka sudah masuk kedalam penjara. Zen masih tidur, dengan segera aku mulai membangunkannya halus.


“ Zen, bangunlah” bisikku. Perlahan dia menggeliat, terganggu tidurnya.


“ tuan, ?”


“ bangunlah, sebentar lagi kita akan keluar” tepat setelahnya ku dengar langkah kaki semakin mendekat. Ada 3 orang berpakaian hitam menghampii sel ku.


“ yang mulia, “ penutup wajahnya di buka, lucien sedang berusaha membuka gembok sel ku dan ada satu lainnya di sel Zenia.


 


Setelah berhasil aku segera keluar menghampiri Zen.


“ kau tak apa?” tanyaku. Zen menatap kakinya yang sepertinya terluka. Membuatnya  kesulitan berjalan. Dengan hati-hati aku memapahnya keluar.


“ yang mulia, kita hanya mempunyai waktu satu jam sebelum mereka menyadarinya” aku tahu mereka pasti menggunakan bubuk bius, lama kerjanya memang hanya bisa mencapai satu jam saja.


“ tunggu, ibu bagaimana?” Zen tidak melanjutkan langkahnya. Dia pasti tidak mau meninggalkan ibunya sendirian di sini. Aku pindahkan tubuh Zen ke Lucien.


“ kalian pergilah terlebih dahulu, aku akan menyelamatkan Zoya” menjawab tatapan bingung mereka dengan tindakannku.


“ tapi yang mulia,,,” Lucien berniat mencegahku.


“ tak usah khawatir, dimana kau meningglakan kendaraan?”


“ di gerbang belakang, kami akan menunggu sampai yang mulia datang” tanpa mendengar jawabanku, mereka sudah membawa Zen pergi. Dasar Lucien ini, meski aku tau dalam waktu satu jam sungguh sulit untuk menyelamatkan tahanan bagian dalam.


“ aku harus cepat” lirihku tak memusingkan apa yang terjadi nanti. Meski berjalan dengan menahan rasa sakit aku tidak peduli. Hanya dengan menyelamatkan Zoya maka Zen akan kembali tenang. Padahal aku sendiri tidak yakin akan keberadaan Zoya di mana. Hanya bisa bertaruh dengan intuisi saja.


 


Semakin masuk, penerangan semakin hilang. Akhirnya aku mengambil sebuah obor sebagai sumber peneranganku. Jarak antara bagian dalam dan bagian luar terbilang jauh. Harus melewati beberapa lorong. Untung saja aku pernah kemari beberapa kali. Jadi tidak sampai salah jalan ketika menelusuri lorong bawah tanah.


 


Setelah beberapa lama, aku bisa melihat deretan sel. Mendekati setiap sel nya satu per satu. Beberapa pemandangan tak mengenakkan mata terus saja terpampang. Beberapa sel berisi tahanan yang sudah mati. Entah bunuh diri atau mati karena menjadi makanan tikus-tikus gila.


“ Zoya,,” aku berani memanggil dengan lantang. Di bagian ini tidak ada penjaga. Siapa juga yang betah menjaga sel yang penuh dengan bangkai. Memang penjara ini di rancang memiliki beberapa lapis penjagaan hanya pada bagian depan saja. Karena hanya ada satu jalan untuk bisa keluar darisini.

__ADS_1


 


Dalam perjalanan aku menemukan potongan besi, mengambilnya dan memukulnnya pada pintu besi dengan terus memanggil Zoya. Mungkin saja dia dalam keadaan tidak sadar, suara dentingan besi setidaknya bisa memulihkan kesadaran.


 


Huek,, huk huk


Sunggu aroma amis tidak bisa terelakkan semakin masuk aromanya semakin kuat. Membuatku terus saja muntah dan terbatuk. Semakin dalam tikus-tikus disini semakin agresif dengan cahaya obor yang ku pegang. Beberapakali mencoba menggigitku. Menyusahkan sekali.


“ Zoya “ tak ada sautan, sepertinya dia tak berada sini.


Tang,,tang,,


Baru saja berbalik arah, ada suara besi terdengar tak jauh darisana. Aku segera mendekati asal suara yang terdengar dari dalam sana.


“Zoya “ mendekatkan obor agar bisa melihat kondisi setiap selnya.


 


Akhirnya bisa menemukan, sepertinya mereka menyiksa Zoya dengan berat. Tak main-main. Kondisis tubuhnya lumayan bagus jika dibandingkan dengan teman tahanannya di area sini. Memukulkan besi untuk menghancurkan gembok pintu sel. Setelah berhasil, aku langsung masuk kedalam. Zoya sudah berada di samping pintunya sehingga aku langsung memapahnya keluar. Kesadarannya menipis. Beberapa bercak darah tercetak jelas di pakaiannya.


