The Empero'S Prisoner

The Empero'S Prisoner
season II, I


__ADS_3

POV Enrick


 


“ yang mulia, anda baik-baik saja?” Lucien dengan tertatih-tatih menghampiriku yang terduduk tak berdaya. Keadaanya tak jauh berbeda denganku. Goresan pedang sudah mengenai punggung serta kaki. Mereka benar-benar terlatih.


 


“ aku harus mengejar mereka” sama sekali tidak rela jika harus berpisah kembali dengan Zen ku. Sudah hampir 4 bulan tak bertemu, kini harus melihatnya pergi dalam kondisi hamil, tidak. Aku sungguh tak rela. Melepaskan genggaman tangan Lucien yang sengaja menahanku, dan mulai beranjak mengejar mereka.


 


“ yang mulia hentikan, lihat tubuh anda. “


“ aku tidak peduli Luc”


“ anda tak mungkin bisa mengejar mereka, tunggu sampai luka ini sembuh. Kita akan membawa selir kembali” dalam kondisi terdesak seperti ini memang Luc selalu berhasil mengubah fikiranku.


“ mari saya bantu yang mulia.” Cila memapahku masuk, sedang Luc masih bisa berjalan meski harus tertatih-tatih.


 


Setelah beberapa lama mengobati luka serta mengganti pakaian, segera bergegas mencari jejak para pemberontak itu. Mungkin saja dengan ini bisa mengetahui arah pelarian mereka.


Sejak bertemu Zen dalam kondisi hilang ingatan seketika membuat kekhawatiranku bertambah. Benar memang dia bersama dengan ibunya, tapi di tubuh Zen ada bagian dari diriku. Zoya selama ini begitu membenci diriku bahkan mengirim kutukan hitam padaku. Dengan kebenaran yang baru dia ketahui, ku harap dia masih memiliki akal untuk tidak menyakiti putrinya sendiri.


 


Senja mulai nampak saat aku kembali ke kediaman. Tidak ada satupun jejak mereka yang tertinggal, jejak mereka benar-benar bersih. Entah kemana mereka pergi kini hanya bisa menyerahkan pada takdir.


 


“ yang mulia, anda darimana saja? Luka anda bahkan baru saja di obati” Langsung saja di berondong dengan ocehan Lucien.


“ kemasi barang-barang. Kita kembali ke kerajaan” perintahku mutlak.


 


Memang saat mengetahui jika selama ini Zoya masih hidup sudah membuatku tak percaya, tapi mengetahui jika dia juga dalang dari pemberontak memanglah ada hubungannya, aku tidak begitu kaget. Hal ini masih bisa dikaitkan. Namun entah kenapa aku merasa ada sedikit kejanggalan. Seharusnya aksi teror pemberontak berlangsung setelah kejadian pembantaian itu. Tapi tidak, teror itu berlangsung bahkan sebelum kejadian pembunuhan Marcus { ayah Zenia} di kuil.


Kejadian ini semakin rumit, kalau kelompok pemberontak adalah milik Zoya, berarti kemungkinan ada kelompok lain yang memanfaatkan situasi ini. Kelompok itu pasti yang merencanakan pembunuhan Marcus waktu itu. Segala kecurigaan ini ak akan berujung. Satu-satu cara untuk mengetahuinya adalah dengan kembali ke kerajaan. Karena semuanya berasal darisana. Ini adalah benang merah yang ku temukan.


Tepat tengah hari perjalanan ke kerajaan selesai, sudah hampir setengah bulan menghilang tanpa kabar. Masalah hilangnya Zenia sudah tidak bisa di tutupi lagi. Entah bagaimana situasi istana harem dalam menangani masalah ini.

__ADS_1


 


“ putra mahkota, untung saja kau sudah kembali. Kaisar begitu menghawatirkan anda” wanita ini lama-lama membuatku jengkel saja. Apakah dia tidak punya sedikitpun pekerjaan selain membuntutiku.


 


“ kembalilah putri, dan tenang saja aku baru saja kembali dari istana kekaisaran”  berjalan meninggalkannya.


“ tunggu yang mulia, apakah ada sesuatu yang anda butuhkan?”


“ tidak ada” memberikan kode penjaga untuk menahan putri mahkota.


 


Segera memasuki pemandian, rasanya kepalaku ingin pecah. Bagaimana bisa kerajaan tahu bahwa Zen adalah putri kelompok pemberontak. Meski hal ini masih menjadi isu, tapi tetap saja membuat kaisar semakin curiga. Untung saja bisa ku atasi dengan mengatakan bahwa Zen tengah di culik oleh kelompok pemberontak. Awalnya memang aku ingin menutupi bagimanapun Zen masih membutuhkan keberadaan ibunya. Tapi semakin lama situasi ini tak bisa ku atasi. Antara Zen ataupun ibunya berada pada sisi yang bertentangan, aku tak bisa melindungi keduanya.


