The Empero'S Prisoner

The Empero'S Prisoner
XIII


__ADS_3

“ segera laporkan jika ada tahanan yang hilang” komandan memberikan perintah. Ada sekitar 10 penjaga masuk dengan tergesa-gesa. Di balik tembok dengan sisi gelap aku dan Zoya masih terdiam. Kegelapan ini sedikit banyak menolong pelarian kami. Setelah mereka lewat, aku memberikan kode untuk segera melanjutkan pelarian.


 


Post jaga di pintu utama terlihat masih ramai, waktu pergantian shif masih berlangsung.


“ bagaimana situasinya?” Zoya berbisik di belakangku.


“ mereka sudah sadar. Sebentar lagi aku akan melawan mereka, kau tetaplah disini” begitu melihat tim patroli sudah menghilang. Namun jumlah mereka termasuk banyak. Ada sekitar 10 penjaga, terlabih lagi mereka tidak mendapat efek bius, kemungkinan akan sulit melawan mereka semua.


 


“ sebentar” Zoya menarik tanganku. Aku memandangnya bingung.


“ aku memiliki rencana agar kau tidak perlu melawan mereka” dia mengambil pedangku lalu menyuruhku berdiri membelakanginya. Ingin membuatku seolah-olah menjadi sanderanya.


 


“ maju” teriak Zoya menarik perhatian mereka sambil mendorongku. Aku berjalan terpincang-pincang seolah kalah bertarung dengan Zoya. Mereka menatapku, status anak kaisar membuat mereka harus memperhatikan keselamatanku. Idenya cukup cemerlang, kini bisa melewat meraka.


 


“ turunkan senjata kalian, atau aku bunuh putra mahkota” kini suara Zoya menggelengar, tak ada yang bisa menyadari jika ini hanya sandiwara.


“ turunkan” aku ikut memprovokasi agar mereka mengikuti perintah Zoya.


 


Tang,,tang,,


Satu persatu senjata mereka terlepas, tak ada yang berani melakukan perlawanan.


“ sekarang kalian balik badan dan berjongkok” mereka saling pandang. Beberapa ingin menolak perintah Zoya.


“ cepatlah, ikuti perkataanya” timpalku sebelum mereka berubah pikiran untuk melawan Zoya. Kami semakin berjalan mundur menjauh dari penjara hitam. Mereka mengikuti semua perintah Zoya. Setelah mendapatkan waktu yang tepat Zoya memberikan kode untuk segera melarikan diri.


 


Tak ingin berlama-lama, ketika semua penjaga berjongkok menghadap ke belakang, kami langsung berlari menuju tempat pertemuanku dan Lucien di gerbang belakang. Aku memimpin pelarian.


 


“ tahanan kabur!!” teriak mereka ketika menyadari kami sudah telalu jauh berlari.


Sialnya beberapa penjaga patroli begitu sigap dan langsung mengejar kami.


“ cepatlah” Zoya terlihat kepayahan setelah berlari lumayan jauh.

__ADS_1


“ sedikit lagi, tepat di balik gerbang itu Zenia menunggumu” berusaha membuat Zoya tetap memiliki semangat meneruskan pelarian.


 


Aku melawan penjaga gerbang, setelah berhasil langsung membuka pintu dan disana Lucien sudah siap dengan kereta kudanya. Mengetahui kami sedang dikejar para penjaga, Lucien memukul kuda, kereta mulai berjalan. Aku menaiki kereta terlebih dahulu, mengulurkan tangan agar bisa membantu Zoya naik.


“ ibu,,” Zenia memanggil dari dalam kereta.


“ cepat, larilah lebih cepat” teriakku pada Zoya.


 


Hap..


Zoya berhasil menggapai tangan kiriku, dengan tenaga yang tersisa segera menariknya dan mengangkat tubuhnya. Akhirnya Zoya berhasil menaiki kereta.


Masih berusaha mengatur nafas setelah berlarian begitu lama. terlihat di masing-masing wajah kami tercetak jelas kegembiraan. Berhasil kabur dari kerajaan. Zenia yang berada di sampingku langsung memeluk ibunya erat. Setelah itu berganti padaku. Di detik yang sama ku melihat anak panah yang menusuk punggung Zoya.


“ tidak “ lirihku. Hal itu membuat Zen melepaskan pelukannya. Ingin tahu alasan aku mengucapkan kata itu. Tahu kemana arah pandangku, Zenia menoleh ke arah ibunya.


“ ibu,,!” Zoya terluka, aku langsung membawanya sedikit masuk ke dalam kereta.


