
... ...
“ apa yang,,” Morgan mengiris telapak tanganku. Aku meringis merasakan sayatan dari pisatu kecil itu. Meneteskan darahku diatas luka Zoya. Bukan itu saja dia juga mengambil mangkok untuk menampung darahku disana.
Lucien bahkan tak berkedip melihat kelakuan Morgan. Setelah beberapa lama, Morgan memberikan kain padaku.
“ balut lukamu” mengikuti semua perintahnya. Morgan memerikas denyut nadi Zoya setelah dia meminumkan air dengan kandungan darahku.
“ untung saja” mendengar ucapan Morgan, Lucien merasa sedikit aneh dan mendekati ranjang untuk memastikan rasa penasarannya.
“ bagaimana bisa?” menatap Morgan dengan wajah tak terima.
“ kenapa? Bagaimana kondisinya?” aku juga ikut penasaran dengan situasi ini.
“ nadinya kembali normal, kondisinya sudah tak mengkhawatirkan lagi” jawab Lucien.
“ jelaskan pada kami sebenarnya apa yang terjadi disini?” kami berdua kompak menatap Morgan tajam.
Morgan hanya menghembuskan nafasnya kasar, kemudian tersenyum ringan.
“ lebih baik kau beritahu Zen, dia mungkin menunggu kabar darimu” meninggalkan kami begitu saja tanpa penjelasan.
“ kau rawatlah Zoya” tidak ada pilihan. Aku meninggalkan Lucien yang masih terpaku mencerna apa yang baru saja terjadi. Pergi menemui Zenia, dia pasti sedang menungguku.
Aku berjalan keluar dan pergi ke ruanganku. Sesuai dengan perediksi Zenia masih duduk di sofa. Dia terlihat cemas dengan kedua tangannya saling berpegangan.
“ bagaimana kondisi ibu?” matanya masih basah. Begitu tau aku masuk dia langsung berdiri menghampiriku. Aku mengelus wajah sedihnya.
“sudah lebih baik, tinggal menunggunya sadar” zenia menghembuskan nafas lega.
“ syukurlah. Terimakasih” memelukku erat.
“ kau sudah makan?” dia menggangguk pelan. Kulihat makanan di meja sudah berkurang meskipun sangat sedikit.
“ baiklah, sekarang kau tidurlah, kau masih butuh istirahat” tak ingin mempermasalahkan nafsu makannya, di situasi seperti ini tidak mungkin dia bisa nyaman memakan hidangan itu. Zenia langsung menurut dan menaiki ranjang.
“ tuan mau kemana?” menyadari jika aku masih terdiam di samping ranjang.
“ aku akan membersihkan diri, kau tidurlah dulu, aku akan menyusul” tersenyum manis padaku. Mengambil bantal dan langsung berbaring. Dia sangat penurut sekali sekarang, membuatku gemas sendiri.
Setelah menyelesaikan ritual mandi, aku menuju ranjang. Zenia sudah tertidur, pasti melegakan baginya mengetahui kondisi ibunya. Membuatnya menyadari rasa lelah di tubuh dan langsung menyambut alam mimpi.
__ADS_1
“ tidurlah yang tenang” aku sudah di sampingnya. Mengelus perut buncitnya. Aku begitu menghawatirkan kandungan Zenia. Anak ini harus selamat, bagaimanapun caranya.
“ yang kuat” aku mencium perut Zenia.
“ tuan,,” lirih Zen,
“ aku membangunkanmu ya, kemari tidurlah kembali” merentangkan tanganku dan memelukanya. Meski rasa sakit di bahuku masih terasa aku ingin menahannya. Besok saja aku akan menyuruh Lucien memeriksanya. Hal ini masih bisa di tunda.
****
“ bagaimana bisa anda menahannya, tulang bahu bergeser cukup parah yang mulia!” Lucien begitu cerewet ketika sudah memeriksa lukaku.
“ aku tidak menyuruhmu berkomentar, cepat obati” aku menemui Lucien ketika Zen pergi menjaga ibunya.
“ kenapa tanganku kau tali begini?” tangan kananku di tali sedemikian rupa membuatnya tak bisa bergerak sedikitpun.
“ biarkan begini beberapa hari, agar bahu anda kembali normal” kemudian meninggalkanku sendiri.
“ kenapa dengan tangan tuan?” tanya Zenia ketika bertemu denganku saat keluar ruangan.
“ tak apa, Lucien sedang merajuk jadi mengobatiku dengan berlebihan” jawabku entang.
“ hem, tuan sudah sarapan? Ayo aku bantu” tidak buruk juga. Berkat Lucien aku bisa sedikit bermanja pada Zenia.
“ kau sendiri sudah makan?”
“ zen sengaja menunggu tuan untuk makan bersama” setelah selesai memilih makanan.
