The Empero'S Prisoner

The Empero'S Prisoner
13


__ADS_3

Beberapa kali aku bertemu dengan sekelompok penjaga, untungnya pengalaman menyelinapku bisa diandalkan. Aku berhasil keluar meskipun cukup sulit. Setelah mencari keberadaan kuda yang kami tinggalkan sebelumnya, aku menunggu disana.


 


Cukup lama aku menunggu hingga aku sadar, kalau tuan En tadi mengarah ke gerbang utama. Maka dipastikan kalaupun lolos kecil kemungkinan untuk menuju gerbang barat.


‘lebih baik aku menuju ke bergerbang timur’ pikirku.


 


Meskipun agak susah berjalan menbawa dua kuda, aku cukup handal mengarahkan mereka. Dari jarak beberapa kaki aku bisa melihat pertarungan yang tidak imbang dimana 4 lawan puluhan orang. Situasi disana cukup buruk. Mereka tampak terpojok. Aku tak tau apa mereka bisa mengalahkan para pemberontak itu.


 


Tak ada pilihan lain, aku harus bisa membawa membantu mereka. Berfikir bagaiman memberitahukan kepada mereka jika aku beada disini. Akhirnya aku menarik sebuah anak panah yang ditinggalkan tuan En di tinggalkan tuan En.


 


Bersiap menaiki kuda dan mengarahkan anak panah itu pada seorang penjaga gerbang. Meskipun aku tidak yakin apakah cara ini berhasil atau tidak.


 Cass


Anak panah itu melesat cukup jauh dari gerbang, namun untung saja kak Lu melihatnya. Anak panah hanya kak Lu dan tuan En yang tau, jadi pasti tau jika aku yang melepaskannya. Dan sekarang mencari keberadaanku. Mata kamipun bertemu. Seakan tau rencanaku kak Lu segera mendekati tuan En. Mereka seperti terlibat perbincangan.


 


Aku sudah siap diatas kuda, tinggal menunggu mereka datang. Tak lama mereka berhasil menaiki kuda aku langsung melajukannya. Kak Lu ternyata berkuda bersamaku. Untung saja aku sudah lulus latihan berkuda. Meskipun fajar masih belum terlihat aku bisa berkuda cukup baik. Tuan En memimpin perjalanan. Terlihat beberapa tetes darah merembes di bajunya, sedang kak Lu aku tau kondisinya juga tidak baik-baik saja.


 


Rencanaku terbilang egois, karena hanya membawa dua kuda untuk melarikan diri. Bukankah lebih baik menyelamatkan sebgaian daripada membiarkan mati semuanya. Biar bagaimanpun tuan En adalah putra mahkota, bagiku keselamatannya lebih penting.


 


“kita sudah lumayan jauh, lebih baik kita istirahat sebentar”


Hari sudah pagi, kami memilih untuk berhenti di pinggir sungai. Aku bisa mengetahui seberapa parahnya luka yang diderita kak Lu, beberapa bajunya sudah sobek-sobek. Tapi yang begitu menghawatirkan luka pedang di punggugnya cukup dalam. Hanya dengan berbekal kain serta air tuan En membersihkan lukanya.


 


“ Zen, jaga Lucien aku akan mencari mungkin ada tanaman obat disekitar sini.”


“ baik tuan En, “ meskipun aku tau tuan En juga mengalami luka yang banyak, namun aku juga tidak bisa membantu banyak selain berjaga.


 


Hari sudah hampi siang namun tuan En belum juga kembali, aku semakin khawatir. Kak Lu belum juga sadar. Aku tak bisa berbuat banyak.


 


“Zen, bantu aku menghaluskan dedaunan ini” akhirnya tuan En kembali.

__ADS_1


“ ini,,”


“ hanya obat-obatan ini yang bisa kutemukan. Dengan ini darahnya akan terhenti serta bisa membuat luka tertutup dengan cepat”


“ tuan En memang hebat”


 


Setelah melumuri semua luka ditubuh kak Lu. Aku melihat keadaan tuan En juga sedikit melemah. Wajahnya pucat.


 


“ tuan En juga terluka, mari saya obati”


Luka tuan En terbilang lebih ringan namun cukup banyak. Aku berhati-hati menyentuh luka itu. Semoga keadaan lekas membaik.


 


“ ini tuan En makanlah” aku mengumpulkan beberapa buah liar yang tumbuh dihutan.


“ kau sudah makan?” aku mengangguk. Beberapa buah aku simpan untuk perbekalan.


