The Empero'S Prisoner

The Empero'S Prisoner
18


__ADS_3

Pagi ini entah kenapa permaisuri mengajakku sarapan bersama. Cilla mengatakannya beberapa hari yang lalu. Terpaksa sesi latihan kali ini akan tertunda. Dalam hatiku aku ada kekhawatiran, mengingat hubungan kami tidak bisa dikatakan dekat.


 


Dari kejauhan istana permaisuri terlihat megah dan menawan. Simbol penguasa harem kerajaan. Awalnya aku begitu kagum dengan sosok permaisuri, dia adalah wanita yang tangguh dan tentunya cantik menawan. Aura memikat serta wibawanya begitu kental.


 


Tak banyak orang yang berinteraksi dengannya. Menurut kabar permaisuri termasuk orang yang tertutup namun penuh welas asih. Bahkan Kaisar tak pernah sedikitpun mengacuhkannya. Segala permintaanya selalu di turuti. Hal ini membuat para selir semakin cemburu.


 


Meskipun begitu tidak ada satu selirpun yang berani menggangu atau mempersulitnya. Seperti semua orang hanya mengelilinginya, dunia hanya berputar pada dirinya.


 


Namun setelah mendengar pembicaraan tuan En dan kak Lu waktu itu, semua pemikiran itu sirna. Terganti dengan sosok permaisuri yang penuh siasat dan berbahaya. Ini masih menjadi dugaan ku mungkin saja salah. Siapa yang tahu isi hati seseorang.


 


Belum lagi setelah mengetahui jika ternyata permaisuri bukanlah ibunda dari putra mahkota, semakin membuatku curiga. Hal besar seperti ini tak ada yang berani mengungkapkannya dalam kerajaan. Dapat diartikan jika kekuasaan permaisuri tak bisa diragukan.


 


“Zen, kau sudah datang?”


“ salam permaisuri, saya takut membuat yang mulia menunggu jadi datang lebih awal”


“ ah, kau baik sekali. Masuklah “


“ iya permaisuri”


 


Cila membantuku mengangkat  gaun kebesaran saat menaiki tangga istana. Setelah masuk bangunan ini semakin megah dan indah. Tidak hanya elegan bahkan hiasan mutiara dan barang berharga lainnya terpampang sebagai pajangan disini. Ironi.


 


“ setelah perbincangan kita waktu itu, aku semakin tertarik dan rindu bertemu denganmu Zen.”


“ maafkan saya yang tidak pernah datang mengunjungi yang mulia.”


“ aku memakluminya, dengar-dengar beberapa bulan terakhir kau sibuk berlatih, apakah itu benar?” kenapa arah pebicaraan ini terdengar menggangguku. Seakan mencari kelemahanku sebagai selir.


“ tuan En menginginkan saya sedikit menjaga kebugaran tubuh jadi beberapa keterampilan lapangan menjadi rutinitas saya” aku tak mau terpancing jangan sampai niat awalku berlatih dapat diketahui oleh permaisuri.


“ anak itu memang, selalu bertingkah semaunya. “

__ADS_1


“ yang mulia putra mahkota begitu memperhatikan saya, jadi tidak ada yang salah dengan latihan itu”


“ bagaimanapun kau adalah selir, jangan sampai melupakan kewajiban seorang selir”


“ baik yang mulia, saya akan mengingatnya”


“ sebagai sesama penghuni harem, aku akan mengingatkanmu. Kedudukan anggota kerajaan banyak sekali yang menginginkannya. Berbagai macam niat pasti mereka punyai, jika tidak dijaga dengan baik takutnya kau akan kehilangannya”


“ saya akan melakukan yang terbaik sebagai seorang selir, mohon yang mulia mengingatkan saya jika saya melakukan kesalahan”


 


Beberapa saat kemudian makanan mulai berdatangan, permaisuri mengatur tempat makan berada di samping taman. Selain sejuk, pemandangan bunga disana sungguh menakjubkan. Indah dan penuh warna warni.


 


Mengamati satu demi satu menu makanan yang datang sudah cukup menaikkan selera makanku pada level tertinggi. Semuanya nampak mahal dan menggiurkan. Lagi-lagi status adalah segalanya. Semua kemewahan yang kudapatakn selama ini ternyata terlihat biasa saja setelah menyaksikan kemewahan lainnya.


 


“ jangan sungkan, makanlah. semua ini aku persiapkan khusus untukmu, Zen”


“ yang mulia begitu baik pada saya, saya jadi tidak enak menerimanya”


“ kenapa kau berkata seperti itu, sebagai mertua dan menantu sudah semestinya saling memperhatikan”


 


Kami makan dengan tenang. Pembawaan permaisuri yang lembut nampak jelas dengan cara makannya yang rapi dan elegan. Sedikit berbeda denganku yang gaya makannya sudah seperti anak remaja yang tak tau aturan. Memakan apapun yang menarik baginya.


