
Aku memang sedikit kehilangan kesadaran semalam, dan ini membuat kepalaku terasa pening. Segera saja aku beranjak dari ranjang, dan berjalan
menuju pemandian. Awalnya aku tidak menyadari akan keanehan pada tubuhku sampai air pemandian menyadarkan kondisi tubuhku yang tidak mengenakan apapun. Apa mungkin semalam aku memang melakukan ‘hal itu’ kepada salah satu dayang.
Menghela nafas kasar, kekhawatiranku mungkin terjadi. Tak banyak pikir aku segera menyelesaikan ritual mandi. Kuraih jubah mandi yang tergantung tak jauh dariku, berjalan keluar.
Langkahku terhenti begitu melihat sesosok wanita berbaring memunggungiku.
‘ akhirnya terjadi’ gumanku. Ya sebaiknya aku segera pergi aku tak ingin melihat siapa dayang yang berhasil merayuku semalam.
Setelah memastikan penampilanku siap, dengan bergegas berjalan keluar dari kamar.
“ kalian urus wanita didalam” ucapku kepada pelayan di depan kediamanku.
Pagi ini kesehatan Hameera dilaporkan memburuk, semua tabib kini tengah bersimpuh di depanku.
“ maafkan kami yang mulia, kami benar-benar sudah melakukan yang terbaik” ucap kepala tabib istana.
“ selama ini apa yang sedang kalian lakukan?” teriakku. Aku begitu mengkhawatirkan bagaimana keadaan Aidyn nanti.
“maafkan kami yang mulia” mereka semakin ketakutan. Tak hanya itu tiba-tiba Aidyn menangis kencang. Dayang di sebelahku ikut gelagapan tak bisa menghentikan tangisnya.
“ kalian keluarlah, segera racik ramuan untuk kondisi selir”
Para tabib bergegas meninggalkan kediaman Hameera. Wanita itu terbaring tak sadar di ranjang. Wajahnya begitu pucat, sungguh kasihan.
Setelah mengambil Aidy dari dayang tak tak becus itu, aku menggendongnya keluar menuju ruang rapat.
“ yang mulia” Lucien sudah menunggu di lorong,melihat raut cerianya aku semakin sebal.
“ hibur putra mahkota” Aidy ku berikan kepada Luc.
“ yang mulia, saya sudah bilang jika saya tidak berani
menyentuhnya” Luc dengan cepat menghindari pemberianku. Melangkah menjauh dariku.
“ kau berani melawan perintahku luc?” geramku.
“tidak, bukan itu maksud saya. “
“ Hameera semakin parah, kini kau yang bertugas menjaga putra mahkota” kesalku. Luc terlihat kaget sejenak kemudian berganti menjadi sumringah. Aku mengerutan dahi melihat reaksinya.
“ kenapa yang mulia tidak membiarkan ibunya mengasuhkan putra mahkota?” Lucien seakan berbisik padaku.
“ dia sudah pergi” sambil menghembuskan nafas kasar. Aidyn yang sedari tadi terdiam kini terdengar tertawa. Dia terlihat senang dengan gagasan dari Lucien.
“ bukankah sel,,eh nyonya Zenia berada di kediaman yang mulia?” aku menatap Luc tajam, aku menangkap adanya keberhasilan rencana jahat darinya. Wajahnya seakan sedang menertawakan kebingunganku.
“ kau...?” aku terhenti seakan bisa membaca isi pikiran pengawal sialan ini.
“ ini idenya Cilla yang mulia, saya juga merasa kasihan dengan anda” Lucien langsung berlari setelah menyelesaikan kalimatnya.
Hal ini tentu saja mengulang kembali ingatanku semalam. Apa mungkin sosok Zen yang ada di mimpiku adalah benar-benar Zenia. Dengan masih menggendong Aidyn aku bergegas kembali ke kediaman. Entah kenapa ada terasa ada hawa dingin segar yang memasuki hatiku. Aku terus berharap bahwa apa yang aku yakini adalah benar.
Tak memperdulikan sanjungan dari para pelayang aku langsung melangkan menuju kamar, sayup-sayup aku mendengar suara lembut. Suara ini begitu tak asing.
__ADS_1
“ lebih baik kalian bawa kembali semua ini, aku tak bisa memakainya” langkahku semakin pelan dan ringan, agar aktivitas di dalam tidak merasakan kehadiranku.