“ buka mulut tuan” sendok penuh makanan sudah berada di depan mulutku.
“ bagaimana? enak?” aku mengangguk pelan. Entah rasa makanan ini berkali-kali terasa nikmat dari sebelumnya, mungkin karena setelah sekian lama kini bisa makan berdua dengan Zenia. Situasi ini begitu ku rindukan. Setelah menyuapiku sesendok gantian dia mengambil satu sendok. Begitu seterusnya sampai makanan itu tandas tak bersisa. Nafsu makan Zen bertambah cukup banyak pagi ini.
Setelah sarapan Zen kembali menjaga ibunya. Aku mencari Morgan untuk meminta penjelasan padanya. Aku masuk ke ruangannya, dia terlihat sedang membaca buku di mejanya.
“ ehemm,,” langsung duduk menghadapnya di sofa. Berada di samping mejanya.
“ yang mulia, ada yang bisa saya bantu?” meletakkan bukunya dan berjalan ke arahku.
“ penjelasan mengenai semalam” jawabku.
__ADS_1
Morgan hanya tersenyum kecil mendengar jawabanku. Sepertinya memang dia sudah mengetahui alasan kedatanganku. Kemudian duduk di sampingku.
“ darah ini adalah bukti kuat kau anak Kahla” menatap luka di telapak tangan kiriku.
“ maksud mu? Kau mengenal ibuku?” mata Morgan menerawang jauh, tak ada satu katapun yang keluar. Jadi selama ini Morgan menyembunyikan semuanya padaku. Makanya dia tak begitu antusias jika akau menyuruhnya menyelidiki dayang ibu yang mati secara tiba-tiba.
“ tunggu sampai Zoya sadar, dia pasti mengetahui alasannya”
“ kenapa kau selalu saja mempermainkan ku. Membuatku penasaran saja” langsung saja pergi meninggalkan ruangannya. Morgan hanya diam melihat kepergianku. Entah sudah berapa kali dia selalu saja membuatku menunggu dengan rasa penasaran.
Hari sudah mendekati malam ketika Zoya muali sadar. Lucien langsung memanggilku dan Zen. Kami bertiga kini berada di sisi ranjang Zoya.
“ bagaimana kondisi ibu?” Zenia duduk sambil menggenggam tangan ibunya.
“ ibu sudah lebih baik” suara Zoya begitu lemah, tubuhnya masih banyak membutuhkan istirahat. Setelah menjawab Zoya menoleh ke arahku. Ia melihatku lama.
“ terimakasih sudah membawaku keluar” aku tidak menyangka Zoya mau berkata seperti itu, bukankah kami musuh bebuyutan. Rasanya ingin mual mendengar ucapannya, apa mungkin karena ada Zenia disini, jadi sedikit menampilkan rasa bersalahnya.
“ tidak perlu khawatir, aku melakukan semua ini untuk Zenia” jawabku malas. Lalu pergi keluar dari ruangan. Aku masih belum bisa menerima Zoya begitu saja. Rasa sakit akibat kutukan itu sangat jelas aku rasakan. Bahkan ketika Zen pergi dariku waktu itu, Rasa sakitya menjadi naik berkali-kali lipat. Aku menduga dia pasti melakukan sihir hitam untuk membuatku semakin kesakitan.
“ kenapa kau pergi?” Morgan mendekatiku. Kami sedang berada di halaman belakang markas. Aku sengaja memilih tempat yang sepi untuk menyendiri sejenak.
“ setelah aku berfikir cukup lama, apa mungkin darahku bisa menetralkan racun?” aku menoleh menatap Morgan. Dia terdiam benar-benar tak ingin mengatakannya padaku.
“apa sejenis racun seperti opium bisa aku sembuhkan?” aku masih sangat mengkhawatirkan kondisi ayah di kerajaan.
Kini gantian Morgan yang menoleh, menatap ke arahku. Sorot matanya tak terbaca. Tapi satu yang pasti dia tidak terlihat meyangkalnia. Lebih baik aku mencobanya pada ayah.
“ kau akan pergi ke istana?” begitu aku balik badan Morgan malah bertanya.
“ menurutmu?” melangkah menjauh darinya.
“ dia sudah memilih” menarik tanganku pelan. berusaha mencegahku untuk pergi.
“ maksudmu?”
“ kaisar sudah mengetahuinya sejak lama, tapi dia memilih untuk menerima karmanya”
“ omong kosong” menyentak pegangannya tak terima dengan perkataanya. Aku melangkah panjang ingin segera menemui ayah.
“ istana sedang kacau, disana sangat berbahaya”
“ kau fikir aku anak ingusan” aku tumbuh didalam kerajaan, disana berbagi macam situasi sudah pernah aku temui. Hanya mengandalkn kata berbahaya mana mungkin bisa menghentikanku. Payah.
__ADS_1