
Aku berjalan mendekatinya, tuan En sudah berada di pemandian. Pelayan membantuku merapikan pakaian agar tidak mempersulitkan aku saat di pemandian. Baju luaran sengaja di lepas agar tidak ikut basah.
“ bantu aku membersihkan diri”
“ maafkan saya yang mulia, tubuh saya masih lemas. Mungkin bawaan bayi jadi tidak bisa berlama-lama di pemandian. Aromanya cukup mengganggu saya” para pelayan menatapku iba. Seperti inilah yang aku inginkan. Aku bukan Zenia yang penurut lagi.
“ bukankah semalam kau mengatakan ingin memandikanku, karena bawaan bayi” pandai besilat lidah, kini pelayan malah menertawaiku.
“ kemarilah aku memberikan kesempatan untuk menyenangkan anakku” wajahnya terlihat puas mempermainkanku. Aku hanya mendesah pelan. Bukan tandinganku.
“ kalian pergilah” lanjut tuan En.
Aku mengambil pengharum badan serta wangian lainnya mendekat pada tuan En. Dia sudah menunggu dengan penuh kepuasan. Aku duduk di tepi pemandian, dan mulai menggosok punggungnya.
“ jadi bagaimana kabar anakku disana?” Sindiran atas penolakanku.
“ belum terlihat bentuknya” jawabku asal.
“ kenapa kau mengacuhkanku hari ini? “ pertanyaan itu lagi. Apakah belum jelas alasannya. Tidakkah dia merasa bersalah padaku.
“ saya tidak sedang mengacuhkan tuan”
“ apa kau marah padaku?”
‘tepat sekali’
“ memangnya apa yang harus saya marahkan?” memancing pembicaraan, siapa tahu tuan En akan mengatakan kebohongannya
“aku juga tak tahu” dasar pembohong. Jelas sekali alasannya masih saja tak mau mengaku.
Akhirnya kegaiatan itu selesai juga, meski dengan hati dongkol. Tuan En seperinya tahu ada yang berbeda dengan sikapku. Tapi sengaja tidak mengungkitnya lagi. Sekarang kami sedang sarapan bersama. aku lebih banyak diam dan hanya menyahut jika tuan En bertanya. Itupun dengan jawaban yang singkat.
Karena suasana hati yang kurang bagus itu, membuat tuan En meninggalkan istana dengan perasaan kurang senang. Wajahnya masih terus menatapku dengan penuh kebingungan, dan berakhir dengan menyerah. Aku belajar untuk bersikap dingin pada tuan En.
__ADS_1
“ nyonya, masih memikirkan masalah kemarin?” Cilla bertanya setelah membersihkan meja makan.
“ kau pasti tahu sakit hatiku, aku tidak akan melupakannya”
“ nyonya jangan bersedih, saya akan selalu disisi nyonya” hanya Cilla yang mengerti perasaanku.
“ hari ini apakah kau bisa membantuku?” Cila mendekat menandakan dia siap melakukan apa yang akan aku perintahkan. Aku berbisik di telinganya.
“ nyonya!, apakah tidak apa-apa?” dia terlihat ketakutan.
“ hari ini putra mahkota tidak akan mengunjungiku lagi, jadi selama kau tidak membuka mulut, semuanya akan baik-baik saja.” Aku punya rencana menegangkan hari ini. Demi menghibur rasa sakit hatiku.
“ baiklah nyonya” pasrah. Cila memang takkan bisa menolak perintahku. Bagus.
Dan sinilah aku, diatas bukit yang tenang dan sejuk. Setelah melakukan banyak sekali tipuan akhirnya aku bisa sampai disini. Aku menyuruh Cila untuk merahasikan kepergianku. Dia bahkan tak aku beritahu kemana sebenarnya aku pergi. Dengan memakai baju sederhana aku keluar istana.
Menaiki bukit yang berada di pinggir hutan, dari atas sini aku dapat melihat pemandangan kota Zoska serta kerajaan. Begitu indah dan mempesona. Aku menemukan tempat ini saat sedang berlatih berkuda. Saat itu hanya ingin mencari tempat untuk beristirahat sejenak, ternyata sekarang menjadi tempat kesukaanku ketika sedang menghibur diri.
Aku memandang kedepan. Tepat diarah kerajaan. Darisinipun kerajaan terlihat sangat luas dan megah. Diikuti dengan rumah penduduk yang tersebar mengelilinginya. Semuanya nampak kecil darisini.