 


Setelah cukup beristirahat serta kondisi tuan En cukup baik, akhirnya mendekati sore kita melanjutkan perjalanan. Saat tengah malam akhirnya bisa keluar dari hutan. Terus menyusuri jalan hingga sampai di sebuah perkampungan kecil.  


 


“ kita tidak bisa kesana Zen, bisa saja salah satu kawanan pemberontak menunggu kita disana” benar juga, tapi aku sudah sangat lelah. Untung saja kak Lu berganti  berdua dengan tuan En, jadi punggungku lumayan bisa relaks.


“ kita ke pinggiran desa, “


 


Tuan En membawa kami di sebuah gubuk tak terpakai di sebuah ladang. Karena begitu lelah aku langusng berbaring dan tidur tanpa memikirkan apakah tempat ini aman atau tidak.


 


aku terbangun dari tidur setelah mencim bau masakan yang begitu sedap. Tak di sangka di gubuk itu sudah ada pasangan nenek dan kakek yang sedang menyusun piring lengkap dengan makanannya. Ku lihat tuan En serta kak Lu masih terlelap.


 


“ kau sudah bangun gadis manis” sapa nenek itu padaku.


“ nenek maaf kami beristirahat disini, apakah kami mengganggu kalian?”


“ tentu tidak, ini hanya gubuk biasa kami tak tinggal disini, kalian sepertinya terlibat perkelahian, apa yang terjadi?”


“ kami di rampok untung saja bisa melarikan diri “ kilahku. Aku tak bisa mengatakan yang sebanarnya, demi keselatan semua pihak.


“ malang sekali kalian, kalian bisa istirahat disini, kami sudah menyiapkan makanan serta baju bersih untuk kalian”

__ADS_1


“ kami hanya numpang tidur saja nek, itu sudah sangat membantu”


“ tidak perlu sungkan, makanan ini adalah hasil kebun kami dan pakaian itu adalah bekas anak-anak kami yang sudah meninggalkan desa entah sesuai apa tidak dengan tubuh kalian. “ jelas kakek


“ terimakasih banyak nek, kek. Sekali lagi terimakasih banyak”


 


Setelah mereka meningalkan gubuk, aku memilih untuk mebersihkan diri di sungai tak jauh dari gubuk. Sudah berhari-hari badanku terasa lengket dan kotor.


‘pakaian ini cukup nyaman’


 


“Zen, kau darimana saja, aku mengira mereka membawamu” baru saja aku sampai di depan gubuk, tak kusangka tuan En begitu mencemaskan aku.


“ saya habis membersihkan diri tuan, itu kalian juga bisa berganti pakaian” aku memasuki gubuk dan melihat Kak lu sudah sadar.


“ makanan serta pakaian ini dari mana?”


“ sewaktu kita tidur, sepasang nenek kakek pemilik gubuk ini datang. Aku mengatakan jika kita habis di rampok jadi mereka menyiapkan semua ini”


“ kalau begitu kita bergegas pergi sebelum mereka datang”


“ kenapa tidak menunggu mereka saja tuan?”


“ kita tidak tau mereka memiliki niat apa, jadi lebih baik segera bersiap”


 


Semua makanan kami bawa serta pakaian itu beberapa kami tinggal. Meski aku merasa tidak enak hati pergi tanpa berpamitan tapi perintah Tun En ada benarnya juga. Perjalanan kami menuju kota Gorbala, pertengahan antara Swen dan Zoska. Disanalah rencana ini akan berakhir.


 


Tuan En sudah menyiapkan segalanya, pasalnya menyerbu markas pemberontak adalah rencana rahasia. Baik kaisar atau penjabat lainnya tidak ada yang tau, berita penyerangan pada rombongan kami mungkin sudah sampai di ibu kota. Bantuan pasti segera datang, maka dari itu kita harus sampai sebelum bantuan itu datang. Semuanya sudah dijelaskan tuan En kepadaku.


 


“ dengan adanya luka ini bisa lebih menyakinkan mereka akan penyerangan sebelumnya”


“ apa sebenarnya penyerangan itu adalah ulah tuan sendiri?”


“ aku sempat merencanakannya tapi aku urungkan, siapa yang tahu ternyata prediksiku terjadi,”


 “ setelah ini saya mohon tuan En lebih berhati-hati, jangan sampai hal ini terjadi lagi”


“ kau masih memikirkan Suki?”


“ dia sudah saya anggap seperti kaka perempuan disini”


“sebenarnya semenjak kau menjadi selir, dia sudah berkali-kali berusaha menggodaku, berfikir jika dia bisa menepati posisi yang sama dengan mu”

__ADS_1


 


__ADS_2