 


Sepertinya di kerajaan terdapat mata-mata yang cukup handal. Zoya begitu membenci kerajaan, jadi tak mungkin juga mau berbagi informasi selain gudang senjata. Melihat kecepatan informasi yang tersebar, mungkin benar dugaanku, kelompok lain itu justru berasal dari istana. Aku harus segera mencari tahu, apa mungkin permaisuri mengetahui sesuatu. Dia satu-satunya orang yang paling mencurigakan.


 


“ Luc, kirim orang untuk mencari tahu segala hal terkat dengan istana permaisuri”


“ baik yang mulia”


 


Semakin hari posisi permaisuri semakin kuat dalam tatanan kerajaan. Bahkan hanya menyisakan posisi-posisi mencolok seperti perdana mentri. Kaisar tidak mungkin tidak mengetahuinya. Posisi perdana mentri dari dulu adalah orang kepercayaan kaisar, bahkan tidak ada siapapun yang berani mengusiknya. Kaisar cukup arogan dan sombong, aku tahu jelas bagaimana perangai ayahku sendiri. Ada satu celah yang munkin bisa aku masuki. Kaisar paling tidak suka di bohongi apalagi tentang jabatan. Besok malam mungkin aku bisa mengunjunginya secara pribadi.


 


“ yang mulia, hari sudah larut. Saya membawakan kudapan. Anda bahkan tidak menyentuh makan malam.” Putri mahkota kembali lagi. Sepertinya harus memberikan perintah untuk melarangnya memasuki istanaku.


 


“ ini yang mulia, cobalah saya membuatkan khusus untuk anda”


“ letakkan disana, dan pergilah”


“ yang mulia, cobalah” dia berusaha menyuapiku kue. Sulit sekali membuatnya mengerti bahwa aku tidak sedang ingin di ganggu siapapun.


“ yang mulia, buka mulut anda”

__ADS_1


 


Samar-sama aku mencium aroma yang asing. Aroma ini biasa digunakan Lucien ketika membuat ramuan ‘malam’. Beberapa kali aku menggunakannya pada Zen jadi sedikit mengenali aroma ini. Pandanganku terangkat menatap putri mahkota. Tidak heran dia bersikeras memaksaku memakannya. Dia cukup cerdas memanfaatkan situasi.


 


“ putri, ini benar kamu yang membuatnya?” menarik tubuhku menjadi bersandar pada sandaran kursi.


“ i,iya yang mulia”


“ emm,, kalau begitu cobalah.” Dia terlhat cemas, tidak menyangka jika aku memberikan permintaan seperti ini.


“ s,saya sudah mencobanya tadi”


“ aku ingin melihat cara makanmu. Makanlah” dia tak memiliki pilihan. Meski sedikit ragu-ragu, putri Luna tetap memasukkannya kedalam mulut.


“ habiskan “


“ saya tidak,,”


“ kau menolak permintaanku?” dia menggelang cepat. Bagus sekali.


 


Dia mengira aku bisa di bodohi segampang ini. Tidak. Dia salah berfikir bisa menjebakku. Posisinya memang semakin terancam, bahkan rumor tetang keguguran Zen juga masih menempel padanya. Itu memang rencana awalku, membuat posisinya hanya sebatas status. Tak ada kekuasaan ataupun perasaan. Biarkan dia merasa bagaimana kerasnya lingkungan kerajaan.


 


“ sudah?” terlihat dia kesulitan dalam menelan kue-kue itu.


“ kau tahu, melihatmu makan seperti ini, membuatmu semakin cantik “ dia tersipu malu. Gampangan.


“ itu masih ada beberapa kue lagi” dalam wadahnya menyisakan 3 kue.


“ saya sudah kenyang yang mulia”


“ emm,, baiklah. Penjaga!” putri terlihat kebingungan.


“ kemari, makan habis semua kue ini” terlihat raut penolakan di wajah Luna, tapi dia tak berani bersuara.


“ baik yang mulia. “ dalam sekejap piring itu kosong.


“ kau pegilah antar putri mahkota kembali ke istananya. Jangan kembali sebelum kau mematikan bahwa putri benar-benar tidur” putri luna sedikit mengerutkan keningnya. Mungkin efek obatnya mulai bekerja.

__ADS_1


“ putri silahkan, tidurlah yang tenang” menampilkan senyum kepuasan. Kuharap dia menikmati hadiah kecil karena berani berniat menjebakku.


Mereka berdua berjalan keluar dari istanaku. Cukup membuang waktu berhargaku. Segera ku lanjutkan memeriksa berkas lainnya. Sampai aku menemukan sebuah surat tersegel. Benda ini seharusnya dari Morgan. Ada hal mendesak apa yang membuatnya mengirim surat ini.


__ADS_2