
“ kau sudah siap cila?”
“ sudah, yang mulia”
Rombongan kerajaan mulai berdatangan. Aku sudah sedari tadi duduk di bangku khusus selir, berada di tingkat ketiga dari urutan tamu kehormatan. Di tingkat pertama ada kaisar dan permaisuri, duduk dibagian pusat aula, di depan para tamu. Di tingkat kedua ada selir kaisar, keluarga tetua kerajaan yang berhadapan dengan kaisar, dengan dipisahkan jarak yang cukup jauh. Sedangkan tingkat ketiga, adalah selir serta penjabat penting beserta istri yang berada disisi antara keduanya.
Darisini aku bisa melihat dengan jelas altar pernikahan tuan En, sebagai selir aku hanya melewati peresmian kecil, tak ada proses pernikahan semewah ini. Aku sukup tahu diri.
“ yang mulia, apakah anda perlu sesuatu?”
“ tidak Cila, oia jangan lupa rencana kita. Kau harus bisa bersandiwara” aku mengingatkan.
“ tenang yang mulia. Saya pasti bisa” meski lukanya belum sembuh total, tapi dia sudah terlihat sehat dan bersemangat. Aku jadi ikut bahagia. Meski awalnya aku keberatan dengan pernikahan ini, kini aku malah bersyukur. Setidaknya tuan En ada yang menemani di kerajaan ini. Istananya sebentar lagi akan terisi dengan kehadiran putri mahkota. Aku tak perlu mengkhawatirkannya.
“ nyonya, acaranya akan segera di mulai” bisik Cila, aku mengangguk. Setelah menyaksikan upacara pernikahan tuan En, baru aku akan menjalankan rencanaku. Karena setelahnya acara hiburan serta makan yang berlangsung lama. Itu adalah waktu yang tepat untuk menyelinap keluar kerajaan.
Dung ,,dung
Suara genderang menandakan upacara akan segera di mulai. Para tamu yang semula ramai berbincang kini diam. Menfokuskan diri untuk menyaksikan pernikahan putra mahkota kerajaan.
“ yang mulia, pelayan mengantarkan kudapan kesukaan yang mulia selir. Dia mengatakan ini kiriman dari seseorang” sambil meletakkan kue kesukaanku. Hal ini membuatku tersanjung sekaligus terharu. Hanya tuan En yang mengetahui kue ini. Tuan En masih memperhatikanku bahkan saat pernikahanya sudah akan dimulai.
“ oh, baiklah”
‘mungkin ini adalah hadiah terakhir dari tuan En yang bisa aku dapatkan’
Dung,,dung,,dung,,
__ADS_1
Pengantin memasuki aula pernikahan. Aku bisa melihat di ujung sama tuan En tampak begitu tampan dengan pakaian kerajaanya. Aku tersenyum singkat, menatapnya lama. Ini adalah terkahir kali aku bisa melihatnya.
Sebelum berdiri, aku sempatkan untuk mencicipi kue dari tuan En. Aku mengambil beberapa dalam satu kali makan. Enak sekali.
Dung..
Para tamu di persilahkan untuk berdiri sebagai tanda penghormatan kepada pengantin. Putri mahkota terlihat sangat cantik meski berjalan di belakang tuan En aku masih bisa melihat siluetnya yang tampak mempesona. Kedua mempelai berjalan dengan penuh keindahan. Tiba-tiba aku juga ingin melakukannya, memakai gaun pengantin dan melakukan upacara pernikahan. Semoga bukan hanya sekedar angan-angan.
Dung..
Para tamu bisa duduk kembali, mempelai sudah berada di hadapan kaisar. Upacara pernikahan sebentar lagi akan dimulai. Tunggu,,Tiba-tiba tubuhku terasa panas, dadaku juga sesak. Keringat dingin mulai keluar. Ada yang salah dengan tubuhku.
“Cila, bantu aku” lirihku. Aku beranjak ingin segera meninggalkan perayaan. Aku menoleh sejenak ke arah tuan En, kulihat matanya mengarah ketempatku. Mungkin karena aku satu-satunya orang yang berdiri.
“ ah,, perutku,” aku memegangi perutku. Sakit sekali. Aku bahkan tidak kuat melangkah.
“ yang mulia, apa yang terjadi?” Cila terlihat cemas, entah apakah dia masih mengira jika aku sedang bersandiwara atau tidak, tapi sakit ini benar-benar kurasakan.
“ ah,, sakit,, perutku sakit sekali” aku semakin memeluk erat perutku.
“ yang mulia,!” aku jatuh terduduk. Sudah tak kuasa menahan tubuhku. Cila terlihat sangat panik. Dia mulai menyadari jika aku tidak sedang bersandiwara seperti rencanaku sebelumnya.
