
Mereka berdua tampak kaget dengan keberadaanku, tapi aku masih tak ingin berhenti, aku terus mendekati mereka dan langsung mendorong ketua. Melihat dengan jelas bagaimana rupa wanita di depanku. Sungguh aku ingin menampar sekaligus menamparnya. Bagaimana tidak, jadi selama ini dia yang merencanakan semua kekacauan serta membuat kejahatan besar. ‘Dia’ yang tak pernah sedikitpun aku berfikir buruk tentangnya, kini dengan mata kelapaku sendiri menyaksikan semua pengakuannya.
“ apa yang kau lakukan?” ketua berteriak, aku hanya menoleh dan menatapnya tajam. Sejak memutuskan untuk masuk aku menahan air mata untuk tidak keluar.
“ justru aku yang bertanya, apa yang sedang kalian lakukan?” desisku tak kalah tajam dengan tatapa mataku.
“ kau anggota baru itukan, tidak punya sopan santun” ketua berniat menamparku, tapi dengan cepat langsung aku tahan dengan tangan. Tak hanya itu tangannya ku hempaskan dengan keras membuat ketua terdorong kesamping. Kini tatapanku beralih pada wanita di hadapaku, tak ada rasa takut di wajahny tapi rautnya penuh dengan kebingungan.
... ...
“ penjaga,,” ketua berteria kencang.
Tak lama terdengar suara langkah kaki masuk, entah berapa orang cukup banyak kurasa. Tatapanku masih saja mengunci wanita yang ada di hadapanku, sampai tarikan di kedua lenganku memutus kontak mata.
“ bawa dia ke penjara kayu” tertawa sinis menanggapi ketua. Aku tak takut sedikitpun dengan hukuman apapun yang akan diberikan. Semuanya sudah terjawab. Lenganku di tarik keras meninggalkan ruangan.
“ masuk!” tubuh ini di lemparkan begitu masuk ke sebuah penjara kayu. Dalam ruangan ini hanya ada kurungan ini, kemungkinan ini di pakai untuk memberikan hukuman bagi anggota kelompok saja. Buka penjara penyiksaan yang selama ini ada di kerajaan.
Seperti inikah akhir hidupku, hanya bisa menangis menahan rindu yang selama ini mendera, tapi kenapa begitu mengetahui kenyataan malah ada rasa marah yang menyelinapa di hati. Seakan di permainkan oleh takdir, hanya bisa tertawa dalam air mata. Aku begitu bodoh.
****
Sejak semalam hanya bisa melamun, tak bisa menutup mata sedikitpun. Mencerna semua yang baru saja terjadi. Tetapi semakin memikirkannya, semakin tak bisa di mengerti. Harus mulai dari mana ku menyusun semua misteri ini agar bisa dipahami. Harus mulai dari mana aku mencerna situasi ini.
Pintu ruangan terbuka, menampilkan pelayan dengan membwa makanan. Ternyata mereka masih mencoba berbaik hati dengan masih perhatian akan kondisiku.
“ kau bawalah kembali, aku tidak ingin makan”
“ tapi ketua mengatakan anda harus makan”
“ bilang pada ketuamu, dia tidak berhak menyuruhku makan”
__ADS_1
Pelayan itupun pergi beserta makanan ditangannya. Rasa laparku tiba-tiba menghilang, hanya ingin berdiam disini. Tak lama kemudian Alba, Kenzo serta Vero masuk. Mungkin mereka diberitahu jika saat ini aku sedang ditahan.
“ Zuka,, kamu tak apa? Sebenarnya apa yang kamu lakukan sehingga dikurung disini?” vero tampak cemas melihat keadaanku. Bahkan langkah kakinya terlihat tergesa untuk segera mendekat.
“ kalian perrgilah, aku sedang tak ingin mengatakan apapun” menarik diri membelakangi mereka. Punggungku bersandar pada tiang kurungan.
“ kami akan mencoba meminta maaf pada ketua, semoga kau bisa di bebaskan” Alba mengatakanya dengan nada serius.
“ tak perlu, aku tak menyesali perbuatanku sedikit pun” hening. Tak ada yang memulai pembicaraan lagi. Sepertinya mereka bingung dengan keadaan ini.
Tak mendapatkan apapun dari pertemuan ini, membuat mereka bertiga memilih keluar meninggalkanku. Menekuk kedua kaki dan meletakkan kepalaku disana. Meringkuk dalam kurungan ini. Hanya ingin sendiri.
