
Sejak membuka mata aku merasa asing dengan tempat ini. Semuanya seakan berubah begitu saja. Tak ada yang aku kenal, hanya ibu saja. Sebenarnya apa yang sudah terlewatakan, aku tak bisa mengingat apapun.
“ ibu, kenapa kita pindah kesini? “ kami tengah berbincang ringan di taman belakang.
“ iya, ini adalah rumah ayah tiri kamu. “
“ dia orang yang kaya ya, terus apa yang terjadi dengan Zen?” ibu tampak berfikir, lama tidak menjawab pertanyaan.
“ emm,, kamu pingsan selama 2 hari. Kau sekarang sedang mengandung. Karena kelelahan jadi tubuhmu melemah” ibu mengelus pelan tanganku.
“ Zen kan masih kecil kenapa bisa mengandung?” apa ibu sedang bercanda. Usiaku bari saja 13 tahun, dimana ada anak usia 13 tahun bisa mengandung.
“ Zen sudah besar sekarang, umur Zen hampir 19 tahun.”
“ tapi kenapa Zen tidak mengingat apapun bu?” semakin sulit untuk aku fikirkan, bangun tidur tiba-tiba aku sudah berusia hampir 19 tahun. Ini ajaib benar-benar ajaib.
“ karena Zen sedang mengandung, nanti setelah melahirkan pasti ingat semuannya”
“ oh begitu, Zen baru tahu, hehehe” angin disini terasa sejuk, betah sekali berlama-lama disini dengan ibu.
“ Zen, nyo,,emm ibu, kalian disini?” seorang laki-laki menghampiri kami. Laki-laki yang sama yang memasuki kamarku kemarin.
“ dia siapa bu?”
“ dia ini suami kamu, Ares “
“ tapi dia jelek, Zen tidak suka. Zen mau suami yang tampan” kenapa aku memilih dia sebagai suamiku. Wajahnya tidak menarik. Aku bercita-cita memiliki suami yang tampan saat aku besar nanti.
“ zen tidak boleh seperti itu. Dia ini suami kamu. Yang sopan ya.” Ibu menasehatiku. Tapi entah kenapa aku benar-benar tidak terima jika dia menjadi suamiku. Aku harus mencari lai-laki lain untuk menjadi suamiku nanti. Laki-laki yang tampan dan kaya.
“ maaf” cicitku
“ sudahlah tidak apa-apa. Mari masuk. Hari semakin siang, lebih baik kamu pergi istirahat. Tubuh kamu masih lemah” ares membantuku berdiri. Aku memegang perutku, disana ada bayi kecil, jadi mulai sekarang harus hati-hati.
Setelah memasuki kamar, Ares terus membantuku menaiki ranjang. Menarik selimut dan mengusap kepalaku pelan. Sampai aku benar-benar tertidur.
“zen, aku ingin penerus. Anak laki-laki darimu”
“ zen, kemari makanlah denganku.”
“ zen, aku sudah bilang perhatikan langkahmu.”
__ADS_1
“ aku suka Zenku yang berani, tapi tidak malam ini,,,”
“ zen tinggallah disini malam ini..”
.....
Terbangun dengan dada berdegup kencang, bahkan nafas ini memburu. Aku bermimpi aneh, siapa pria yang ada di mimpiku itu. Dia terus memanggilku. Kenapa aku merasa tenang di dekatnya. Bersama dengannya aku terlihat bahagia. Sosok itu menjadi pertanyaan besar bagiku. Apalagi sepertinya disana aku berada di lingkungan bangsawan. Megah sekali kamarnya. Ini mimpi yang aneh. Dan pria itu begitu tampan. Jika saja itu benar-benar terjadi aku akan senang. Menjadi istrinya pasti menyenangkan.
“ kau sudah bangun istriku?” menatap Ares lama, suamiku ini kenapa aku merasa asing.
“ apa aku benar-benar menikah denganmu? Pasti ini karena paksaan.”
“ em,, tidak. Kita saling mencintai kok. Pasti kau lupa, nanti setelah melahirkan kau pasti mengingat cinta kita berdua”
“ kenapa aku bisa menerimamu?bagaimana awal kita bertemu?”terus memberondongnya dengan pertanyaan. Seakan diriku meragukan semua perkataanya.
“ aku terkenal baik hati jadi kau luluh padaku,, “ kenapa manik nya terlihat aneh. Dia mengedipkan sebelah matanya kepadaku. Ih.
