
Seakan terhipnotis ucapannya, aku tidak menolak semua sentuhannnya. Kini gaunku sudah tergeletak di lantai. Tuan En melemparkannya setelah terlepas dari tubuhku. Sekarang tinggal satu lapis terakhir yang membungkus tubuhku. Selama ini tak pernah terlepas meskipun saat melayani pada malam- malam sebelumnya. Tuan En hanya menciumi seluruh tubuh seperti sekarang.
Tapi malam ini berbeda, tuan En mencoba menarikknya agar terlepas. Karena terbawa suasana, tak bisa menolaknya. Sampai akhirnya menyadari jika sudah polos dibawah tindihan tuan En.
“ tuan,,,” mencoba memberikan penolakan di sisa-sisa kesadaran yang menipis.
“ kau akan suka dengan kegiatan baru kita”
Sentuhannya semakin liar, tak ada bagian tubuh yang terlewat dari ciumannya. Entah kenapa ada sesuatu yang aneh melanda diriku. Perasaan takut sekaligus senang atas semua sentuhan tuan En.
“ bersiaplah,,” bisik tuan En sebelum mencium rakus bibirku.
Aku merasakan tangan tuan En semakin turun kebawah, dan dengan pelan menarik salah satu kakiku keatas. Aku tahu apa yang akan terjadi, takut aku sedikit memberontak tangan lainnya menahan pinggangku agar tidak bergerak.
“ egh.. “ sakit, tubuh rasanya terbelah. Dibawah sama apa yang terjadi. Tak bisa mengatakan kesakitan ini, bibir masih saling menempel.
Tuan En semakin memperdalam ciumannya. Rasa sakit itu lama kelamaan teralihkan. Nafas semakin menipis, tuan En berganti menerjang pundakku.
“ aku akan bergerak” serak serak basah.
Menggigit pundak tuan En untuk menyalurkan rasa sakit dibawah sama, begitu pelan tusukannya semakin lama semakin menuntut. Tanganku sudah menancap di punggung tuan En.
“ s,,sa,,ki,,t” tak bisa menahan lagi.
“ aku akan melakukannya dengan cepat” jawab tuan En.
Sesuai dengan perkataanya, tusukan itu bahkan semakin keras dan cepat. Kini tubuh tuan En tidak lagi menempel padaku. Punggungnya melengkung sedang bibirnya melahap dadaku.
Aku merasakan ada rasa sakit ini sedikit demi sedikit mulai menghilang. Tergantikan dengan rasa asing yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.
“ egh,,, t,,u,,an”
Tubuh kami sudah banjir dengan keringat, malam ini sungguh panas. Padahal jendela kamar masih terbuka tertutup kelambu tipis.
“ ya,, nikmati sentuhanku”
__ADS_1
Aku merasakan ada sesuatu yang ingin meledak keluar, aku ingin ke pemandian untuk mengeluarkannya.
“ s,,a,,y,,a,, ingin,,,”
“ keluarkan Zen..” tidak, sangat memalukan jika keluar disini.
“ tidak mau mengompol” tolakku. Tuan En terlihat tersenyum, lalu mencium bibirku.
Gerakannya semakin tidak beraturan, tusukan itu benar-benar membuatku lupa diri. Aku memeluk erat tuan En, aku benar-benar mengompol. Tapi rasanya sangat jauh berbeda, sungguh nikmat. Bahkan nafas sampai terengah-engah seperti baru selesai berlari jarak jauh.
“ egh,, tuann,,” aku mendesah di telinganya.
“ apakah kau suka”
Mulai mengatur nafas saat tuan En memandang, membuat semakin malu, bisa-bisanya aku mengompol di ranjangnya. Pasti menjadi bahan gunjingan para pelayan istana.
“ sekarang giliranku” bisik tuan En. Setelah itu badanku di balik menjadi tengkurap. Menarik pinggulku dan melakukan tusukan itu kembali.
Malam itu terasa sangat panjang, beberapa kali aku meminta beristirahat. Tapi tuan En tidak pernah mengindahkan. Kegaiatan itu berlangsung bahkan sampai tendengar suara ayam berkokok. Setelah itu aku tidak mengingat apapun. Padahal tuan En masih terus bergerak dibawah sana.
Mataku terganggu dengan cahaya yang menyilaukan. Rasanya aku barusaja tidur, kenapa sudah dibangunkan.
“ Cila tutup jendelanya” berguman, bahkan tak perlu membuka mata saat mengatakannya.
