The Empero'S Prisoner

The Empero'S Prisoner
39


__ADS_3

 


“ perkenalkan aku Ares dan ini Gala, kalian?”


“ aku,, Zuka dan adikku Luca. “ jawabku


“ hari semakin sore, lebih baik kita berangkat sekarang” betul juga, perjalanan masih jauh. Cila terlihat lebih tenang, sudah tak ketakutan lagi.


 


Kami menaiki kuda masing-masing. Ares menaiki kuda yang terdapat bangkai rusa, sedangkan Gala membawa peralatan berburu. Kami mengekor di belakang mereka. Kecepatan laju mereka tidak terlalu cepat jadi baik Cila dan aku masih bisa mengikuti.


 


“ kita melewati akan jalan pintas agar sampai lebih cepat.” Teriak Gala pada kami. Hanya membalas dengan anggukan. Sedikit mungkin mengeluarkan suara, tidak mau mereka menyadari bahwa kami sedang menyamar. Saat berbicara harus mengeluarkan suara buatan yang lebih maskulin. Namun tentu tidak terlalu efektif. Harus menjaga sebaik mungkin sampai nanti terpisah.


 


Jalur yang diberikan memang hanya jalan setapak yang berada di kaki-kaki gunung. Sangat sepi sekali, sepertinya jarang di lalui. Terlihat dari ilalang yang menutupi bahu jalan. Mereka sangat hafal sekali sengan rutenya, bisa jadi ini jalur rahasia mereka. Sejauh mata memandang hanya ilalang dan perbukitan.


 


“ Luc, kau jalanlah lebih dulu. “ melihat beberapakali berhenti karena kesulitan mengendalikan kudanya. Begitu kasihan, tak ingin Cila tertinggal.


“ iya kak” menghentikan kuda, membiarkan Cila melewatiku.


 


Gala seperti melihat kesulitan Cila, jadi ikut memperhatikan. Memelankan laju kuda agar kami tidak kesulitan mengejar.


“ apa kau baik-baik saja?” teriak Gala pada Cila,.


“ he’em,, jangan khawatir”


 


Senja sudah hampir hilang tapi kami belum keluar dari jalan ilalang ini. Hatiku semakin tidak tenang, dengan penerangan saja Cila begitu kesulitan mengendalikan kudanya, bagaimana saat langit gelap.


 


“ Gala, apakah masih jauh?” teriakku.


“ tidak sebentar lagi akan memasuki kota” perkataanya sedikit meringankan beban hati. Cila menatapku dengan senyuman lega. Beberapa lama kemudian memang sudah tak menemukan ilalang hanya tanah kosong. Sepertinya sudah memasuki jalanan umum.


Kami sedikit menurunkan laju, memacu dalam kecepatan sedang. Kini bahkan bisa berjalan sejajar dengan Cila.


 


“ ada kesulitan?” tanyaku pada Cila.

__ADS_1


“ tidak kak, sekarang sudah lebih baik”


Tepat saat matahari terbenam kami sampai dikota Laqaka. Setelah itu menghentikan kuda.


“ sepertinya kita harus berpisah disini, kami akan menjual hewan buruan ini” Ares mendekat padaku.


“ terimakasih karena sudah membantu kami”


“ tidak masalah, kalian hati-hati” menarik tali kuda dan meninggalkan kami.


 


Aku dan Cila saling pandang, dan bersama menghela nafas. Akhirnya bisa sampai sebelum malam.


“ kita cari penginapan”


Tak perlu waktu lama, ternyata di dekat gerbang kota sudah terlihat sebuah penginapan. Dari bangunannya terlihat cukup besar. Tanpa pikir panjang langsung saja masuk dan memesan kamar.


“ kak, aku sekalian pesan makan malam”


“ iya, tak apa, uang kita masih cukup”


 


Memasuki kamar, aku langsung membersihkan diri. Semua tubuhku terasa lengket penuh keringat. Kaki serta pinggang sedikit kram karena pegal terus-terusan menaiki kuda.


“ segar ,,,” begitu beredam. Meski tidak terbilang mewah. Tapi setidaknya perabotannya cukup standar. Setelah cukup lama, akhirnya keluar.


“ iya kak”


 


Setelah mengganti baju, langsung menaiki ranjang. Membaringkan tubuh, sungguh terasa nyaman. Entah kenapa begitu merindukan ranjang istana. Baru beberapa hari keluar sudah mengeluh. Tidak, aku mungkin takkan kembali jadi harus membiasakan diri dengan kondisi sekarang.