 


Langkah kaki yang sudah tak seimbang ini dengan membawa beban yang sama mulai menghambat kecepatan. Bahkan beberapa kali kaki Zoya terpaksa terseret akibat kesadarannya yang semakin menghilang.


“ jangan tutup matamu, berjuanglah demi Zen” aku terus mencoba memulihkan kesadarannya. Kini berada di lorong peralihan. Cahaya disini sedikit terlihat. Akhirnya obor dalam genggaman aku buang dan menggedong Zoya di punggung. Dia benar-benar tak memiliki tenaga, setengah perjalanan saja kakinya tak bisa melangkah. Aku sedikit menyeret tubuhnya agar bisa terus bergerak.


 


Hap..


Kini tubuhnya sudah naik, dengan sisa-sisa tenaga yang ku miliki berharap bisa membawanya keluar darusini.


“ kau, turunkan aku” guman Zoya. Aku hanya terus berjalan tanpa menghiraukan ucapannya. Dia masih saja arogan.


“ aku tak ingin hutang budi pada keturunan Parveen, iblis wanita itu. “ ketusnya.


“ simpan saja tenagamu buat nanti, dan tenang saja. Aku bukan keterununan wanita yang kau maksud itu” nafasku semakin sesak. Mulai saat ini aku tidak akan meladeni ocehannya.

__ADS_1


“ ma,,maksudmu?” kurasakan tubuh Zoya sedikit bergerak menjauh. Berusaha untuk turun. Membuatku berhenti sejenak untuk menasehatinya.


“ bisakah kau tidak merepotkanku, kalau bukan karena Zen mana sudi aku menyelamatkanmu” tidak ada lagi rasa segan dalam diriku, meski semestinya dia adalah ibu mertuaku.


Untungnya dia tahu diri, setelahnya dia hanya diam. Tidak menngganggu perjalanan setelahnya. Sebentar lagi pintu keluar pertama akan terlihat. Penjaga masih tergeletak tak sadarkan diri. Masih aman. Masih ada 3 pintu masuk lainnya. Tidak tahu apakah disana memiliki situasi yang sama atau tidak.


“ sepertinya tulang bahumu bergeser” setelah lama diam, dia ternyata memeriksa keadaanku. Dengan kondisis tubuh penuh darah serta langkah tertatih-tatih seperti ini jelas sekali menarik perhatiannya.


“ aku tahu” berulang kali membenarkan posisi tubuhnya yang merosot semakin membuat luka tubuhku terbuka. Untung saja berat tubuhnya tidak berada di batas maksimal yang bisa ku bawa.


“ turunlah, aku akan memeriksa penjaga” meletakknya di salah satu tembok untuk meyembunyikan tubuhnya. Dengan seksama pintu kedua terlihat sepi. Penjaga juga terlihat diam. Aman.


 


“ naiklah” ucapku ketika sudah memeriksa situasi.


“ tak perlu aku sudah sedikit lebih baik” zoya menolak bantuanku.


“ kau menyelamatkankan ku seorang diri?” lanjutnya ketika kami berjalan pelan menuju pintu penjagaan selanjutnya.


“ beberapa orang lainnya kusuruh menjaga Zen, dia lebih penting” jawabku singkat.


 


Saat akan melewati pintu ketiga, ku dengar suara. Para penjaga itu mulai sadar. Waktuku semakin menipis. Tidak, aku harus bisa keluar.


“ bersembunyilah aku akan melawan mereka” ada sekitar 5 orang. Bagiku itu termasuk jumlah yang sedikit. Dengan kondisi yang seperti ini kurasa masih bisa menghadapinya. Efek bius pasti sedikit melemahkan tenaga mereka.


 


Srang, duk, brakkk...


Mereka berlima tumbang. Aku mengambil senjata mereka. Zoya keluar dari persembunyian.


“ ini, untuk melindungi diri” sebuah pedang ku lemparkan padanya. Aku juga sama membawa pedang untuk bertarung di pintu keluar utama. Mereka pasti sudah menyadarinya.


 


“ coba kalian periksa setiap sel” terdengar samar-samar suara para penjaga. Dengan sigap aku dan Zoya langsung mencari persembunyian. Langkah kaki mereka sepertinya mengarah masuk ke arah kami.

__ADS_1


__ADS_2