“ Cila,,” cahaya itu tak kunjung menghilang. Lelah sekali akhirnya aku membalikkan kepalaku mencari posisi yang nyaman. Malah punggung merasakan hembusan angin. Ada apa dengan hari ini, bahkan tubuhku terasa sakit semua. Tidur juga banyak gangguan. Akhirnya aku membuka sebelah mataku. Menyadari jika ini bukan kamarku, aku membuka satu mata lagi.
‘ kamar tuan En’
‘ tunggu’
Mulai menyadari jika aku polosan, mengingat kejadian semalam.
‘ semalam tuan En..’
Lalu kemana perginya tuan En. Suasana terlihat sepi, kemana semua pelayan.
“ cilla,,”
“ nyonya sudah bangun” balasnya dari balik pintu kamar.
Aku membungkus tubuhku dengan selimut sebelum menyuruh Cila masuk. Pasti tuan En melarangnya masuk. Takut melihat keadaanku yang,,
__ADS_1
“ nyonya,, “ seakan kaget dengan semua kekacauan ini. Bantal ada di lantai beserta gaunku.
“ tak perlu aku jelaskan, ambilkan gaunku”
“ ini nyonya”
Aku memakai gaunku dari balik selimut, setidaknya bisa menutupi tanda kemerahan di sekujur tubuhku.
“ tuan En sudah pergi?”
“ hari ini adalah pernikahan tuan En”
“ astaga, aku melupakannya. “ aku langsung bergegas turun untuk menyiapkan diri.
Bruk,,
“ ah,,” terjatuh, Cila langsungg membantuku kembali duduk di ranjang. Pangkal pahaku terasa kebas dan kakiku lemas mendadak. Ini pasti karena ulah tuan En.
“ tuan En mengatakan jika tidak perlu pergi ke perayaan.” Cila terliat sangat khawatir dengan kondisiku. Aku mengangguk pelan.
“ apa nyonya tidak apa-apa?” lanjutnya.
“ siapkan aku air hangat” bingung harus menjelaskannya, akhirnya hanya memberikan perintah.
Ku lihat hari sudah sangat siang, perutku juga keroncongan ingin diisi. Kali ini aku membersihkan diri sendiri. Awalnya Cila keberantan dengan permintaanku, namun aku tetap bersikeras jadi dia tak bisa menolak.
Selesai membersihkan diri aku sedikit pangling karena pelayan yang telah mengganti seprai ranjang saat aku memberihkan diri. Hal ini semakin membuatku malu. Padahal aku berniat membereskannya sendiri. Bagaimana tidak disana terdapat bercak darah serta noda-noda aneh yang menempel.
Setelah sarapan, aku memilih melanjutkan tidurku. Kegiatan semalam cukup menguras energi. Meskipun cukup menyenangkan. Aku dibuat melayang berkali-kali. Perlakuan tuan En begitu lembut kecuali di bawah sana, mungkin inilah yang maksud dengan hubungan suami istri. aku pernah membaca sekilas dibuku kehamilan yang di berikan tuan En, asal muasal hamil juga di jelaskan meskipun tidak detail. Beberapa kali bahkan nyaris menjerit. Entah bagaimana nanti saat mengahadapi tuan En. Harga diriku sudah jatuh.
Aku jadi malu sendiri mengingat bagaimana reaksiku semalam, mungkin wajah ini sudah berubah merona merah. Apa aku kembali saja ke istanaku, agar tidak bertemu dengan tuan En. Tapi bukankah hari ini ada perayaan, tidak. Mereka akan curiga jika melihatku. Tuan En pasti sudah memberikan alasan khusus atas ketidak hadiranku. Aku tidak akan mengacaukan rencana tuan En. Mungkin saja hari ini tuan En tidak kembali ke istananya, menemani istri barunya pasti lebih menyenangkan. Sekarang aku harus mulai belajar berbagi hati, apalagi statusku lebih rendah. Suasana akan berubah, angin sejuk atau panas tergantung pada diri sendiri bagaimana menerimanya. Tangguh, aku harus tangguh.
Tubuhku terasa lebih relaks, angin sejuk yang berembus melewati jendela dan berakhir mengenaiku. Nyaman, rasa ngantuk mulai terasa. Mencari posisi yang nyaman dan kembali pada alam mimpi.
jangan lupa like ya kawan
__ADS_1
terimakasih sudah membaca karya saya...
sehat selalu..