The Empero'S Prisoner

The Empero'S Prisoner
42


__ADS_3

Beberapa lama melakukan pelarian, kami bertiga bersembunyi di tengah hutan. Disana terdapat gubuk kecil yang masih bisa digunakan. Lenganku sudah terlilit kain untuk menghambat pendarahan. Sebentar lagi fajar, baru bisa keluar dari persembunyian ini.


“ Zuka, maafkan kami karena  telah membuat kau serta adikmu terseret dalam masalah ini”


Ares duduk disebelahku. Perkataanya terdengar penuh penyesalan.


“ dia satu-satunya keluargaku. Sekarang sudah tak ada siapa-siapa lagi” jawabku lemah, berusaha menarik simpatinya.


“ aku akan membalas dendam, apakah kalian mengenal siapa orang yang membunuh adikku?” lanjutku terus memancing informasi. Harus bisa memanfaatkan situasi dengan baik.


“ salah satunya adalah putra mahkota, meski begitu dia seharusnya bukalah penerus kerajaan yang sah. Jika kau ingin membalas dendam padanya ikutlah bersama kami. “


“ baiklah, apapun akan aku lakukan”


 


Setelah mendengar perkataan mereka, membuatku kaget sekaligus penasaran. Mereka begitu membenci tuan En, bahkan mengatakan bukan pewaris sah. Sebenarnya apa yang tidak aku ketahui, sekarang bukan saatnya menyimpulkan sesuatu. Harus mencari tahu informasi sebanyak mungkin.


 


**** 


Setelah keluar dari persembunyian, Ares membawaku dalam perjalanan. Entah kemana arah yang dia tuju. Sudah hampir setengah hari kami berkuda melintasi pegunungan. Badanku sudah mati rasa, kini tak ada lagi orang yang bisa ku ajak bercerita. Tak bisa memungkiri fikiranku masih terus mengkhawatirkan keadaan Cila.


 


Pagi buta aku sengaja kembali ke tempat Cila terakhir kali ditinggalkan. Disana sudah tidak ada tubuhnya, sedikit lega kemungkinan memang kak Lu sudah meyelamatkannya.


 


Kami bertiga tidak beristirahat sedikitpun, bahkan tengah hari masih terus melakukan perjalanan.


“ bertahanlah, kita akan sampai saat sore hari” Ares begitu khawatir dengan kondisiku yang lemah. Dia bahkan meyuruhku untuk berkuda bersamanya, tapi harus ku tolak. Jangan sampai dia mengenali tubuh wanitaku, sebelum semuanya jelas. Identitas ini begitu mengacam jika ketahuan.


“ jangan khawatir” sautku lemah. Hanya meminum beberapa teguk air saja ketika memulai perjalanan.


 


Benar saja, saat sore hari kami sampai di sebuah bangunan dengan pagar kayu tinggi. Posisinya berada di lembah pegunungan, begitu tersembunyi. Sebelum masuk Ares seperti memberikan kode, setelah itu pagar itu terbuka pelan. Disana tidak begitu ramai, tapi banyak sekali penjaga di setiap bangunannya. Mungkin ini adalah markas pemberontak atau kelompok api biru yang dikatakan tuan En.


 


Penjaga disana menatapku sejenak, sebelum Ares mendekati mereka. Kemudian mereka berdua terlibat percakapan yang panjang. Mungkin melihat Ares membawa orang luar membuat mereka sedikit berjaga-jaga.


 


Setelah cukup lama akhirnya Ares mengajakku masuk, sedang Gala entah pergi kemana. Sejak masuk sudah mengambil arah yang berbeda.

__ADS_1


“ kau perlu menemui ketua, katakan niatmu yang ingin membalas dendam. Kemungkinan dia akan menerimamu” kata Ares sebelum mengajakku kedalam salah satu bangunan yang berada disana.


 


Situasi disini mirip sekali dengan markas pemberontak yang sempat aku masuki dulu. Bangunan serta beberapa perlengkapan lainnya berbahan kayu, tapi terlihat cukup kokoh. Masing-masing pintu disini memiliki penjaga.


“ mari,,” membawaku masuk ruangan yang berada di lantai dua.


Ruangan ini cukup besar, meja panjang berada di tengah ruangan. Kemudian masuk terus sampai pada sebuah pintu di ujung ruangan. Ares mengetuk pelan.


“ masuk,” sautan dari dalam


Seoarang laki-laki paruh baya menyambut kedatangan kami. Dia langsung menatap kearahku.


“ ketua, lapor kemarin malam kami di sergap olah Enrick, untung saja dibantu oleh tuan Zuka. Jadi bisa melarikan diri. Tapi sayang adik tuan Zuka terluka parah dan akhirnya meninggal dunia. “ ketua hanya memperhatikan dengan diam, sebelum akhirnya mengangguk pelan.


