The Empero'S Prisoner

The Empero'S Prisoner
51


__ADS_3

“ aku tetap menolak, jangan mengikut sertaan Zen dalam misi kali ini”


“ lalu sampai kapan,? dia akan mengerti” merak membicaraknku. Misi apa yang mereka maksudkan.


“ Zenia tidak ada sangkut pautnya dengan rencana sebelumnya. Sampai kapanpun tidak boleh membuatnya mengetahui hal ini. “


“ Zoya dengarkan aku,,”


Tap


Tap


Mereka akan keluar aku harus bersembunyi. Membuka ruangan yang tak jauh dari sana. Tak lupa membuat celah kecil pada pintu yang tidak tertutup rapat.


“ semakin dia tidak tahu, semakin besar kecurigaannya nanti. Apakah kau mau dia nanti di manfaatkan oleh kerajaan.? “


Ketua menahan ibu yang ingin pergi. Menghalangi jalannya. Ibu diam saja setelah mendengar pernytaan ketua.


“ fikirkan baik-baik, posisi kita mudah sekali di salahkan. Jika tidak menjelaskannya mungkin saja kita malah yang di pandang buruk olehnya” kedua angan ketua menyentuh undah ibu.


“ mau sampai kau akan menyembunyikan bahwa ayahnya di bunuh oleh putra mahkota kerajaan, dia juga berhak tau Zoya”


 


Perkataan ketua seakan batu yang menghatam dadaku kuat. Sesak, bahkan pijakan kakinya menjadi lemah. Tuan En membunuh ayahku, jadi selama ini aku tinggal dengan pembunuh ayahku. Tidak, ini pasti kebohongan mereka.


 


“apa maksud perkataanmu?.” Aku harsu memastikannnya. Jangan sampai mereka menutupinya lagi.


 


“ z,,zzen?” ibu terlihat kegt dengan kehadiranku


“ kalian sedang berbohongkan. Ayah meninggal saat berburu kan bu, kenapa bisa di bunuh oleh putra mahkota?” berjalan perlahan mendekati mereka.


Ibu menagis tapi sekarng membelakangiku, tak ingin menatap wajahku.


 


“ kamu, apa yang kamu katan itu bena?” menatap ketua untuk memintanya memberikan jawaban.


“sebaiknya kalian bicara, Zoya sekarang waktu yang tepat untuk menjelaskan semua padanya” keta menyentuh pelan bahu ibu, sebelum meningalkan kami berdua..


 


Ibu masih saja terdiam. Kami sudah sudah memasuki ruangan yang ibu tinggalkan tadi. Ruangan ini sepertinya digunakan untuk ruang baca, hanya ada susun buku berjajar dan beberapa kursi berserta meja di samping jendela besar.


 

__ADS_1


“ ibu akan mengatakannya atau tidak?”


“ baiklah Zen sendiri yang akan mencari tau” membalik badan dan berjalan ke arah pintu. Mencoba memancing keterbukaan ibu.


“ benar, semua yang kamu dengar adalah benar. Putra mahkota kerajaan. Enrick itu telah membunuh  ayahmu” tidak, bukan ini yang ingin aku dengar. Bagimana ini, bukankah ini mengartikan bahwa aku sedang mengandung anak dari pembunuh ayahku. Pembunuh ayahku malah menjadi ayah dari anakku. Kenapa aku bisa sebodoh ini. Bagaimana jika ibu tahu hal ini. Tidak, tidak. Apa yang harus aku lakukan.


“ tapi bagaimana bisa?” kini kepalaku terasa pening, memilih untuk dudk di kursi yang tak jauh dari sana. Kebenaran ini menghatamku dengan begitu keras.


 


“ saat itu beredar kabar bahwa kelompok berburu ayahmu adalah kelompok pemberontak. Ayah sudah melurusakn kabar itu, tapi berita yang tersebar semakin liar. Hal itu terus saja mengganggu fikiran dan membuatnya tidak melakukan perburuan secara berkelompok lagi. Beberapa hari kemudian ayahmu mengatakan bahwa putra mahkota memanggilnya. Untuk menanyakan soal kabar itu. Saat itu ibu sedikit curiga, jadi memutuskan untuk mengikutinya.