 


“ kak, makanan sudah datang. Mari makan selagi hangat”


“ hemmm,,,” mencoba duduk, sepertinya aku tertidur sebentar. Melihat beberapa makanan di meja, rasa lapar langsung menerjang. Selera makanku langsung naik. Jadi lansung beranjak dan mendekati meja makan. Begitupun dengan Cila.


Meski tidak terlalu banyak memesan menu, tapi cukup mengenyangkan. Semua menu habis dimakan. Baik aku dan cila sama-sama kelaparan. Setelah itu dirasa kenyang kami langsung bersiap tidur. Sudah tidak kuat menahan rasa lelah dan ngatuk.


 


**** 


“ kak apa sebaiknya kita memesan penginapan di sekitar sungai Dyramo, mungkin saja bisa menemukan keberadaan putra mahkota”


“ jangan tuan En pasti melakukan hal yang sama. Lebih baik kita mengamati dari jarak dekat, disana,,, kita bisa pura-pura memesan makanan dan menunggu. Semoga saja kita tidak salah” menunjuk sebuah kedai mie di pinggir sungai.

__ADS_1


 


Kami sudah berada di tempat Dendira saat tengah hari. Tempat yang dipredikskan entah benar atau salah. Tetap dalam penampilan laki-laki kami duduk di sebuah pedangang kakilima yang tempatnya langsung mengarah ke sungai. Karena berada dibawah pohon, kemungkinan tidak akan mudah dilihat oleh orang lain.


 


“ rasa mienya sangat enak kak” Cila begitu senang dengan makanannya.


“ hemm,, ya kau benar. Tidak sia-sia kita membelinya”


“ kau terlihat sangat menikmati perjalanan ini” lanjutku.


“ saya hanya merasa bebas. “ cukup dimengerti. Pekerjaan istana mungkin sedikit menghambatnya untuk menikmati hidup. Cila masih begitu muda untuk menjadi kepala pelayan istana harem. Mungkin saat kembali nanti perlu memberinya pelayan khusus untuk membantu pekerjaannya.


“ mari nikmati kebebasan ini” sautku tak kalah semangat.


 


Kami menghabiskan waktu cukup lama di kedai ini. Sampai malam mulai datang. Tidak ada tanda-tanda keberadaan tuan En.


“ tuan -tuan, toko kami akan tutup. Jadi maaf aku karena harus mengusir kalian”


“ oh ya kek, oia kami ingin bertanya, malam ini terlihat begitu meriah. apa memang seperti ini biasanya?” banyak sekali lampu-lampu hias yang terpasang serta jalanan mulai ramai.


“ hari ini ada festival bunga, karena cucu saya ingin ditemani jadi harus menutup toko lebih cepat.”


“ oh iyya kek, terimakasih. Kami pamit dulu”


 


Festival bunga, hari yang pas sekali. Membuat aku dan Cila semakin mudah berkeliaran di sekitar jembatan. Suasana kota begitu ramai dan menawan dengan berbagai macam bunga yang menghiasi jalanan. Berbagai pernak-pernik pesta juga serupa dengan bunga, mulai lentera bunga, permen bunga, mahkota bunga, perhiasan bunga bahkan ada topeng bunga.


 


Terlihat banyak sekali pasangan yang menghabiskan waktu disini. Masing-masing mereka membawa bunga untuk pasangannya. Sungguh romantis sekali. Kalau saja bisa merayakan bersama tuan En pasti mengasikkan. Kurasa tuan En dan aku belum pernah keluar berdua untuk merayakan sesuatu, sekarang sudah tidak bisa lagi. Kesempatan sudah hilang. Begitu singkat terasa kebersamaan kami.


 


“ kak,, orang-orang banyak yang melihat ke arah kita” Cila tengah berbisik sedang matanya tetap memandang sekitar.


“ mereka pasti berfikir kenapa kita berdua tidak membawa pasangan, sepasang laki-laki jalan berdua saja.”


“ jadi mereka menganggap kita tidak normal begitu” seakan tidak terima tiba-tiba Cila sedikit keras mengucapkannya.


“ pelankan suaramu” tetap memaksakan senyuman kepada orang-orang yang melihat kearah kami.


“ maaf, maaf,,emm mungkin kita lebih baik diam di sana” menujuk ke arah kedai tepat di samping jembatan.


“ baiklah” tempatnya juga tidak terlalu mencolok.

__ADS_1


 


Semakin malam perayaan semakin ramai, bahkan ada pesta kembang api warna warni, indah sekali. Kami bahkan sempat lupa akan rencananya, begitu terpesona dengan keramaian pesta.


__ADS_2