
Hari memang masih pagi, namun aku sudah bersiap menuju ke ruang pengobatan. Semalam aku menemani tuan En hingga tak sempat mengunjungi Cila. Jadi sebelum sarapan aku sudah siap menemuinya. Di tengah perjalanan aku melihat seorang tabib yang membawa semangkuk obat.
“ salam selir “ homatnya.
“ kau akan mengantar obat ini kepada siapa?” siapa tahu jika obat ini untuk Cila.
“ oh, ini kepada pelayan dari istana harem” jawabnya, aku tersenyum padanya.
“ berikan padaku, aku juga ingin menemuinya” sambil menerima mangkuk itu. Aku juga menanyakan kondisinya saat ini. Tabib itu mengatakan jika tubuhnya masih butuh beberapa obat untuk mengolesi lukanya. Selain itu ramuan minum juga di perlukan untuk membuat tubuhnya bertenaga. Kasihan sekali pelayan kecilku, menanggung hal menyakitkan ini karenaku.
Au berjalan pelan menuju dimana Cila berada. Sesampainya aku di pintu masuk ruangan, aku sejenak berhenti. Disana Cila sedang berbaring dan yang membuatku sedikit kaget, disana juga terdapat seorang laki-laki, yang aku yakini adalah kak Lu. Sepertinya dia menjaga Cila semalam. Jadi benar apa yang dikatakan oleh tuan En. Kenapa aku tidak menyadarinya selama ini.
Aku berjalan mendekat, dan meletakkan mangkuk itu di nakas samping ranjang. Tak berniat membangunkan keduanya aku memutuskan untuk pergi meninggalkan mereka. Tunggu waktu yang tepat baru menanyakan langsung kepada kak Lu.
“ kau darimana saja?” sekembalinya aku ke istanaku, tuan En sudah bersiap untuk makan. Satu meja penuh dengan menu kesukaanku.
“ saya berniat mengunjungi Cila, tapi,,” aku terdiam sejenak dan duduk di sebelahnya.
“ kenapa, apa disana sudah ada yang menjaganya?”
“ tuan En sudah mengetahuinya?”
“ cukup jelas bagiku” sombong sekali. Sikapnya yang percaya diri ini lama-lama menjengkelkan.
Sarapan kali ini berjalan dengan damai dan lancar. Meskipun kami belum sepenuhnya berbaikan tapi tuan En berusaha memperbaiki hubungan ini. Aku sangat menghargai itu. Dalam hatiku juga ikut senang, ternyata apa yang dia ucapkan malam itu benar-benar nyata, tidak sekedar omong kosong belaka.
Selepas makan hanya tinggal aku sendiri, bersantai di balkon belakang. Mengamati gelang yang aku temukan. Aku masih penasaran mungkin saja ada petunjuk siapa sebenarnya ketua pemberontak itu.
__ADS_1
Setelah lama aku mengamati, memang kelihatannya tidak begitu asing bagiku. Entah apa yang membuatku seakan mengenali gelang ini. Aku bolak balik, mengamati setiap permata dan bagian dari gelang ini. Semakin lama semakin aku merasa pernah melihat ini sebelumnya, tapi kapan dan dimana aku masih meraba-raba.
“ dimana ya?” lirihku masih terus memikirkannya. Aku bolak balik sekali lagi mungkin bisa membuatku mengingat hal ini.
“ tunggu” aku menemukan jika sepertinya gelang ini memiliki pasangan, bandul gelang merupakan pola yang setengah, seharusnya memang ini gelang berpasang. tapi bisa saja jika bandul ini terpecah. Sungguh tak bisa menemukan petunjuk apapun.
Hari terus berganti, besok adalah hari pernikahan tuan En. Sejak pagi hal itu sudah mengganggu fikiranku. Aku hanya menghabiskan waktu dengan makan dan rebahan di istanaku. Malas melakukan apapun.
Cila sudah berpindah dirawat di kamarnya, kondisinya cukup baik. Aku benar-benar bahagia ketika melihatnya berjalan memasuki istana harem kemarin. Aku menyuruhnya untuk tidak melakukan tugas apapun sampai lukanya benar-benar sembuh.
Di meja kamar penuh dengan buah-buahan. Besok adalah pesta besar, perayaanya sudah berlangsung sejak 3 hari yang lalu. sejak saat itu juga tuan En tidak pernah mengunjungiku. Dia akan segera melupakanku.
Aku mengambil buah bery, sudah lama aku tidak melihatnya. Setahuku buah ini cukup langka dan tidak banyak yang memilikinya. Dulu ketika aku tinggal didesa, aku sering menjumpai buah ini tumbuh liar di hutan. Ibu sering membawakannya untukku. Tak menyangka jika baru hari ini bisa memakannya kembali. Bery ibu mengingatkanku akan sesuatu.
