The Empero'S Prisoner

The Empero'S Prisoner
21


__ADS_3

Disana hanya ada penyiksaan dan banyak berujung kepada kematian. aku mengetahui hal ini dari kak Lu. Disana adalah tempat paling mengerikan, aku sempat melihat beberapa ruangan yang penuh dengan genangan darah, entah bagaimana mereka menyiksanya. Aku bergidik ngeri saat mengingatnya. Jangan sampai Cilla menerima penyiksaan itu. Aku sudah berjanji pada Suki untuk merawat dan melindungi adiknya.


 


“ tidak tuan, jangan bawa Cilla” aku langsung berlari dan bersujud memeluk kaki tuan En.


“ Cilla tidak memiliki pilihan saat itu. Saya bahkan tidak sadar hampir satu hari. Semua orang menekan Cilla untuk segera mengumumkannya. Saya mohon maafkan dia tuan” kuharap tuan En masih mendengarkanku. Aku sungguh tak rela jika sampai mereka membawanya.


“ jadi maksudmu semua ini adalah siasat seseorang?”


“ saya masih belum yakin. Tapi saya tidak pernah mengkhianati tuan En” aku masih terduduk dibawah kaki tuan En. Entah mempercayai atau tidak, tapi semua perkataanku adalah benar. Aku sudah mengatakan apa yang ingin ku katakan. Terserah apa yang akan terjadi.


“ lucien!!” tak lama kudengar suara langkah kaki masuk. Disana sudah ada kak Lu dengan 2 pengawal lainnya.


“ tidak tuan, saya mohon jangan bawa Cilla” aku beralih memeluk Cilla. Membawanya mundur dengan aku berada didepan tubuhnya.


“ yang mulia..hiks hiks” Cila memeluk lenganku kuat. Dia begitu ketakutan.


“ Zen, jangan membuatku semakin marah”


“ saya mohon tuan, jangan menghukum Cilla. Saya mohon”


 


Kulihat tuan En kembali diam. Menatapku dalam, entah apa yang dia pikirkan. Satu tangannya mengusap kepalanya. Tuan En terlihat bingung dan sedang memikirkan bagaimana mengatasi ini semua.


 


“ kau kesini!” dia menyuruh Cilla mendekat ke arahnya. Seakan takut di hukum Cilla tak bergeming di tempatnya. Tak ada pilihan aku mengusap punggungnya dan menyuruhnya melangkah.


“semua akan bik-baik saja” bisikku kepada Cilla. Memberinya kekuatan untuk menghadapi tuan En.


“ apa yang terjadi waktu itu? Ceritakan padaku dengan jelas” Cilla bersimpuh di depan tuan En. Dengan kepala menunduk dia mulai menceritakan semua yang terjadi pada hari itu. Tuan En mendengarnya dengan serius. Kak Lu dan kedua penjaga sudah keluar dari ruangan saat tuan En menyuruh Cilla mendekat. Aku sedikit lega melihat hal itu.


 


“ kau sengaja mengundang lima orang tabib?” tanya tuan En.


“ t,tidak yang mulia. Kepala tabib sendiri yang mengatkan untuk membawa ke-empat tabib lainnya”


 

__ADS_1


Semuanya sudah di ceritakan oleh Cilla. Tak ada yang berbeda dengan jawabannya. Keseluruhan ceritanya aku sudah mengetahuinya, dan tak ada yang berbeda dengan penjelasannya padaku. Tuan En masih diam tak ada satu katapun yang keluar saat penjelsan Cilla selesai.


 


“ siapa yang mengatakan padamu bahwa permaisuri mengundang selir Zen?”


Pertanyaan ini seakan menjadi dasar permasalahannya. Aku juga tak pernah berfikir kearah sana. Cilla diam agak lama, hal ini membuatku penasaran dengan jawabannya.


 


“ kau mendengarku bukan?” seakan sedang menguji kesabaran tuan En Cilla masih tidak mengatakan apapun.


“ katakan Cilla, siapa yang mengatakan undangan itu?” aku turut bertanya.


“p..permaisuri sendiri” tidak mungkin. Setelah diam beberapa saat jawaban Cilla sungguh mengagetkan. Permaisuri tidak akan repot-repot menemui Cilla hanya untuk mengundangku sarapan. Berarti..


“ sejak kapan kau menjadi pelayan permaisuri? Bukankah kau tidak mengenal siapapun kecuali selir Zen?” benar sekali. Cilla adalah orang baru, hanya orang-orang di istanaku yang dia kenal. Cilla terlihat gugup dan badannya bergetar. Aku tau jika dia semakin ketakutan. Tapi semua ini memang sedikit mencurigakan.


 


“ segara bawa dia!” tak kunjung memberi jawabannya, tuan En akhirnya memberikan perintah. Hal ini yang paling aku takutkan.


“ jangan tuan, kita bicarakan ini baik- baik. Saya mohon jangan bawa Cilla” aku berlari dan memeluk Cila. Mencoba melindungi semampuku.