“ hari sudah gelap, mari aku bantu kau makan “
“ tidak perlu, aku bisa sendiri”
“ kau sedang mengandung, berhati-hatilah saat berjalan”
****
Sudah beberapa minggu terlewati, sekarang perutku semakin besar. Menurut tabib perkiraan usianya 3 bulan. aku sendiri bahkan melupakan usia bayiku. Ibu macam apa aku ini. Ingi segera melahirkan agar bisa mengingat semuanya.
Beberapa hari yang lalu ibu mengatakan bahwa kita akan berpindah tempat. Karena suasan disini tidak memadahi untuk orang yang akan memiliki anak sepertiku. Mereka mengatakan jika sebenarnya rumah ini berada di gunung, segala hal yang berhubungan dengan persalinan akan sulit ditemukan. Tak ingin terjadi hal yang buruk saat melahirkan nanti, maka ibu dan ayah memutuskan untuk berpindah tempat sementara waktu.
Ini memang benar, perjalanan untuk turun saja begitu melelahkan. Mesti aku naik tandu tapi terus menjaga diriku agar tidak terbentur dinding tandu. Mau tidak mau memang begini cara paling aman, jalannya juga sedikit curam dan berliku. Untung saja tidak terjadi hal yang buruk hingga sampai di kaki gunung. Setelah itu aku dan ibu naik kereta kuda. Entahlah kemana mereka akan membawaku, yang penting bersama ibu, hatiku sudah tenang.
“ zen,,bangunlah kita sudah sampai” ibu menepuk pipiku pelan. Perjalanan ku habiskan dengan tertidur, rasanya memang mengatuk sekali.
“ emm,, sudah sampai ya” mengusap mataku.
“ ayo turun.” Ibu turun terlebih dahulu. Saat bersiap turun kaki tiba-tiba sakit ketika di gerakkan. Kebas karena meneruk sepanjang perjalanan.
__ADS_1
“kaki Zen sakit, tidak bisa bergerak” teriakku
“ sebentar, ibu panggil Ares dulu. “
Beberapa saat kemudian terdengar langkah kaki mendekat.
“ kau tidak apa-apa, sini aku akan menggendongmu” awalnya ingin menolak tapi ku urungkan. Kakiku benar-benar sulit di gerakkan.
Jadi kini Ares menggendongku di depan, seperti seorang pengantin. Menggendongku sampai pada teras sebuah rumah. Tempat ini terbilang bagus, semuanya tertawa rapi. Rumah ini berlantai dua, di bagian depannya terdapat pagar kayu serta taman dan halaman depan yang luas. Setelah itu balkon rumah yang terdapat beberapa kursi dan meja. Di halaman terdapat 2 pohon sakura yang cukup besar. Indah sekali.
“ ibu, rumah ini sangat bagus. Zen suka”
“ wah, ibu senang sekali mendengarnya. Kau tahu ini adalah hadiah dari ayahmu untuk cucunya”
“ terimakasih ayah, kau baik sekali” ayah tiba-tiba memelukku erat. Meski aku tahu dia ayah tiriku tapi karena dia kaya aku jadi menyukainya.
“ sama-sama putriku,,”
“ ayo masuk..” ibu memanggil kami dari dalam rumah.
Ayah membantuku beranjak, ku lihat Ares sedang menurunkan beberapa barang yang kami bawa dari kereta, dengan dibantu 2 orang pelayan laki-laki. Aku jadi merasa bersalah telah berbicara kasar pada suamiku sendiri kemarin.
“ bagaimana Zen?” kami berada di ruang tamu rumah.
“ wah,, indah sekali. Banyak bunga-bunga diatas meja. Kursinya juga terlihat nyaman. Bantu Zen duduk disana ayah..”
“ iya ,,iya,, hati-hati”
Senang sekali rasanya bisa mendapatkan rumah sebagus ini.
“ suamiku kemarilah kau pasti lelah” Ares yang baru masuk dengan membawa barang bawaan.
“ nanti saja, masih banyak pekerjaan di luar” jawabnya.
“ em, kan masih ada pelayan. Sini duduk di sampingku,,”
“i,,iya baiklah,,” dia terlihat canggung dan sedikit takut. Apa mungkin karena sikapku sebelumnya membuatnya menjaga jarak denganku.
“ ibu melihat dapur dulu, “ ibu dan ayah pergi, tinggal aku dan Ares saja.
__ADS_1
“ apa kau haus?” mengangguk kecil padanya.
“ aku ambilkan minum dulu ya” ares cukup perhatian, mungkin inilah alasannya aku menerimanya dulu. Mulai sekaang harus bersyukur bisa mendapatkan suami sebaik dia, perhatian juga.