 Di sebuah kuil di lereng gunung memang benar enrick menemuinya. Ibu melihatnya masuk ke kuil itu.Tapi ketika ibu masuk kedalam untuk memastikannya, ayahmu sudah bersimbah darah. Tanpa menjelaskan apapun Enrick langsung saja pergi.”


 


“ kenapa ibu tidak mengatakan yang sebenarnya pada Zen?”


“ tak ada saksi mata selain ibu, jadi ibu tak ingin membahayakanmu.” Ibu duduk di sebelahku, tangannya menggenggam erat kedua tanganku.


 


“ setelah kejadian pembantain desa, ibu tak bisa menemukanmu. Ibu berfikir kau sudah tewas. “


“ saat itu juga Zen mencari ibu, tapi ibu sudah tak ada.”


“ pembantain itu pasti ulahnya, Enrick itu pasti berusaha menutupi kejahatannnya jadi memutuskan untuk melenyapkan semua penduduk desa”


 


 


“ apa ibu punya buktinya?” meski aku sedikit khawatir jika pertanyaan ini bisa menyinggung perasaan ibu, tapi memang harus ku tanyakan.


“ siapa lagi Zen. Ibu juga melihatnya berada di tempat kejadian. Jika bukan karena ketua menyelamatkan ibu saat itu. Mungkin Enrick bisa menemukan ibu dengan mudah.”


“ jadi ini alasanya ibu mau bergabung dengan kelompok pemberontak?” ibu menatapku lama, seakan ragu untuk mengataknnya.


“ kau terlihat pucat,  lain kali ibu akan mengatakannya. Ibu antar ke kamar ya” kepalaku memang terasa berat, bahkan pandanganku juga sedikit bunar. Mungkin lain kali bisa mendengar lanjutan cerita ini. Ibu membantuku berdiri. Baru beberapa langkah perutku terasa sakit.


 


“ ah,, perut Zen sakit” memegang perutku erat.


“ Zen,, darah, ada apa ini, kenapa kakimu berdarah?” ibu berteriak panik.


 


Tidak tidak, bayiku, jangan sampai terjadi hal buruk pada bayiku.

__ADS_1


“ ibu,,, perut Zen,,” air mataku terus saja menangis, bayiku. Aku begitu mengkhawatirknnya. Padanganku semakin lama semakin gelap.


“ zen,, kau kenapa, Zen..”


“ ibu,, bayiku,, bayi”


“ bayi apa?,, Zen sadarlah”


Tubuhku sudah merosot di lantai. Sakit ini benar-benar menyiksaku. Tubuhku tidak bisa menahannya lagi. Sampai akhirnya pandanganku benar-benar gelap.


 


****


Kepalaku teras berat, tanganku sulit digerakkan. Perlahan-lahan membuka mataku. Gelap. Hari sudah gelap. Langit malam langsung menyambutku ketika bangun dari tidurku.


 


Ternyata ibu tertidur di atas tanganku. Benar saja jika sulit di gerakkan. Tangan lainnya mengelus kepala ibu. Wajahnya terlihat begitu lelah.


“ emm,, Zen,, kau sudah sadar?”  ibu langsung bangun dan menggengam tangan ku. Mengangguk kecil tenggororkanku terasa sangat kering, jadi begitu sulit mengeluarkan suara.


 


Melihat hal itu ibu segera mengambilkan air minum, dan membantuku duduk.


“ pelan -pelan” saat membantu meminumkan air padaku.


“ kenapa tubuh Zen sakit semua?”


“ kamu tidak ingat?” menggeleng, aku memang tidak mengingat apapun.


Kenapa ibu terlihat begitu lelah.


“ kenapa ibu menemani Zen tidur dengan duduk di bawah?” ibu tampak semakin khawatir melihatku. Ada apa sebenarnya.


 


“ kau sudah sadar Zen?” seorang laki-laki masuk ke kamar.


“ aku begitu mengkhatirkanmu” dia semakin mendekat. Wajahnya terlihat lega dan bahagia melihat ku.


 


“ kau istirahatlah dulu, ibu dan Ares akan keluar dulu”


“ he’em baiklah”


Mereka bedua pergi meninggalkanku. Meski aku melihat ada keengganan dari laki-laki itu ketika ibu menyeret tangannya keluar. Mataku mulai mengantuk, dan mulai memejamkan mata.

__ADS_1


jangan lupa likenya ka kawan


buat penulis ini semakin bersemangat melanjutkan cerita yaa...


__ADS_2