The Empero'S Prisoner

The Empero'S Prisoner
53


__ADS_3

“ ini minumlah,” Ares datang membawa sebuah gelas beserta kendi air minum.


“ terimah kasih.” Menampilkan senyum terindah kepadanya setelah menuangkan air untukku.


 


Mengambil gelas itu dan mulai meminumnya. Ares menataku lama, seperti melamunkan sesuatu.


“ apa yang kau fikirkan?” memberikan gelas yang sudah kosong.


“ ,t,tidak apa-apa. Sudah minumnya” mengangguk pelan.


“ hari sudah hampir malam, kemarilah aku anta ke kamar. “


 


Kami berdua naik ke lantai 2 menuju pintu yang berwarna coklat tua. Terletak di ujung lorong, menghadap pagar pembatas lantai. Sejak masuk aku begitu terpana, ranjangnya super besar, ruanganya luas. Lantainya berkarpet, jendela besar dan balkon kamar, indah sekali.


‘ zen, lebih baik kita masuk,,’


“ aku masih ingin disini”


“ ada apa zen?” ares menghampiriku yang saat ini berada di balkon kamar.


“ bukannya kau menyuruhku masuk tadi?”


“ tidak, “ ares tampak bingung dengan pertanyaanku.


“ lupakan,,”


 


Semakin hari, suara itu semakin sering terdengar. Aku merasa telah melupakan sesuatu yang besar. Apa ini ada kaitannya dengan lelaki dalam mimpiku itu ya. Lelaki itu nyata atau hanya cerita dongeng. Tak ingin terlalu berfikir, akhirnya memutuskan untuk masuk dan menaiki ranjang.


 


“ ares, kau tidak tidur?” dia malah duduk di sofa yang berda di tengah ruangan.


“ emm,, kau duluan saja”


“ kemarilah, tidur di sisiku. Temani aku tidur” ares tampak aneh, tidak seperti biasanya dia terlihat khawatir seperti sekarang. Apa aku begitu menakutkan baginya.


“ ya sudah aku tidak memaksamu” berguling membelakanginya.


 


****


Waktu terus bergulir. Sejak malam itu, aku sudah terbiasa tidur sendiri. Mungkin inilah yang namanya suami istri. Tidur sekamar, tapi tidak seranjang. Meski terkadang menyuruhnya tidur di sampingku, tapi sebenarnya aku juga merasa asing. Makanya aku tidak memaksanya.


 


Kandunganku sudah berusia 4 bulan, bahkan sesekali aku merasakan tendangan dari dalam. Senang juga memiliki bayi di perut. Hanya satu hal yang tidak aku sukai adalah tubuhku terasa berat saat berjalan. Tidak bisa leluasa bergerak.


 


Setiap hari hanya duduk dan berbaring di dalam rumah. Semua orang melarangku keluar, katanya jika keluar nanti bayiku malah terkena penyakit. Jadi meskipun bosan terpaksa menuruti mereka.


 

__ADS_1


“ lihatlah, kincir anginku berputar kencang, indah sekali” samar terdengar anak-anak bermain di luar. Sepertinya mereka senang sekali bermainnya. Sore-sore bermain kincir angin memanglah mengasyikkan. Aku memutuskan untuk melihat mereka sebentar, keluar pagar, sudah terlihat segerombolan anak-anak yang membawa kincir angin.


 


“ hey, aku boleh melihat mainan kalian” mendekati mereka, semuanya menatap ke arahku.


“ kakak ingin kincir angin seperti ini?” salah satu anak bertanya padaku.


“ iya,, kalian dapat darimana?”


“ itu, disana ada banyak sekali kincir angin”


 


Mereka menunjuk seorang penjual mainan. Karena jaraknya tak jauh dari rumah, aku memutuskan untuk menghampirinya. Lagipula aku juga punya uang untuk membeli itu.


“tuan,, “ penjual itu terus berjalan. Sepertinya tidak mendengar panggilanku.


“ tuan,, beli,,” teruus saja berjalan mengejarnya. Karena perut besar ini jadi tidak bisa berlari. Huh.


 


Setelah beberapa lama aku akhirnya bisa membuatnya berhenti.


“ tuan saya mau beli kincir anginnya. Kenapa tuan tidak berhenti?”


“ oh maaf nona, saya tidak mendengarnya. Ini untuk nona.”


“ berapa? Apa ini cukup?”


“ oh, cukup. Terimakasih nona”


Penjual itu pergi. Aku mendapatkan 2 kincir angin, penjual itu baik sekali. Berjalan ke arah rumah. Karena terlalu jauh aku jadi sedikit lupa jalan pulang.


