The Empero'S Prisoner

The Empero'S Prisoner
suatu Malam


__ADS_3

Kerajaan sedang di guyur hujan lebat, suasana menjadi dingin


berangin. Malam hari yang menakutkan. dikamar raja dan ratu sedang tertidur


lelap. Mereka tidak terganggu dengan suara hujan petir yang menggelegar.


Penjagaan sedang berganti, beberapa pasukan terlihat hanya di gerbang depan dan


beberapa tempat di area utama.


Seorang berpakain hitam masuk mengendap-ngendap. Dia sudah


menunggu sejak lama datangnya hari ini. Tepat dengan kondisi istana yang


lenggang, memudahkanya memasuki istana inti. Tidak perlu kesusahan lelaki itu


sudah hafal letak istana serta masing-masing kamar.


Terdengar suara patrol penjaga, lelaki itu buru-buru


menyembunyikan diri. Jangan sampai rencananya gagal karena kurangnya


kehati-hatian. Setelah melewati berbagai lorong, akhirnya dia sampai di tempat


yang dituju. Sebuah kamar yang terbilang begitu mewah, disana terbaring seorang


anak laki-laki yang masih berumur 5 tahun.


Lelaki itu menarik sudut bibirnya, matanya berbinar karena


senangnya. Tak ada penjaga maupun dayang semuanya sudah dia singkirkan.


“ takdir berpihak padaku” gumannya, lelaki ini mempunyai niat


buruk pada anak kecil di depannya dia seakan menyimpan dendam dari sorot


matanya yang berubah garang.


“ sudah lama sekali, kau begitu cepat tumbuh.” Lelaki itu


mengusap lembut rambut bocah yang sedang tertidur pulas.


Beberapa saat di kamar lain, Zen tiba-tiba terbangun. Perasaanya


tidak menentu. Firasatnya buruk terhadap Aidyn, tanpa membangunkan suami dan


anak bayinya, Zen turun dari ranjang. Dia berjalan cepat menuju kamar anak


pertamanya. Hanya berselisih satu lorong dari kamar pribadinya.


Semakin mendekat perasaanya semakin tidak enak, kini jarak kamar


sudah tinggal 10 meter, dari tempatnya dia bisa melihat pintu kamar anaknya.


Tak ada penjaga di luar, dan itu semakin membuat Zen panic. Belum juga sampai


di depan pintu suara teriakan melengking dari dalam kamar.


“ tidak” guman Zen dan segera berlari.


Bersamaan dengan itu bayi yang dia tinggal juga ikut memangis

__ADS_1


kencang, sang ayah yang tertidur pulas langsung saja terbangun dengan rasa


terkejut.


“ Zen kau dimana?” tidak menemukan keberadaan istrinya Enrick


segera menggedong sang anak. Dia pasti tau kemana perginya istrinya ditengah


malam seperti ini. Bayi dalam gendongannya tetap tidak mau diam terus menangis


meski Enrick sudah mengayun-ayunkan hingga membuat lelaki ini kebingungan.


“ stt tunggu ya, ayah akan membawamu ke ibu” Enrick berjalan


menuju kamar putra makota.


Dari luar dia bisa melihat cahaya aneh yang berasal dari dalam


kamar. Perasaanya berubah tidak enak, tak lama seorang dayang berlari ke


arahnya.


“yang mulia kediaman putra makota baru saja di serang” terlihat


sekali penampilan dayang tersebut, bahkan kepalanya masih berlumuran darah


ketika melapor padanya. Enrick menatap kamar Aindyn dengan nafas yang memburu.


Dia menyerahkan bayi mungilnya kepada dayang, lalu berlari menuju kamar.


Betapa mengejutkannya, didalam terpampang pemandangan diluar


dugaanya. Istrinya sudah tak sadarkan diri dengan kening berdarah,  tak jauh dari sama ada seorang lelaki dengan


adalah milik sang istri.