“ apapun, saya akan melakukan apapun asalkan jangan bawa Cilla.” Tubuhku berhasil di tarik tuan En. Membawaku ke arah ranjang dan menghempaskanku. Menjauhkan ku pada Cila. Tak mau berlama-lama kedua penjaga itu menarik kedua lengan Cila bersiap membawannya.


 


“ tuan En, jangan bawa Cila. Saya sudah berjanji pada mendiang Suki untuk menjaga dan melindunginya. Saya mohon” aku memeluk lengan tuan En. Tapi tuan En tetap diam. Sangat sulit untuk menentang perintah tuan En. Dari dulu dia tak mau di bantah sedikitpun. Aku sudah mulai putus asa.


 


“ bukannya kalian yang membunuh kak Suki?” Cilla bertanya tepat di pintu keluar ruangan. Kami berdua kaget dengan pertanyaannya. Lebih kaget lagi melihat ekspresi wajahnya yang seakan ingin membunuh kami.


 


“ membunuh Suki? Dia sudah ku anggap seperti kakaku sendiri. Mana mungkin membunuhnya.” Aku menjawab dengan lantang, bagaimana bisa dia memandangku sebagai pembunuh ketika aku saja bersujud membelanya.


 


“ jadi kau bersedia menjebak selir Zen karena ingin membalas dendam?” tuan En bersuara. Memang dialah yang lebih mengetahui mengenai kematian Suki.

__ADS_1


 


“ apakah kau tahu kakakmu itu mempertaruhkan dirinya untuk menyelamatkan selir Zen, dan sekarang kau ingin mencelakainya?” giliran kak Lu yang bersuara.


“ p,,permaisuri mengatakan bahwa putra mahkota menghukum kak Suki dan membunuhnya” aku sudah mengira bahwa ketidaktahuannya tentang kematian kakaknya, akan di manfaatkan oleh sebagian orang. Ketakutanku selama ini telah terjadi. Seharusnya aku mengatakannya lebih awal. Mungkin masalah ini tak perlu terjadi.


 


“ kau sudah di tipu” tuan En mengatakan dengan jelas. Kulihat Cila menyesal atas perbuatannya. Dia sudah tak sanggup menyangga dirinya. Semua sudah terjadi dan kini harus mencari jalan keluar atas permasalahan ini.


“apakah kau percaya pada kami Cilla?” dia mengangguk. Aku berjalan ke arahnya, mendekap memberikan ketenangan. Tangisnya tak kunjung reda.


“ s,saya menyesal yang mulia. Dari awal saya sudah merasa jika yang mulia adalah orang baik. Saya sudah mencelakai yang mulia. Mohon hukum saya” aku tak bisa mengabulkan permintaanya, tak mungkin bagiku.


 


“ sudahlah, aku bisa memahaminya, kau sudah ku anggap seperti adikku. Kita adalah keluarga. “ mengelus kepalanya. Aku tak bisa melihatnya sesedih ini.


“ bawa dia keluar dulu.” Kepada penjaga.


 


Sekarang tinggal kami bertiag. Ada kak Lu, tuan En menyuruhnya tetap tinggal. Aku melepas Cilla, menyuruhnya menenangkan diri di luar.


 


“ bagaimana kau melihat masalah ini, Lucien?” kami duduk di meja samping ranjang. Terletak disudut ruangan dekat dengan jendela kamar.


“ saya rasa memang permasiuri terlihat ingin mencelakai selir Zen, dengan membuatnya bersalah atas kejahatan menipu kekaisaran. Hukumannya adalah gantung diri. Apa mungkin selir Zen pernah menyinggung permaisuri?” pandangan mereka beralih ke arahku.


“ saya bahkan baru pertama kali diundang ke istananya. Jika di hitung baru 2 kali bertegur sapa dengan permaisuri. Menyinggung permaisuri saya rasa tidak mungkin”


“ jika di lihat dari tipuan wanita itu kepada Cila, bisa jadi kematian Suki adalah rencananya. Dari awal dia sudah menginginkan kematian Zen” tuan En terlihat berbeda. Bisanya sangat menghormati permaisuri, kini berbanding terbalik. Ada rasa marah ketika membicarakan tentangnya.


“ apa jangan-jangan karena penawaran waktu itu yang anda tolak yang mulia?” kak Lu berbicara namun seperti berbisik kepada tuan En. Untung saja aku masih bisa mendengarnya. Tuan En melotot kearah kak Lu, pasti dia keceplosan mengatakan hal ini. Aku bisa melihat situasinya dengan jelas.


“ penawaran apa kak Lu?” aku dibuat penasaran dengan tingkah mereka.


“ jadi bagaimana penyelesaiannya?” tuan En memotong pertanyaanku. Aku harus mendapatkan jawabanku nanti. Aku akan memaksa kak Lu mengatakannya padaku.


“ emm,,, selir Zen mungkin bisa menyiapkan bantalan untuk perutnya” enak saja kak Lu ini. Asal memberikan saran.

__ADS_1


“ begitu agenda berdarahnya datang, pasti akan ketahuan” tuan En menimpali. Benar sekali jika anggota istana mengetahui aku masih mengalami masa berdarah pasti akan tau kehamilan bohongan ini.


 


__ADS_2