“ darah,, selir pendarahan” teriak salah satu pejabat yang sedari tadi memperhatikan kami. Mendadak suasana yang awalnya tenang kini sudah ricuh dan tegang, semua orang mendekatiku.
“ yang mulai, ada banyak darah di kaki anda” cemas Cila. Bagaimana bisa aku pendarahan saat aku tidak sedang hamil, tunggu apakah ini adalah rencana tuan En. Ramuan kak Lu memang tidak diberikan kepadaku.
“ sakit,,, perutku sakit sekali,,” rasanya seperti ada sebilah pedang menusuk perutku. Sakit sekali. Aku tak bisa menahan rasa ini. Penglihatanku mulai redup.
“ yang mulai,,selir” aku masih bisa mendengarnya, tapi aku tak bisa melihat apapun. Suara itu menjadi hal terakhir yang aku ingat.
****
Dingin, aku merasakan angin dingin menerpa wajahku. Aku merasakan seseorang mengelus tanganku lalu menggenggamnya erat. Aku ingin tahu siapa orang itu, tapi rasanya tubuhku tak bisa ku gerakkan. Lelah, mata ini terasa berat, aku masih ingin tidur, tapi kenapa orang ini menggangguku. Tak bisa menolak ataupun menarik tanganku, jadi hanya bisa diam.
__ADS_1
“ apakah dia masih belum sadar?”
“ belum yang mulia”
“ ini sudah hari ke-dua, kenapa dia tak bangun juga?” lemah, aku menangkap nada suaranya yang melemah terdengar sangat menyedihkan. Aku mengenal betul milik siapa suara ini.
“ kau pergilah biarkan aku yang menemaninya” langkah kaki terdengar menjauh dan mendekat. Mereka bertukar tempat. Aku semakin tak ingin membuka mataku.
Beberapa aku merasakan elusan dikepalaku, turun ke pipiku. Sentuhan ini begitu lembut seakan tubuhku akan rusak jika tak hati-hati. Kurasakan tanganku diangkat dan membentur benda kenyal.
“ bangunlah, jangan menghukumku. Aku tahu semua ini adalah kesalahanku” aku jadi berusaha mengingat kejadian sampai aku bisa seperti ini. Kesalahan apa yang sudah di perbuatnya.
“ melakukan semuanya tanpa bertanya ataupun memberi tahumu, aku benar-benar bersalah padamu” oh, pendarahan itu. Aku mengingatnya.
“ aku fikir melakukan tindakan itu, mungkin saja bisa membatalkan pernikahan ini, nyatanya kaisar hanya menundanya selama 10 hari” jadi benar dugaanku. Kejadian itu memang ulah tuan En. Mendengar suara yang seakan putus asa ini sedikit menyentuh hatiku. Dia benar-benar tak menginginkan pernikahan ini, aku salah paham padanya.
“ apa yang harus ku lakukan untuk membuatmu sadar? Kumohon bangunlah” tanganku terasa basah, apa tuan En sedang menangis?, begitu berharganya aku dimatanya?.
“ tuan,,” aku tak ingin mendengar kata putus asanya. Dan memilih untuk membuka mataku. Tenggorokanku terasa kering membuat suaraku sedikir serak. Tuan langsung menatapku penuh kerinduan. Benar sekali matanya basah, dia benar-benar menangis karenaku.
“ kau sudah bangun, Apa ada yang sakit?” aku menggeleng pelan. Dia tersenyum padaku, kemudian membawakan air. Sungguh pengertian sekali. Dia membantuku duduk serta meminum air bawaanya.
“ suruh tabib segera kemari, selir Zen sudah sadar” perintahnya kepada pelayan yang berjaga.
“ aku senang sekali kau akhirnya sadar” tanganku di genggamnya dan menciumnya singkat. Matanya berbinar penuh kegembiraan.
“ apa kau menginginkan sesuatu?” aku menggeleng. Hanya ingin melihatnya bertingkah selangka ini.
“ kenapa kau hanya diam?” tersenyum membalas pertanyaannya.
Tak lama kemudian kepala tabib istana datang, tuan En mundur mempersilahkannya untuk segera memeriksaku. Selang beberapa lama, aku melihat kerutan di dahinya, di lanjutkan dengan gelengan pelan. Tabib terlihat cemas, bahkan aku melihat dia berkeringan deras. Aku mulai was-was apa terjadi masalah serius pada tubuhku.
“ bagaimana kondisinya?”
“ s,,saya. Tidak bisa merasakan nadi kehamilan selir” tabib terlihat ketakutan saat mengatakannya. Bahkan suaranya ikut bergetar.
__ADS_1
“ apa? Katakan dengan jelas?” bentak tuan En.
“ s,,selir kehilangan bayinya, maafkan saya yang mulia” tabib bahkan bersimpuh di depan tuan En.