“ lihatlah, kerajaan yang begitu besar itu nampak kecil. Apalagi dengan manusia yang tinggal disana?” gumanku. Hanya bisa bicara dengan diri sendiri.
“ seharusnya aku tidak berbangga diri, aku hanya sekumpulan semut darisini”
“ meskipun penguasanya adalah kerajaan tapi jika di bandingkan penduduk tetaplah kalah jumlah. Aku tak perlu takut. Mulai sekarang hanya bisa mengandalkan diri sendiri.”
Aku kembali terdiam, menikmati suasana alam yang menenangkan jiwa, angin yang begitu ramah mengantarkanku pada kedamaian. Menutup mataku, merasakan diri seakan berada dalam kesunyian.
Aku terbangun saat langit sudah sore, aku mulai khawatir dengan istana. Padahal aku berniat menghabiskan waktu hanya sampai siang saja tapi sekarang senja sudah mau menghilang. Aku bergegas turun.
“ tidak mungkin juga tuan En mencariku, pasti tengah sibuk merancang pernikahannya.” Seakan tersadar, aku mulai berjalan normal.
__ADS_1
Sesampainya aku di tempat kudaku, melihat kejernihan sungai menarikku untuk berenang disana. Ku tolehkan kepalaku mencari keberadan manusia yang mungkin saja berada disini.
“ tak ada siapapun” lirihku.
Aku mulai melepaskan pakaianku dan langsung berendam di sungai.
“ segar sekali air disini” teriakku. Rasanya lama sekali aku tidak lagi merasakan segarnya air sungai. Waktu kecil dulu bahkan bisa berenang sesuka hatiku. Aku merindukan masa-masa itu.
Tak terasa air mataku keluar, kerinduan pada orang tuaku mendadak kurasakan. Aku benar-benar kesepian disini. Tak ada yang menyanyangiku sebesar mereka. Entah tiba-tiba aku juga teringat tuan En, sebentar lagi mungkin perhatiannya akan terbagi. Dan aku hanya menjadi perhatian kecilnya.
“ sebenarnya kenapa sakit ini begitu menyiksaku. lupakan dia Zen, lupakan” gumanku. Aku semakin manangis, merasa tak berharga dan layak di tinggalkan.
“ aku tidak menginginkannya, aku membencinya” rancuku. Aku semakin berenang ke tengah sungai. Tak peduli akan bahaya. Terus berenang, sampai tiba-tiba aku terseret alus dan membentur batu. Seketika aku sadar, aku harus segera menepi.
“ hiks,,hiks,, tapi,, aku sudah mencintainya. Aku mencintai tuan En. Hiks ,,hiks”
Rasa sesak di dadaku membuatku semakin menangis, berusaha menyangkal rasa ini sekuat tenaga, tapi sungguh aku tak bisa. Semakin ingin meyangkalnya semakin sakit hati akan kebohongannya. Aku sudah tak tertolong lagi. Terjatuh dalam pesona putra mahkota.
Setelah puas mengeluarkan isi hatiku, kelegaan sedikit kurasakan. Mulai memakai pakaian dan melanjutkan perjalanan pulang. Aku baru mengetahui jika kepalaku berdarah akibat benturan tadi. Aku hanya membasuhnya dan menghentikan pendarahannya. Tunggu sampai di istana untuk mengobatinya.
Malam menyambutku ketika sampai di gerbang istana, aku melawati jalan yang sama saat aku keluar tadi, tak ada kendala yang terjadi. Setelah itu menyelundup memasuki istana harem. Semua keterampilan ini adalah hasil latihanku dengan kak Lu selama ini.
Setelah sampai di halaman belakang istanaku, aku berjalan pelan memasukinya. Suasana cukup sepi. Aku memerintahkan Cila mengatakan bahwa hari ini badanku sedang butuh istirahat, jadi mengurangi jumlah pelayan untuk menghindari keributan.
“ Cila, kemarilah” aku duduk di ruang tengah dan melepaskan sepatu serta baju luaran.
“ Cila..” tak ada sahutan. Tumben sekali dia tak menjawab panggilanku. Aku merasa ada yang tidak beres. Firasatku mengatakan terjadi hal yang buruk.
“ Cila,,” aku berjalan memasuki kamar.
Alangkah kagetnya aku melihat pemandangan disini, ku arahkan pandanganku kepada sosok wanita kecil dengan bagian tubuhnya berlumuran darah. Tak lupa pengawal yang sedang memegang cambuk berdiri di belakangnya.
__ADS_1