“ tuan, ibu bagaimana?” aku masih melihat seberapa parah luka yang dialami Zoya.


 


“ ibu, jangan tutup matamu” sambil terus menatap ibunya. Tidak ada yang bisa kami lakukan selama perjalanan. Hanya bisa berdoa semoga bisa sampai secepatnya di tempat persembunyian.


 


Pagi begitu terik ketika kami sampai di persembunyian, kondisi Zoya semakin kritis denyut nadinya begitu lemah. Begitu berhenti aku segera mengangkat tubuh Zoya. Menggedongnya masuk ke markas. Lucien bertugas membantu Zenia turun dari kereta.


 


“ yang mulia,,” Lucein masuk ke ruangan dimana aku meletakkan Zoya. Tak lama kemudian Zenia masuk.


“ bagaimana kondisi ibuku?” menatapku penuh tanya.


“ lebih baik kau tunggu di luar ya, Lucien dan aku masih berusaha mengobatinya” sambil mengelus kepalannya pelan. Terlihat sekali raut ketakutan di wajah Zen, begitu menyedihkan hatiku. Zenia menggelang pelan, tak ingin meninggalkan Zoya.


“ aku akan membawamu beristirahat, pikirkan kandunganmu. Lucien pasti akan memberikan yang terbaik” bujukku. Zenia akhirnya mau menuruti perkataanku.


 


Aku membawanya ke ruanganku, disana sudah ada ranjang dan perlengkapan lainnya.


“ bersihkan tubuhmu, sebentar lagi makanan datang. Jangan terlalu khawatir ibumu pasti baik-baik saja” aku sengaja menyembunyikan kondisi sebenarnya pada Zenia. Dia pasti semakin ketakutan jika mengetahui mengenai racun itu. Inilah yang terbaik.

__ADS_1


 


Setelah memastikan Zenia mau menuruti keinnginanku, aku keluar menuju ruangan Zoya. Disana Lucien masih berusaha memotong baju Zoya, posisi Zoya sudah terkurap diatas ranjang.


“ bagaimana?” Lucen menoleh.


“ dia terkena racun, aku berusaha mengambil darahnya untuk menguji penawar, tapi melihat kondisinya seperti tipis sekali untuk bisa bertahan” akupun memiliki pemikiran yang sama. Kondisinya dari awal sudah lemah, lama perjalanan setelah terkena racun juga membuat racun semakin menyebar di tubuhnya.


“ dimana Morgan, mungkin dia bisa tau cara yang lebih baik”


“ entahlah setelah masuk kerajaan dia sudah memisahkan diri, mengatakna ingin berbicara dengan teman lama” aneh sekali. Aku masih berusaha membersihkan lukanya. Anak panah ini masih belum tercabut. Lucien sedikit ketakutan jika malah akan memperburuk keadaan.


“ untuk apa kain itu?” Lucien bertanya padaku.


“ kita harus mencabut panah ini”


“ bagaimana jika pendarahanya semakin parah?” inilah yang ditakutkan Lucien.  


“ racunnya akan semakin menyebar, lagi pula kau bisa memakai jarum akupuntur untuk menekan laju darahnya”


 


Setelah selesai melakukan akupuntur, aku mengambil kain dan menarik panahnya. Munutup luka dengan kain yang aku bawa tadi.


“ kau periksa nadinya” Lucien memegang tangan Zoya.


“ lemah sekali, bagimana ini?”


 


“ apa yang terjadi?” Morgan sudah masuk kedalam ruangan.


“ dia terkana panah beracun” jawabku singkat.


“ segera buat penawarnya” Morgan langsung mendekati ranjang.


“ aku bahkan tidak tahu racun jenis apa yang mengenainya. Lagipula kondisinya terlalu lemah jika harus menungguku menyelesaikan penawarnya.” Lucien menjelaskan kondisi yang sedang kami alami.


 


Morgan langsung memeriksa tubuh Zoya, kami mengamatinya dengan seksama. Raut khawatir langsung saja terlihat ketika Morgan memeriksa denyut nadinya. Pendarahan lukanya juga terlihat begitu banyak.


“ tidak ada waktu, kemarikan tanganmu!” aku terdiam masih belum bisa mencerna perintahnya, sedang Morgan mengmbil sebuah pisau kecil milik Lucien yang berada di atas meja.


 


“ mana tanganmu” aku mengulurkan tanganku. Aku maupun Lucien masih kebingungan dengan maksud perkataan Morgan.

__ADS_1


“ apa yang,,” Morgan mengiris telapak tanganku. aku menyengir sakit akibat goresan pisau pisau itu.


__ADS_2