
Kerajaan sedang di guyur hujan lebat, suasana menjadi dingin
berangin. Malam hari yang menakutkan. dikamar raja dan ratu sedang tertidur
lelap. Mereka tidak terganggu dengan suara hujan petir yang menggelegar.
Penjagaan sedang berganti, beberapa pasukan terlihat hanya di gerbang depan dan
beberapa tempat di area utama.
Seorang berpakain hitam masuk mengendap-ngendap. Dia sudah
menunggu sejak lama datangnya hari ini. Tepat dengan kondisi istana yang
lenggang, memudahkanya memasuki istana inti. Tidak perlu kesusahan lelaki itu
sudah hafal letak istana serta masing-masing kamar.
Terdengar suara patrol penjaga, lelaki itu buru-buru
menyembunyikan diri. Jangan sampai rencananya gagal karena kurangnya
kehati-hatian. Setelah melewati berbagai lorong, akhirnya dia sampai di tempat
yang dituju. Sebuah kamar yang terbilang begitu mewah, disana terbaring seorang
anak laki-laki yang masih berumur 5 tahun.
Lelaki itu menarik sudut bibirnya, matanya berbinar karena
senangnya. Tak ada penjaga maupun dayang semuanya sudah dia singkirkan.
“ takdir berpihak padaku” gumannya, lelaki ini mempunyai niat
buruk pada anak kecil di depannya dia seakan menyimpan dendam dari sorot
matanya yang berubah garang.
“ sudah lama sekali, kau begitu cepat tumbuh.” Lelaki itu
mengusap lembut rambut bocah yang sedang tertidur pulas.
Beberapa saat di kamar lain, Zen tiba-tiba terbangun. Perasaanya
tidak menentu. Firasatnya buruk terhadap Aidyn, tanpa membangunkan suami dan
anak bayinya, Zen turun dari ranjang. Dia berjalan cepat menuju kamar anak
pertamanya. Hanya berselisih satu lorong dari kamar pribadinya.
Semakin mendekat perasaanya semakin tidak enak, kini jarak kamar
sudah tinggal 10 meter, dari tempatnya dia bisa melihat pintu kamar anaknya.
Tak ada penjaga di luar, dan itu semakin membuat Zen panic. Belum juga sampai
di depan pintu suara teriakan melengking dari dalam kamar.
“ tidak” guman Zen dan segera berlari.
Bersamaan dengan itu bayi yang dia tinggal juga ikut memangis
__ADS_1
kencang, sang ayah yang tertidur pulas langsung saja terbangun dengan rasa
terkejut.
“ Zen kau dimana?” tidak menemukan keberadaan istrinya Enrick
segera menggedong sang anak. Dia pasti tau kemana perginya istrinya ditengah
malam seperti ini. Bayi dalam gendongannya tetap tidak mau diam terus menangis
meski Enrick sudah mengayun-ayunkan hingga membuat lelaki ini kebingungan.
“ stt tunggu ya, ayah akan membawamu ke ibu” Enrick berjalan
menuju kamar putra makota.
Dari luar dia bisa melihat cahaya aneh yang berasal dari dalam
kamar. Perasaanya berubah tidak enak, tak lama seorang dayang berlari ke
arahnya.
“yang mulia kediaman putra makota baru saja di serang” terlihat
sekali penampilan dayang tersebut, bahkan kepalanya masih berlumuran darah
ketika melapor padanya. Enrick menatap kamar Aindyn dengan nafas yang memburu.
Dia menyerahkan bayi mungilnya kepada dayang, lalu berlari menuju kamar.
Betapa mengejutkannya, didalam terpampang pemandangan diluar
dugaanya. Istrinya sudah tak sadarkan diri dengan kening berdarah, tak jauh dari sama ada seorang lelaki dengan
adalah milik sang istri.
“ Zen,,, bangunlah” Enrick sedikit lega nafas Zen masih ada.
Beberapa pelayan masuk dan membantu Zen siuman. Enrick mendekati tubuh lelaki
berpakaian hitam itu, di tariknya bahunya. Lelaki itu masih tersadar meskipun
menipis. Betapa tidak percayanya,Enrick jelas mengenali wajah lelaki ini.
“ Morgan, kau!” kemarahan Enrick langsung memuncak, dia segera
menarik pisau belati dan berniat menusukkan ke jantung Morgan. Namun tiba-tiba
saja Aidyan menangis keras, seakan dia kesakitan. Enrick mendekati ranjang,
anaknya terlihat tidak baik-baik saja.
“ hahahha,, kau lihat ,, uhuk uhuk.. “ Morgan tertawa
menyaksikan rencananya berhasil, meski dia terlihat tidak dalam kondisi baik.
“ apa yang kau lakukan padanya?” Enrick berdesis jelas sekali sang
raja teramat marah dengan pemandangan yang dilihatnya. Wajah putra mahkota
begitu pucat dengan tubuh yang sangat dingin.
__ADS_1
“ aku telah memberinya feel, dengan itu jika dia berhasil
menguasinya dia akan menjadi manusia terkuat jika tidak dia hanya seperti bunga
mekar layu dan mati, hahhaha” morgan tertawa puas. Dia telah melepaskan semua feel miliknya kepada Aidyn. Tentu untuk
mengedalikannya butuh tenaga dalam serta fisik yang kuat, sedangkan Aidyn masih
sangat kecil, tubuhnya tidak mampu menanggung kekuatan sebesar itu.
“ kenapa kau melakukannya?!” Enrick menggila, dia tidak bisa
melihat anaknya tersiksa seperti ini.
“ kau keturunan Kahla wanita yang begitu aku cintai, dan kau
juga anak Aeron lelaki yang sangat aku benci. Aku memberikan hadian sekaligus kutukan
untuk keturunanmu, ya kau harus membayar rasa sakit hatiku” suara Morgan
terdengar parau, waktunya tidak banyak. Setelah dia memberikan semua feel nya
raganya akan melemah dan mati. Dia masih beruntung bisa menyaksikan kesedihan
Enrick.
“ kau, “ dalam satu lemparan pisau itu melayang menembus leher
Morgan, lelaki itu tewas seketika. Suasana semakin rumit, Aidyn tidak berhenti
menangis karena kesakitan.
“ tidak ada cara lain” Enrick membuka pakaian Aidnyn, tubuh
anaknya terdapat noda keunguan. Ini adalah ulah feel yang meronta dari dalam tubuhnya.
Enrick mendudukan anaknya tepat di depannya. Lelaki itu menyayat
telapak tangannya dan meminumkan darahnya kepada Aidyn. Darah Enrick mengandung
kekuatan menyembuhkan segala racun dan hal-hal yang merusak tubuh. Aidyn
menghisapnya, anak itu harus meminum darahnya sebanyak mungkin. Setelah
beberapa lama, suara Zen terdengar. Wanita itu syok dan segera mendekati suami
dan anaknya. Dia masih ingat betul dengan kejadian sebelumnya. Begitu tau
Morgan sudah tewas, wanita itu sedikit lega. Namun belum juga menghela nafas,
pemandangan setelahnya jauh lebih mengerikan.
Suaminya sedang memberikan tenaga dalam kepada Aidyn.
“ Enrick, apa yang kau lakukan?” wajah Enrick sudah mulai pucat
belum lagi luka ditangannya masih mengeluarkan darah. Tak ada sautan. Lelaki
itu berkonsentrasi untuk menolong sang anak. Hingga kemudian Enrick memuntahkan
darah, Aidyan berhenti menangis dan tiba-tiba keduanya terjatuh tidak sadarkan
__ADS_1
diri.