 


Aku tak bisa mengubah kebiasaan ini, menurutku juga tak terlalu memalukan. Lagipula disini hanya ada kami berdua. Aku tak perlu berpura-pura bukan, yang terpenting cara makanku tidak terbilang jorok ataupun sembrono.


 


Setelah sarapan, permaisuri mengajakku berjalan-jalan mengelilingi taman. Cukup luas dan tertata rapi.  Di perjalanan  kami berbincang ringan. Aku sering menanyakan jenis bunga dan manfaatnya kepada permaisuri. Tak di sangka dia mengetahui jelas detailnya. Bahkan tehnik perawatan dan mengambilan khasiat bagian bunga dia sangat menjabarkannya. Darisana terlihat jelas bagaimana berpendidikannya permaisuri. Pantas saja jabatannya tidak mudah goyah dan di usik oleh orang lain.


 


Melihatnya seperti ini, tiba-tiba aku jadi teringan dengan mendiang ibunda tuan En. Kira-kira bagaimana sosoknya. Apakah tidak jauh berbeda dengan permaisuri atau bahkan lebih baik. Kenapa kehadirannya tak ada yang mengakui bahkan suaminya sendiri, kaisar menolak kebenaran itu.


 


 


Pasti ada sesuatu hal besar yang terjadi, sehingga semua anggota kerajaan menutupi kebenaran ini. Aku harus mencari tahu, mungkin hal ini ada sangkut pautnya dengan terjadinya pemberontakan serta pembantaian beberapa waktu silam.

__ADS_1


 


“ sepertinya kita bisa duduk sebentar di bangku itu, pelayan siapkan kudapan”


“ baik permaisuri” sautan pelayan.


“ mari permaisuri, saya bantu” aku merapikan gaun agar permaisuri bisa nyaman duduk di bangku taman.


“ kau manis sekali Zen, pantas saja putra mahkota memilihmu.”


“ yang mulia terlalu memuji”


“ apa tidak ada kabar baik darisana” matanya mengarah ke peruttku. Sejenak aku mengetahui maksud perkataannya.


“ eh, saya rasa masih terlalu awal untuk menginginkannya” aku juga tak bisa mengatakan jika kami belum melakukan pada tahap itu. Semua jabatanku bisa di pertaruhkan.


“ Zen, aku sarankan kau harus mempercepat, siapa tahu dengan itu kau bisa menjadi putri mahkota” bisiknya. Perkataanya barusan terbilang berani, tidak ada penghuni istanapun yang boleh membicarakan jabatan kerajaan. Apalagi di istana harem.


“ saya akan mempertimbangkannya, yang mulia”


“ ya kau harus, oia semenjak dibawa di istana aku tak pernah mendengar kabar tentang keluargamu. Apa mereka tinggal di desa?”


“saya sudah tidak memiliki keluarga, kedua orang tua saya sudah meninggal yang mulia” permaisuri terlihat kaget, bahkan menghentikan aktifitasnya.


“ oh maafkan aku. “


“ tidak-tidak. Yang mulia jangan merasa bersalah. Saya sudah terbiasa dengan itu.”


“ kau anak yang baik Zen, orang tuamu pasti bangga padamu. Apalagi dengan kedudukanmu sebagai selir kerajaan mereka pasti bahagia jika mengetahuinya”


“ iya yang mulia, mereka orang tua yang baik”


 


Hari semakin siang, aku memutuskan untuk undur diri. Peraisuri juga memiliki jadwal lain. Dalam perjalanan aku merasa ada sesatu yang aneh dengan diriku. Entah kenapa tanganku mengeluarkan banyak keringat. Bahkan dadaku tersa sesak.


 


Apakah ada sesuatu yang salah. Aku semakin mempercepat langkahku, segera berbaring dan istirahat dikamar. Hanya itu yang terlintas di fikiranku. Keringat semakin banyak yang keluar. Bahkan tubuhku mulai merasakan kedinginan.


 


Cuaca hari ini cukup terik, kenapa rasa dingin ini mengangguku. Cilla bahkan mengatakan jika cara berjalanku semakin lambat dan lemah. Aku bisa merasakannya. Tubuhku terasa semakin ringan. Sebenarnya apa yang terjadi padaku.


 


“ pergilah, panggilkan aku tabib istana,” bisikku saat Cilla mencoba memapahku berjalan. Untuk berbicara saja sudah membuatku kepayahan. Jangan-jangan aku sudah mendekati kematian. Pandanganku mulai gelap saat memasuki pelataran istanaku.

__ADS_1


__ADS_2