 


“ Zen,,,” seseorang memelukku kencang.


“ lepaskan, kamu siapa?”


Lelaki itu melepaskan pelukan. Tangannya memegang bahuku.


“ jangan tinggalkan aku,,”


Wajahnya, wajah ini mirip sekali dengan lelaki yang muncul di mimpiku selama ini. Tampan sekali.


“ kamu siapa?”


“ kamu tidak mengenaliku?” menggeleng pelan.


“ aku suami kamu, ini,, anak kita?” aku terdiam, rasanya aku bahagia bisa bertemu dengannya, tapi tidak tahu apa alasannya.


“ kemarilah kita kembali.”


 


Lelaki ini menggandeng tanganku. Dan sesekali merangkul pinggang saat berjalan. Hati ini terus berdebar, seperti merindukan momen ini. Menaiki kereta kuda, pria ini terus saja mengenggam tanganku. Wajah tampannya terus tersenyum bahagia, membuatku ikut berbunga-bunga.


“ ayo, aku bantu kamu turun. “ hari udah malam saat  kami sampai di tujuan. Rumah ini tak kalah megahnya dengan rumahku. Lebih besar dan banyak penjaga.

__ADS_1


 


“ yang mulia, anda sudah kembali, “ seorang pria dan wanita langsung menghampiriku. Pri ini membawa pedang di belakang tubuhnya.


“ kalian siapa?” tanya ku yang seketika memudarkan senyum mereka.


“ yang mulia selir, apa yang terjadi dengan anda. Kenapa tidak mengenali kami?” kini aku menoleh ke arah pria tampan yang merangkul bahuku. Dia yang membawaku kemari, jadi dia juga yang harus menjawab pertanyaan sepasang pria dan wanita ini.


“ kita masuk dulu, “ berjalan memasuki ruang tamu.


 


Setelah pelayan mengantarkan makanan, kami ber empat saling duduk melingkar di kursi depan.


“ kalian mengenalku?” mereka terus saja menatapku sejak masuk sampai sekarang. Tak ada satu katapun yang mereka keluarkan.. hal ini sedikit menggangguku.


“ namamu Zenia kan?” mengangguk


“ berapa usiamu?”


“ seingatku 13 tapi kata ibuku usiaku sekarang hampir 19 tahun.”


“ ibu?,,berapa usia kandunganmu?”


“ emm, 4 bulan. Sebenarnya kalian siapa?”


“ aku Lucien, ini Cila dan emm ini Enrik.”


“ tidak, kau biasanya memanggilku tuan En, ini kak Lu dan ini pelayanmu Cila”


“ pelayan?”


“ kau adalah istriku.” Lelaki tampan ini terkadang menakutkan saat menatapku. Tapi karena wajahnya yang tampan membuat ketakutan ini menghilang beberapa saat. Mereka terus saja bertanya dan mengatakan hal tidak aku mengerti.


 


Kepalaku tiba-tiba pusing, mendengar perkataan mereka semakin membuatku bingung, jadi aku istri siapa, semuanya semakin sulit untuk di jelaskan.


“ aku sudah memiliki suami, Ares namanya”


“ Ares?, dia bukan suami adan nyonya”


“ dia suamiku, ibu sendiri yang mengatakannya”


“ Zen, dengarkan kami. Orang di luar sama telah membohongimu, jangan percaya apapun yang mereka katakan. Ya,,”


“ tapi mereka adalah keluargaku tuan En, ibu, ayah dan suamiku tidak mungkin berbohong padaku.” Keadaan menjadi hening, mereka bertiga diam.


“ kita istirahat dulu. Ayo kita ke kamar” ajak tuan En


“ tapi aku belum meminta izin kepada ibu”


“ kak Lu akan memintakan izin untukmu, kamu tidak usah khawatir”


 


Baiklah, aku menurut. Tuan En seakan bisa membuatku patuh. Semua perkataanya sulit sekali di tolak. Memang pesona pria tampan sungguh meluluhkan hati. Tuan En mengajakku masuk ke dalam. kemudian melewati teras samping dan masuk ke dalam sebuah kamar. tepat di samping taman, selain itu dari pintu masuk saja di bagian dalam kamar terlihat begitu mewah. Hiasan kayu serta vas keramik yang indah.


" masuklah, sebenarnya ini bukan rumah kita. besok kita kembali ke istana "

__ADS_1


" istana?"


" iya, aku adalah putra mahkota kerajaan. dan kau adalah istri ku, selir Zen. mengerti?"


__ADS_2