“ kami juga tak memaksa, kau entah wanita darimana berani masuk ke kamar raja. Lihat saja setelah ini yang mulia pasti menghukummu” terdengar salah satu dayang berbicara ketus.
Langkahku terhenti diambang pintu, disini aku bisa melihat wanita itu. Dia masih memakai baju yang sama seperti semalam, di depannya ada 3 dayang membawa keperluan kerajaan.
“ iya, yang mulia tidak mungkin masuk dalam
rencana jahatmu” satu dayang menimpali. Aku masih terdiam, mencerna keadaan dan kenyataan bahwa Zenia adalah wanita yang semalam berada di ranjangku. Hawa hangat seakan membuat kebencianku sedikit-demi sedikit luruh. Wanita ini, aku tak bisa menghadapinya.
“ aku tidak merencanakan apapun” balas lembut Zenia. Dia masih sama seperti dulu keras kepala dan naif.
“ katakan saja kau semalam menerobos masuk agar bisa tidur dengan yang mulia kan?” dayang ini semakin berani.
“ apa yang terjadi?” segera aku potong, mereka langsung menoleh ketakutan, dan bersimpuh. Termasuk Zenia.
“yang mulia” ucap mereka bersamaan.
“ keributan apa yang terjadi?” melangkah masuk ke kamar. Sorot mataku tak pernah lepas dari Zenia. Baru kemarin rasanya aku begitu membencinya, kini entah kenapa rasa rindu tiba-tiba memenuhi hatiku.
“kalian tau siapa wanita yang sudah kalian hina itu?” suaraku sedikit meninggi.
“ ti..tidak yang mulia”
“ wanita ini adalah ibu kandung putra mahkota” dengan tegas dan jelas. Suaraku seakan menggelegar di ruangan itu. Para dayang saling menoleh dengan masih bersujud.
“ maafkan kebodohan kami yang mulia”
“ lebih baik kalian pergi” aku sudah tidak memiliki minat mendengar permintaan maaf mereka, sekarang aku hanya ingin melihat Zenia.
“ kenapa kau disini?” tanyaku. Aku tidak ingin terlihat goyah, meskipun jantungku berdebar saat mendapati tanda yang kutinggalkan ditubuhya. Wajah Zenia terlihat bingung dan cemas.
“ sss,,,saya hanya,, hanya…” zenia terlihat kebingungan dengan pertanyaanku. Aidyn merentangkan kedua tangannya, merengek ingin memeluk ibunya. Zenia terlihat sedih dan menangis. Tak ingin menyulitkannya, segera aku berikan Aidyn kepada ibunya. Aku masih memiliki urusan di aula.
“ aku harus menghaadiri rapat” ucapku sebelum pergi meninggalkan kamar.
“ jangan biarkan wanita didalam keluar” ucapku kepada penjaga lorong.
“ baik yang mulia” jawab serentak. Aku masih berjaga-jaga takut bila Zenia akan pergi lagi.
Sepanjang pertemuan di aula hatiku tak bisa tenang, berbagai rasa cemas dan segala ketakutan akan Zen terus membuatku tidak focus.
“ yang mulia..” salah satu menteri menghentikan lamunanku.
“ ah ya, kita hentika rapat hari ini” aku segera beranjak meninggalkan aula. Tentu saja menuju kediaman. Lucien sampai tidak bisa menyamai langkahku apa mungkin aku terlalu cepat.
“ yang mulia, selir Hameera semakin ..” dayang Harem menghalangi jalanku, jika bukan karena tangisnya yang membawa nama Hameera mungkin aku sudah memberikan hukuman berat padanya.
“ apa yang terjadi?” tanyaku cepat.
“ selir tidak berhenti muntah darah” jawabnya sambil terus menangis. Mendengar kabar ini entah kenapa aku memiliki firasat buruk. Sebaiknya aku menemui Hameera, wanita ini memang sedang membutuhkan kehadiranku.
Dayang kediamannya berjalan di belakangku, langkah kami memang sedikit lebih cepat. Tak bisa di pungkiri aku memang sudah seharusnya memperlakukan Hameera dengan baik. Bantuannya mengurus Aidyn dan memberinya ASI pantas untuk aku bayar.
“ yang mulia” kepala tabib berjalan mundur memberiku ruang untuk mendekati selir. Di kamar ini sangat kental aroma obat, benar saja kulihat mangkuk kosong di nakas ranjang.
__ADS_1
“ Hameera, tak perlu” aku meraih tubuhnya yang seolah ingin bangkit untuk memberikan salam.