Aku yakin sekali, warna permata ini begitu indah dan menarik perhatianku saat itu. Merah seperti buah bery ini. Aku langsung berdiri mengingat hal ini.
“ kenapa gelang ini bisa disana? apa mungkin para pemberontak adalah pembunuh ibu?” lirihku. Aku harus mencari kebenarannya. Tapi bagaimana caranya. Aku berjalan mondar mandir memikirkan cara untuk menemukan para pemberontak. Tapi mereka tidak mungkin menjawabnya, bahkan aku akan langsung dibunuh mereka sebelum menanyakan kebenarannya.
“ satu-satunya cara adalah aku harus meninggalkan istana. Berada diluar istana akan memudahkanku menelurusi keberadaan mereka” tapi tuan En masih belum memberitahuku kebenarannya, apa aku harus menunggunya?. Tidak, tuan En sepertinya tidak berniat mengatakannya. Gelang ini adalah petunjuk utama. Jika aku berhasil mendapatkan kebenarannya, maka aku akan tau siapa di balik pembantaian keluargaku.
“ nyonya kenapa berjalan mondar mandir?” Cila berjalan masuk kekamar dengan membawakan minuman.
“ aku sudah mengatakan jangan melakukan tugas apapun, kau masih terluka” aku mengambil bawaannya.
__ADS_1
“ saya sudah tidak apa-apa nyonya” jawabnya. Wajahnya memang terlihat lebih segar. Dia tidak berbohong tentang kondisinya.
“ sepertinya nyonya sedang bingung” setelah duduk di kursi sebelahku.
“ em,, menurutmu jika aku pergi dari istana apa yang akan terjadi?”
“ memangnya kenapa nyonya harus meninggakan istana?” dia terlihat panik.
“ bukan, maksudku, sendainya,... seandainya saja” aku tak akan mengatakan padanya. Takutnya dia akan dihukum lebih kejam.
“ jika nyonya pergi dari istana, saya juga ikut. Bukankah kita adalah keluarga,” benar juga ucapannya. Jika aku meninggalkannya di istana, besar kemungkinan dia akan terkena hukuman kerajaan.
“ sebenarnya aku sudah lama ingin mencari siapa pembunuh keluargaku, satu-satunya hal yang membuatku tinggal adalah janji putra mahkota padaku. Dia bilang memiliki informasi mengenai hal itu.”
“dan hari ini aku menemukan petunjuk penting yang mengarah pada pembunuhnya, jadi aku memutuskan untuk meninggalkan istana dan mencari keberadaan pembunuh itu. Aku harus tau alasan dibalik pembantaian itu." lanjutku
Cila sudah mengetahui sebagian besar masa laluku. Aku menceritakannya agar dia tak perlu sungkan padaku. Aku dulunya adalah warga biasa, lalu menjadi pelayan dan sekarang memiliki kedudukan sebagai anggota kerajaan. Jadi dia pasti paham maksud perkataanku.
“ jadi nyonya sudah memutuskannya?” aku mengangguk yakin.
“ kapan nyonya akan menjalankan rencana ini?” dia berbisik.
“ besok, karena kemungkinan besok keamanan kerajaan akan sedikit longgar karena akan kedatangan banyak tamu. Kita menyamar sebagai pelayan pernikahan mungkin bisa keluar istana “ jawabku penuh keyakinan.
“ besok nyonya diharuskan mengikuti perayaannya, bagaimana caranya?”
Aku kembali berfikir, tak mungkin berada di dua tempat yang berbeda. Mereka akan menyadarinya jika aku tak terlihat dalam perayaan.
“ di pertengahan perayaan aku akan berpura-pura mengeluh jika perutku sakit dan meminta undur diri, dengan begitu mereka tidak akan curiga. Bagaimana?“
“ saya rasa itu ide yang bagus nyonya, “
“ tapi,, apakah nyonya benar-benar sudah yakin ingin meninggalkan kerajaan, bagaimana dengan putra mahkota?” dia kembali bertanya. Aku juga dilema dibuatnya. Tapi keberadaanku disini juga tak akan selamanya. Istana bukan tempatku.
“ dia pasti segera melupakanku. Apalagi dengan adanya putri mahkota pasti akan mengalihkan perhatiannya”
“ nyonya,,” Cila menggenggam tanganku erat. Menguatkanku agar tidak bersedih. Aku tau mungkin aku akan menyesali keputusanku, tapi aku juga tidak akan tenang jika tidak bisa menemukan siapa pembunuhnya. Jika ada takdirnya aku dan tuan En pasti akan bersatu. aku membalas genggaman tanganya. Kami saling menguatkan.
__ADS_1