The Empero'S Prisoner

The Empero'S Prisoner
48


__ADS_3

Secara garis besar bentuk markas ini seprti huruf M, bagian depan terdapat 2 pos jaga. Disana tempat para tamu diperiksa setiap masuk dan keluar. Tak boleh ada yang terlewat. Di sebelah kanan belakang pos terdapat bangunan untuk singgahnya para tamu kelompok, sebelum di mulainya rapat atau pertemuan biasanya mereka akan menunggu disana.


 


Bagian tengah markas berdiri bangunan aula utama, bangunan itu erdiri dari 2 lantai, bagian atas di gunakan sebagai tempat pembukuan atapun berkas lainnya. Sedang di belakang aula ada kediaman utama, di masing-masing sisinya ada gudang serta ruang untuk anggota kelompok berkumpul, ruang senjata juga disana.


 


Dan yang paling belakang adalah bangunan pondok tak jauh darisana terdapat taman-taman kecil. Pondok penginapan merupakan bangunan paling dalam dari markas. Jarang sekali digunakan, hanya saat tertentu saja jika ada anggota kelompok yang menginap. Di dekat gudang terdapat bangunan 2 lantai, selain ruang tahanan aku masih belum tahu ruang lainnya disana. Ares tidak mengatakan apapun terkait bangunan itu, dia juga jarang masuk kesana.


 


Setelah lelah berkeliling, ranjang menjadi pilihan yang tepat untuk merilekskan tubuh, waktu makan siang sudah datang. Jadi menunggu ibu untuk mulai membicarakan hal yang serius.


Tok tok


“ masuk”


Ternyata pelayan yang mengantar makanan kali ini.


“ kenapa bukan ibu yang mengantar?”


“ oh, nyonya sedang tidak ada di kediaman, sejak pagi sudah pergi” sambil meletakkan makanan di meja.  


“ mendadak sekali” sedikit curiga dengan kabar yang mencurigakan ini.


“ s,saya juga tidak tahu nona” pelayan itu langsung pamit undur diri.


 


Hal ini sedikit mengangguku, apa mungkin ibu menghindariku. Aku harus mencari tahu kemana sebenarnya ibu pergi.


“ kau lihat Ares?” tanyaku pada pelayan yang lewat. Mungkin Ares bisa memikirkan kemungkinan tempat mana yang di kunjungi ibu. Aku sengaja berkeliaran di sepanjang kediaman untuk bertanya pada pelayan disana.


“ sepertinya tuan Ares ada di gudang”


“ terimakasih”


 


Karena sudah mengetahui arah dimana gudang berada, jadi langsung saja berjalan dengan sedikit cepat. Disana tak ada balkon ataupun jendela, jadi harus masuk melalui pintu untuk mengetahui siapa saja yang ada disana. Tapi kenapa gudang ini terkunci gembok dari luar, tidak mungkin ada orang di dalam.


‘oh, mungkin gudang satu lagi’ melangkah ke gudang lainnya yang tempatnya tdak jauh dari sini. Di pertengahan jalan melihat adanya penjaga yang berjalan dari arah yang berlawanan.


“ apa kalian melihat Ares?” mereka berdua saling menatap lalu menggeleng pelan.

__ADS_1


“ kami tidak melihatnya” aku melangkah melewati mereka berdua.


“ nona ingin kemana?” salah satu penjaga bertanya padaku.


“ gudang belakang”


“ tapi gudang belakang baru saja kami kunci” apa aku sedang di permainkan disini.


 


Jawaban mereka langsung menghentikan langkahku. Hanya bisa kembali ke kamar. Semua terasa ganjil sekali, apa mereka sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Semua orang disini begitu sulit untuk di percaya, harus mencari cara bagaimana menemui ibu. Dan memintanya mengatakan semua padaku, mulai dari keterlibatannya dengan kelompok ini serta kenapa ibu begitu membenci kerajaan terutama tuan En.


 


Malam mulai datang, sejak siang aku tidak memakan apapun. Tunggu reaksi ibu apakah dengan cara ini bisa mengundangnya kemari. Jika sesuatu terjadi padaku mungkin saja ibu akan langsung menemuiku.


 


Tok ,, tok


“ masuk” sekarang saatnya makan malam.


“ nona saya bawakan makanan” pelayan lagi.


“ aku sedang tak berselera, kau bawalah kembali”


“ sepertinya begitu, udara disini begitu berbeda. Sangat dingin jadi mungkin tubuhku tidak bisa beradaptasi” kilahku.