“ Zen,,, bangunlah” Enrick sedikit lega nafas Zen masih ada.


Beberapa pelayan masuk dan membantu Zen siuman. Enrick mendekati tubuh lelaki


berpakaian hitam itu, di tariknya bahunya. Lelaki itu masih tersadar meskipun


menipis. Betapa tidak percayanya,Enrick jelas mengenali wajah lelaki ini.


“ Morgan, kau!” kemarahan Enrick langsung memuncak, dia segera


menarik pisau belati dan berniat menusukkan ke jantung Morgan. Namun tiba-tiba


saja Aidyan menangis keras, seakan dia kesakitan. Enrick mendekati ranjang,


anaknya terlihat tidak baik-baik saja.


“ hahahha,, kau lihat ,, uhuk uhuk.. “ Morgan tertawa


menyaksikan rencananya berhasil, meski dia terlihat tidak dalam kondisi baik.


“ apa yang kau lakukan padanya?” Enrick berdesis jelas sekali sang


raja teramat marah dengan pemandangan yang dilihatnya. Wajah putra mahkota


begitu pucat dengan tubuh yang sangat dingin.

__ADS_1


“ aku telah memberinya feel, dengan itu jika dia berhasil


menguasinya dia akan menjadi manusia terkuat jika tidak dia hanya seperti bunga


mekar layu dan mati, hahhaha” morgan tertawa puas. Dia telah melepaskan semua feel  miliknya kepada Aidyn. Tentu untuk


mengedalikannya butuh tenaga dalam serta fisik yang kuat, sedangkan Aidyn masih


sangat kecil, tubuhnya tidak mampu menanggung kekuatan sebesar itu.


“ kenapa kau melakukannya?!” Enrick menggila, dia tidak bisa


melihat anaknya tersiksa seperti ini.


“ kau keturunan Kahla wanita yang begitu aku cintai, dan kau


juga anak Aeron lelaki yang sangat aku benci. Aku memberikan hadian sekaligus kutukan


untuk keturunanmu, ya kau harus membayar rasa sakit hatiku” suara Morgan


terdengar parau, waktunya tidak banyak. Setelah dia memberikan semua feel nya


raganya akan melemah dan mati. Dia masih beruntung bisa menyaksikan kesedihan


Enrick.


“ kau, “ dalam satu lemparan pisau itu melayang menembus leher


Morgan, lelaki itu tewas seketika. Suasana semakin rumit, Aidyn tidak berhenti


menangis karena kesakitan.


“ tidak ada cara lain” Enrick membuka pakaian Aidnyn, tubuh


anaknya terdapat noda keunguan. Ini adalah ulah feel  yang meronta dari dalam tubuhnya.


Enrick mendudukan anaknya tepat di depannya. Lelaki itu menyayat


telapak tangannya dan meminumkan darahnya kepada Aidyn. Darah Enrick mengandung


kekuatan menyembuhkan segala racun dan hal-hal yang merusak tubuh. Aidyn


menghisapnya, anak itu harus meminum darahnya sebanyak mungkin. Setelah


beberapa lama, suara Zen terdengar. Wanita itu syok dan segera mendekati suami


dan anaknya. Dia masih ingat betul dengan kejadian sebelumnya. Begitu tau


Morgan sudah tewas, wanita itu sedikit lega. Namun belum juga menghela nafas,


pemandangan setelahnya jauh lebih mengerikan.


Suaminya sedang memberikan tenaga dalam kepada Aidyn.


“ Enrick, apa yang kau lakukan?” wajah Enrick sudah mulai pucat


belum lagi luka ditangannya masih mengeluarkan darah. Tak ada sautan. Lelaki


itu berkonsentrasi untuk menolong sang anak. Hingga kemudian Enrick memuntahkan


darah, Aidyan berhenti menangis dan tiba-tiba keduanya terjatuh tidak sadarkan

__ADS_1


diri.


__ADS_2