
Samar-samar aku bisa mendengar suara ribut di bagian depan. Setelah mengeluarkan semua rasa penyesalanku kepada ayah, atau kini lebih tepat memanggilnya sebagai mendiang ayah, aku dan Lucien memilih bersembunyi di istana bulan. Kalau bukan karena bujukan dan paksaan Lucien mungkin saat ini kami sudah tertangkap. Kabar ini benar-benar membuatku syok, rasanya tak ingin meninggalkan ayah sendirian. Istana semakin hari semakin kacau. Benar saja berita mengenai kerjasamaku dengan pemberontak terus saja di gaungkan. Mungkin ini adalah alasannya kenapa kematian ayah belum sampai di beritakan keluar. Karena memang saat ini bukan waktu yang tepat.
“ yang mulia kita sebaiknya ke atas, para penjaga mulai menyusuri istana ini”
Sesuai dengan permintaan Lucien kami naik ke atap istana. Aku sudah tak bisa berfikir, kematian ayah begitu menghatamku keras. Dari sini aku bisa melihat langit malam yang begitu pekat. Tak ada cahaya, sebentar lagi mungkin hujan akan segera turun. Entah berapa lama sampai penjaga itu pergi, aku masih saja diam menatap langit.
“ penjaga sudah pergi, kita bisa turun”
Tepat di atas ranjang aku berbaring, Lucien entah pergi kemana. Aku diam tanpa bisa menutup mata. Semua bayangan ayah semakin sering terbayang saat mataku tertutup, jadi aku putuskan untuk tidak menutup mataku saat ini. Meski tubuh terasa lelah tak bisa menggodaku untuk terlelap.
Pagi sudah datang, tapi mentari masih tak mau terlihat. Mendung semalam mengantarkan hujan menutupi langit pagi. Suasana menjadi begitu sepi.
Aku berjalan dengan gontai menuju salinan berkas yang ayah berikan padaku sebelumnya.
“ yang mulia saya sudah menyiapkan makanan, mari makan”
Pertengahan jalan Lucien masuk, sejak semalam memang dia tidak terlihat. Kini dengan baju yang basah membawakan makanan padaku. Aku hanya menatapnya sekilas dan melanjutkan untuk mengambil berkas.
Setelah menemukannya aku membawanya ke tempat Lucien tadi. Dia sudah menata beberapa macam makanan di atas meja.
“ apa itu yang mulia?”
“ ini ..dari ayah. “
Lucien mengambilnya dan membukanya. Memang aku ingin Lucien yang membawa berkas itu. Sangat menghawatirkan jika ada padaku, permaisuri akan lebih mudah mengambilnya.
“ ini dekrit kaisar, disini ada bukti kejahatan permaisuri, bagaimana bisa?”
“ entahlah, sepertinya ayah sudah mempersiapkan semuanya”
“ kalau begitu kita bisa menggunakannya sekarang”
“ justru karena situasi sekarang masih kacau, hal ini tidak boleh ada yang tahu”
__ADS_1
“ tapi kenapa, dengan ini kita bisa membalikkan keadaan”
“ tidak, sebelum rumor tentang kerjasamaku dengan pemberontak hilang. Maka bekas itu tidak bisa digunakan. Kita harus menggunaannya di waktu yang tepat.”
“ saya tidak mengerti”
“ sudahlah, kau simpan itu. Dan segera pergi darisini. Biar aku yang melakukan sisanya”
“ tidak ,tidak. Saya akan selalu disamping yang mulia”
“ jangan merengek, turuti saja perintahku. Setelah kau pergi, jaga kelompok dengan aman. Tunggu pesan dariku baru kalian bisa keluar”
“ yang mulia memiliki rencana apa?”
“ kau tak perlu tau,”
Akhirnya setelah perdebatan lama, Lucien bersedia melakukan perintahku. Meskipun sebenarnya dia berat meninggalkanku sendiri. Ya, aku bisa mengerti kemauannya. Tapi tidak, sekarang adalah puncak dari semua permasalahan. Asalkan Zen aman tidak ada hal lain lagi yang aku khawatirkan.
“ kita bertemu lagi lain waktu” aku mengatakannya sebagai kaliamt perpisahanku.