“ aku akan tidur, kau pergilah” aku menarik selimut membuat pelayan itu mau tak mau pergi dengan makanan yang ia bawa. Sebenarnya perutku terasa lapar sekali, tapi harus menahanya. Hanya bisa memakan buah yang tersedia di nakas samping ranjang, sisa kemarin.


 


*****


 


Hari ini ibu juga tak kunjung menemuiku, apa benar jika dia tak ada di kediaman. Tapi kenapa seakan semua terlihat ketakutan jika aku bertanya tentang keberadaan ibu.


“ pelayan, apa ibu sudah kembali?”


“ b,belum nona”


Semua pelayan terlihat ragu-ragu ketika menjawab. Ares pernah mengatakan jika ketua jarang sekali keluar markas. Hanya beberapakali dalam sebulan. Itu menandakan ibu juga sangat jarang keluar. Aku yakin jika sebenarnya ibu tidak pergi.


 

__ADS_1


Berjalan menaiki tangga menuju kamar. Tapi sebelum itu ada sebuah lorong yang sedikit menarik perhatianku. Setelah melihat situasi tak ada pelayan yang lewat, langsung saja berbelok kesana. Selama ini juga tidak tahu dimana sebenarnya kamar ibu berada, kemungkinan masih di bangunan ini. Apa di ujung lorong ini, aku tak tahu. Jadi sekarang harus memastikan apa yang ada di ujung lorong ini.


 


Berjalan pelan jangan sampai menimbulkan suara, lorong ini cukup dalam dan gelap. Sepertinya tidak ada apa-apa di ujung sana, aku hanya melihat gantungan lilin.


“ apa hanya ini? Sepertinya tidak.”


Mulai meraba apa mungkin dibalik ini ada ruang rahasia, seperti yang ada di kamar tuan En. Disana ada ruang rahasia tempat senjata serta barang lainnya. Aku pernah masuk, tentunya tanpa sepengetahuan tuan En.


 


Meneliti setiap benda yang ada, dari yang menempel sampai yang berada di meja. Ujung lorong ini hanya ada gantungan lilin di tembok serta meja besar kosong menutup setengah dari tembok. Tak ada laci ataupun vas bunga. Meja ini benar-benar kosong.


 


Bangunan sebesar ini tak mungkin menyisakan hiasan sepolos meja ini, semua meja memiliki vas bunga dari lantai bawah sampai atas bahkan meja kamarku juga terdapat vas bunga, ini aneh. Meneliti setiap bagian meja, tapi tak menemukan apapun.


 


‘ ini seperti jejak kaki’ tapi kenapa ada di atas meja.


Apa mungkin pelayan menaikinya ketika membersihkan atap, tidak mungkin. Bekas sepatu ini terlihat begitu kontras dengan mengkilapnya permukaan meja.


Mencoba menaiki meja itu duduk di atas nya.


Krekk


Seperti suara tuas, tak lama kemudian meja itu bergerak melingkar ke bawah. Jadi ini cara kerjanya, harus ada beban baru bisa bergerak. Pantas saja bagian atas meja tak diberikan benda apapun.


Meja ini bergerak perlahan hingga sampai pada lorong. Aku turun dan mengikuti arah lorong ini. Semua tampak remang, hanya lilin kecil yang berada di dinding sepajang lorong yang menjadi penerangan disini.


 


Setelah beberapa lama berjalan, aku bisa melihat lorong ini menuju pada persimpangan, lorong ini bercabang. Aku mengambil jalan yang sedikit lebih terang, disana seperti ruangan aneh, banyak barang-barang serta ada meja persembahan lengkap dengan lilin besar dan dupa.


‘tempat apa ini?’


Tak ada sedikitpun hal yang terlintas dalam benakku untuk menjelaskan tempat seperti apa ruangan ini.


Tap


Tap


Terdengar suara langkah kaki mendekat. Panik, aku harus segera bersembunyi. Kulihat di pojok ruangan terdapat lemari. Tak ada pilhan hanya tempat itu yang bisa digunakan. Membuka pintunya, terdapat beberapa baju serta barang aneh didalam. Tak ingin menghirauknya sekarang harus segara menyembunyikan diri. Setelah masuk, pintu lemari tidak kubiarkan rapat menyisakan sedikit celah untuk melihat siapa yang datang.

__ADS_1


 


Untung saja, tak lama setelah bersembunyi, seseorang masuk ke ruangan itu. Memakai tudung gelap menutup wajahnya sampai hanya menyisakan mulutnya yang terlihat. Orang ini membelakangi lemari. Seperti sedang melakukan pemujaan. Aku mengamati dengan serius apa yang sebenarnya dia lakukan.


__ADS_2