The Empero'S Prisoner

The Empero'S Prisoner
20


__ADS_3

Berita kehamilanku pasti sudah menyebar seisi istana. Bahkan hari ini kaisar datang ke istanaku pasti berita ini begitu menarik perhatian kaisar. kaisar menaruh banyak harapannya, jangan sampai aku merusaknya.


 


Kedatangan yang begitu tiba-tiba tidak mungkin terjadi begitu saja. Perasaanku semakin tidak karuan. Apalagi melihat adanya tabib kekaisaran. Ini tidak sesederhana kelihatannya.


 


“ benar sekali permaisuri, bukankah tubuhmu masih lemah, berbaringlah tabib akan memeriksa keadaanmu” kaisar sudah mengatakan niatnya. Bagaimana caraku menolaknya.


“ tabib istana sudah memeriksa, tubuh saya cukup baik. Terimakasih sudah mengkhawatirkan hamba”


“ kau tak perlu sungkan, mari aku bantu kau berbaring” permaisuri terlihat antusias sekali. Jangan-jangan dia memiliki niat lain.


“ baik yang mulia” tak ada jalan keluar dari situasi ini selain mengikuti kemauan mereka.


 


Cila melepaskan pegangannya. Permaisuri dengan lembutnya membantuku menaiki ranjang. Tabib sudah menunggu disamping kaisar. jantungku semakin berdetak kencang. Aku punya perasaan jika pemeriksaan ini adalah jalanku menuju kematian. Jika tabib mengatakan bahwa aku tidak mengandung, aku sudah tak tertolong.


 


“ silahkan tabib”


“ baik yang mulia”


 


Tabib itu berjalan ke arahku didahului dengan turunnya permaisuri dari ranjangku. Kulihat dia berjalan ke arah yang mulia kaisar dan berdiri disampingnya, tak lupa tangannya memeluk lengan kaisar. sungguh pasangan yang mesrah.


 


Aku tahu jika saat ini bukan saatnya memuji pasangan itu, tapi aku sudah tak bisa berfikir apapun lagi. Fikiranku kosong, hanya berusaha agar kekhawatiran ini tidak tercetak jelas di wajahku.


 


“ yang mulia, tangan anda” tabib membuyarkan semua lamunanku.


 


Lama aku menimbang apakah harus ku berikan tangan ini, yang aku tau ini akan membunuhku. Ingin sekali ku menyuruhnya keluar tapi tidak, semua terlambat.


‘tuhan, tolonglah aku’ aku hanya mengulang-ulang doa itu dalam hatiku. Berharap pertolongan dari siapaun dari situasi ini.


 


Kurasakan tabib sudah memeriksa tanganku. Entah kenapa tanganku terlihat gemetar. Bahkan hal ini membuat tabib sedikit kesusahan dan beberapa kali memandang kearahku. Seakan mengatakan padaku untuk menenangkan diri.


 

__ADS_1


“ ayahanda, ibunda” tiba-tiba sapaan itu membuat satu ruangan itu kaget, termasuk aku. Kami semua menoleh kearah suara. Tak ingin membuang waktu segera kutarik tanganku dari tabib kekaisaran.


 


“ putra mahkota, kamu sudah kembali.” Kaisar segera menyambut anaknya dan menepuk lengannya.


 


“ saya mendengar kabar di istana harem jadi langsung bergegas kembali”


“ kau pasti sangat senang mendengarnya”


“ iya ayahanda, kalau boleh saya ingin melihat keadaan selir Zen”


“ tentu, tentu”


 


Tabib itu menarik diri dan menjauhi ranjang, digantikan dengan kehadiran tuan En dengan wajah berbinarnya. Apa tuan En benar-benar mempercayai semua kabar itu. Apakah dia tidak ingat jika kita belum pernah melakukan...


 


“ kau pasti kesusahan dengan keadaan ini” tangannya memegang tanganku. Seakan memberikan kesan perhatian kepadaku.


 


“ tidak yang mulia, saya benar-benar bahagia saat mengetahui hal ini” aku akan ikuti semua sandiwara ini. Tatapan mata serta eratnya pegangan tangan tuan En seperti memberiku tanda.


 


 


“yang mulia jangan khawatir, tabib sudah mengatakan bahwa kondisi saya sudah membaik. Hanya butuh istirahat dan tidak boleh terlalu lelah” usapan lembut tangan tuan En di kepalaku semakin membuatku terhanyut dalam sandiwara. Perlakuannya semakin lembut. Bahkan sepertinya tuan En berniat ingin mencium keningku. Tunggu kenapa semakin mesra perlakuannya.