“ yang mulia harus kembali, kami akan menunggu” Lucien memelukku erat.
Hari sudah semakin siang, tunggu sampai besok. Mungkin penjagaan sedikit lenggang. Aku harus kembali masuk ke istana kekaisaran. jelas sekali jika saat ini bukan waktu yang tepat menurut permaisuri, maka saat ini akan lebih tepat untuk memanfaatkan keadaan. Kematian kaisar masih di sembunyikan, bagaimanapun caranya aku harus membuat hal ini diketahui dan tersebar.
Pagi sudah tiba, aku sudah siap dengan tangan kosong, berjalan perlahan menuju istana kekaisaran. Dengan santainya menikmati pemandangan kerajaan yang sangat jarang aku nikamti sebelumnya.
Melihat kehadiranku beberapa penjaga sudah mulai berkumpul, mereka terlihat gegabah dan tidak menyangka bisa melihatku tepat di tengah kekaisaran. Mereka pasti bertanya-tanya darimana aku datang, dan kenapa bisa masuk dengan mudah.
Tepat di depan istana kekaisaran aku berhenti, deretan penjaga dengan sigap menutup pintu masuk. Aku tertawa singkat mereka begitu takut menghadapi seorang bertangan kosong sepertiku.
“ beritahu kaisar kalau aku ingin bertemu dengannya.” Teriakku lantang. Tujuanku memang ini. Ku lihat salah seorang dari sana sedang berlari menjauhi istana, pasti menuju ke istana permaisuri aku bisa menebaknya dengan mudah.
“ apa yang sedang kalian lakukan, cepat tangkap pemberontak itu” tak lama wanita yang ku tunggu datang. Dengan wajah tak percayanya dia berjalan angkuh mendekati para penjaga.
__ADS_1
“ tenang yang mulia permaisuri, aku akan menerima semua hukumanku. Tapi izinkan aku bertemu dengan kaisar” jawabku pelan.
Para penjaga terhenti, mereka menunggu keputusan dari permaisuri.
“ jangan mengganggu kaisar. Kau tahu karena masalah ini kesehatan kaisar terus menurun. Segera tebuslah semua kesalahanmu” perkataan begitu licik, entah harus berapa lama dia akan menyembunyikan kematian kaisar.
“ aku hanya ingin meilhat ayahku saja,” aku harus memainan peran ini dengan baik.
Permaisuri mendadak diam, dia seperti mulai membaca rencana sebenarnya dari aksiku ini. Tapi di seperti terlihat ragu-ragu. Dia pasti tidak percaya jika aku sudah mengetahui kematian ayah.
“ apa yang sebenarnya kau inginkan?” pertanyaan itu terdengar seperti lelucon bagiku.
“ aku sudah mengatakan dengan jelas, aku ingin melihat ayahku.”
Permaisuri tertawa meremehkan.
“ aku fikir kau siapa, hanya sekumpulan pemberontak berani bertemu dengan kaisar”
“ apa kau lupa, aku ini putra mahkota. Kasus pemberontakan juga tak pernah bisa dibuktikan. Kau hanya menggunakan asumsi tak berdasarmu”
“ berani sekali kau berbicara ?”
“ memangnya kenapa aku tak berani? “ permaisuri tertawa sumbang.
“ tak ada kesempatan bagimu untuk melihat ayah tercintamu.” Bisiknya padaku.
Aku tahu dia mencoba memancingku,namun salah. Dia bahkan memberikan celahnya padaku.
“ apa kau bilang, ayah sudah meninggal?” ku keraskan ucapanku. Kini beberapa penjaga terlihat saling pandang. Mereka pasti mendengar dengan jelas perkataanku. Wajah permaisuri berubah pias, raut ketakutan mulai terlihat.
“ ti,,tidak. Apa yang kau bicarakan? Ucapanmu mengandung keburukan. Segera kurung dia” penjaga semakin mendekat.
“ apa kalian bodoh. Jika memang kaisar masih hidup sekarang biarkan aku melihat kaisar. “ langkah mereka terhenti.
“ kalian lebih mendengarkan pemberontak ini. Segera tangkap, atau kalian juga akan dihukum”
__ADS_1