“ tuan Zuka ingin membalas dendam atas kematian adiknya, maka dari itu saya membawanya kemari” ketua kemudian berdiri mendekatiku.


“ begitu tuan Zuka?” tanya ketua.


“ iya, saya akan melakukan apapun untuk membalas dendam ini” jawabku yakin. Dari penampilannya ketua terlihat tidak terlalu menyeramkan, tapi postur tubuhnya yang tegap seakan mencermintakn kewibawaan serta ketegasan dalam dirinya.


“ kau yakin ?” aku langsung mengangguk.


“ baiklah setelah ini kau ikuti perkataan Ares. Dia akan menjadi rekanmu disini” ketua kemudian kembali duduk. Memberikan kode kepada Ares untuk meninggalkan ruangan. Meskipun sedikit lega tapi terasa ada yang ganjil.


 


“ ketua memang bukan orang yang jahat, dia selalu memperhatikan kami. Membuat kami merasakan hangatnya keluarga.” Jadi memang seperti ini. Aku bahkan sudah membayangkan jika akan ada serangkaian tes-tes khusus untuk bisa masuk kedalam kelompok ini. Ternyata malah jauh dari prediksiku.


“ masuklah, lukamu harus diobati” begitu masuk disini mengingatkan aku seperti masuk ke ruang pengobatan. Bau obat langsung menyambutku ketika berada di pintu masuk.


“ Ares siapa yang kau bawa?” seorang wanita keluar dari ruangan sambil membawa semangkuk ramuan.


“ obati dia,lenganya terluka” kemudian Ares langsung pergi. Aku menatap wanita ini canggung.


 


“ duduklah.” Mengikuti perintah.


“ mana lengamu?” wanita ini sedikit dingin padaku, berbeda sekali saat ada Ares.


“ namamu siapa?” tanyaku mencoba membuka percakapan.


“ mia..” jawabnya singkat.


 

__ADS_1


Setelah beberapa saat lenganku sudah terbalut perban. Serta sudah meminum ramuan dari Mia. Wanita ini terlihat cantik dengan kulitnya yang putih mulus. Aku mengira dia memiliki ketertarikan dengan Ares. Dari bahasa tubuhnya yang begitu berbeda saat kepadaku.


 


“ sudah selesai, ? Zuka ikut denganku” Ares tiba-tiba muncul dari pintu masuk.


“ apa kau tidak membutuh sesuatu lagi?” Mia segera mendekati Ares.


“ tidak,,” Ares mala bersikap sedikit dingin kepada Mia. Apa ini cinta bertepuk sebelah tangan. Sungguh kasian sekali.


 


Aku beranjak berdiri dan mengukuti langkah Ares. Dia membawaku di ruangan yang paling belakang, semacam rumah pondok kecil.


“ sementara kau tinggallah disini, setelah memulai pekerjaan kau bisa pindah”


“ apa kau juga tinggal disini?”


“ sebenarnya tidak, tapi karena ada kau, mungkin beberapa minggu perlu memberikan arahan padamu”


“ disini ada 2 kamar. Kau pililah dulu.” Lanjut Ares.


Kami masuk ke rumah pondok itu, tidak terlalu kecil. Aku mengambil kamar yang paling depan. Penerangannya tidak terlalu terang, jadi tepat/sekali dengan keadaanku yang harus menyembunyikan identitas.


 


Setelah memberikan beberapas setel baju Ares meninggalkanku sendiri dikamar, memberikan waktu bagiku untuk istirahat. Langsung saja melepaskan baju luaran dan masuk ke kamar mandi. Tidak ada bak rendaman, jadi hanya bisa duduk sambil mengguyurkan air. Sungguh menyegarkan sudah lama tidak mandi membuat tubuhku benar-benar lengket.


 


“ makanan sudah siap, “ teriak Ares saat aku sedang mengganti pakaian.


“ baiklah sebentar lagi aku akan keluar.”


 


Menu makanan disini begitu sederhana, hanya ada menu sayuran. Bahkan lauknya hanya ada tahu dan telur. Karena rasa lapar ini sudah tertahan begitu lama membuat makanan ini terlihat begitu lezat. Langsung saja duduk, disana sudah ada Ares.


 


“ kau yang memasak?”


“ tidak, disini sudah ada bagian dapur sendiri”


“ oh,,”


Tak ingin menunda waktu makan, langsung saja kulahap makanan ini. Kini tak perlu malu-malu lagi, menjadi laki-laki membuatku lebih leluasa dalam makan. Perlu berterima kasih dengan nafsu makanku. Setidaknya dengan begitu membuatku terlihat normal menjadi laki-laki.

__ADS_1


__ADS_2