 


“ ehemmm” kaisar tiba-tiba bersuara. Seketika tuan En langsung menajuhkan dirinya. Seperti terlihat sedang malu karena melupakan kehadiaran kedua orang tuanya.


 


“ sepertinya kita menganggu kebersamaan mereka, lebih baik kita kembali permaisuri” lanjut kaisar.


 


Aku menarik kesimpulan jika tuan En sengaja melakukan ini semua. Apakah tuan En memiliki tujuan yang sama denganku.


 


“ tapi kaisar tabib kekaisaran juga sudah ada disini, biar sekalian memeriksa apalagi putra mahkota juga berkumpul disini” permaisuri menolak keluar. Berarti benar ini semua adalah bentuk ‘ perhatian ‘ permaisuri kepadaku.

__ADS_1


 


Baru kemarin menyuruhku untuk memikirkan penerus kerajaan, sekarang benar-benar membuatku berfikir keras akan hal itu. Segala kemauan permaisuri memang sulit di tolak.


 


“ kita bisa kesini lain waktu, “ setelah itu kulihat kaisar membisikkan sesuatu kepada permaisuri. Entah apa tapi permaisuri terlihat mengangguk sambil tertawa kecil.


 


“ maafkan saya ayahanda, ibunda” tuan En masih bersandiwara akan kejadian barusan.


“ kami akan kembali istana kekaisaran, jaga diri kalian baik-baik” kaisar menyudahi pertemuan kali ini. Mereka berdua kembali beserta tabib kekaisaran, menyisakan aku, tuan En dan cilla.


 


“ apa maksud dari kabar ini?” cerca tuan En begitu rombongan kaisar meninggalkan istana harem.


“ s,,saya juga tidak tau harus mengatakannya darimana, tuan” aku langsung bangkit dari ranjang dan berdiri di dekat tuan En.


“siapa yang mengumunkan kehamilanmu?” wajahnya cukup menakutkan, sorot matanya cukup tajam.


“ bukankah kau sendiri yang melakukannnya?” lanjutnya. Kedua tangannya mencengkram lenganku dengan kuat. Melihat kemarahan tuan En malah membuatku takut mengatakan kebenarannya, bagaimana Cilla akan menghadapi kemarahan tuan En. Tidak. Aku harus menanggungnya.


“ katakan, kenapa kau melakukan hal ini?!” suaranya semakin meninggi.


“ s,,saya.. s,s,saya..” ku coba melihat Cilla. Dia berdiri di belakang tuan En, dekat dengan pintu masuk. Aku berharap jangan sampai dia mengatakan kebenarannya. Menangis, Cilla menagis. Tanganya menutup mulutnya kuat, agar tak menghasilkan suara. Dia begitu ketakutan hanya dengan melihat tuan En memarahiku. Sorot matanya menyedihkan bahkan tanganya terlihat agak gemetar, maniknya menatapku. Hanya gelengan kecil yang aku berikan. Tidak, jangan katakan apapun.


“ jadi ini rencanamu? Kau menghianatiku demi mendapatkan kedudukan?” tuan En masih belum puas memarahiku. Ya, dia takkan berhenti jika tak mendapatkan jawabannya. Tapi aku tidak pernah merencanakan ini semua.


“ s,,saya memang ,,,”


“ saya yang melakukannya” tidak. Cila sudah bersujud dengan tangisan yang menyedihkan. Kurasakan remasan tangan tuan En sedikit melemah. Aku menatapnya, tapi maniknya sudah beralih ke arah Cilla.


“ saya yang mengumumkan berita kehamilan yang mulia selir,, hiks,,hiks. Maafkan saya, tolong maafkan saya” tuan En hanya diam tak berkata apapun. Suasana menjadi semakin menakutkan. Badanku di hempaskan dan kini tuan En sudah berdiri di hadapan Cilla.


 


Tuan En terlihat sangat marah, kedua tangnnya berada di pinggangnya. Aku yang masih terduduk akibat hempasan tuan En mencoba menerka-nerka apa yang terjadi selanjutnya. Cilla masih menangis dan meminta maaf. Sungguh kasihan.


 


“ Lucien, bawa wanita ini ke gudang peristirahatan!” tidak, tidak. Itu adalah tempat tuan En memeriksa musuhnya, disana sudah tersedia berbagai macam persenjataan.


****


terimakasih sudah membaca karya aku..


jangan lupa vote, like dan, coment ya..

__ADS_1


kasih saran dan masukan agar karyaku bisa lebih baik...


__ADS_2