Waktu terus bergulir kini hari sudah malam, aku bisa mengetahuinya. Ruangan ini tidak berada di bawah tanah ataupun tempat tersembunyi, jadi bisa melihat cahaya matahari dari celah-celah dinding kayu ruangan. Sejak kepergian Alba dan yang lainnya, tidak ada yang memasuki ruangan ini. Pelayan pengantar makana juga tak kembali. Entah bagaimana situasi di luar. Apa mungkin rombonganku sudah pergi sesuai dengan perintah kenzo di awal. Jika benar aku juga merasa lega, mereka tidak ada sangkut pautnya dengan tindakanku.
Satu hari penuh di dalam kurungan tanpa makan ataupun minum membuat tubuhku mulai melemah. Tenggorokan kering, rasa kram di perut juga mulai kembali. Kalaupun harus mati disini hanya satu keinginnaku, melihat tuan En. Menatap wajahnya untuk yang terakhir kalinya. Begitu merindukannnya, semua hal tentangnya.
Tiba-tiba mengingat keinginan besar tuan En. Pewaris kerajaan, anak laki-laki dariku. Pasti menyenangkan bila hal itu benar terjadi. Terhitung sudah setengah bulan lebih meninggalkan kerajaan.
Membuatku baru menyadari, jika perut ini sedikit membuncit.
‘tunggu, apa aku hamil?’ jika di hitung memang sudah satu bulan setengah lebih dari hari berdarah terakhir kali. Apa aku harus bahagia ataukah sedih? Kondisi ini sungguh tidak tepat. Bagaimana jika aku gagal dalam menjaganya.
Krek
Pintu terbuka, disana ada Ares bersama ketua. Malam-malam begini mereka datang, apa mungkin kini saatnya menerima hukuman. Diam tak bergeming dari dalam kurungan, tak ingin menyambut kedatangan mereka berdua.
“ zuka, kau tak apa?” Ares mencoba mengajak bicara, hanya menoleh sebagai balasannya. Sedikit demi sedikit mengubah posisiku menjadi duduk menghadap mereka.
“ sebenarnya apa mau mu?” giliran ketua bertanya.
“ kenapa gelang itu ada padamu?, jadi kau orangnya menerobos markas di Swen itu?” lanjut ketua. Ares menatapku dengan ekpresi kaget, mengetahui fakta yang begitu berbahaya ini. Aku sengaja memperlihatkan gelang ini, mungkin ada gunanya nanti.
__ADS_1
“ aku ingin bertemu dengan pemilik gelang ini” jawabku datar.
“ menemui istriku?, tidak aku izinkan”
“ istri? Jadi dia sudah menikah denganmu sekarang. Ha ha ha.”
“ Zuka , jaga bicaramu di depan ketua”
“ ketua?, ya, apa aku harus memanggilmu ayah?, hahaha”
Kedua orang itu tampak semakin bingung dengan perkataanku.
“ apa maksud dari ucapanmu?” ketua kini mulai marah, dari suaranya yang semakin meninggi.
“ aku ingin bertemu dengan pemilik gelang ini” jawabku tetap sama.
Seakan paham dengan situasi ini, ketua menoleh pada Ares. Menyuruhnya memanggil istri tercintanya. Beberapa lama hanya diam, situasi menjadi hening. Aku terus menatapnya dengan tajam.
Tak lama kemudian orang yang ku tunggu sudah datang. Dia berjalan pelan dengan terus menatap ke arahku, akupun membalas tatapannya dengan hal yang sama.
“ katakan apa yang kau inginkan. Istriku adalah pemilik gelang yang kau pakai itu”
“ gelang apa ? “ wantia itu tampak belum bisa mencerna situasinya. Menatap penuh tanya pada ketua.
“ kau mencari gelang ini?” memotong pembicaraan mereka. Wanita itu tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“gelang itu, kenapa bisa ada padamu?” tak ada nada marah, suaranya masih saja tenang.
“ dia orang yang menerobos markas waktu itu “ ketua menjawabnya untukku.
“ bagaimana kabarmu ibu?”
Pandangan mereka langsung menatapku tak percaya. Diam seribu bahasa setelah mendengar perkataanku. Aku melepaskan pengikat rambut, membiarkan rambut ini terjuntai setelah sekian lama selalu terikat rapat.
“ masih mengingatku ibu?” wanita itu melangkah mundur, dan tiba-tiba jatuh terduduk di lantai. Ketua langsung membantu wanita itu untuk berdiri.
__ADS_1
“ Zen,, apa itu kau,, Zenia ku?” suaranya bergetar seakan ingin menangis. Dan benar saja, sudut matanya kini mengalir air yang cukup deras.