“ bagaimana kondisimu?” aku duduk di tepi ranjang memegang tangannya.
“ sepertinya waktuku tidak banyak. Terimakasih yang mulia sudah menyempatkan kemari. Maafkan saya yang sudah membebani yang mulia.” Suaranya sudah menipis, dia bahkan terlihat kesusahan mengatur nafas.
“ tak perlu, tabib akan segera memulihkan kondisimu” jawabku menghiburnya.
“ saya tau bagaimana tubuh saya sendiri. Oh ya, saya dengar selir Zen kembali?” cerita ini sudah di dengar semua orang, namun entah darimana dia mengetahui kedatangan Zen. Setauku Hameera tidak mengetahui bagaimana rupa Zenia.
“ iya” sambil menganggguk kecil.
Hameera tersenum tipis dan tulus.
“ saya bisa pergi dengan tenang” tangannya menggosok tanganku pelan.
“ jangan kau cemaskan apapun. Kau harus pulih” aku masih berusaha memberinya semangat.
“ yang mulia,, uhuk uhuk..” aku bisa melihat noda darah di sapu tangannya. Kondisinya memang seburuk itu.
“hush us” aku mengelus punggungnya, dia amat lemah.
“ bisakah anda memberiku keadilan?” aku menatap maniknya dalam. Disana masih telihat sorot kesedihan dan keputus asaan.
“ apapun” jawabku singkat.
“ untuk anakku,, uhuk uhuk uhuk” batuknya semakin parah. Begitupun dengan darah yang keluar. Keadaan semakin panic. Aku segera menarik diri dan menyuruh tabib segera memeriksanya. Namun dengan lemah Hameera tidak melepaskan tangannya.
“ berjanjilah yang mulia” seakan ini adalah tenaga terakhirnya, suaranya begitu lemah dan parau.
“ aku berjanji” aku segera menimpali. Hemeera tersenyum lemah dengan lelehan air mata yang turun dari sudut matanya. Namun sayang hanya
selang beberapa saat tangan Hameera terjatuh, sudah tidak ada tenaga lagi. Bersamaan dengan matanya yang tertutup.
“ segera, periksa dia” aku berteriak. Ingin memastikan apa mungkin firasatku terjadi.
“ ampun yang mulia, selir sudah tiada” ucap tabib sedih.
“ yang mulia..” dayang pribadinya langsung terduduk sambil menangis hebat. Aku tak menyangka jika akan sesingkat ini dia akan bertahan. Hameera, wanita yang aku kenal sebagai wanita yang baik hanya saja dia harus menghadapi pahitnya hidup.
Aku memandangi tubuh Hameera, dia meminta keadilan untuk anaknya yang menjadi korban rencana jahat.
“ akan aku bayarkan semua “ gumanku. Kemudian segera pergi ke ruang kerja. Aku perlu menuliskan beberapa degrit dan menyusun rencana.
Berita kematian Hameera sudah terdengar di semua daerah Mosgarath. Dan tentu saja di tanah kelahirannya. Hameera berasal dari Linnel, daerah pegunungan yang subur. Setelah diadakannya pemakanan yang terhormat, aku segera memberikan intruksi pada Ares untuk mengumpulkan semua hal yang berkaitan dengan kejadian setahun yang lalu yang membuat wanita ini diusir dan berakhir di ibu kota untuk menjalani pengobatan.
Kini aku dalam perjalanan mengunjungi kediaman keluarganya. Kali ini Lucien tidak menemaniku, melainkan Ares yang menjadi pengawal pribadiku. Aku sudah memikirkan rencana untuk hal ini.
“ yang mulia, ini adakah gambaran semua anggota keluarga selir Hameera termasuk mantan suaminya” aku segera mengambil lembaran itu dan melihatnya dengan seksama. Disana juga terdapat infomasi lengkap terkait dengan orang-orang itu.
“ bagus” aku meneliti, tidak membiarkan satau hal kecil terlewat.
Beberapa saat lagi kereta akan sampai di gerbang kota. Aku menyamar sebagai saudagar kaya, tidak mungkin menampilkan indentitas ku hanya untuk kumpulan brengsek ini. Rencanaku sangat matang dan tidak akan gagal. Aku meninggalkan kerajaan tanpa berpamitan kepada Zenia, masih ada sekat tipis yang harus aku tampilkan didepan Zen. Lucien
bertugas mengawasi istana jangan sampai ketidak hadiranku menimbulkan masalah kerajaan.
__ADS_1