The Empero'S Prisoner

The Empero'S Prisoner
22


__ADS_3

“ sepertinya harus,,” ucap kak Lu sambil merilik ke arahku.


“ kita sudahi saja, malam ini aku akan memikirkannya” tuan En langsung memotong perkataan kak Lu. Sebenarnya ku pensaran dengan kelanjutannya. Sebaiknya aku tidak membuat tuan En marah sudah cukup aku mendengar amarahnya tadi.


“ baik yang mulia” jawabku. Aku harus bersikap lebih baik sekarang. Sebagai jaminan agar masalah ini cepat terselesaikan.


 


***** 


 


Mulai hari ini semua agenda latihanku di hentikan. Aku sudah sempat ingin marah kepada kak Lu, sedikit lagi. Sedikit lagi aku bahkan bisa memulai balas dendam ini. Sedikit lagi aku bisa mengetahui di balik kejadian 5 tahun lalu. Semuannya hancur karena jebankan permaisuri.


 


“tuan En ,bagaimana kesepakatannya. Saya ingin segera mengetahui semua dibalik kejadian pembantai itu. Bukankah tuan sudah menjanjikannya?” siang ini tuan En datang ke istansku. Dia mengatakan bahwa hal ini normal bagi pasangan yang hamil muda, jadi harus sering dilakukan. Saling mencintai dan tak terpisahkan adalah yang ingin ditampilkan tuan En kepada penghuni kerajaaan.


 


“ Zen, situasi sekaang cukup rumit, jadi semua kesepakatan sepertinya akan berubah” tuan En dengan santai memakan kudapan, tak menghiraukanku yang sudah gelisah.


 


“ tapi tuan, saya sudah melatih kemampuan diri serta mengikuti semua sesuai dengan kesepakatan, jadi tidakkah yang mulia melihat kegigihan saya?” bagaimanapun semua harapanku masih abu-abu, aku harus berusaha lebih keras untuk melobi tuan En.


 


“ begini saja, setelah masalah ini selesai aku akan mengatakannya.” Meletakkan kulit anggur yang dia kupas, lalu memberikannya kepadaku buahnya.


 


“ tuan En selalu pintar dalam mengulur waktu” meskipun aku begitu dongkol, tapi aku tak bisa menampilkannya. Harus tetap bermuka manis meski aslinya geram. aku mengambil buah itu, dan melihatnya tersenyum. Tak lupa tangannya yang mengelus pipiku lembut.


 


“ tentu saja, itu salah satu keahlianku” sautnya penuh percaya diri.


“ jadi apakah tuan En sudah memikirkan, bagaimana mengatasi masalah ini?” aku teringat dengan perkataanya semalam.


 


Uhuk..uhuk


Aku mengambilkan minum dan membantunya menepuk punggung dengan pelan. Sepertinya tuan En tersedak karena kaget dengan pertanyaanku.


“,, itu,, untuk satu bulan ke depan kau harus menampilkan tanda-tanda kehamilan yang parah. Misalkan muntah berlebihan, nafsu makan hilang atau lemas dan lelah. Buat semua orang percaya jika kamu tengah hamil” panjang lebar penjelasannya. Entah dari mana dia mengetahuinya, aku sendiri baru tau bahwa kehamilan memiliki tanda-tanda. Aku mengangguk dan mengingat semuanya sebisaku.

__ADS_1


 


“ untuk selanjutnya bagaimana?” aku harus tau rencana jangka panjangnya. Keselamatanku dipertaruhkan disini.


“ mungkin,,,bisa berpura-pura untuk,, keguguran” tuan En membisikkanya. Aku tak percaya dengan ini, tapi kalau difikir-fikir bagus juga rencana tuan En. Semua bisa kembali seperti semula.


“ meskipun itu akan berdampak kepada pandangan kaisar terhadapmu” lanjut tuan En. Tangnnya meremas tanganku pelan. Mencoba memberikan kekuatan, entah baik atau buruk yang penting tidak sampai menghilangkan nyawaku sudah membuatku bersyukur.


“ itu tidak menjadi masalah untuk saya, tuan “ jawabku mantap.


 


Setelah makan siang tuan En meninggalkan istana harem. Kini aku ditemani oleh Cilla, berbincang ringan di taman samping istana. Tuan En akhirnya melepaskannya, tidak menghukum ataupun mencoba menyulitkannya. Setelah segala macam alasan akhirnya dapat meluluhkan hati tuan En.


 


Cilla mengatakan jika ternyata dirinya yang disuruh untuk menuangkan bubuk beracun yang membuatku tak sadar seharian itu. Aku begitu kecewa mendengarnya saat itu. Cilla sudah aku percaya untuk menjadi pelayan serta keluarga bagiku.


 


Setelah berfikir dia juga tak jauh beda denganku. Demi balas dendam memang tak ada yang bisa menghalanginya. Seperti dulu saat aku salah paham dengan tuan En. Bahkan menukarnya dengan nyawaku tak jadi masalah, asalkan kematian menimpanya.


 


Karena itulah, aku bisa memahami Cilla. Aku memaafkanya dan aku juga tau dia teramat menyesal. Semuanya kembali seperti semula. Hubungan kami malah jauh lebih erat. Saling menjaga dan melindungi, adalah ikatan kami sekarang.


 


 


“ baik yang mulia, saya akan melakukan semuanya tanpa kesalahan.” Jawab Cilla dengan antusias.


“ sudah aku bilang jika berdua jangan memanggilku seperti itu”


“ saya tidak berani, bagaimana dengan panggilkan nyonya, saya rasa lebih sopan daripada panggilan kakak”


“ baiklah, ikuti kemauan kamu saja.”


“ nyonya memang yang terbaik. Saya ingin menemani nyonya selamanya disini”


“ benarkah itu? Kau tidak ingin menikah dan mempunyai keluarga kecil?”


“ saya sudah mempunyainya, keluarga kecil saya berisikan nyonya”


“ manis sekali, oia berapa umurmu tahun ini?”


“ kira-kira tahun ini saya akan 16 tahun nyonya”

__ADS_1


“ aku 18 tahun, kita hanya berjarak 2 tahun. Sebaiknya aku mulai mencarikanmu calon suami. Bagaimana?”


“ nyonya, saya tidak ingin menikah cepat-cepat. “


“ hanya calon Cilla, buat jaga-jaga saja. Siapa tahu anggota kerajaan ada yang berminat padamu” sambil mencolek dagunya, dia begitu menggemaskan.


“ ih nyonya, “ dia terlihat merah padam, senang sekali bisa menggodanya.


 


Malam ini aku meminta Cilla untuk memanggil kak Lu agar menemui ku. Ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan padanya. Tak ingin sampai tuan En mengetahuinya jadi malam adalah waktu terbaik.


 


“ kak Lu, aku ingat jika kakak pintar dalam meracik ramuan. Apa aku boleh minta bantuan??” Saat ini kami berada di balkon belakang istanaku. Melihat langit malam bisa lebih menenangkan hatiku. Belum lagi suasana disini cukup damai.


 


“memangnya selir Zen ingin bantuan apa?”


“adakah cara untuk menghambat agenda berdarah serta bisa memicu pendarah berlebih?” aku sedikit berbisik. Meskipun suasana cukup sepi, tapi di istana tembokpun bisa memiliki telinga.


 


“saya memang berencana meraciknya, putra mahkota En sudah memerintahkannya” tuan En memang sangatlah pintar. Semuanya sudah di urus dengan rapi. Pantas saja dia sulit di kalahkan.


 


“ oia, kemarin sepertinya kak Lu ingin memberikan saran terkait dengan masalah ini. Karena terpotong jadi aku penasaran saran apa itu” kak Lu memperbaiki duduknya.


“ mungkin saja bisa lebih baik dari rencana tuan En” lanjutku. Kak Lu terlihat diam sejenak, seolah menimbang apakah mengatakannya atau tidak. Aku memajukan dudukku, menandakan aku begitu tertarik dengan jawabannnya.


“ bisa dibilang lebih baik, bahkan sempurna” kenapa ekspresi kak Lu menjadi jail. Sorot matanya seakan sedang menggodaku. Meskipun sedikit curiga aku tetap menunggu jawabannya.


“ kalian bisa merencanakan untuk,,, benar-benar ,, hamil” bisiknya sambil mengedipkan sebelah matanya. Benar-benar hamil? Jadi maksudnya aku dan tuan En.


“ tidak bisa !,” sentakku.


“ apa kak Lu tidak bisa melihat jika aku ini ingin membalas dendam atas kejadian 5 tahun lalu. Memiliki anak malah akan menjadikannya korban selanjutnya. Aku tak mau mengambil resiko lebih besar.” Aku masih mengatur nafasku bahkan setelah aku mengucapkan semuanya. Emosi ini tiba-tiba naik saat menanggapi perkataan kak Lu.


“ selir Zen, apakah masih mencurigai putra mahkota?” telisiknya.


“ emm,, aku tak tau. Tapi aku tidak berencana menetap di kerajaan. Jika,,”


“ dengarkan saya, putra mahkota bukanlah pelaku pembantaian. Dia di jebak. Karena masalah ini putra mahkota bahkan,,” tiba-tiba kak Lu menghentikan kalimatnya.


“ bahkan apa ?”

__ADS_1


“ ah,,,, yang penting kau harus percaya jika putra mahkota begitu ingin melindungimu. Jika sampai terdengar kabar keguguran bisa jadi putra mahkota akan dipaksa menikahi”


__ADS_2